6 November 2026

Politikus Demokrat

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Rommi Irawan, melontarkan kecurigaan keras terhadap arah kebijakan dan manuver bisnis di tubuh Agrinas. Ia mempertanyakan apakah ada “gerombolan” lama pemain impor beras dan gula yang kini beralih sektor setelah ruang impor pangan makin diperketat.

Menurut Rommi, jangan sampai setelah tidak lagi leluasa bermain di komoditas beras dan gula, para pemain lama itu justru berpindah haluan ke sektor otomotif dengan skema impor mobil pikap dari luar negeri.

“Apa jangan-jangan yang dulu main impor beras dan gula, sekarang pindah ke impor mobil pikap? Kalau ini benar, bahaya bagi masa depan industri kita,” ujar Rommi dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).

Rommi menegaskan, kebutuhan kendaraan niaga seperti mobil pikap memang tinggi, terutama untuk mendukung sektor UMKM, pertanian, dan distribusi logistik di berbagai daerah. Namun, ia menilai kebutuhan itu seharusnya menjadi peluang emas membangun industri otomotif nasional, bukan malah membuka keran impor.

Ia menyinggung besarnya potensi serapan tenaga kerja jika pemerintah serius mengembangkan produksi kendaraan niaga ringan di dalam negeri.

“Lulusan SMK kita ratusan ribu setiap tahun. Industri otomotif bisa jadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja. Kenapa tidak dorong produksi dalam negeri? Kenapa harus impor?” tegasnya.

Menurutnya, penguatan industri otomotif nasional akan berdampak sistemik: dari manufaktur komponen, perakitan, hingga jaringan bengkel dan suku cadang.

Rommi juga menyoroti kebutuhan transportasi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Ia menilai kendaraan yang paling relevan untuk daerah tersebut bukan sekadar pikap impor, melainkan kendaraan roda tiga yang tangguh, murah, dan mudah dirawat.

“Daerah 3T itu butuh kendaraan yang sesuai kondisi geografis. Roda tiga produksi dalam negeri bisa jadi solusi. Ini bisa jadi proyek nasional pemberdayaan industri kecil dan menengah,” katanya.

Ia menilai, jika kebijakan impor kembali dibuka lebar, maka yang diuntungkan hanya segelintir importir, sementara industri dalam negeri kembali terpinggirkan.

Rommi meminta pemerintah membuka secara transparan rencana dan skema pengadaan kendaraan niaga tersebut. Ia juga mendorong adanya audit menyeluruh agar tidak terjadi pola lama: komoditas berganti, tetapi aktornya tetap sama.

“Jangan sampai hanya ganti barang impor, tapi orang-orangnya itu-itu juga. Negara ini butuh keberpihakan pada produksi nasional, bukan sekadar pergantian komoditas impor,” ujarnya.

Ia menegaskan, momentum ini seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat industri otomotif nasional, mengurangi ketergantungan impor, dan membuka lapangan kerja besar-besaran bagi generasi muda.

“Kalau kita serius, industri otomotif bisa menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Tapi kalau yang dipilih impor, ya yang tumbuh hanya rekening segelintir orang,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Rommi Irawan, meminta Dewan Pers turun tangan dan mengambil langkah tegas terhadap seorang reporter CNN Indonesia yang dinilai telah menyebarkan informasi menyesatkan (hoaks) di tengah kondisi tanggap darurat pascabencana.

Menurut Rommi, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran etika jurnalistik, melainkan berpotensi sangat berbahaya karena dapat memicu kebencian, kepanikan, dan perpecahan di saat seluruh elemen bangsa sedang berjibaku membantu para korban bencana.

“Ini bukan soal kritik atau perbedaan sudut pandang. Ini soal kemanusiaan. Di saat rakyat sedang menderita, ada wartawan yang justru menyebarkan informasi tidak benar dan memantik kebencian,” tegas Rommi dalam pernyataannya, Selasa (22/12/2025).

Rommi menilai, konten yang disebarkan oleh reporter tersebut telah mencederai semangat gotong royong. Padahal, di lapangan, relawan, aparat, tenaga medis, hingga masyarakat sipil tengah bekerja tanpa lelah mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik, dan memulihkan kondisi pascabencana.

“Semua pihak sedang berpacu dengan waktu. Ada nyawa yang dipertaruhkan. Tapi justru muncul narasi sesat yang mengaburkan fakta dan menimbulkan kebencian. Ini tidak bisa ditoleransi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kebebasan pers tidak boleh dijadikan tameng untuk menyebarkan hoaks, terlebih dalam situasi darurat nasional.

Rommi juga menyinggung sikap reporter yang bersangkutan yang dinilai justru bermain drama di ruang publik, termasuk menampilkan emosi berlebihan dan “nangis bombay” setelah mendapat kritik keras dari masyarakat.

“Alih-alih mengklarifikasi secara jujur dan profesional, yang muncul justru drama. Ini memperlihatkan ketidakdewasaan dalam menjalankan profesi wartawan,” kata Rommi.

Menurutnya, sikap tersebut semakin memperburuk kepercayaan publik terhadap media arus utama.

Rommi secara tegas meminta Dewan Pers untuk tidak tinggal diam. Ia mendesak agar dilakukan pemeriksaan etik dan pemberian sanksi tegas jika terbukti terjadi pelanggaran.

“Kalau Dewan Pers membiarkan, ini akan jadi preseden buruk. Ke depan, siapa pun bisa menyebar hoaks lalu berlindung di balik label pers,” tegasnya.

Ia menambahkan, penegakan etika jurnalistik justru penting untuk menjaga marwah pers itu sendiri agar tetap dipercaya publik.

Di akhir pernyataannya, Rommi mengajak masyarakat untuk tidak terpancing provokasi dan tetap fokus pada solidaritas kemanusiaan.

“Jangan biarkan hoaks dan drama mengalihkan perhatian kita. Yang utama sekarang adalah menolong korban, menyembuhkan luka, dan membangun kembali harapan,” pungkasnya.

Kasus ini pun menjadi sorotan luas di media sosial, dengan banyak pihak mendesak agar media lebih bertanggung jawab dan mengedepankan empati di tengah tragedi kemanusiaan.

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Rommy Irawan, melontarkan kritik keras terhadap sebagian kelompok habaib yang menurutnya kerap memicu provokasi, mencederai kebhinekaan, dan justru menjauhi uswah Nabi Muhammad SAW dalam tutur maupun tindakan. Pernyataan Rommy memantik perdebatan luas karena menyentuh langsung sensitivitas publik terhadap sosok habaib yang selama ini kerap dikultuskan sebagai keturunan Rasulullah.

Dalam keterangan di media sosial Rommy menegaskan bahwa klaim sebagian habaib yang menyatakan diri sebagai dzurriyah Rasulullah seharusnya disertai dengan akhlak, keteladanan, dan rasa tanggung jawab moral. Bukan justru tampil sebagai aktor yang menebar ujaran provokatif, memecah-belah masyarakat, atau memainkan politik identitas ekstrem.

“Jika benar mereka mengaku membawa darah Nabi, seharusnya yang diwariskan adalah akhlaknya, bukan kemarahannya. Selama ini yang kita lihat justru sebagian dari mereka lebih sering memprovokasi, menghasut, bahkan menyerang simbol negara,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).

Rommy juga menyinggung maraknya klaim nasab, termasuk perdebatan tentang dasar genealogis yang kerap diperdebatkan di ruang publik. Menurutnya, klaim nasab itu tidak otomatis memberikan legitimasi moral untuk menghakimi negara, pemerintah, atau kelompok masyarakat tertentu.

Ia bahkan menyinggung perdebatan DNA haplogroup yang sering dipakai dalam argumen publik, meski menurut para ahli genetika diskursus tersebut tidak berdampak langsung pada integritas moral seseorang.

“Mau haplogroup apa pun, entah itu G atau yang lain, itu tidak ada kaitannya dengan hak untuk memprovokasi NKRI. Tidak ada manusia yang mendapatkan keistimewaan untuk merendahkan negara atau rakyat hanya karena mengaku keturunan siapapun,” kata Rommy.

Pernyataan itu sekaligus menyanggah kecenderungan sebagian pihak yang memanfaatkan sentimen garis keturunan untuk menaikkan posisi politik atau sosial. Baginya, nasab bukan alat legitimasi, melainkan amanah yang seharusnya dijaga melalui perilaku.

Rommy menilai bahwa ada kelompok habaib tertentu yang menggunakan mimbar agama sebagai wadah agitasi politik, menyerang pemerintah, menyebarkan hoaks, bahkan mengajak ketidakpatuhan terhadap hukum. Ia menegaskan bahwa praktik itu bertentangan dengan nilai besar dalam Islam, yaitu persatuan dan keteduhan.

“Yang kita lihat hari ini, sebagian mereka justru lebih mirip tokoh politik garis keras daripada pemuka agama. Retorikanya kasar, memecah-belah, dan seringkali jauh dari adab Nabi. Bagaimana masyarakat bisa meneladani jika bahasanya menghina, memaki, atau menghasut?”

Menurutnya, gaya provokatif ini tidak hanya merusak marwah agama, tetapi juga mengganggu stabilitas sosial, terutama di tengah menguatnya polarisasi politik pasca Pemilu maupun Pilkada.

Rommy menekankan bahwa negara harus hadir terhadap tindakan siapa pun baik politisi, aktivis, maupun tokoh agama yang menempatkan dirinya di atas hukum. Dalam konteks itu, ia meminta aparat tidak ragu mengambil langkah tegas untuk menjaga negara dari upaya provokasi.

“NKRI ini berdiri bukan untuk dihina. Ulama yang benar, habaib yang benar, pasti berdiri di depan untuk menjaga persatuan, bukan menggerusnya,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kritik terhadap pemerintah sah dan dijamin oleh konstitusi, namun provokasi sektarian, ujaran kebencian, dan tindakan merendahkan kelompok lain merupakan pelanggaran hukum.

Di akhir pernyataannya, Rommy mengajak masyarakat untuk lebih cerdas melihat figur publik, termasuk tokoh agama yang kerap muncul di media. Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh terjebak pada romantisme simbolik tanpa melihat rekam jejak dan perilaku sosial seseorang.

“Ulama itu diteladani karena akhlaknya, bukan karena sorbannya. Gelar habib itu mulia, tetapi kemuliaan itu runtuh jika digunakan sebagai alat memecah bangsa,” tuturnya.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan tokoh agama yang menyejukkan, mencerdaskan, dan menghormati hukum, bukan yang menggunakan retorika kemarahan sebagai alat mobilisasi massa.

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Ricky Kurniawan, menyoroti kembali maraknya serangan hoaks yang menyasar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia menilai sejumlah buzzer—yang ia sebut sebagai “buzzer termul” kian aktif dan rajin memproduksi konten-konten menyesatkan tanpa dasar fakta.

Ricky mengatakan, di era keterbukaan informasi saat ini, publik sebenarnya sangat mudah mengakses data dan fakta yang valid. Namun, para buzzer tersebut tetap memilih menyebarkan kabar bohong demi menggiring opini negatif terhadap Presiden RI ke-6 itu.

“Buzzer-buzzer termul lagi giat dan rajin buat konten-konten hoaks, padahal fakta jelas di depan mata dan data valid gampang diakses saat ini,” ujar Ricky, Jumat (5/12/2025).

“Memang kebohongan itu menjadi prinsip dasar mereka. Kalau tidak bohong… ya ngibul kerjaannya,” tambahnya.

Menurut Ricky, serangan hoaks semacam ini bukan hal baru, namun intensitasnya meningkat seiring dinamika politik nasional. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah termakan narasi manipulatif yang tidak disertai bukti.

Ricky juga menegaskan bahwa Demokrat tetap fokus pada politik yang mengedepankan data, prestasi, dan etika komunikasi publik yang sehat.

Ia berharap aparat berwenang dan platform digital turut aktif menindak penyebaran informasi palsu yang dapat merusak kualitas demokrasi.

“Kita harus lawan hoaks dengan fakta. Jangan beri ruang pada kebiasaan ngibul yang ingin merusak akal sehat publik,” tutup Ricky.

 

 

Jakarta — Keputusan tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menolak penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) Whoosh, memunculkan gelombang reaksi publik dan politik. Dari kalangan oposisi, dukungan justru datang dengan nada sindiran tajam, salah satunya dari Politikus Partai Demokrat Ricky Kurniawan.

“Ini baru keren… 👍 Ditanggung penikmat rente korupsinya aja utangnya!” ujar Ricky dalam pernyataan yang beredar luas, Sabtu (11/10/2025).

Pernyataan singkat itu menjadi simbol apresiasi terhadap langkah Purbaya yang dianggap berani menjaga disiplin fiskal negara di tengah beban utang proyek infrastruktur yang membengkak.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan resmi di Jakarta menegaskan, pemerintah tidak akan menanggung utang proyek KCJB melalui APBN. Menurutnya, proyek tersebut merupakan hasil kerja sama konsorsium badan usaha, dan tanggung jawab atas pembiayaannya tidak bisa dialihkan kepada negara.

“Proyek kereta cepat ini dijalankan oleh konsorsium, jadi tidak adil jika seluruh beban keuangannya dialihkan ke APBN. Negara tidak bisa terus-menerus menjadi penanggung risiko dari keputusan bisnis yang seharusnya dikelola secara profesional,” ujar Purbaya dalam konferensi pers.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tengah mendorong BPI Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara) sebagai lembaga pengelola restrukturisasi agar mampu mencari solusi keuangan jangka panjang tanpa melibatkan APBN secara langsung.

“Danantara bisa menjadi solusi korporat. Prinsipnya, APBN tidak boleh menjadi tempat menampung semua kesalahan perencanaan atau kelebihan biaya,” tegas Purbaya.

Politikus Demokrat Ricky Kurniawan menyebut langkah Menkeu sebagai contoh nyata keberanian menjaga integritas fiskal negara. Ia menilai sudah saatnya pemerintah berhenti menutupi kesalahan proyek yang sarat dengan kepentingan bisnis dan politik di masa lalu.

“Ini langkah rasional dan berani. Selama ini rakyat selalu jadi korban. Kalau proyeknya untung, yang menikmati segelintir elit bisnis dan politisi. Tapi begitu rugi, rakyat disuruh bayar lewat APBN. Nah sekarang, biar adil, yang menanggung adalah para penikmat rente itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Ricky, sikap seperti Purbaya justru memperlihatkan bahwa kementerian keuangan masih memegang prinsip akuntabilitas publik.

“Menkeu ini sedang melindungi uang rakyat. Jangan sampai APBN jadi dompet darurat buat nutupin kesalahan mereka yang dulu main proyek besar tanpa perhitungan matang,” tambahnya.

Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang diluncurkan dengan ambisi besar pada era sebelumnya kini menghadapi realitas berat. Pembengkakan biaya dari estimasi awal yang disebut sekitar Rp86 triliun menjadi lebih dari Rp114 triliun, memaksa konsorsium untuk menanggung utang besar ke kreditur luar negeri, terutama dari Tiongkok.

Dengan keputusan Menkeu menolak penggunaan APBN, maka beban utang harus diselesaikan oleh konsorsium, yakni PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang di dalamnya terdapat porsi saham dari beberapa BUMN dan perusahaan Tiongkok.

Sejumlah pengamat menilai, keputusan Purbaya berisiko memicu ketegangan antara pihak kreditur dan pemerintah, namun juga memberikan sinyal positif kepada publik bahwa negara tidak akan menanggung kesalahan korporasi.

“Kalau ini dikompromikan, kita akan ulang kesalahan masa lalu di mana utang swasta dan BUMN akhirnya diambil alih pemerintah. Itu tidak sehat,” kata analis kebijakan publik Arif Santoso.

Keputusan Purbaya bukan tanpa konsekuensi. Menurut laporan keuangan KCIC, pembayaran bunga dan pokok pinjaman kepada kreditur jatuh tempo dalam waktu dekat. Jika tidak ada kesepakatan restrukturisasi, risiko gagal bayar bisa mengganggu stabilitas korporasi BUMN yang terlibat.

Namun, bagi Purbaya, menjaga kredibilitas fiskal jauh lebih penting. “Kalau setiap proyek bermasalah selalu diselamatkan dengan APBN, negara tidak akan pernah belajar efisiensi,” ujarnya dalam forum keuangan publik minggu lalu.

Sikap ini mendapat apresiasi dari kalangan ekonom yang menilai langkah Menkeu konsisten dengan arah reformasi fiskal: membatasi peran negara sebagai penjamin terakhir dari proyek bermasalah.

Pernyataan Ricky Kurniawan yang menyebut “penikmat rente korupsinya aja yang tanggung utang” menyinggung realitas bahwa banyak proyek strategis nasional di masa lalu dipenuhi dengan aroma rente, kolusi, dan keuntungan yang tidak sebanding dengan manfaat publiknya.

Keputusan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menolak penggunaan APBN untuk membayar utang proyek Whoosh menjadi momentum penting bagi reformasi kebijakan fiskal Indonesia. Di tengah tekanan politik dan ekonomi, langkah ini memperlihatkan sikap tegas pemerintah menjaga integritas keuangan negara.

Dukungan dari politisi lintas partai seperti Ricky Kurniawan menunjukkan bahwa isu ini telah menembus batas politik menjadi simbol perlawanan terhadap praktik rente dan korupsi yang membebani rakyat.

Jika kebijakan ini konsisten dijalankan, maka untuk pertama kalinya Indonesia punya preseden kuat bahwa proyek bermasalah tak lagi bisa berlindung di balik APBN. Negara berdiri di sisi rakyat, bukan di sisi para penikmat rente.