30 Oktober 2026

KH Miftachul Akhyar

MoneyTalk, Jakarta – Rapat Konsultasi Syuriyah PBNU bersama Mustasyar PBNU yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menyepakati langkah penting organisasi untuk menyegerakan pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Kesepakatan tersebut dinilai sebagai jalan keluar konstitusional atas dinamika internal PBNU yang berlangsung cukup lama.

Hal itu disampaikan Purwanto M. Ali, Ketua PP GP Ansor periode 2005–2011, yang mengikuti dan memperoleh informasi langsung dari forum rapat konsultasi tersebut.

“Muktamar NU yang dipercepat adalah kunci solusi dari keributan internal PBNU yang sudah berlarut-larut. Hampir semua jama’ah NU berharap Muktamar segera digelar agar organisasi kembali solid dan tertib,” kata Purwanto, Kamis (25/12/2025).

Menurut Purwanto, Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar PBNU merupakan forum yang konstitusional, sebagaimana diatur dalam AD NU Pasal 27 dan ART NU Pasal 95. Karena itu, seluruh hasil rapat harus ditindaklanjuti melalui mekanisme organisasi yang sah.

“Rapat konsultasi ini bukan forum liar. Ia diatur jelas dalam AD/ART NU. Maka tindak lanjutnya juga harus melalui mekanisme organisasi, bukan lewat manuver di luar konstitusi,” tegasnya.

Purwanto menjelaskan, tahapan organisasi pasca rapat konsultasi mengharuskan Rais Aam Syuriyah PBNU melaporkan hasil konsultasi tersebut kepada Rapat Pleno PBNU atau Rapat Gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah.

“Rapat Pleno PBNU berwenang menyetujui seluruh atau sebagian hasil rapat konsultasi. Bahkan bisa saja ada bagian yang tidak disetujui. Itu mekanisme yang normal dalam organisasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa sebelum Muktamar NU digelar, PBNU juga dapat mengagendakan Konferensi Besar NU, bahkan tidak menutup kemungkinan dilaksanakannya Rapat Kerja NU terlebih dahulu.

“Masih ada beberapa forum permusyawaratan sebelum Muktamar. Semua itu harus dilalui agar Muktamar benar-benar sah, bermartabat, dan sesuai AD/ART serta Perkum NU,” kata Purwanto.

Purwanto juga menegaskan bahwa berdasarkan informasi dari anggota Syuriyah PBNU yang mengikuti rapat di Lirboyo, Rapat Konsultasi Syuriyah–Mustasyar tidak membatalkan atau mengevaluasi keputusan Rapat Pleno PBNU yang digelar pada 9 Desember 2025 di Hotel Sultan, Jakarta.

“Rapat konsultasi di Lirboyo tidak menganulir keputusan Rapat Pleno PBNU tanggal 9 Desember. Itu penting diluruskan agar tidak terjadi salah tafsir di kalangan jama’ah,” tegasnya.

Dengan demikian, kata Purwanto, kepemimpinan PBNU saat ini tetap berjalan sesuai ketentuan organisasi.

“Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama Pj Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa tetap memimpin dan mengawal persiapan Muktamar NU yang disegerakan,” pungkasnya.

Langkah percepatan Muktamar NU ini diharapkan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus mengakhiri polemik internal, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip musyawarah dan persatuan dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama.

MoneyTalk, Jakarta – Posisi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf kian berada di ujung tanduk setelah gelombang tekanan internal menguat. Surat pemberhentian yang ditandatangani Wakil Rais Aam Syuriyah PBNU KH Afifudin Muhajir dan Katib KH Ahmad Tajul Mafakhir menjadi titik balik krisis, menandai bahwa struktur tertinggi organisasi telah mengambil langkah tegas.

Demikian Disampaikan oleh Hersubeno Arief pada 27/11/2025 dengan tema “Resmi Dipecat, Posisi Yahya Cholil Staquf Makin Terpojok! Sowan ke Lirboyo Tapi Disalib Saifullah Yusuf”

Katib Syuriyah PBNU, KH Sarmidi Husna, melalui kanal resmi PBNU Online mengonfirmasi bahwa surat pemberhentian tersebut sah dan berlaku sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB. Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Yahya Staquf sebelumnya yang menyebut surat itu tidak sah karena tidak ditandatangani secara elektronik melalui sistem Digdaya PBNU.

Di tengah polemik yang memuncak, momen tak terduga terjadi pada Kamis, 27 November 2025. Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya, Yahya Staquf berada satu pesawat dengan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Meski duduk berdekatan, tak ada komunikasi di antara keduanya.

Setibanya di Bandara Juanda, Yahya disebut mencoba meminta waktu untuk sowan kepada KH Miftachul Akhyar, namun permintaan itu ditolak halus oleh sang Rais Aam. Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa relasi keduanya sedang berada pada titik kritis.

Dari Juanda, Yahya Staquf bersama rombongan langsung menuju Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri basis penting yang dianggap dapat memperkuat legitimasi moral di tengah badai internal PBNU.

Namun langkah itu dinilai terlambat satu langkah.

Juru bicara Pesantren Lirboyo, KH Abdul Muis Shohib, mengungkapkan bahwa Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Bendahara Umum PBNU Gufron Arif Ghofur telah lebih dulu sowan pada 25 November 2025 kepada dua pengasuh utama: KH Anwar Mansyur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus.

Kedatangan rombongan Saifullah Yusuf yang kini berada dalam posisi berseberangan dengan Yahya Staquf dinilai mempersempit ruang gerak ketua umum PBNU tersebut dalam mencari dukungan kiai-kiai sepuh.

Saat konflik mulai mencuat, Saifullah Yusuf secara terbuka menyerukan agar warga Nahdliyin menyerahkan sepenuhnya penyelesaian polemik kepada Syuriyah PBNU, sebagai pemegang otoritas tertinggi. Sikap ini dibaca sebagai bentuk legitimasi penuh terhadap keputusan pemberhentian Yahya Staquf.

Di sisi lain, Yahya terus mempertahankan posisinya dengan berargumen bahwa mandat hasil Muktamar memberi masa jabatan lima tahun, sehingga pemberhentiannya dinilai tidak sah.

Yahya juga berupaya mengkonsolidasikan dukungan dengan menyelenggarakan pertemuan ulama PBNU dan merencanakan pertemuan besar kiai-kiai di Lirboyo. Namun dinamika terkini menunjukkan bahwa dukungan tersebut tergerus.

Serangkaian peristiwa dalam 48 jam terakhir mulai dari validasi resmi pemecatan, penolakan sowan ke Rais Aam, hingga “disalibnya” kunjungan ke Lirboyo oleh Saifullah Yusuf membentuk gambaran bahwa upaya Yahya Staquf mempertahankan kursi ketua umum PBNU berada dalam posisi yang kian melemah.

Situasi ini menandai babak baru konflik internal PBNU yang berpotensi menentukan arah kepemimpinan organisasi terbesar umat Islam Indonesia dalam waktu dekat.

MoneyTalk, Jakarta –  Ketegangan internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mencuat ke permukaan. Dalam beberapa hari terakhir, wacana perpecahan dua kubu di tubuh PBNU ramai diperbincangkan, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu krisis organisasi terbesar dalam sejarah jam’iyah tersebut.

Rumor ini mengemuka seiring dengan keputusan pemberhentian Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang disebut berkaitan dengan dinamika kepengurusan dan dugaan ketidakharmonisan di internal Syuriah dan Tanfidziyah.

Seorang Warga NU, HRM Khalilur R Ab. S, menyampaikan pandangan kerasnya terkait situasi ini. Menurutnya, perseteruan ini berawal dari “duet salah kamar”, yakni relasi kepemimpinan yang tidak sebagaimana mestinya dalam struktur PBNU.

Menurut sumber tersebut, ketegangan PBNU saat ini terbagi dua kelompok besar:

1. Kubu Jombang

Diklaim berada di bawah pengaruh:

-Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar

-Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

-Bendum PBNU Gudfan Arif Ghafur

serta sejumlah pengurus lain.

2. Kubu Rembang

Dikomandoi oleh:

-Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf

-Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori

-Wakil-wakil ketua umum dan pendukungnya.

Relasi silang antar posisi inilah yang disebut memunculkan miskomunikasi struktural dan akhirnya melahirkan dua kubu yang saling berhadap-hadapan.

Beberapa warga NU yang dikutip narasumber menyebut kantor PBNU “sepi bak kuburan” dalam beberapa bulan terakhir. Minimnya kegiatan organik disebut sebagai dampak dari konflik internal yang makin mengeras.

“Kondisi ini membuat PBNU menjadi yang tersepi sepanjang sejarah berdirinya NU,” ujar narasumber.

HRM Khalilur R Ab. S memaparkan tiga isu yang disebut-sebut menjadi penyebab utama pemberhentian Ketum PBNU:

1. Dugaan Tipikor Kuota Haji

Kasus yang menyeret mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, adik kandung Gus Yahya, diduga memberikan tekanan moral dan politis terhadap PBNU. Meski secara organisasi NU tidak terlibat, namun perhatian publik otomatis tertuju pada figur-figur PBNU.

2. Penjualan Saham IUP Batubara

Dikabarkan ada transaksi penjualan kepemilikan saham yang dilakukan tanpa sepengetahuan Sekjen dan Bendahara Umum. Laporan internal disebut telah sampai kepada Rais Aam.

3. Isu ‘Agen Zionis’

Tudingan terhadap Gus Yahya sebagai ‘antek Yahudi’ dinilai narasumber hanya sebagai pemanis pemecatan dan bukan faktor utama.

Melihat eskalasi konflik yang semakin tajam antara Rais Aam dan Ketum PBNU, narasumber menilai keduanya telah gagal memimpin PBNU dengan baik.

Ia mendorong pelaksanaan Muktamar NU dipercepat dari jadwal akhir 2026 menjadi awal 2026 sebagai solusi paling elegan untuk memulihkan marwah organisasi.

“Dua orang ini telah merepotkan dan memalukan NU. Jalan terbaiknya adalah keduanya mundur, lalu PBNU menggelar muktamar percepatan,” ujarnya.

