9 November 2026

Laksamana Sukardi

MoneyTalk, Jakarta – Tersebar tulisan atas nama Laksamana Sukardi di berbagai WhatsApp Group, dengan judul: DEBAT KUSIR “WHOOSH”.

Penulis mengatakan, membandingkan proyek kereta cepat harus apple-to-apple, harus dengan proyek sejenis.

Penulis mengatakan, pihak yang mengkritisi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) sejauh ini tidak membandingkan proyek KCJB secara objektif dengan proyek sejenis: tidak memperhitungkan kompleksitas trase Jakarta-Bandung yang melewati ketinggian (gunung).

Penulis berpendapat, KCJB seharusnya dibandingkan dengan proyek Maglev Chuo Shinkansen dari Tokyo-Nagoya.

Masalahnya, Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya juga tidak dapat dibandingkan dengan KCJB. Bahkan lebih parah. Bukan hanya medan konstruksi yang berbeda, teknologi kedua kereta cepat tersebut juga berbeda jauh, bagaikan ‘bumi dan langit’: bagaikan membandingkan ‘macan dengan kucing’.

Pertama, teknologi kereta cepat Maglev (Magnetic Levitation) yang ‘terbang’ melayang, jauh lebih canggih dan kompleks dibandingkan dengan teknologi kereta cepat jakarta bandung yang bergerak di atas roda: nothing to compare.

Kedua, kecepatan Kereta Cepat Maglev Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya bisa mencapai 500 km per jam atau lebih. Bahkan kecepatan kereta cepat teknologi Maglev dapat mencapai 600km per jam atau lebih.

Ketiga, medan pembangunan konstruksi Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya jauh lebih kompleks dari KCJB, dengan sekitar 90 persen terdiri dari terowongan, dengan kedalaman 40 meter di bawah tanah.

Jadi, dengan mengatakan KCJB seharusnya dibandingkan dengan Chuo Shinkansen Tokyo-Nagoya jelas misleading.

Pertanyaannya,

apakah penulis atas nama Laksamana Sukardi tersebut paham sepenuhnya bahwa tulisannya tersebut misleading: tidak membandingkan apple-to-apple antara KCJB dengan Chuo Shinkansen.

Atau memang sengaja melakukan misleading ini, untuk mendiskreditkan para pengamat KCJB yang bersuara keras ada dugaan korupsi dan markup dalam pengadaan proyek KCJB ini, untuk maksud tertentu?

Penulis : Anthony Budiawan, Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)

MoneyTalk, Jakarta- Dalam sebuah diskusi yang disiarkan melalui podcast Total Politik pada Selasa, 21 Oktober, politisi senior Laksamana Sukardi mengungkapkan pandangannya tentang kondisi politik Indonesia saat ini. Salah satu fokus utama dari pembicaraan ini adalah konsep Grand Coalition—sebuah koalisi besar tanpa oposisi yang dikatakan berpotensi mengurangi pengawasan terhadap pemerintah.

Laksamana Sukardi juga menyoroti bahwa sistem politik Indonesia masih sangat bergantung pada karakter pemimpin, menekankan bahwa nasib negara sangat dipengaruhi oleh visi dan integritas kepala negara.

Sukardi menjelaskan bahwa Grand Coalition memungkinkan keputusan diambil dengan cepat tanpa adanya gangguan dari oposisi di parlemen. Namun, hal ini dapat menimbulkan risiko besar jika tidak disertai dengan pemimpin yang memiliki visi kuat dan integritas tinggi.

“Nasib negara ini tergantung karakter dan visi dari leader-nya,” ungkapnya.

Menurut Sukardi, jika pemimpin memiliki visi yang baik, negara akan maju. Namun, jika sebaliknya, kualitas kepemimpinan yang buruk akan merugikan bangsa.

Laksamana Sukardi juga menyinggung Prabowo Subianto, presiden terpilih yang mulai menjabat pada 20 Oktober. Ia mengatakan bahwa Prabowo memiliki kesempatan untuk membangun warisan besar bagi Indonesia, namun hal itu sangat tergantung pada keseriusannya dalam memimpin.

Sukardi juga mengingatkan tentang risiko yang ditimbulkan oleh pemimpin dengan narcissistic leadership syndrome, di mana keputusan diambil berdasarkan kepentingan pribadi dan popularitas semata, bukan demi kepentingan.

Laksamana Sukardi menyoroti perjalanan politik Prabowo, mulai dari masa-masa sulit di mana ia menjadi sasaran berbagai fitnah, hingga keputusannya menerima tawaran jabatan dari Jokowi setelah kekalahan dalam pemilu.

“Mungkin dengan berat hati, tapi ia melihat ke depan bahwa Indonesia ini harus bersatu,” ujarnya. Sukardi mengakui bahwa Prabowo telah melalui berbagai rintangan politik, dan kini memiliki peluang untuk membawa Indonesia menuju kemajuan.

Namun, ia juga memperingatkan bahwa tanpa oposisi, kualitas demokrasi bisa menurun.

“Kalau ada oposisi, kesalahan pemerintah akan lebih mudah terlihat,” tambahnya.

Sukardi menekankan bahwa kualitas demokrasi sangat berkaitan dengan adanya oposisi yang kuat. Tanpa oposisi, potensi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan akan lebih sulit dikendalikan

Diskusi juga menyoroti hubungan antara PDI-P dan Prabowo Subianto. Sukardi menyinggung dugaan adanya narcissistic leadership syndrome di antara para pemimpin, yang menjadi hambatan dalam komunikasi antara PDI-P dan koalisi Prabowo.

Salah satu isu yang dibahas adalah sulitnya pertemuan antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo. Sukardi berpendapat bahwa sebagai presiden terpilih, seharusnya Prabowo dihormati dan didukung oleh semua pihak, termasuk tokoh-tokoh senior seperti Megawati.

“Prabowo adalah presiden terpilih, semua orang seharusnya mendukung dia,” katanya, mengkritik situasi di mana Prabowo seolah-olah harus ‘meminta’ pertemuan dengan Megawati.

Sukardi menekankan bahwa Grand Coalition berisiko melanggengkan budaya personalisme dalam politik Indonesia, di mana keputusan-keputusan politik didasarkan pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, bukan atas dasar kepentingan bangsa yang lebih luas.

“Demokrasi kita masih sangat personal,” tambahnya, merujuk pada dominasi pemimpin-pemimpin partai yang tidak memberikan ruang bagi regenerasi.

Sukardi juga mengkritik bagaimana budaya politik yang berkembang di Indonesia saat ini masih didominasi oleh pemimpin yang enggan meninggalkan posisinya, bahkan setelah kekalahan dalam pemilu. Ia menyebut bahwa dalam sistem presidensial, sering kali terjadi hostile takeover atau perebutan kekuasaan, yang justru melemahkan stabilitas politik jangka panjang.

Laksamana Sukardi membandingkan proses politik di Indonesia dengan negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, yang memiliki sistem lebih substantif dalam memilih calon presiden.

“Di sana, calon presiden harus melewati proses yang ketat, seperti mengumpulkan dana kampanye dari donatur kecil dan memenuhi syarat polling,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini memberikan legitimasi yang lebih besar kepada calon presiden dibandingkan dengan sistem di Indonesia yang cenderung transaksional.

Sebagai penutup, Sukardi menegaskan pentingnya reformasi dalam tata kelola partai politik di Indonesia, termasuk dalam hal pendanaan partai. Ia menyoroti bahwa partai politik di banyak negara maju, seperti Jerman dan Jepang, mendapatkan pendanaan yang berdasarkan UMR dan parameter yang jelas. Di Indonesia, Sukardi merasa bahwa pendanaan partai sering kali tidak rasional dan tidak berdasarkan kebutuhan yang sebenarnya.

Laksamana Sukardi juga mendorong adanya time limit atau batasan masa jabatan di dalam partai politik, sehingga regenerasi kepemimpinan dapat terjadi dengan lebih sehat dan dinamis.

“Kita harus memperbaiki governance politik kita, termasuk dalam hal sirkulasi kepemimpinan,” ujarnya.

Ia berharap bahwa ke depannya, partai-partai politik di Indonesia dapat lebih serius dalam mencari kader-kader pemimpin bangsa, sehingga kualitas demokrasi dan pemerintahan bisa meningka.

Diskusi Laksamana Sukardi dalam podcast Total Politik memperlihatkan kekhawatirannya terhadap arah politik Indonesia di bawah Grand Coalition dan tantangan dalam regenerasi kepemimpinan. Ia menekankan pentingnya visi yang kuat dari pemimpin, pentingnya oposisi, dan reformasi politik yang lebih substantif agar Indonesia bisa mencapai kemajuan yang berkelanjutan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Istilah “narsistik leadership syndrome” muncul dalam diskusi politik di Indonesia ketika seorang politisi, Laksamana Sukardi, mengungkapkan karakteristik kepemimpinan yang ia lihat pada Megawati Soekarnoputri dalam sebuah podcast Total Politik pada 21 Oktober 2024. Pernyataan ini bukan sekadar kritik biasa, melainkan refleksi atas bagaimana gaya kepemimpinan Megawati yang dianggap otoriter dan sulit beranjak dari peristiwa masa lalu memengaruhi dinamika politik internal partai dan bangsa.

Narsistik leadership syndrome merupakan fenomena di mana seorang pemimpin cenderung menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala keputusan, sering kali tanpa menerima kritik atau masukan dari pihak lain. Dalam konteks Megawati Soekarnoputri, Laksamana Sukardi menyoroti bagaimana Megawati tampaknya kesulitan untuk “move on” dari hubungan politik masa lalu, baik dengan SBY maupun Jokowi. Hubungan tersebut tidak hanya diwarnai oleh persaingan, tetapi juga ketidakmampuan untuk menerima perbedaan perspektif dan kepentingan politik.

Seorang pemimpin yang terjebak dalam narsistik leadership cenderung merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya sumber kebenaran, dan keputusan-keputusan partai atau pemerintahan harus tunduk pada kehendaknya. Hal ini memperkuat pola sentralisasi kekuasaan, yang dalam jangka panjang dapat memperlemah struktur demokrasi dan merugikan organisasi atau negara.

Laksamana Sukardi menyatakan bahwa PDIP, di bawah kepemimpinan Megawati, memiliki struktur organisasi yang sangat terpusat, mirip dengan pemerintahan feodal. Dalam struktur ini, pemimpin dianggap tidak bisa salah dan tidak ada yang berani memberikan kritik terbuka. Sukardi juga menyinggung bahwa PDIP sering lebih fokus pada dinamika internal ketimbang kondisi eksternal, yang mencerminkan partai dengan orientasi inward-looking.

Kepemimpinan Megawati digambarkan sebagai “one man show” di mana kekuasaan terkonsentrasi hanya pada satu orang. Pola ini telah membawa konsekuensi pada pengambilan keputusan, termasuk dalam menentukan kader-kader kunci dalam partai. Dalam situasi ini, loyalitas bukan lagi didasarkan pada kesetiaan ideologis atau visi, tetapi lebih pada pertimbangan pragmatis terkait hubungan kekuasaan dan peluang politik.

Dampak dari narsistik leadership ini tidak hanya dirasakan oleh para politisi senior, tetapi juga kader-kader muda dalam partai. Beberapa kader muda yang lebih progresif, seperti Puan Maharani atau Budiman Sudjatmiko, tampaknya mencoba membawa ide-ide baru, namun ruang gerak mereka dibatasi oleh kepemimpinan yang sentralistik. Kader muda ini sering kali mengalami dilema antara menghormati kepemimpinan senior dan keinginan untuk membawa perubahan.

Laksamana Sukardi menekankan, meski kader muda di PDIP mulai menunjukkan pemikiran yang lebih progresif, kendali utama masih ada di tangan Megawati. PDIP sebagai partai dengan massa yang militan, terutama generasi tua yang sangat setia pada Megawati, memperkuat fenomena narsistik leadership ini. Loyalitas bukan semata karena kesamaan visi, tetapi lebih pada keyakinan bahwa rezeki dan masa depan politik mereka bergantung pada Megawati sebagai pemimpin tunggal.

Narsistik leadership syndrome seperti yang ditunjukkan dalam kepemimpinan Megawati dapat berakibat serius bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Salah satu implikasi terbesarnya adalah minimnya ruang untuk oposisi internal yang sehat.

Demokrasi yang ideal memerlukan adanya oposisi yang kuat dan terlembaga untuk mengontrol dan mengawasi jalannya pemerintahan. Namun, dalam sistem di mana kepemimpinan sangat tersentralisasi, oposisi internal sering kali dibungkam atau dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai sumber masukan yang konstruktif.

Laksamana Sukardi menggarisbawahi pentingnya pembentukan oposisi yang terlembaga, seperti dalam sistem Westminster di negara-negara dengan demokrasi mapan. Oposisi yang kuat dan bersih akan mampu menjaga keseimbangan kekuasaan, memastikan pemerintahan berjalan dengan transparan, dan mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Namun, dalam kondisi di mana tidak ada oposisi yang efektif, seperti yang terjadi ketika semua partai bergabung dalam koalisi besar, kontrol terhadap kekuasaan menjadi sangat lemah, dan potensi korupsi yang masif tidak bisa dihindar.

Menariknya, Sukardi juga menghubungkan narsistik leadership ini dengan situasi politik Prabowo Subianto yang dianggap meniru gaya pemerintahan Jokowi untuk memastikan jalannya pemerintahan yang lancar. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana oposisi di Indonesia dapat dibentuk kembali dengan kekuatan yang memadai. Sukardi berharap PDIP tetap menjadi oposisi agar mereka bisa bersih-bersih dan melakukan evaluasi terhadap diri mereka sendiri.

Oposisi yang kuat tidak hanya penting untuk keseimbangan kekuasaan, tetapi juga bagi kelangsungan demokrasi itu sendiri. Dengan adanya oposisi yang berfungsi secara efektif, partai-partai akan lebih berhati-hati dalam menjalankan kebijakan dan program mereka, karena ada pihak lain yang terus mengawasi dan memberikan kritik.

Megawati narsistik leadership syndrome yang diungkapkan oleh Laksamana Sukardi memberikan gambaran tentang kepemimpinan yang sentralistik dan otoriter, yang dapat mengancam perkembangan demokrasi di Indonesia. Sentralisasi kekuasaan dalam satu orang pemimpin melemahkan struktur demokrasi partai dan menciptakan loyalitas yang pragmatis, bukan ideologis. Penting bagi Indonesia untuk memperkuat oposisi dan memperbaiki sistem politiknya agar demokrasi tetap berjalan sehat dan efektif.(c@kra)