Politikus Demokrat Minta Dewan Pers Bertindak Tegas, Reporter CNN Indonesia Dinilai Sebar Hoaks di Tengah Masa Tanggap Darurat

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Rommi Irawan, meminta Dewan Pers turun tangan dan mengambil langkah tegas terhadap seorang reporter CNN Indonesia yang dinilai telah menyebarkan informasi menyesatkan (hoaks) di tengah kondisi tanggap darurat pascabencana.

Menurut Rommi, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran etika jurnalistik, melainkan berpotensi sangat berbahaya karena dapat memicu kebencian, kepanikan, dan perpecahan di saat seluruh elemen bangsa sedang berjibaku membantu para korban bencana.

“Ini bukan soal kritik atau perbedaan sudut pandang. Ini soal kemanusiaan. Di saat rakyat sedang menderita, ada wartawan yang justru menyebarkan informasi tidak benar dan memantik kebencian,” tegas Rommi dalam pernyataannya, Selasa (22/12/2025).

Rommi menilai, konten yang disebarkan oleh reporter tersebut telah mencederai semangat gotong royong. Padahal, di lapangan, relawan, aparat, tenaga medis, hingga masyarakat sipil tengah bekerja tanpa lelah mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik, dan memulihkan kondisi pascabencana.

“Semua pihak sedang berpacu dengan waktu. Ada nyawa yang dipertaruhkan. Tapi justru muncul narasi sesat yang mengaburkan fakta dan menimbulkan kebencian. Ini tidak bisa ditoleransi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kebebasan pers tidak boleh dijadikan tameng untuk menyebarkan hoaks, terlebih dalam situasi darurat nasional.

Rommi juga menyinggung sikap reporter yang bersangkutan yang dinilai justru bermain drama di ruang publik, termasuk menampilkan emosi berlebihan dan “nangis bombay” setelah mendapat kritik keras dari masyarakat.

“Alih-alih mengklarifikasi secara jujur dan profesional, yang muncul justru drama. Ini memperlihatkan ketidakdewasaan dalam menjalankan profesi wartawan,” kata Rommi.

Menurutnya, sikap tersebut semakin memperburuk kepercayaan publik terhadap media arus utama.

Rommi secara tegas meminta Dewan Pers untuk tidak tinggal diam. Ia mendesak agar dilakukan pemeriksaan etik dan pemberian sanksi tegas jika terbukti terjadi pelanggaran.

“Kalau Dewan Pers membiarkan, ini akan jadi preseden buruk. Ke depan, siapa pun bisa menyebar hoaks lalu berlindung di balik label pers,” tegasnya.

Ia menambahkan, penegakan etika jurnalistik justru penting untuk menjaga marwah pers itu sendiri agar tetap dipercaya publik.

Di akhir pernyataannya, Rommi mengajak masyarakat untuk tidak terpancing provokasi dan tetap fokus pada solidaritas kemanusiaan.

“Jangan biarkan hoaks dan drama mengalihkan perhatian kita. Yang utama sekarang adalah menolong korban, menyembuhkan luka, dan membangun kembali harapan,” pungkasnya.

Kasus ini pun menjadi sorotan luas di media sosial, dengan banyak pihak mendesak agar media lebih bertanggung jawab dan mengedepankan empati di tengah tragedi kemanusiaan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *