MoneyTalk, Jakarta – Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kembali menegaskan kesiapan Kementerian Pertahanan dan TNI menghadapi berbagai kemungkinan konflik, termasuk potensi perang yang berlangsung lama atau “perang berlarut.” Pernyataan ini disampaikan dalam rapat internal pimpinan TNI-Kemhan.
Amir Hamzah, pengamat intelijen dan geopolitik, menilai langkah Sjafrie sebagai indikator kesiapsiagaan strategis Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan global yang semakin kompleks.
“Pernyataan Menhan bukan sekadar retorika politik. Ini menunjukkan bahwa Indonesia menekankan kesiapan menghadapi konflik multidimensi, baik yang konvensional maupun yang bersifat hybrid, termasuk ancaman siber dan psikologis,” ujar Amir, Rabu (21/1/2026).
Menurut Amir, konteks pernyataan tersebut terkait meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik dan Laut Cina Selatan, di mana dinamika politik dan militer global menuntut setiap negara untuk memiliki strategi pertahanan yang adaptif. Ketegangan global di Greenland juga sedang terjadi.
“Dalam situasi geopolitik seperti ini, kemampuan bertahan jangka panjang menjadi sangat penting. Menyiapkan TNI untuk perang berlarut bukan berarti agresif, tapi menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional,” katanya.
Kesiapsiagaan Multidimensi TNI
Rapat pimpinan Kemhan-TNI yang dipimpin Sjafrie menekankan beberapa poin strategis:
1. Kesiapan Operasional TNI – Semua satuan TNI diminta meningkatkan kesiapsiagaan tempur, latihan gabungan, dan modernisasi alat utama sistem persenjataan.
2. Integrasi Intelijen dan Strategi – Koordinasi intelijen nasional diperkuat untuk mendeteksi ancaman sejak dini, termasuk ancaman non-konvensional.
3. Pendekatan Diplomasi dan Pertahanan – Kesiapan militer juga dipadukan dengan strategi diplomasi, agar setiap langkah Indonesia tetap berada dalam kerangka hukum internasional.
Amir Hamzah menekankan, pernyataan Menhan juga menjadi sinyal diplomatik bagi aktor regional dan global. “Ini adalah pesan bahwa Indonesia serius menjaga kedaulatan, dan setiap upaya untuk merongrong wilayahnya akan dipantau secara serius oleh militer dan intelijen,” ujar Amir.
Selain ancaman konvensional, Amir menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi ancaman hybrid. Perang modern tidak selalu bersifat fisik; serangan siber, disinformasi, dan tekanan ekonomi dapat melemahkan negara dari dalam. “TNI yang siap menghadapi perang berlarut berarti mereka juga dilatih menghadapi ancaman non-fisik, termasuk operasi informasi dan sabotase strategis,” jelas Amir.
Pernyataan Menhan Sjafrie menekankan bahwa strategi pertahanan Indonesia kini lebih menekankan pada kesiapan jangka panjang. Amir Hamzah menilai ini sebagai langkah matang: “Ketahanan nasional bukan hanya soal persenjataan, tapi juga kapasitas logistik, dukungan masyarakat, dan stabilitas politik. Siap menghadapi perang berlarut berarti semua elemen pertahanan dikelola secara holistik.”
Amir juga menyoroti pentingnya koordinasi antara Kemhan, TNI, dan instansi lain seperti Kementerian Luar Negeri dan BIN, untuk membentuk sistem pertahanan terpadu. Hal ini, menurut Amir, akan memberi Indonesia keunggulan strategis di tengah ketidakpastian global.
Pernyataan Menhan Sjafrie menjadi momentum penting dalam menyusun arah pertahanan Indonesia ke depan. Kesiapsiagaan TNI untuk menghadapi perang berlarut menunjukkan Indonesia mengantisipasi konflik dengan pendekatan strategis, adaptif, dan holistik.
“Pesan ini jelas: Indonesia siap mempertahankan kedaulatan dan menjaga stabilitas kawasan, dengan kekuatan militer yang terintegrasi dan cerdas,” tutup Amir Hamzah.




