7 November 2026

Macan Asia

MoneyTalk.id,Jakarta – Foto Presiden Prabowo Subianto berjalan bersama sejumlah pemimpin dunia di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 justru menjadi bahan sindiran sutradara dokumenter Dandhy Dwi Laksono.

Melalui akun X pribadinya, Dandhy mengunggah foto yang memperlihatkan Prabowo berjalan bersama Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden China Xi Jinping. Di atas unggahan tersebut, Dandhy menulis kalimat singkat namun tajam: “Tidak relevan, tidak signifikan, tak terlihat,” tulis Dandhy, Senin (14/9/2026).

Dalam unggahan lainnya, Dandhy menulis lebih provokatif:

“Macan Asia ❌

Micin Asia ✅”

Unggahan tersebut kemudian menarik perhatian besar pengguna media sosial. Tangkapan layar yang beredar menunjukkan unggahan Dandhy mendapat ribuan interaksi dan ratusan ribu tayangan.

Sindiran itu muncul ketika Prabowo memang tengah berada di panggung diplomasi internasional. Presiden menghadiri KTT ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 12–13 September 2026 sebagai anggota penuh BRICS.

Menariknya, foto yang digunakan Dandhy bukan sekadar pertemuan biasa. Pemerintah Indonesia sendiri sebelumnya menyoroti momen keakraban Prabowo dengan Modi, Putin, dan Xi Jinping menjelang pembukaan KTT BRICS.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut keempat pemimpin tersebut berbincang dalam suasana hangat dan bersahabat sebelum sesi pembukaan dimulai.

ANTARA juga memberitakan momen tersebut sebagai perbincangan hangat Prabowo dengan tiga pemimpin negara besar.

Namun, bagi Dandhy, visual tersebut tampaknya tidak otomatis menjadi bukti bahwa Indonesia telah tampil sebagai kekuatan besar di Asia. Frasa “Macan Asia” yang selama ini digunakan untuk menggambarkan ambisi kebangkitan Indonesia justru ia balik menjadi “Micin Asia”, sebuah sindiran yang mempertanyakan substansi di balik pencitraan kekuatan Indonesia.

Istilah “Macan Asia” sendiri bukan narasi yang muncul begitu saja. Sejumlah pihak di pemerintahan sebelumnya memang menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan target Indonesia kembali menjadi kekuatan ekonomi dan politik penting di kawasan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, misalnya, pada Desember 2025 menyebut kebijakan pemerintahan Prabowo dan pembentukan Danantara diarahkan untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi Indonesia agar kembali menjadi “Macan Asia”.

ANTARA bahkan memuat telaah berjudul “Macan Asia: Presiden Prabowo di mata Trump” setelah pertemuan Prabowo dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Februari 2026. Dalam tulisan tersebut, Prabowo digambarkan semakin memperoleh posisi strategis dalam diplomasi internasional.

Tetapi tidak semua pengamat melihat ambisi “Macan Asia” sebagai ukuran yang tepat.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal sebelumnya justru mengingatkan agar Indonesia tidak terlalu mengejar citra sebagai “Macan Asia”. Menurut Dino, ruang yang lebih realistis bagi Indonesia untuk menjadi kekuatan utama adalah ASEAN.

“Kita tidak perlu jadi macan Asia, kita perlu jadi mesin ASEAN,” kata Dino sebagaimana dikutip ANTARA. Ia menilai Indonesia mempunyai peluang lebih besar memimpin kawasan Asia Tenggara dibanding mengejar posisi dominan di forum global.

Prabowo tampil di panggung BRICS

Di sisi lain, pemerintah menilai kehadiran Prabowo di KTT BRICS mempunyai arti strategis.

Sekretariat Negara menyebut keikutsertaan Indonesia sebagai anggota penuh BRICS merupakan bagian dari upaya memperkuat peran aktif Indonesia dalam kerja sama multilateral sekaligus mendorong tatanan ekonomi global yang lebih seimbang dan inklusif.

Dalam KTT tersebut, Prabowo membawa sejumlah pesan mengenai kemandirian dan ketahanan nasional, persatuan Global South, serta penguatan kerja sama BRICS dan tata kelola global yang lebih adil.

Prabowo juga menyampaikan bahwa BRICS dapat memberikan suara yang lebih kuat bagi negara-negara Global South dalam pembentukan tata dunia.

KTT BRICS 2026 sendiri berlangsung di tengah perubahan peta geopolitik dunia. Reuters melaporkan bahwa Presiden Xi Jinping mendorong penguatan “Greater BRICS”, termasuk kerja sama AI, perdagangan, politik dan keuangan. BRICS kini beranggotakan 11 negara, termasuk Indonesia.

Karena itu, unggahan Dandhy memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah keakraban dengan pemimpin dunia dan keanggotaan Indonesia di BRICS sudah cukup untuk menyebut Indonesia sebagai “Macan Asia”, atau kekuatan tersebut harus dibuktikan melalui capaian ekonomi, teknologi, industri, militer, dan pengaruh diplomatik yang nyata?

Dandhy sendiri tidak menjelaskan lebih panjang maksud kalimat “Tidak relevan, tidak signifikan, tak terlihat” dalam unggahan tersebut. Namun, pilihan kata “Macan Asia” yang dicoret dan diganti menjadi “Micin Asia” menunjukkan kritik tajam terhadap narasi kebesaran Indonesia di tengah panggung geopolitik global.

Dengan kata lain, foto Prabowo berdiri bersama Modi, Putin dan Xi boleh terlihat megah. Tetapi bagi Dandhy Laksono, persoalannya bukan siapa yang berdiri di dalam foto, melainkan seberapa besar kekuatan Indonesia yang benar-benar terlihat di balik foto tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Jagat media sosial kembali diramaikan dengan kritik keras yang menyasar elite politik Indonesia. Seorang warganet di platform X (dulu Twitter) dengan akun @TogaHglQ melontarkan sindiran tajam terhadap sikap pemerintah yang dinilai pasif atas tewasnya seorang pemimpin Asia di wilayah negaranya sendiri akibat serangan kekuatan asing.

Dalam unggahannya, akun tersebut menggunakan gaya retoris yang disebut-sebut “ala-ala Soekarno”, lengkap dengan julukan “Macan Asia” dan seruan khas, “Haaai Antek Asing!”

Akun itu menulis: “Pemimpin di Asia dibunuh di wilayah negaranya yang berdaulat oleh kekuatan asing. Jangankan protes, mengucap belasungkawa pun tak berani. Tua-tua biawak. Makin tua makin lawak.”

Unggahan tersebut merujuk pada eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Israel serta keterlibatan Amerika Serikat.

Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, narasi yang dibangun akun itu mengarah pada kritik terhadap sikap pemerintah Indonesia yang dinilai tidak cukup tegas dalam merespons kematian tokoh penting di kawasan Asia akibat serangan asing.

Frasa “Macan Asia” sendiri kerap digunakan untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara besar dengan populasi muslim terbesar di dunia dan posisi strategis di kawasan. Namun, dalam unggahan tersebut, istilah itu justru dipakai secara satir.

Penggunaan gaya bahasa menyerupai retorika Soekarno menjadi perhatian tersendiri. Diksi seperti “Antek Asing” dan nada konfrontatif mengingatkan publik pada pidato-pidato Presiden pertama RI yang dikenal keras terhadap imperialisme dan kolonialisme.

Bagi sebagian warganet, unggahan tersebut dianggap sebagai ekspresi kekecewaan terhadap arah politik luar negeri Indonesia yang dinilai terlalu berhati-hati. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang mengingatkan bahwa diplomasi tidak selalu dilakukan secara terbuka dan retoris.

Indonesia secara konstitusional menganut politik luar negeri bebas aktif. Dalam konteks konflik global, pemerintah sering kali memilih jalur diplomasi tertutup, komunikasi bilateral, dan pendekatan multilateral melalui forum internasional.

Namun di era media sosial, tuntutan terhadap pernyataan terbuka dan sikap tegas semakin menguat. Publik tidak hanya menilai kebijakan, tetapi juga simbol dan gestur politik.

Unggahan @TogaHglQ menunjukkan bagaimana ruang digital menjadi arena baru pertarungan opini, tempat narasi nasionalisme, kedaulatan, dan keberanian diplomatik diperdebatkan secara terbuka—kadang dengan nada satir, kadang dengan amarah.

Apakah “Macan Asia” masih mengaum, atau justru memilih berbisik di balik layar diplomasi? Perdebatan itu tampaknya akan terus bergulir di ruang publik.

MoneyTalk,Jakarta – Ucapan Gus Miftah yang terlontar dalam sebuah acara pengajian dianggap merendahkan seorang pedagang es teh, sehingga menuai kritik luas di media sosial. Potongan video tersebut memicu berbagai reaksi, dengan banyak pihak mempertanyakan etika dan kesantunan seorang tokoh publik atau Utusan Presiden dalam menyampaikan pesan di hadapan masyarakat.

Insiden tersebut tidak hanya memancing reaksi keras dari publik tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana Presiden Prabowo Subianto akan mengambil langkah tegas terhadap anak buahnya yang melanggar norma kesopanan dan penghormatan terhadap rakyat kecil, kata Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat)/Relawan Independen Pendukung Prabowo Saat Pilpres 2019-2024, Sugiyanto (SGY)-Emik.

Gus Miftah yang melontarkan candaan yang dianggap menghina seorang pedagang es teh bernama Sunhaji. Ucapan seperti “Ya, sana jual gob**k” dinilai publik sebagai bentuk penghinaan yang tidak pantas, terutama dari seorang pejabat yang bertugas menjaga kerukunan dan moderasi beragama, ujar Sugiyanto

Sebagai seorang pemimpin yang dikenal dengan julukan Macan Asia, Prabowo Subianto diharapkan menunjukkan ketegasan dalam menegakkan disiplin di lingkaran pemerintahannya, lanjut Sugiyanto

Namun, menurut Sugiyanto keputusan untuk memecat Gus Miftah tidaklah sederhana. Ada pertimbangan politik dan hubungan personal yang mungkin menjadi faktor penentu.

Di satu sisi, tindakan tegas akan memperkuat citra Prabowo sebagai pemimpin yang tidak mentolerir pelanggaran etika oleh pejabatnya. Di sisi lain, keputusan ini bisa memunculkan polemik baru, mengingat posisi Gus Miftah sebagai tokoh agama yang memiliki pengikut luas jelas Sugiyanto

Disebut Sugiyanto setdaknya terdapat 3 (tiga) alasan yang mendasari pentingnya keputusan tegas dari Presiden Prabowo. Pertama, menjaga wibawa pemerintah.

Ucapan Gus Miftah yang viral telah mencoreng citra pemerintah, khususnya di mata rakyat kecil yang merasa terhina. Keputusan tegas akan memperlihatkan bahwa pemerintah tidak mentolerir perilaku pejabat yang bertindak semena-mena.

Kedua, menyelaraskan nilai pemimpin dengan kebijakan. Prabowo secara konsisten menunjukkan penghormatan terhadap rakyat kecil. Jika Gus Miftah tetap dibiarkan menjabat, hal ini dapat menimbulkan kesan bahwa pemerintah tidak serius dalam menegakkan nilai-nilai yang telah menjadi prinsip dasar kepemimpinan Prabowo.

Dan Ketiga, memberikan efek jera. Langkah tegas terhadap Gus Miftah akan menjadi peringatan bagi pejabat lain untuk selalu menjaga integritas dan etika dalam bertindak, baik di depan publik maupun dalam menjalankan tugas.

Langkah Prabowo dalam menyikapi kasus ini akan menjadi ujian nyata bagi komitmennya terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan yang selama ini ia gaungkan. Publik menanti keberanian “Macan Asia” untuk mengambil tindakan tegas yang tidak hanya menjaga wibawa pemerintah, tetapi juga membela martabat rakyat kecil, pungkasnya.