30 Oktober 2026

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029

MoneyTalk.id,Jakarta – Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perbincangan. Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mulai dikaitkan dengan kemungkinan duet politik.

Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menduga ada kekuatan oligarki yang tengah mempersiapkan dukungan finansial besar untuk mengusung pasangan tersebut. Menurut dia, skenario itu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam peta politik nasional.

Muslim Arbi menilai Jokowi memiliki kedekatan dengan kelompok oligarki yang mempunyai sumber daya ekonomi dan pengaruh politik. Karena itu, ia menduga KDM berpotensi menjadi figur yang digandeng untuk memperkuat posisi politik Gibran pada Pilpres 2029. Menurut Muslim, kekuatan finansial dan jaringan politik dapat menjadi faktor penting dalam membangun popularitas serta mengonsolidasikan dukungan menjelang kontestasi nasional.

“Jokowi akan melihat hasil survei. Kalau elektabilitas KDM terus menguat, bukan tidak mungkin dia akan digandeng dan dipasangkan dengan Gibran pada Pilpres 2029,” kata Muslim kepada wartawan, Jumat (30/10/2026).

Muslim juga melihat kemungkinan KDM didekati untuk bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia menduga langkah itu dapat menjadi bagian dari strategi memperbesar basis dukungan partai yang selama ini dikaitkan dengan keluarga Jokowi.

“Dengan masuknya figur populer seperti KDM, PSI berpotensi memperoleh tambahan daya tarik politik, terutama di kalangan masyarakat yang mengikuti aktivitas dan komunikasi politik Gubernur Jawa Barat tersebut,” jelasnya.

Menurut Muslim, KDM merupakan figur pragmatis yang secara politik dinilainya lebih condong kepada Jokowi. Ia melihat gaya komunikasi dan pencitraan KDM memiliki kemiripan dengan pendekatan Jokowi ketika masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Salah satu contoh yang sering menjadi perbincangan adalah pendekatan blusukan, termasuk ketika Jokowi turun langsung meninjau persoalan saluran air dan gorong-gorong,” ungkapnya.

Di sisi lain, perkembangan elektabilitas KDM memang memberikan alasan mengapa namanya mulai diperhitungkan dalam bursa Pilpres 2029. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas simulasi calon presiden dengan elektabilitas 35,5 persen. Anies Baswedan memperoleh 10,3 persen, Prabowo Subianto 9,8 persen, sedangkan Gibran berada di angka 8,4 persen. Angka tersebut memperlihatkan besarnya daya tarik elektoral KDM, meskipun hasil survei tidak otomatis menentukan pasangan calon pada pemilu mendatang.

Temuan berbeda muncul dalam survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis 18 Oktober 2026. Dalam simulasi terbuka calon presiden, Prabowo memperoleh 31,6 persen, Dedi Mulyadi 11,4 persen, Anies Baswedan 10,1 persen, dan Gibran 6,9 persen.

Namun, dalam simulasi calon wakil presiden, Dedi justru menempati posisi pertama dengan 21 persen, mengungguli Gibran yang memperoleh 14,2 persen. Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa posisi politik KDM masih sangat bergantung pada skenario pencalonan dan konfigurasi koalisi.

Bagi Muslim, popularitas KDM yang ditopang aktivitas turun langsung ke masyarakat bisa menjadi modal politik yang menarik bagi kelompok berkepentingan.

Namun, ia mengingatkan bahwa popularitas tidak selalu identik dengan kemandirian politik. Apabila dukungan finansial dari kelompok pemodal besar benar-benar menjadi bagian dari skenario pencalonan, publik perlu mengetahui siapa saja yang berada di belakangnya dan kepentingan apa yang akan dibawa setelah kekuasaan diperoleh.

Isu KDM bergabung dengan PSI dan kemungkinan berduet dengan Gibran juga telah berkembang di ruang publik. Namun, Wakil Ketua Umum PSI Ronald Aristone Sinaga atau Bro Ron membantah adanya pembicaraan internal mengenai kepindahan KDM maupun rencana duet tersebut. Bahkan, Dedi Mulyadi sebelumnya pada 22 September 2026 menegaskan bahwa dirinya masih berfokus menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa wacana duet tersebut belum menjadi keputusan politik resmi.

Muslim menilai masyarakat tidak boleh hanya terpukau oleh popularitas tokoh, gaya blusukan, maupun besarnya dukungan kampanye. Persoalan yang lebih mendasar adalah transparansi pendanaan politik, independensi calon pemimpin, serta kemungkinan masuknya kepentingan pemodal ke dalam kebijakan negara.

“Jangan sampai Pilpres hanya menjadi pertarungan kekuatan uang dan pencitraan, sementara kepentingan rakyat justru berada di belakang kepentingan oligarki,” pungkas Muslim.

MoneyTalk.id, Jakarta – Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menunjukkan dinamika baru. Dua lembaga survei nasional, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia, sama-sama mencatat nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dalam simulasi elektabilitas calon presiden, mengungguli Presiden Prabowo Subianto.

Dalam simulasi yang dirilis kedua lembaga tersebut, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan yang lebih tinggi dibanding Prabowo. Berdasarkan hasil yang dipublikasikan, survei SMRC menempatkan Dedi Mulyadi pada angka 35 persen, sedangkan Prabowo berada di 14,5 persen. Hasil ini menjadi sorotan karena menunjukkan perubahan signifikan dibanding peta politik beberapa waktu sebelumnya.

Sementara itu, pemberitaan Kompas juga mengulas bahwa dalam simulasi tertentu, Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo berdasarkan hasil survei SMRC maupun Indikator Politik Indonesia.

Meningkatnya elektabilitas Dedi Mulyadi tidak lepas dari tingginya eksposur publik. Aktivitasnya yang intens di media sosial, pendekatan langsung kepada masyarakat, hingga gaya komunikasi yang sederhana dinilai mampu memperkuat kedekatan dengan pemilih.

Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi juga memperoleh tingkat kepuasan publik yang tinggi dalam berbagai survei sebelumnya. Popularitas tersebut kemudian berkontribusi terhadap meningkatnya elektabilitas dalam simulasi Pilpres 2029.

Di sisi lain, hasil survei SMRC terbaru juga menunjukkan penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto menjadi sekitar 51,1 persen, turun dibanding survei sebelumnya. SMRC menyebut persepsi terhadap kondisi ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi penilaian publik.

Penurunan kepuasan terhadap pemerintah dinilai turut memengaruhi simulasi elektabilitas calon presiden, meski masih terlalu dini untuk menyimpulkan arah Pilpres 2029 karena tahapan pemilu belum dimulai.

Meski hasil survei menunjukkan Dedi Mulyadi unggul dalam simulasi tertentu, para peneliti mengingatkan bahwa elektabilitas dapat berubah seiring perkembangan politik, kondisi ekonomi, serta munculnya figur-figur baru menjelang Pilpres 2029. Survei pada dasarnya menggambarkan preferensi responden pada saat pengambilan data, bukan hasil akhir pemilihan.

Dengan demikian, temuan SMRC dan Indikator menjadi sinyal bahwa persaingan menuju Pilpres 2029 mulai menghangat. Nama Dedi Mulyadi kini muncul sebagai salah satu figur dengan daya saing kuat, sementara Prabowo menghadapi tantangan untuk mempertahankan dukungan publik di tengah dinamika ekonomi dan politik nasional.