Kalah Manuver dengan Saifullah Yusuf, Posisi Ketum PBNU Yahya Staquf di Ujung Tanduk

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Posisi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf kian berada di ujung tanduk setelah gelombang tekanan internal menguat. Surat pemberhentian yang ditandatangani Wakil Rais Aam Syuriyah PBNU KH Afifudin Muhajir dan Katib KH Ahmad Tajul Mafakhir menjadi titik balik krisis, menandai bahwa struktur tertinggi organisasi telah mengambil langkah tegas.

Demikian Disampaikan oleh Hersubeno Arief pada 27/11/2025 dengan tema “Resmi Dipecat, Posisi Yahya Cholil Staquf Makin Terpojok! Sowan ke Lirboyo Tapi Disalib Saifullah Yusuf”

Katib Syuriyah PBNU, KH Sarmidi Husna, melalui kanal resmi PBNU Online mengonfirmasi bahwa surat pemberhentian tersebut sah dan berlaku sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB. Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Yahya Staquf sebelumnya yang menyebut surat itu tidak sah karena tidak ditandatangani secara elektronik melalui sistem Digdaya PBNU.

Di tengah polemik yang memuncak, momen tak terduga terjadi pada Kamis, 27 November 2025. Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya, Yahya Staquf berada satu pesawat dengan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Meski duduk berdekatan, tak ada komunikasi di antara keduanya.

Setibanya di Bandara Juanda, Yahya disebut mencoba meminta waktu untuk sowan kepada KH Miftachul Akhyar, namun permintaan itu ditolak halus oleh sang Rais Aam. Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa relasi keduanya sedang berada pada titik kritis.

Dari Juanda, Yahya Staquf bersama rombongan langsung menuju Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri basis penting yang dianggap dapat memperkuat legitimasi moral di tengah badai internal PBNU.

Namun langkah itu dinilai terlambat satu langkah.

Juru bicara Pesantren Lirboyo, KH Abdul Muis Shohib, mengungkapkan bahwa Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Bendahara Umum PBNU Gufron Arif Ghofur telah lebih dulu sowan pada 25 November 2025 kepada dua pengasuh utama: KH Anwar Mansyur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus.

Kedatangan rombongan Saifullah Yusuf yang kini berada dalam posisi berseberangan dengan Yahya Staquf dinilai mempersempit ruang gerak ketua umum PBNU tersebut dalam mencari dukungan kiai-kiai sepuh.

Saat konflik mulai mencuat, Saifullah Yusuf secara terbuka menyerukan agar warga Nahdliyin menyerahkan sepenuhnya penyelesaian polemik kepada Syuriyah PBNU, sebagai pemegang otoritas tertinggi. Sikap ini dibaca sebagai bentuk legitimasi penuh terhadap keputusan pemberhentian Yahya Staquf.

Di sisi lain, Yahya terus mempertahankan posisinya dengan berargumen bahwa mandat hasil Muktamar memberi masa jabatan lima tahun, sehingga pemberhentiannya dinilai tidak sah.

Yahya juga berupaya mengkonsolidasikan dukungan dengan menyelenggarakan pertemuan ulama PBNU dan merencanakan pertemuan besar kiai-kiai di Lirboyo. Namun dinamika terkini menunjukkan bahwa dukungan tersebut tergerus.

Serangkaian peristiwa dalam 48 jam terakhir mulai dari validasi resmi pemecatan, penolakan sowan ke Rais Aam, hingga “disalibnya” kunjungan ke Lirboyo oleh Saifullah Yusuf membentuk gambaran bahwa upaya Yahya Staquf mempertahankan kursi ketua umum PBNU berada dalam posisi yang kian melemah.

Situasi ini menandai babak baru konflik internal PBNU yang berpotensi menentukan arah kepemimpinan organisasi terbesar umat Islam Indonesia dalam waktu dekat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *