4 November 2026

podcast Madilog di kanal Forum TV Keadilan

MoneyTalk, Jakarta –  Dunia politik kembali gempar. Pengamat kawakan Eep Saefulloh Fatah menyalakan “bom politik” dalam podcast Madilog di kanal Forum TV Keadilan pada Kamis (16/10).

Tanpa tedeng aling-aling, Eep menyebut Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden paling cemas dan paling tidak siap meninggalkan kekuasaan sepanjang sejarah Republik!

“Saya tidak perlu merevisi pandangan saya. Jokowi adalah orang paling cemas di Indonesia  bahkan makin terbukti setahun terakhir,” tegas Eep tajam.

Menurut Eep, kecemasan Jokowi bukan tanpa alasan. Sejak menjelang akhir masa jabatan, sang mantan presiden disebut sibuk menjaga pengaruh dan memastikan kekuasaan tak benar-benar lepas dari genggamannya.

Dari Presiden ke Pengendali Bayangan

Eep menggambarkan fenomena Jokowi pasca kekuasaan sebagai “presiden bayangan” yang masih ingin mengatur arah politik, terutama lewat keluarga dan jaringan loyalisnya.

“Ketika berkuasa, ia memegang otoritas. Begitu otoritas hilang, pengaruhnya diuji. Nah, Jokowi tidak siap kehilangan kendali itu,” katanya.

Dari situ, Eep menyebut muncul strategi mempertahankan “dinasti politik” mulai dari anak, menantu, hingga lingkaran dalam yang tersebar di berbagai jabatan publik.

“Ini bukan sekadar politik keluarga. Ini politik ketakutan kehilangan kuasa!” ujar Eep pedas.

Brutalisme Politik Era Jokowi

Menurut Eep, Pemilu 2024 adalah pemilu paling brutal sepanjang sejarah Indonesia modern.

“Semuanya tampak: mobilisasi aparat, politisasi bansos, dan intervensi hukum. Itu bukan demokrasi, itu manipulasi,” katanya.

Ia bahkan menuding Jokowi lebih berbahaya dari Soeharto, karena menggunakan sistem demokrasi untuk menindas demokrasi itu sendiri.

“Kalau Soeharto melanggar demokrasi dalam sistem otoriter, Jokowi justru melakukan pelanggaran itu dalam sistem demokratis. Itu jauh lebih brutal,” ujar Eep.

Jokowi Tahu, Tapi Tak Sadar

Eep menilai Jokowi bukan orang bodoh politik. Tapi justru karena terlalu tahu, ia kehilangan kesadaran moral.

“Dia tahu masa jabatan hanya dua periode, tapi tak sadar arti pembatasan itu. Ini bukan soal tidak tahu, tapi tidak mau sadar,” jelasnya.

Ia menilai Jokowi gagal menjalani fase mad pandito ratu pemimpin yang setelah berkuasa kembali pada kebijaksanaan.

“Jokowi tidak menyiapkan diri untuk berhenti. Ia masih ingin ikut bermain,” kata Eep sinis.

Jokowisme Itu Bahaya!

Tak berhenti di situ, Eep menegaskan istilah baru: Jokowisme sebuah paham kekuasaan tanpa batas yang dibungkus kesederhanaan palsu.

“Kalau saya bikin riset, judulnya begini: ‘Memahami Jokowi dan Jokowisme  Untuk Melawan Jokowi dan Jokowisme.’ Karena Jokowisme itu berbahaya,” katanya blak-blakan.

Menurut Eep, Jokowisme menciptakan budaya politik inkonsisten, pragmatis, dan nepotistik.

“Dulu bilang anak-anaknya tak mau masuk politik. Sekarang dua anak dan menantu semua di gelanggang. Itu inkonsistensi level dewa,” tegasnya.

Demokrasi Diperkosa Demi Dinasti!

Dalam bagian paling panas, Eep menuding bahwa seluruh manuver politik menjelang Pemilu 2024 hanyalah proyek mempertahankan dinasti Jokowi.

“Perubahan aturan usia capres-cawapres bukan kebetulan. Itu desain,” katanya.

Ia juga menyindir keras PSI yang mengaku menganut ideologi Jokowisme.

“Kalau Jokowisme artinya sayang anak sampai hukum dilanggar, itu bukan ideologi  itu penyakit kekuasaan,” ucapnya pedas.

Lawan Warisan Kekuasaan!

Menutup pembicaraan, Eep mengajak rakyat tidak tunduk pada warisan politik Jokowi.

“Kalau Jokowisme diwariskan, itu harus jadi agenda perlawanan rakyat. Demokrasi bukan alat keluarga, tapi alat bangsa,” tegasnya.

“Jangan biarkan demokrasi disulap jadi teater dinasti. Rakyat harus waras. Pemimpin boleh turun, tapi akal sehat tidak boleh ikut pensiun.”

MoneyTalk, Jakarta –  Pernyataan tajam keluar dari mulut pengamat politik sekaligus konsultan kawakan Eep Saefulloh Fatah dalam podcast Madilog di kanal Forum TV Keadilan, Kamis (16/10). Dengan gaya tenang tapi menusuk, Eep menguliti transformasi Jokowi dari sosok sederhana yang dulu dielu-elukan rakyat, menjadi simbol kekuasaan yang disebutnya “melupakan dirinya sendiri.”

“Dulu Jokowi itu orang biasa. Nggak punya uang, nggak punya dukungan besar, tapi punya harapan rakyat. Sekarang, Jokowi malah melupakan cara bermain demokratis. Itu pengkhianatan terhadap apa yang dia perjuangkan dulu,” sindir Eep.

Menurutnya, Jokowi di awal karier adalah cermin harapan rakyat kecil. Namun setelah berkuasa, yang muncul bukan lagi “Joko si protagonis,” melainkan “Widodo si antagonis.”

“Saya pernah menulis, ‘Joko melawan Widodo’. Karena dalam diri Jokowi ada dua sosok, satu yang sederhana dan satu yang tergoda kekuasaan. Sayangnya, yang menang adalah Widodo,” ujar Eep menohok.

Eep bahkan mengaku pernah mengirim SMS langsung ke Jokowi, menasihati agar bersikap sebagai kepala negara, bukan hanya kepala pemerintahan. Tapi, katanya, pesan itu tidak pernah direspons.

“Saya kirim ke Pak Jokowi, ke Pak JK, dan Mas Pratikno. Cuma Pak JK yang balas. Jokowi? Diam saja. Mungkin terlalu sibuk atau… memang tidak mau dengar,” ucap Eep dengan nada getir.

Dalam podcast itu, Eep juga mengungkap rencana bukunya berjudul “Melawan Jokowi.” Namun ia menegaskan, “melawan” bukan berarti benci pribadi, melainkan melawan Jokowisme cara berpikir dan berkuasa yang dianggap berbahaya bagi demokrasi.

“Yang harus dilawan bukan orangnya, tapi Jokowisme: praktik kekuasaan yang memanipulasi kebebasan rakyat,” tegas Eep.

Ia mengaku, sejak 2023, lembaga konsultan politiknya, Polmark Indonesia, memutuskan tidak mendukung kandidat mana pun di Pilpres 2024 demi menjaga independensi. Alasannya sederhana: agar perlawanan terhadap Jokowisme tak disangka sekadar manuver bisnis politik.

“Kami nggak mau dianggap cuma cari proyek. Ini perlawanan warga negara, bukan konsultan lapar kontrak,” kata Eep tajam.

Eep menutup pernyataannya dengan refleksi keras: demokrasi Indonesia sedang dalam masa uji. Menurutnya, oposisi kini harus seperti pelari maraton bukan sprint sebentar lalu menyerah.

“Perlawanan rakyat itu bukan sprint. Kadang harus pelan, kadang berhenti, tapi jangan berhenti selamanya. Yang kita lawan bukan Jokowi, tapi sistem yang membuat orang bisa lupa diri,” pungkasnya.