6 November 2026

Menteri Keuangan (Menkeu)

MoneyTalk, Jakarta  – Benarkah dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di wilayah Sumatera (Aceh, Sumut dan Sumbar) mencapai Rp51 triliun? Perhitungan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ini seperti petir di siang hari alias ujug-ujug. Disampaikan saat pendataan korban meninggal, rumah hilang, hancur, rusak berat dan ringan termasuk berbagai fasilitas publik lainnya masih berjalan. Sepertinya Menkeu Purbaya hanya main hantam kromo dan pencitraan semata dalam menjanjikan anggaran kepada wilayah bencana.

Artinya, jika dibagi rata alokasi anggaran Rp51 triliun itu masing-masing Provinsi akan beroleh Rp17 triliun. Perhitungan pukul rata jelas tidak akan dipilih oleh Menkeu Purbaya sebagai seorang ekonom teknokratik berlatar belakang sarjana teknik. Tentulah, kajian mendalam dan pengalaman pasca bencana wilayah lain beserta uji coba (_exercise_) anggaran sangat diperlukan. Yaitu, alokasi anggaran bencana seharusnya berdasarkan perhitungan kerugian yang diderita dan jumlah total biaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

Semisal, untuk membangun perumahan rakyat layak type sederhana saja per unit rata-rata biasanya hanya membutuhkan dana Rp250 juta per unit. Maka, jika rumah korban bencana yang hilang, rusak berat dan ringan berjumlah 10.000 unit, total alokasinya berjumlah Rp2,5 triliun saja. Lalu, kemanakah sisa alokasi dana Rp48,5 triliun ini setelah digunakan sebagian untuk membangun kembali fasilitas publik lainnya? Alokasi sejumlah Rp51 triliun yang tanpa berbasis data valid jelas merupakan lahan korupsi baru ditengah penderitaan rakyat korban bencana.

Sebagai pembanding, alokasi dana desa pembangunan sumur bor oleh rakyat desa saja Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganggarkan Rp150 juta. Sementara itu, pekerjaan proyek yang dilakukan oleh masyarakat desa hanya sejumlah Rp20 juta per unit. Jumlah ini tidak hanya melebihi anggaran riilnya, melainkan sangat besar dan jumbo serta mampu membangun tujuh (7) sumur lagi. Oleh karena itu, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa harus bertindak rasional, realistis, obyektif dan bijaksana dalam mengelola anggaran dan keuangan negara.

Pertanyaannya, apakah memang benar dan data yang valid jumlah rumah rusak 183.308 unit? Sebab, alokasi anggaran perumahan layak sederhana saja sudah mencapai Rp45,727 triliun. Dengan begitu anggaran untuk pembiayaan lainnya hanya tersisa Rp5,273 triliun saja. Perlu dijelaskan secara transparan alokasi apa saja jumlah ini disaat rasionalisasi anggaran kementerian/lembaga juga dilakukan.

Penulis : Defiyan Cori. Ekonom Konstitusi

MoneyTalk, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan keyakinannya bahwa Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan menuju status negara berpendapatan tinggi. Optimisme ini didasari oleh berbagai upaya strategis yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat infrastruktur, serta kualitas sumber daya manusia.

“Kata kuncinya adalah selalu produktivitas. Bagaimana investasi dan faktor produksi dalam negeri dapat menciptakan output yang lebih produktif dan lebih berkualitas,” kata Sri Mulyani dalam Seminar ASEAN Global Development and the Middle Income Trap and Growth Academy ASEAN, Selasa (24/09/24).

Sri Mulyani menyampaikan bahwa peningkatan produktivitas menjadi kunci utama dalam upaya ini. Produktivitas dapat ditingkatkan melalui optimalisasi investasi dan faktor produksi domestik, yang diharapkan menghasilkan output yang lebih berkualitas dan kompetitif. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan bonus demografi Indonesia yang memiliki populasi besar dan mayoritas usia produktif. Menurutnya, kualitas pendidikan dan kesehatan menjadi dua pilar utama untuk memaksimalkan produktivitas tenaga kerja.

Sejak era pemerintahan Presiden Soeharto hingga Reformasi, Indonesia telah berusaha melepaskan diri dari middle income trap. Namun, langkah yang lebih intensif dan strategis dibutuhkan untuk mempercepat proses ini. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui program beasiswa yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan generasi muda Indonesia. Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat infrastruktur, termasuk di bidang energi, transportasi, telekomunikasi, dan teknologi digital, yang merupakan pondasi bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Middle income trap, sebagaimana dijelaskan oleh Bank Dunia, adalah kondisi di mana suatu negara tidak mampu meningkatkan pendapatan per kapitanya setelah mencapai level pendapatan menengah, yaitu antara $1.000 hingga $12.000. Negara yang terjebak dalam kondisi ini kehilangan daya saing di sektor manufaktur karena upah yang meningkat, namun belum bisa bersaing dengan negara-negara maju di pasar bernilai tambah tinggi.

Indonesia saat ini masih berada dalam kategori negara berpendapatan menengah, dengan pendapatan per kapita sebesar 4.580 dolar AS pada 2023. Namun, Sri Mulyani optimis bahwa Indonesia dapat meningkatkan pendapatan per kapitanya, dengan terus belajar dan beradaptasi terhadap tantangan global. Ia percaya bahwa dengan langkah-langkah pembangunan yang inklusif dan ramah lingkungan, Indonesia memiliki potensi untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi.

Sebagai negara dengan populasi yang besar dan kekayaan sumber daya alam, Indonesia diharapkan dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas serta memastikan pembangunan yang berkelanjutan, hijau, dan rendah karbon. Dengan demikian, perjalanan menuju negara berpendapatan tinggi bukan hanya sebuah ambisi, tetapi menjadi target yang realistis jika pembangunan dilakukan dengan strategi yang tepat.(c@kra)