31 Oktober 2026

Kementerian Pertahanan

MoneyTalk, Jakarta – Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kembali menegaskan kesiapan Kementerian Pertahanan dan TNI menghadapi berbagai kemungkinan konflik, termasuk potensi perang yang berlangsung lama atau “perang berlarut.” Pernyataan ini disampaikan dalam rapat internal pimpinan TNI-Kemhan.

Amir Hamzah, pengamat intelijen dan geopolitik, menilai langkah Sjafrie sebagai indikator kesiapsiagaan strategis Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan global yang semakin kompleks.

“Pernyataan Menhan bukan sekadar retorika politik. Ini menunjukkan bahwa Indonesia menekankan kesiapan menghadapi konflik multidimensi, baik yang konvensional maupun yang bersifat hybrid, termasuk ancaman siber dan psikologis,” ujar Amir, Rabu (21/1/2026).

Menurut Amir, konteks pernyataan tersebut terkait meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik dan Laut Cina Selatan, di mana dinamika politik dan militer global menuntut setiap negara untuk memiliki strategi pertahanan yang adaptif. Ketegangan global di Greenland juga sedang terjadi.

“Dalam situasi geopolitik seperti ini, kemampuan bertahan jangka panjang menjadi sangat penting. Menyiapkan TNI untuk perang berlarut bukan berarti agresif, tapi menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional,” katanya.

Kesiapsiagaan Multidimensi TNI

Rapat pimpinan Kemhan-TNI yang dipimpin Sjafrie menekankan beberapa poin strategis:

1. Kesiapan Operasional TNI – Semua satuan TNI diminta meningkatkan kesiapsiagaan tempur, latihan gabungan, dan modernisasi alat utama sistem persenjataan.

2. Integrasi Intelijen dan Strategi – Koordinasi intelijen nasional diperkuat untuk mendeteksi ancaman sejak dini, termasuk ancaman non-konvensional.

3. Pendekatan Diplomasi dan Pertahanan – Kesiapan militer juga dipadukan dengan strategi diplomasi, agar setiap langkah Indonesia tetap berada dalam kerangka hukum internasional.

Amir Hamzah menekankan, pernyataan Menhan juga menjadi sinyal diplomatik bagi aktor regional dan global. “Ini adalah pesan bahwa Indonesia serius menjaga kedaulatan, dan setiap upaya untuk merongrong wilayahnya akan dipantau secara serius oleh militer dan intelijen,” ujar Amir.

Selain ancaman konvensional, Amir menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi ancaman hybrid. Perang modern tidak selalu bersifat fisik; serangan siber, disinformasi, dan tekanan ekonomi dapat melemahkan negara dari dalam. “TNI yang siap menghadapi perang berlarut berarti mereka juga dilatih menghadapi ancaman non-fisik, termasuk operasi informasi dan sabotase strategis,” jelas Amir.

Pernyataan Menhan Sjafrie menekankan bahwa strategi pertahanan Indonesia kini lebih menekankan pada kesiapan jangka panjang. Amir Hamzah menilai ini sebagai langkah matang: “Ketahanan nasional bukan hanya soal persenjataan, tapi juga kapasitas logistik, dukungan masyarakat, dan stabilitas politik. Siap menghadapi perang berlarut berarti semua elemen pertahanan dikelola secara holistik.”

Amir juga menyoroti pentingnya koordinasi antara Kemhan, TNI, dan instansi lain seperti Kementerian Luar Negeri dan BIN, untuk membentuk sistem pertahanan terpadu. Hal ini, menurut Amir, akan memberi Indonesia keunggulan strategis di tengah ketidakpastian global.

Pernyataan Menhan Sjafrie menjadi momentum penting dalam menyusun arah pertahanan Indonesia ke depan. Kesiapsiagaan TNI untuk menghadapi perang berlarut menunjukkan Indonesia mengantisipasi konflik dengan pendekatan strategis, adaptif, dan holistik.

“Pesan ini jelas: Indonesia siap mempertahankan kedaulatan dan menjaga stabilitas kawasan, dengan kekuatan militer yang terintegrasi dan cerdas,” tutup Amir Hamzah.

MoneyTalk,Jakarta – Kali ini HUT ke-79 TNI 5 Oktober 2024 bukan ulang tahun yang paling membahagiakan. Tidak bahagia lantaran anggaran buat TNI atau anggaran pertahanan bisa dibilang secuil yang dianggarkan setiap dari APBN

Memang dalam komposisi APBN, anggaran pertahanan setiap tahun, kalau tidak menempati satu atau nomor dua diantara lembaga lembaga negara. Nah dari sini anggaran pertahanan kita bisa disebut besar.

Tapi nanti dulu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa anggaran TNI atau anggaran pertahanan kita itu besar.

Sebetulnya anggaran TNI atau pertahanan setiap tahun itu kecil. Apalagi anggaran TNI dibandingkan dengan anggaran kepolisian atau Polri makin kelihatan bahwa anggaran TNI itu minim sekali.

Anggaran Polri pada tahun 2024 sebesar Rp.117.406.A34.O92.000 dan Anggaran kementerian pertahanan sebesar Rp.139.268.959.950.000.Nah dari gambaran tahun 2024 saja, sudah kelihatan bahwa anggaran dari TNI yang lebih besar dari anggaran kepolisian.

Tetapi besar anggaran kementerian Pertahanan atau TNI ini, harus dibagi bagi kepada pertama, Untuk kementerian pertahanan sebesar Rp.26.310.066.905.000, kedua, Untuk Markas Besar TNI sebesar Rp.10.570.079.546.000, ketiga Untuk Markas TNI AD sebesar Rp.58.148.406.541.000, Keempat Untuk Markas TNI AL sebesar Rp.25.440.918.737.000, dan kelima Markas besar TNI AU sebesar Rp.18.799.488.221.000

Sedangkan buat anggaran kepolisian sebesar Rp.117.406.A34.O92.000 tidak ada dibagi bagi. Semua anggaran ini buat kebutuhan lembaga polisi dan personil mereka. Maka dari sini saja sudah kelihatan personil polisi hidup sejahtera daripada personil TNI.

Menurut Direktur CBA (Center For Budget Analisis) Uchok Sky Khadafi, Anggaran TNI atau anggaran pertahanan kita masih menyedihkan bila dibandingkan dengan anggaran kepolisian.

Perbandingan anggaran TNI dengan Polisi seperti Bumi dengan langit. Anggaran pertahanan kita tidak cukup untuk beli rudal Supersonik atau kapal selam yang paling modern, sindir Uchok Sky.

Apalagi saat ini model dan pola perang Modern bukan lagi utamakan memobilisasi pasukan. Tapi lebih dulu memakai satelit, drone, dan rudal untuk menghantam dan menghancurkan pertahanan musuh, jelas Uchok Sky

Dan kecilnya anggaran TNI, dan besarnya Anggaran Polri, hanya berdampak kepada nafsu Polri untuk masuk invasi, menguasai, dan menduduki lembaga lembaga kementerian, atau lembaga negara, dan juga banyak yang invasi masuk ke perusahaan BUMN jadi komisaris, jelas Uchok Sky.