6 November 2026

Luhut Pandjaitan

Jakarta, MoneyTalk – Kalau kita amati dengan tajam dan teliti AURA LBP saat diwawancarai wartawan setelah pertemuannya dengan Surya Paloh, tampak Aura yang sudah loyo. Tidak seperti wawancara-wawancara LBP sebelumnya yang bernuansa KESOMBONGAN seakan tak ada yang berani terhadapnya. Berbeda dengan Aura Surya Paloh yang sangat kuat Kesan Percaya Diri dan Mantapnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan para Laron Media. Coba kita simak ulang menonton Wawancara Para Laron Media dengan Surya Paloh dan LBP, sangat jelas kesan perbedaan antara Kekuatan dan Keloyoan. Surya Paloh tampak KUAT dan LBP tampak LOYO. Mungkin ini LOYO yang MENULAR dari JOKOWI. Maklum tak ada PROSPEK CERAH dari SEMUA RENCANA BUSUK MEREKA.P

PERPANJANGAN MASA JABATAN PRESIDEN kini sudah LAYU SEBELUM BERKEMBANG. Bila mendengar kata-kata itu kita merasa mendengar SUARA DARI DALAM GUA BATU KUNO. Suara Menyeramkan yang membuat kita tak tertarik bahkan untuk mendengarnya sekalipun. Tak satupun partai Mendukung Ide “Perpanjangan Masa Jabatan Presiden Jokowi” meski Persiapan untuk Hal Itu sudah maksimal.

Pengumuman Pencalonan Ganjar Pranowo menjadi Capres oleh Megawati bagai Pencalonan Lurah di Kecamatan. Tak tampak EFORIA KEGEMBIRAAN di masyarakat. Semua kehidupan berjalan seperti sehari-hari, “as usual”, begitu bahasa kerennya. Tidak seperti Pengumuman Anies Capres beberapa bulan yang lalu, yang disambut meriah oleh masyarakat hampir di seluruh wilayah. Mungkin karena faktor Ganjar yang terlalu mentah, digoreng terlalu matang sehingga GOSONG dan KISUT, dan tampak tidak menarik. Atau faktor PDIP yang akhir-akhir ini banyak DIHUJAT NETIZEN karena hal-hal yang dianggap Ketua Umumnya sepele, ternyata berdampak luas, seperti soal Tukang Bakso, Ibu-ibu Pengajian dan Viral Terakhir Gagalnya Indonesia Menjadi Tuan Rumah Pertandingan Sepak Bola FIFA U-20.

Ditambah lagi PDIP yang didaulat masyarakat Netizen sebagai Parpol Terkorup Sepanjang Satu Dekade Terakhir ini. Partai paling banyak kadernya ditangkap KPK bahkan salah satu kader TOP di PDIP, Harun Masiku masih buron hingga kini.

Pencalonan Ganjar Belum Final,Kenapa demikian?

Unsur-unsur Pendukung Puan di dalam PDIP sangat GERAM kepada Ganjar, padahal itu kan Keputusan Ketua Umum Megawati? Ya… kepada Ganjar, karena Tidak Berani Geram kepada Megawati. Tapi satu hal yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah, selama ini Masyarakat “under estimate” terhadap kepopuleran Puan di PDIP. Penulis dihubungi oleh Ketua “Gema Puan Untuk Presiden” yang berterima kasih atas tulisan penulis tentang Usulan Puan Menjadi Calon Wapres Prabowo. Menurutnya, hanya itu SATU-SATUNYA JALAN UNTUK MENYELAMATKAN PDIP DARI KEMEROSOTAN SUARA PADA PEMILU 2024. Pendapatnya persis seperti Kesimpulan Tulisan pada Artikel Penulis yang baru lalu itu (baca : “Satu Pasangan Capres-Cawapres Sudah Pasti”) adalah “Ganjar Kartu Mati!”

Penulis yakin tekanan TULISAN PENULIS pada artikel yang sama bahwa SEHARUSNYA TAYPAN DAN JOKOWI yang TAKUT PADA PDIP, masuk ke dalam benak Kader-kader Terbaik PDIP yang memang betul-betul Mencintai PDIP, bukan Pura-pura Mencintai. Mereka juga resah pada Masa Depan PDIP yang bisa saja DISEROBOT Non Trah Soekarno. Padahal sebagian besar mereka meyakini Roh dan Jiwa PDIP akan SIRNA bila dikomandani Bukan Trah Soekarno. Kader-kader Terbaik ini menyadari bahwa Ekektabilitas Puan memang lemah, tetapi Hak Puan sebagai Satu-satunya Pengganti Trah Soekarno Paling Potensial Tidak Bisa Dinafikan begitu saja. Itu Penghinaan!!! Itu Penyerobotan! Itu justru Melemahkan Potensi Satu-satunya Trah Soekarno yang akan menjadi Tumpuan Kuat Para Nasionalis Sejati! Jadi bagi mereka Pembatalan Pencalonan Ganjar adalah Mutlak, dan Pencalonan Puan dengan Prabowo meskipun Harus Mengalah sebagai Wakil Presiden adalah Kemutlakan berikutnya! Waktu masih sangat memungkinkan…

Pencalonan Puan sebagai Wakil Prabowo adalah Realitas yang tak perlu diperdebatkan karena :
a. Elektabilitas Prabowo memang jauh di atas Puan.
b. Senioritas Prabowo juga jauh di atas Puan.
c. PDIP punya Hutang Komitmen Perjanjian Batu Tulis Bogor yang Menjanjikan Dukungan untuk Prabowo menjadi Presiden RI setelah Kesediaan Prabowo menjadi Cawapres Megawati pada Pilpres Tahun 2004.

Nah… bila Faksi Puan di PDIP bisa bersatu dan bertekad untuk meloloskan Puan menjadi Cawapres Prabowo, maka peluang ini sangat mungkin terjadi. Maka KIAMATLAH JOKOWI dan LBP. Dan Mereka Berdua sangat MENYADARI HAL INI. Perlu Dipahami bahwa PELUANG ini menjadi Sangat Mungkin karena banyak Kader PDIP Menyadari bahwa PDIP TAK MUNGKIN DISELAMATKAN OLEH PENCALONAN GANJAR!!! Kecuali… Kecurangan PILPRES 2024 Dijalankan dengan KECURANGAN HABIS-HABISAN!!! Artinya : “GORO-GORO JOYOBOYO TERJADI…!!! (MT)

Oleh : Indra Adil
Eksponen PKM IPB 77/78

BULELENG, MoneyTalk – Pemerintah menjadikan transisi energi sebagai salah satu kepentingan strategis jangka panjang. “Indonesia memiliki komitmen kuat dalam optimalisasi potensi kelautan untuk mendorong terwujudnya blue economy. Salah satu potensi terbesar adalah pendayagunaan rumput laut,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan.

Lebih jauh, Menko Luhut menyampaikan bahwa ketergantungan terhadap pemanfaatan energi fossil akan dikurangi secara bertahap dibarengi dengan peningkatan kemampuan nasional dalam menghasilkan energi bersih, energi alternatif yang ramah lingkungan, termasuk mendukung rencana pengembangan biofuel dan crude oil berbasis rumput laut ini.

Menko Luhut juga menyampaikan bahwa rumput laut merupakan blue natural capital yang sangat strategis untuk dikembangkan karena termasuk sektor yang padat karya dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Kondisi perairan tropis yang dimiliki Indonesia menjadi habitat yang cocok untuk budidaya rumput laut, termasuk pengolahan industrinya. Indonesia merupakan produsen kedua terbesar rumput laut di dunia dengan nilai produksi 9,3 Juta ton tahun 2022,” sebut Menko Luhut.

Mengacu pada data, di tahun 2021, komposisi ekspor rumput laut Indonesia masih didominasi oleh bahan baku rumput laut kering (65 persen), hanya 35 persen berupa rumput laut olahan yang bernilai tambah.

Secara keseluruhan nilai ekspor rumput laut ini mencapai sekitar 6 persen dari total ekspor produk perikanan nasional, dengan penguasaan pangsa pasar dunia baru sekitar 12 persen saja.

Untuk dapat meningkatkan kapasitas industri pengolahan rumput laut serta mendukung industrialisasi rumput laut dari hjlu ke hilir, maka diperlukan dukungan dari bebagai pihak, mulai dari industri rumput laut yang perlu meningkatkan nilai tambah dan daya saing, hingga pemerintah yang perlu mendesain dan mengidentifikasi langkah-langkah kebijakan untuk mempercepat upaya tersebut.

Terlebih, rumput laut dapat memainkan peran besar dalam adaptasi perubahan iklim dengan menyerap emisi karbon, meregenerasi ekosistem laut, dan sebagai bahan biofuel dan plastik biodegradable.

Disampaikan oleh Co-founder dan CEO PT Sea6 Energy Nelson Vadassery bahwa saat ini perusahaannya berupaya untuk mendukung Sustainable Development Goals. Pihaknya pun telah memanfaatkan berbagai teknologi untuk pengembangan pengelolaan rumput laut di hulu dan hilir.

Beberapa di antaranya adalah pemantauan lokasi budidaya menggunakan drone, penentuan lokasi perluasan budidaya menggunakan analisis satelit, dan pemanfaatan kecerdasan buatan.

“Dengan melakukan hilirisasi, nilai tambah di dalam negeri akan meningkat, sehingga pendapatan petani rumput laut akan meningkat,” ujar Menko Luhut. Program padat karya ini akan melibatkan lebih dari 15 ribu pekerja, menurunkan emisi karbon, dan menjadi solusi membersihkan laut.

Sepakat dengan Menko Luhut, Pejabat (PJ) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana juga menilai akan ada banyak multiplier effect yang muncul, terlebih banyak dari masyarakat Buleleng berprofesi sebagai nelayan.

“Pengembangan budidaya rumput laut akan membawa banyak dampak positif, bukan hanya untuk kelestarian laut saja, tetapi juga dapat membawa kesejahteraan masyarakat,” tutur PJ Bupati Ketut. Ia pun bercerita bahwa saat ini ada 349 kepala keluarga ralam kondisi ekstrim. Dengan memberikan perhatian pada Kabupaten dengan garis pantai terpanjang di Bali ini, maka Buleleng akan tumbuh dan mendukung transformasi ekonomi, khususnya melalui blue economy melalui budidaya rumput laut.

Menko Luhut pun mengingatkan agar pembudidaya terus menerapkan praktek budidaya yang ramah lingkungan. “Kurangi penggunaan botol-botol plastik sebagai pelampung, terapkan mekanisasi dalam hal pemanenan dan penyortiran benih, kembangkan kebun bibit rumput laut secara merata di sentra-sentra budidaya, dan gunakan teknologi sehingga mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi,” pesannya.

JAKARTA, MoneyTalk – Wakil Ketua DPR RI bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat Abdul Muhaimin Iskandar mendukung Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan terkait kebijakan terbaru investasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Luhut diketahui menolak permintaan China yang bersikeras ingin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi penjamin pinjaman utang proyek KCJB.

“Saya kira bagus (keputusan Luhut menolak permintaan China jadikan APBN sebagai penjamin utang KCJB). Resikonya terlalu besar kalau sampai APBN kita tersandera,” kata pria yang akrab disapa Gus Muhaimin dalam keterangan yang diterima.

Politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan, pemerintah harus lebih tegas dan memastikan proyek KCJB benar-benar business to business (B2B), sehingga seharusnya tidak membebani APBN sama sekali.

“Yang perlu dipastikan itu proyek KCJB seharusnya B2B, saya kira cukup lah dana PMN disuntikkan, jangan lagi bebani APBN lagi sebagai penjamin utang,” tegas Gus Muhaimin.

Gus Muhaimin menambahkan, jika APBN digunakan sebagai penjamin utang proyek KCJB maka fiskal akan terbebani hingga puluhan tahun untuk membayar beban utang proyek itu.

“Padahal kita tahu masih banyak diperlukan investasi, proyek-proyek besar di daerah-daerah yang saat ini masih berjalan. Jadi pada intinya hindari betul APBN kita jadi jaminan utang, jangan sampai tersandera,” tukas Gus Muhaimin.

Diketahui Sebelumnya, China Development Bank (CDB) disebutkan meminta adanya jaminan melalui APBN untuk memberikan pinjaman yang digunakan untuk membayar pembengkakan biaya (cost overrun) KCJB, yang kemudian ditolak oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.

“Masih ada masalah psikologis, kemarin mereka (China) mau dari APBN, tetapi kita jelaskan kalau dari APBN itu prosedurnya jadi panjang makanya mereka juga sedang pikir-pikir. Kami dorong melalui PT PII karena ini struktur yang baru dibuat pemerintah Indonesia sejak 2018,” Luhut kepada media.

JAKARTA, MoneyTalk – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut B. Pandjaitan sampaikan kerja sama Indonesia dengan Tiongkok berlandaskan asas saling percaya dan saling menguntungkan.

“Tidak boleh satu negara mendikte negara yang lain. Diharapkan kedua negara akan mengoptimalkan strategi pembangunan untuk maju bersama dalam proses modernisasi dan terus mendorong pembangunan berkualitas tinggi,” tutur Menko Luhut mengawali konferensi pers tersebut.

Dalam penjelasannya, Menko Luhut menerangkan sejumlah kesepakatan yang dihasilkan dan akan ditindaklanjuti, yaitu mengenai Kereta Api Cepat Jakarta Bandung (KCJB), Investasi Kawasan Industri Kalimantan Utara, Ibu Kota Negara Baru, Ketahanan Pangan, Kura-Kura Bali, Maritim dan Perikanan, Kesehatan dan Bioteknologi, Perdagangan, serta terkait Pendidikan dan Pelatihan.

“Mengenai KCJB saya lihat ada keraguan dari masyarakat bahwa ini akan selesai. Tapi sudah saya laporkan (kepada Presiden RI), minggu lalu saya meletakan rel yang terakhir, jadi 304km itu sudah selesai. Sedangkan trial run akan dimulai pada Mei paling lambat sudah dimulai,” terangnya.

Dirinya kemudian menjelaskan bahwa Tim teknis dari kedua negara telah menyepakati angka cost overrun sebesar US$ 1.2 Milyar.

“Itu hasil audit kita, hasil audit mereka bahwa pembicaraan detail antara kedua belah pihak kita sepakat angkanya US$ 1,2 M. Terkait pinjaman kepada KAI untuk pembiayaan cost overrun, kami sedang finalisasi negosiasi mengenai suku bunga.” ungkapnya.

Menko Luhut kemudian menerangkan mengenai Kawasan Industri Kalimantan Utara yang menurutnya merupakan Game Changer bagi Indonesia.

Dirinya menerangkan bahwa Saat ini ada 3 proyek yang sedang dikerjakan di Kawasan Industri Hijau Kaltara PT KIPI, yaitu Industri smelter aluminum sedang tahap konstruksi, industri petrokimia dan PLTA Mentarang yang memasuki tahap konstruksi.

“Investasi di Kaltara sudah jalan, jumlahnya semua kalau di total sekitar 132 M US Dollar,” terangnya.

Menko Luhut kemudian menyampaikan juga harapan Indonesia atas dukungan Tiongkok khususnya Tim Pakar dari Shenzhen untuk desain dan manajemen serta pembangunan kluster pendukung di IKN.

“Semalam saya juga bertemu utusan khusus dari Abudhabi, mereka senang berkolaborasi dengan tim dari Shenzhen. Jadi nanti kita akan lihat kombinasi tim dari Indonesia, Abudhabi dan Shenzhen. Karena ada 9 kluster yang ada di IKN, nanti kita akan cari kluster mana yang mereka mau,” ungkapnya.

Dalam hal Keketuaan Asean, Menko Luhut menyampaikan bahwa Tiongkok mendukung keketuaan Indonesia tahun ini, dan berharap Regional Comprehensice Economic Partnership (RCEP) dapat menciptakan lebih banyak manfaat.

Indonesia diharapkan dapat menjaga persatuan dan solidaritas ASEAN, khususnya melalui keketuaan ASEAN tahun ini.

“Terkait ASEAN, saya kira kita akan memerankan peran yang baik, dan Tiongkok sangat menghormati keketuaan Indonesia. Mereka lihat Indonesia memiliki leadership yang bagus. Mereka memberikan dukungan terhadap keketuaan Indonesia. Terkait RCEP, saya kira Indonesia berpartner dengan siapa saja, dengan Tiongkok, Amerika buat kita sama aja,” pungkasnya.

JAKARTA, MoneyTalk – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut B. Pandjaitan meresmikan pemasangan rel kereta atau track laying terakhir untuk Kereta Api Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Stasiun KCJB Halim.

Rel tersebut membentang dari Tegalluar hingga Halim dengan total panjang rel terpasang 304 km untuk kedua sisi.

Menko Luhut menyampaikan dalam sambutannya bahwa Indonesia boleh bangga karena dengan peletakan rel terakhir ini menandakan bahwa seluruh jalur KCJB telah tersambung.

Namun, perlu menjadi perhatian bersama karena masih banyak yang harus diselesaikan menjelang COD di Bulan Agustus 2023, contohnya penyelesaian pekerjaan stasiun, pembangunan aksesibilitas dan konektivitas, kesiapan SDM untuk operasional dan maintenance, hingga aspek komersial.

“Hal tersebut akan kami kawal ketat melalui koordinasi lintas instansi yang selama ini sudah dilakukan juga oleh PMO Percepatan Proyek KCJB,” tegas Menko Luhut

Menko Luhut menambahkan bahwa hal ini menjadi semangat baru bagi Indonesia, terutama didukung oleh narasi integrasi dan konektivitas dengan proyek strategis nasional lainnya yaitu LRT Jabodetabek, dimana perpindahan moda transportasi dari Kereta Cepat menuju LRT akan menjadi seamless dan effortless.

“Semangat integrasi ini menjadi dorongan bagi seluruh pihak untuk dapat merampungkan kedua proyek strategis nasional tersebut sehingga direncanakan dapat diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada Bulan Agustus 2023 bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” jelasnya

Pada kesempatan tersebut Menko Luhut bersama PJ Gubernur DKI Jakarta dan jajarannya turut melakukan uji coba menaiki LRT dari Stasiun LRT Halim menuju Stasiun LRT Dukuh Atas.

“Ini perlu kita apresiasi adalah karya anak-anak bangsa kita. Jadi kita kalau ada kurang lebih saya kira tentu perlu proses penyempurnaan karna ini semua di produksi di dalam negeri. Jadi kita sebagai bangsa sekali lagi harus bangga dengan apa yang dicapai oleh anak-anak kita, bahwa ada kurang lebih sana-sini tentu sambil berjalan akan kita perbaiki,” Ujar Menko Luhut.

Selain itu Menko Luhut juga menghimbau terkait pengamanan, agar jangan sampai ada yang merusak fasilitas-fasilitas yang sudah dibangun yang bisa menghambat proses penyelesaian proyek.

“Jadi saya minta semua kita ini betul-betul saling mengingatkan karena ini menyangkut reputasi kita juga, ini kereta api cepat pertama di Asia Tenggara, di Indonesia,” pungkas Menko Luhut.

JAKARTA, MoneyTalk – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut B. Pandjaitan bicara mengenai memanfaatkan peluang investasi hijau untuk transisi energi Indonesia.

Luhut menyampaikan ini adalah waktu yang tepat bagi kita semua untuk berkontribusi pada gerakan Transisi Energi di Indonesia dengan target umum pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

Apalagi, Indonesia mempunyai modal yang lebih dari cukup untuk bersiap menjadi negara maju dan turut berkontribusi secara global pada Gerakan Transisi Energi.

“Dengan pertimbangan dan pemilihan yang baik, skema pemanfaatan kekayaan sumber daya alam Indonesia untuk mendukung Gerakan Transisi Energi secara bersamaan juga dapat membukakan peluang bagi Indonesia untuk keluar dari “The Middle Income Trap” dan menjadi nagara maju melalui skema pencapaian target NZE pada tahun 2060 atau lebih cepat,” papar Menko Luhut.

Indonesia sendiri telah menyatakan komitmennya untuk menurunkan emisi karbon melalui National Determined Contribution (NDC) yang bahkan sudah ditingkatkan menjadi Enhanced-NDC dengan target penurunan emisi karbon sebesar 31.89% hingga 2030 melalui usaha sendiri, atau hingga 43.2% dengan dukungan internasional.

Menko Luhut menjelaskan tingkat emisi perkapita Indonesia masih jauh di bawah Global Average, seharusnya proses dan skema-skema pencapaian Transisi Energi menuju NZE di Indonesia dapat dijalankan tanpa menganggu pertumbuhan perekonomian nasional, bahkan seharusnya dapat diandalkan untuk membawa perekonomian Indonesia keluar dari “the Middle Income Trap”.

“Kunci bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari “the Middle Income Trap” adalah dengan meningkatkan daya saing melalui inovasi yang dapat dilakukan melalui penguasaan berbagai teknologi untuk melakukan hilirisasi pengolahan beragam sumber daya alam bernilai tinggi yang berlimpah jumlahnya di Indonesia,” tambah Menko Luhut.

Lalu untuk mencapai status sebagai negara dengan ”High Income Percapita” yang berarti berhasil keluar dari “the Middle Income Trap”, Indonesia masih harus meningkatkan income perkapita hampir 3 kali lipat.

Bila berbagai contoh pengadopsian teknologi seperti pengembangan end-to-end Electric Vehicle (EV) dan solar panel tadi dapat dilakukan juga dalam mengembangkan berbagai macam teknologi energi terbarukan seperti pengembangan manufaktur komponen sistem pembangkit listrik Geothermal (PLTP), dan juga untuk komponen pembangkit listrik tenaga air (PLTA), tenaga angin (PLTB), serta berbagai macam pembangkit energi terbarukan lainnya, maka Indonesia akan lebih berpeluang mencapai status “High Income Percapita” sejalan dengan pencapaian target Transisi Energi menuju NZE pada tahun 2060.

Kami bergerak cepat mulai upaya membangun suatu struktur bagaimana floating solar panel bisa menghasilkan energi yang bisa kita bagi dengan negara tetangga dengan membuat industri solar panel dalam negeri di mana kami memiliki banyak silika bahan material untuk solar panel.

Sekarang ini harga energi dunia meningkat, sehingga energi terbarukan ini menjadi satu pilihan yang sangat penting. 5-10% danau (di Indonesia) akan dibuat floating solar (panel) sehingga menghasilkan beberapa ribu Gigawatt ke depan ini,” jelas Menko Luhut.

Selain itu, tidak kalah pentingnya dalam pembahasan Transisi Energi adalah peran sumber daya energi lainnya seperti Natural Gas yang akan menjadi pilihan energi utama selama masa transisi ke depan, karena menghasilkan emisi yang relatif rendah dalam pemanfaatannya.

Ada juga strategi Dekarbonisasi pada industri Hulu Migas Di mana optimasi operasi industri migas dapat dilakukan melalui pengurangan flaring dan venting, serta peningkatan efisiensi hingga penerapan teknologi carbon capture, utilization and storge (CCS/CCUS).

Selain untuk memenuhi kebutuhan industri hulu migas, teknologi CCS/CCUS merupakan kunci penurunan emisi juga bagi berbagai sektor lainnya.