8 November 2026

kampanye

MoneyTalk, Jakarta — Kejawen (Kerukunan Jawa Tulen) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah politik Indonesia. Salah satu kegiatannya adalah mendukung pasangan Ridwan Kamil dan Suswono (RIDO) dalam pemilihan legislatif.

Setelah sukses melakukan kampanye sosial melalui pertunjukan wayang dan layanan pengobatan gratis di Jakarta Timur, pasangan ini memperluas gerakan mereka ke wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Rencananya, kampanye ini akan terus menyasar Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat dalam waktu dekat.

Kejawen yang dikenal sebagai organisasi sosial budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Jawa, turut ambil bagian dalam mendukung pasangan RIDO. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya sekadar kampanye politik, tetapi juga mengusung misi sosial dan budaya. Dalam beberapa bulan terakhir, Kejawen aktif menyelenggarakan acara-acara wayangan dan pengobatan gratis di berbagai daerah pemilihan (Dapil) di Jakarta.

R. Adi Sucipto, Ketua Umum Kejawen, menyatakan bahwa mereka haqul yakin pasangan RIDO akan menang dalam satu putaran.

“Kami yakin RIDO memiliki kapasitas dan integritas yang dibutuhkan untuk memimpin. Dukungan kami adalah bentuk nyata dari komitmen kami terhadap perubahan positif di masyarakat,” tegas R. Adi Sucipto dalam sebuah wawancara.

Dalam upaya menyukseskan dukungan ini, para ketua Kejawen dari berbagai wilayah di Jakarta juga turut berperan aktif. Mereka antara lain adalah:

Mas Mysyanto, Ketua Kejawen Daerah Khusus Jakarta, memimpin koordinasi keseluruhan kegiatan kampanye berbasis budaya.

M. Yamin, Ketua Kejawen Jakarta Timur, berperan dalam pelaksanaan kegiatan wayangan dan pengobatan gratis yang sudah berlangsung sukses di wilayahnya.

Mas Ratri Adi, Ketua Kejawen Jakarta Utara, kini fokus pada perluasan kampanye sosial di daerah utara Jakarta.

Bu Herlina, Ketua Kejawen Jakarta Barat, berkolaborasi dengan tokoh masyarakat setempat untuk memperkuat dukungan.

Bu Rika dan Mas Lukman, Ketua dan Sekretaris Kejawen Jakarta Selatan, telah mempersiapkan rangkaian acara sosial yang akan segera digelar.

Mas Sugeng Riyadi, Kejawen Jakarta Pusat, bersiap untuk memimpin kegiatan yang dijadwalkan di jantung ibu kota.

Pertunjukan wayang menjadi salah satu media yang dipilih Kejawen dan RIDO untuk menyampaikan pesan politik dan sosial. Seni tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya memilih pemimpin yang pro-rakyat. Pagelaran wayang kulit yang diadakan menampilkan cerita-cerita dengan nilai moral tinggi yang disesuaikan dengan konteks zaman modern.

“Wayangan adalah jembatan antara budaya dan pesan-pesan moral. Kami ingin masyarakat terhibur sekaligus tercerahkan,” ungkap Mas Mysyanto.

Selain wayangan, pasangan RIDO juga menggelar layanan pengobatan gratis di berbagai Dapil. Program ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan layanan kesehatan namun terbatas aksesnya. Keberhasilan program ini terlihat dari tingginya antusiasme warga yang memanfaatkan fasilitas tersebut.

“Pengobatan gratis ini adalah bentuk nyata dari janji kampanye kami, yaitu peduli terhadap kesehatan masyarakat. Kami tidak ingin hanya sekadar berbicara, tapi menunjukkan aksi nyata,” jelas Ridwan Kamil dalam salah satu acara pengobatan di Jakarta Utara.

Kampanye sosial RIDO dan Kejawen tidak berhenti di Jakarta Timur, Utara, dan Barat. Ke depan, tim ini merencanakan ekspansi ke wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Dalam waktu dekat, mereka akan menggelar serangkaian acara wayangan dan pengobatan gratis di kedua wilayah tersebut.

“Ini adalah bentuk komitmen kami untuk menjangkau semua lapisan masyarakat di setiap wilayah Jakarta. Kami ingin membawa perubahan positif yang dirasakan langsung oleh rakyat,” tambah M. Yamin.

Kejawen yakin bahwa dengan strategi gerilya sosial yang diterapkan, pasangan RIDO akan memenangkan pemilu dalam satu putaran. Keyakinan ini didasarkan pada respons positif masyarakat terhadap kampanye yang telah dilakukan. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok budaya seperti Kejawen, diharapkan menjadi kekuatan utama bagi kemenangan pasangan ini.

“Pasangan RIDO adalah harapan baru bagi Jakarta. Kami percaya mereka akan membawa perubahan yang lebih baik untuk ibu kota,” ujar R. Adi Sucipto menutup pernyataannya.

Dengan strategi kampanye berbasis budaya dan layanan sosial, pasangan RIDO dan Kejawen berharap bisa memenangkan hati masyarakat Jakarta. Dukungan penuh dari komunitas budaya dan tokoh masyarakat lokal menjadi amunisi penting dalam pertarungan politik yang semakin ketat menuju pemilu mendatang.

MoneyTalk, Jakarta – Pada Jumat, 1 November 2024, Desa Tegal Taman, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mendadak menjadi pusat perhatian. Nina Agustina Dai Bachtiar, calon Bupati Indramayu yang juga petahana, bersitegang dengan sejumlah warga setempat dalam insiden kecil yang kini ramai diperbincangkan di media sosial. Perselisihan ini bermula dari sebuah kesalahpahaman yang cukup sederhana, namun melibatkan Nina yang secara langsung mengeluarkan pernyataan dirinya sebagai putri dari mantan Kapolri, Jenderal Purnawirawan Dai Bachtiar.

Nina Agustina yang tengah mengunjungi wilayah tersebut bersama tim kampanye menghadapi kejadian tidak terduga ketika mobil rombongannya melewati Desa Tegal Taman. Mobil yang ditumpangi Nina dianggap serupa dengan kendaraan lain, sehingga warga tak menyadari siapa yang berada di dalamnya. Tak lama, situasi memanas karena diduga Nina merasa bahwa dirinya diadang oleh sejumlah warga. Dalam video yang viral, terlihat Nina berbicara tegas kepada beberapa warga yang dianggap tidak menunjukkan sikap hormat. Ketegangan tersebut diwarnai dengan pernyataan Nina yang menekankan identitasnya sebagai anak Dai Bachtiar, mantan Kapolri yang cukup dikenal masyarakat.

Menurut Nina, kejadian ini bukan pertama kalinya ia merasa diperlakukan kurang hormat oleh sebagian warga di wilayah yang sama. Dalam wawancara terpisah, Nina mengungkapkan bahwa sebelumnya ia juga pernah mengalami situasi serupa saat melintasi desa tersebut. Ia merasa insiden tersebut bukan sekadar masalah kesalahpahaman kecil, namun menunjukkan kurangnya pemahaman atau kesopanan dari pihak warga terhadap pejabat daerah. Namun, sikap tegas Nina yang membawa nama ayahnya justru memicu berbagai reaksi di media sosial, yang sebagian besar menilai tindakan tersebut kurang bijaksana.

Nina Agustina bukan sosok baru di kancah politik Kabupaten Indramayu. Ia adalah putri sulung dari Dai Bachtiar, mantan Kapolri era Presiden Megawati Soekarnoputri, yang menjabat dari tahun 2001 hingga 2005. Lahir di Purwodadi pada 17 Agustus 1973, Nina saat ini berusia 51 tahun dan merupakan seorang kader PDIP. Sebagai Bupati Indramayu periode 2021-2024, ia dilantik pada 26 Februari 2021 bersama Wakilnya, Luki Hakim, setelah memenangkan Pilkada Indramayu tahun 2020 dengan dukungan dari koalisi PDIP, Gerindra, dan Nasdem. Pasangan ini memperoleh suara sebesar 36,76%, atau sekitar 303.768 pemilih, mengalahkan tiga kandidat lainnya.

Selain kariernya di bidang politik, Nina memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni. Ia menempuh pendidikan di Universitas Negeri Veteran Jakarta, memperoleh gelar S1 pada 1992, dan kemudian melanjutkan ke jenjang S2 di universitas yang sama. Sebelum terjun ke dunia politik, ia juga memiliki pengalaman di sektor swasta sebagai direktur dan komisaris di perusahaan CV Inda Abadi pada tahun 2009.

Peristiwa cekcok dengan warga ini menciptakan kontroversi seputar cara Nina menghadapi masyarakat. Bagi sebagian masyarakat, tindakan Nina yang mempertegas posisinya sebagai putri mantan Kapolri dianggap tidak tepat dan dinilai menunjukkan arogansi yang tidak seharusnya ditunjukkan oleh seorang pejabat publik. Banyak yang menilai, meski Nina adalah anak dari figur penting di Indonesia, ia sebaiknya menempatkan dirinya sebagai pelayan masyarakat yang bersikap rendah hati, terutama di tengah periode kampanye yang membutuhkan pendekatan dan kepercayaan dari rakyat.

Namun, bagi pendukungnya, sikap tegas Nina dianggap sebagai bentuk ketegasan dan keberanian dalam membela diri di tengah situasi yang bisa saja tidak mengenakkan. Pendukung Nina melihatnya sebagai seorang pemimpin yang tidak segan untuk berdiri di garis depan, bahkan di hadapan kritik. Mereka memandang Nina sebagai figur yang siap mempertahankan integritasnya tanpa mengesampingkan latar belakang keluarganya yang terhormat.

Insiden ini mencerminkan tantangan yang kerap muncul selama masa kampanye, khususnya bagi petahana yang tengah berupaya untuk mempertahankan jabatannya. Sebagai Bupati Indramayu yang masa jabatannya segera berakhir pada 2024, Nina menghadapi berbagai ekspektasi dan sorotan dari masyarakat. Kehadiran petahana yang terjun langsung ke tengah masyarakat memang menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri, tetapi juga mengundang risiko kritik yang lebih tinggi karena harapan masyarakat yang besar.

Indramayu sebagai daerah dengan banyak desa dan keberagaman karakter masyarakat, memiliki tantangan dalam hal komunikasi antara pejabat daerah dan warga. Dengan kejadian ini, masyarakat Indramayu dihadapkan pada dilema, apakah gaya kepemimpinan tegas seperti yang diperlihatkan Nina lebih diinginkan, ataukah mereka lebih mendambakan pemimpin yang lebih tenang dan terbuka dalam menghadapi ketegangan.

Media sosial yang kini menjadi platform utama bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, menjadi wadah bagi publik untuk memberikan tanggapan terkait kejadian ini. Video yang viral memperlihatkan percakapan Nina dengan warga, dan berbagai komentar pun muncul—mulai dari dukungan hingga kritik keras terhadap cara Nina menangani situasi. Publik di media sosial merasa berhak menilai tindakan dan sikap dari figur publik, apalagi dalam suasana politik yang memanas menjelang Pilkada.

Momen ini menjadi pengingat bagi para pejabat publik tentang pentingnya citra dan komunikasi yang baik dengan rakyat. Apalagi di era digital ini, setiap tindakan pejabat dapat langsung terekam dan tersebar luas, mempengaruhi persepsi publik dan bahkan hasil dari kampanye yang sedang berlangsung.

Kejadian ini menunjukkan bahwa peran dan tanggung jawab seorang pejabat publik bukan hanya soal menjalankan tugas administratif, tetapi juga soal menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Nina Agustina, dengan latar belakangnya sebagai anak seorang mantan Kapolri, tentu memahami arti penting dari komunikasi dan pendekatan yang positif. Di tengah sorotan ini, banyak pihak berharap Nina dapat merefleksikan kejadian ini untuk terus memperbaiki pendekatannya agar lebih sesuai dengan harapan masyarakat Indramayu.

Sebagai calon Bupati yang sedang menjalani masa kampanye, Nina dan timnya memiliki tugas untuk menyusun strategi komunikasi yang lebih tepat agar insiden serupa dapat dihindari. Di sisi lain, publik juga diharapkan dapat melihat seluruh sisi dari seorang pemimpin dengan objektif, memahami bahwa situasi lapangan sering kali penuh dengan ketegangan yang tidak selalu bisa dikendalikan secara sempurna.(c@kra)