HRM Khalilur R Ab. S menegaskan bahwa NU sebagai organisasi tetap suci dan tidak terseret dalam perilaku oknum–oknum yang disebutnya bermasalah.

Ia menutup pernyataannya dengan kepercayaan bahwa Allah akan menjaga NU dan menuntun organisasi keluar dari situasi pelik ini.

MoneyTalk, Jakarta – Permintaan Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar agar Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mundur dari jabatannya memicu dinamika besar di tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Pengamat politik Muhammad Huda menilai, langkah mengejutkan ini justru menjadi kemenangan politik bagi Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), meskipun ia secara terbuka tidak mencampuri urusan internal PBNU.

Menurut Huda, keputusan KH Miftachul Akhyar meminta Gus Yahya mundur bukan sekadar persoalan etika organisasi, melainkan menjadi sinyal kuat kepada publik bahwa tensi konflik antara kubu Gus Yahya dan kubu Cak Imin mencapai puncaknya.

“Cak Imin tidak perlu turun tangan. Ketika Rais Aam meminta Gus Yahya mundur, publik otomatis membaca bahwa ada konflik yang tak bisa ditutup-tutupi antara Gus Yahya dan jaringan NU yang dekat dengan Cak Imin. Secara politik, ini poin kemenangan bagi Cak Imin,” ujar Huda, Sabtu (22/11/2025).

Muhammad Huda menjelaskan bahwa ketegangan ini bukan muncul tiba-tiba. Sejak satu tahun terakhir, sejumlah PWNU diberitakan mengalami pergantian pimpinan yang diduga kuat terkait afiliasi mereka dengan Cak Imin.

Gus Yahya disebut Huda mengambil langkah konsolidasi untuk memperkuat kendali PBNU dari dinamika politik eksternal, terutama dari pengaruh PKB yang sejak lama memiliki akar kuat di basis nahdliyin.

“Ketika beberapa ketua PWNU yang dianggap dekat dengan Cak Imin dicopot atau digeser, itu dianggap sebagai bentuk resistensi terhadap ekspansi jaringan PKB. Langkah ini memperuncing ketegangan,” jelas Huda.

Situasi ini memunculkan persepsi bahwa terdapat pertarungan kendali atas basis massa NU menjelang pemilu dan dinamika politik nasional. Meskipun PBNU selalu menegaskan posisinya berada di luar politik praktis, friksi antara elite yang memiliki kedekatan dengan tokoh partai tak bisa dihindari.

Huda juga menyoroti dimensi lain yang memperburuk posisi Gus Yahya: munculnya dugaan keterlibatan dirinya dalam aliran dana terkait kasus kuota haji.

Meski belum ada bukti hukum yang menguatkan, isu ini telah beredar di kalangan internal NU dan menyeret reputasi Ketua Umum PBNU tersebut.

“Permintaan mundur dari Rais Aam tidak bisa dilepaskan dari isu aliran dana kuota haji. Meski sebatas dugaan, hal ini menambah tekanan moral dan politik kepada Gus Yahya,” kata Huda.

Isu dana kuota haji, lanjutnya, membuat posisi Gus Yahya semakin lemah di mata para kiai sepuh. Bahkan sebagian kalangan menilai PBNU membutuhkan figur yang tidak terbebani kontroversi untuk menjaga marwah organisasi.

Menurut Huda, setidaknya ada tiga alasan mengapa dinamika ini menguntungkan Cak Imin:

1. Menguatkan Narasi bahwa Gus Yahya Kehilangan Dukungan Ulama Sepuh

Jika Rais Aam posisi tertinggi dalam struktur syuriah turun tangan meminta mundur, artinya legitimasi moral Gus Yahya dinilai goyah. Dalam kultur Nahdliyin, dukungan kiai sepuh sangat menentukan.

2. Membuka Ruang Baru untuk Jaringan PKB

Jika Gus Yahya mundur atau melemah, maka ruang gerak bagi kiai dan pengurus yang dekat dengan PKB berpotensi terbuka kembali, terutama di PWNU.

3. Menguatkan Persepsi Publik tentang Rivalitas yang Dimenangkan PKB

Huda menekankan bahwa dalam persepsi politik, siapa yang terlihat “bertahan” dan siapa yang “diminta mundur” sudah membentuk pemenang dan pecundang.

“Persepsi adalah segalanya dalam politik. Dan saat ini, persepsi kemenangan itu jatuh kepada Cak Imin.”

Konflik elite ini berpotensi membawa PBNU ke titik kritis, terutama dalam menjaga jarak dari politik praktis. Kiai-kiai di daerah disebut mulai resah karena polemik internal berimbas pada kegiatan struktural dan kegiatan keumatan di wilayah masing-masing.

Bagi Huda, masa depan kepemimpinan PBNU pasca polemik ini akan menentukan arah hubungan organisasi dengan partai-partai politik dan stabilitas internal NU sendiri.

“Jika PBNU tidak segera menemukan titik keseimbangan, polarisasi bisa melebar. Apalagi NU memiliki peran strategis dalam menjaga moderasi sosial dan stabilitas kebangsaan,” ujarnya.