7 November 2026

Makmur HAPK

Berau – Seno Aji, calon Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) dari pasangan Rudy Mas’ud, baru-baru ini melakukan pertemuan dengan politisi senior Kalimantan Timur, Makmur HAPK, di Berau.

Pertemuan ini menjadi sorotan publik karena dilakukan setelah Makmur HAPK lebih dulu menerima kunjungan dari calon gubernur rival, Isran Noor. Pertemuan Seno Aji dengan Makmur justru memperkuat spekulasi adanya potensi masalah di antara Makmur dan calon Gubernur Rudy Mas’ud.

Pertemuan politik ini tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas: hubungan Makmur HAPK dengan Rudy Mas’ud selama ini dianggap tidak berjalan harmonis, dan pertemuan yang terjadi tanpa kehadiran Rudy semakin memanaskan rumor tersebut.

Publik di Benua Etam pun mulai bertanya-tanya, apakah ini menjadi sinyal bahwa Makmur HAPK lebih mendukung Isran Noor dibandingkan dengan pasangan yang diusung oleh partainya sendiri, Rudy Mas’ud.

Kehadiran Seno Aji yang datang tanpa didampingi oleh Rudy Mas’ud menimbulkan berbagai spekulasi. Banyak pihak menganggap absennya Rudy dalam pertemuan ini adalah indikasi adanya jarak atau bahkan ketegangan antara kedua tokoh tersebut.

Terlebih lagi, Makmur HAPK adalah figur yang berpengaruh di Kaltim, khususnya di Berau, sehingga pertemuan politik dengannya dianggap penting bagi setiap kandidat.

“Sebagai tokoh politik yang dihormati dan berpengalaman di Kaltim, Makmur HAPK dikenal memiliki pengaruh besar di kalangan konstituen. Selama ini, ia telah lama menjadi ikon politik di Berau dan Kaltim secara umum, baik saat menjabat sebagai Bupati Berau selama dua periode maupun saat menjadi Ketua DPRD Kalimantan Timur,” kata Pengamat Kebijakan Publik, Iradat Ismail.

Oleh sebab itu, dukungan Makmur dianggap sangat signifikan dalam pertarungan politik lokal, termasuk dalam Pemilihan Gubernur Kaltim.

Namun, pertemuan ini justru memperkuat dugaan bahwa hubungan Makmur HAPK dengan pasangan Rudy Mas’ud-Seno Aji tidak sejalan, dan ini membuka spekulasi lebih lanjut bahwa Makmur HAPK mungkin lebih mendukung Isran Noor.

Dukungan Makmur HAPK Lebih Cenderung kepada Isran Noor?

Pertemuan Makmur HAPK dengan calon gubernur Isran Noor beberapa waktu sebelumnya menjadi bahan perbincangan hangat. Foto keduanya yang tersebar luas memicu spekulasi bahwa Makmur lebih mendukung Isran Noor dibandingkan Rudy Mas’ud.

Isran Noor, yang juga seorang calon gubernur dan rival Rudy Mas’ud, dianggap memiliki kedekatan yang lebih kuat dengan Makmur HAPK, mengingat sejarah politik mereka yang sudah lama terjalin.

Banyak masyarakat Kalimantan Timur berpendapat bahwa Makmur HAPK lebih menyukai sosok Isran Noor karena pengalaman panjang Isran dalam memimpin Kaltim serta kedekatan personal yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

Hal ini tentu menambah tekanan bagi pasangan Rudy Mas’ud-Seno Aji yang memerlukan dukungan dari tokoh berpengaruh seperti Makmur HAPK untuk memenangkan hati konstituen, khususnya di wilayah Berau.

Makmur sendiri, meskipun telah bertemu dengan Isran Noor, menegaskan bahwa pertemuan tersebut hanya silaturahmi biasa. Namun, pernyataan tersebut belum mampu menghilangkan dugaan bahwa ia lebih cenderung mendukung Isran Noor dalam kontestasi politik ini.

“Jika benar adanya bahwa Makmur HAPK lebih mendukung Isran Noor, hal ini bisa menjadi pukulan besar bagi upaya pemenangan Rudy Mas’ud-Seno Aji di Kaltim. Sebagai salah satu tokoh berpengaruh di daerah dengan basis konstituen yang kuat, dukungan Makmur HAPK bisa berperan penting dalam menentukan hasil akhir Pemilihan Gubernur Kaltim,” jelasnya.

“Absennya Rudy Mas’ud dalam pertemuan di Berau, serta spekulasi yang berkembang bahwa hubungan di antara keduanya tidak harmonis, bisa mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kekompakan pasangan ini,” pungkasnya.

Berau – Dunia politik Kalimantan Timur kembali ramai setelah beredarnya foto pertemuan antara Calon Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor dengan Makmur HAPK, seorang politisi senior Partai Gerindra, di kediaman Makmur di Berau.

Sebab foto tersebut menimbulkan berbagai spekulasi, terutama di kalangan internal Partai Gerindra, yang saat ini tengah mendukung pasangan calon gubernur Rudy Mas’ud dan Seno Aji dalam Pilkada Kaltim 2024.

Menanggapi pertemuan tersebut, Sekretaris DPD Partai Gerindra Kalimantan Timur, Seno Aji, yang juga calon Wakil Gubernur Kaltim, bahkan mengancam bahwa Partai Gerindra akan memberikan sanksi tegas kepada setiap kader yang mendukung pasangan calon gubernur di luar garis resmi partai. Ini adalah peringatan keras yang ditujukan kepada Makmur HAPK, mengingat posisinya yang saat ini masih aktif sebagai anggota Partai Gerindra.

Makmur HAPK, yang juga merupakan mantan Ketua DPRD Kaltim, akhirnya buka suara mengenai pertemuannya dengan Isran Noor. Makmur menegaskan bahwa kunjungan Isran Noor ke rumahnya hanyalah bentuk silaturahmi biasa dan tidak berkaitan dengan kampanye politik. Saat Isran berkunjung, lanjut Makmur, pada waktu itu dirinya sedang mengadakan acara selamatan untuk cucunya.

“Tidak ada pembicaraan yang gimana-gimana, cuma makan lalu pulang,” ungkapnya dengan santai.

Makmur menjelaskan bahwa kunjungan seperti itu sudah sering terjadi sejak lama, dan dirinya kerap menerima tamu dari kalangan politik yang berkunjung ke Berau, terutama para tokoh yang tengah berkontestasi dalam Pilkada.

“Sejak zaman Pak Achmad Amins, Pak Awang Faroek, sampai Pak Isran, mereka sering datang, mungkin karena menghormati saya saja, bukan karena saya tokoh,” tambahnya.

Dia melanjutkan, saat Isran Noor berkunjung, pada waktu itu dirinya sedang mengadakan acara selamatan untuk cucunya. “Saya dengan pak Isran sudah bersahabat sejak lama,” katanya.

Menariknya, Makmur HAPK menurut media lokal Selasar, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, calon gubernur Rudy Mas’ud belum pernah berkunjung ke kediamannya, meskipun Rudy sudah beberapa kali datang ke Berau.

“Terus terang saja, beberapa kali dia (Rudy) ke Berau tetapi tidak pernah ketemu,” ungkapnya.

Namun, Makmur menyayangkan bahwa foto pertemuannya dengan Isran Noor dijadikan bahan spekulasi oleh beberapa pihak. Ia menegaskan bahwa dirinya memahami batasan antara silaturahmi dan kampanye, dan tidak ada maksud untuk melanggar aturan partai.

“Saya ini orang tua, puluhan tahun berpolitik, bukan bodok-bodok juga. Saya tahu mana yang termasuk kampanye dan bukan,” tegasnya.

Menanggapi ancaman sanksi yang dilontarkan oleh Seno Aji, Makmur tidak gentar. “Silakan saja, saya tidak takut. Yang jelas saya tidak melakukan kesalahan,” ucapnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Makmur merasa yakin dengan posisinya dan tidak merasa bersalah atas pertemuannya dengan Isran Noor.

Lebih lanjut, Makmur bercerita tentang kedekatannya dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Menurutnya, ia bergabung dengan Partai Gerindra karena langsung diajak oleh Prabowo.

“Saya itu beberapa kali diundang bertemu Pak Prabowo. Bahkan beliau pernah memberi saya oleh-oleh. Saya masuk Gerindra karena Pak Prabowo,” ungkapnya, menekankan hubungan personalnya dengan pemimpin partai tersebut.

Terkait foto dirinya dengan Isran yang menimbulkan spekulasi, Makmur memberikan pesan tegas kepada para politisi agar lebih dewasa dalam berpolitik.

“Berpolitik itu jangan cengeng, jangan menyalahkan orang lain jika tidak berhasil. Menjadi calon pemimpin harus percaya pada diri sendiri,” pesannya.

Makmur HAPK adalah sosok yang memiliki pengaruh besar di Berau. Ia pernah memimpin kabupaten tersebut selama dua periode, dan kini terpilih sebagai anggota DPRD Kaltim pada Pemilu Legislatif 2024.

Namun, hubungan Makmur dengan keluarga Mas’ud, yang saat ini mendominasi politik Kaltim, memiliki sejarah tersendiri. Saat dirinya masih menjadi kader Partai Golkar dan menjabat sebagai Ketua DPRD Kaltim, posisinya tiba-tiba digantikan oleh Hasanudin Mas’ud, kakak Rudy Mas’ud, yang kini menjadi Ketua DPD Golkar Kaltim.

Hubungan politik yang kompleks antara Makmur HAPK dan keluarga Mas’ud mencerminkan dinamika kekuasaan yang tidak hanya terjadi di tingkat partai, tetapi juga di pemerintahan daerah. Dengan situasi politik yang memanas jelang Pilkada Kaltim 2024, pertemuan-pertemuan seperti ini terus menjadi sorotan publik dan menambah intensitas persaingan di antara para calon pemimpin.