6 November 2026

Politikus Partai Demokrat

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Ricky Kurniawan, melontarkan kritik keras terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terkait pernyataannya yang menyebut adanya keterlibatan “orang besar” dalam isu ijazah palsu yang dimiliki mantan Wali Kota Solo.

Menurut Ricky, Jokowi tidak boleh melempar pernyataan ambigu yang berpotensi menimbulkan kegaduhan nasional tanpa disertai penjelasan yang terang dan bertanggung jawab. Ia menegaskan, jika memang ada pihak tertentu yang dimaksud sebagai “orang besar”, maka Jokowi wajib menjelaskannya secara terbuka kepada publik.

“Jokowi harus menjelaskan kepada rakyat siapa yang dimaksud dengan ‘orang besar’ itu. Jangan menyebarkan kebohongan, jangan mengalihkan isu, dan jangan membuat negara ini gaduh dengan pernyataan yang tidak jelas,” kata Ricky dalam keterangannya, Sabtu (13/12/2025).

Ricky menilai, pernyataan tanpa kejelasan hanya akan memicu spekulasi liar, memperkeruh suasana politik, serta merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara. Ia juga menuding adanya kecenderungan pengalihan isu yang dilakukan melalui narasi-narasi kontroversial.

“Pernyataan seperti itu berbahaya. Negara tidak boleh dipimpin dengan narasi insinuatif. Kalau ada masalah, buka secara terang. Kalau tidak ada, jangan membangun cerita yang menyesatkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ricky secara terbuka meminta Jokowi untuk melakukan refleksi dan menghentikan kebiasaan menyampaikan pernyataan yang dinilainya tidak berdasar. Ia bahkan menggunakan istilah religius sebagai bentuk kritik moral terhadap mantan kepala negara tersebut.

“Semoga Jokowi segera tobat dari kebiasaan buruknya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin,” ucap Ricky.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Joko Widodo terkait pernyataan Ricky Kurniawan tersebut. Pernyataan Jokowi soal “orang besar” sendiri masih menjadi perbincangan luas dan menuai beragam reaksi dari kalangan politisi maupun masyarakat.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan kontroversial kembali mengguncang jagat politik dan keagamaan nasional. Politikus Partai Demokrat, Rommi Irawan, melontarkan pernyataan tajam yang menyebut bahwa “keberadaan habaib bisa mengundang azab di suatu negeri.”

Rommi menilai bahwa bala dan bencana kerap menimpa negeri-negeri yang membiarkan dusta mengatasnamakan kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Ia mencontohkan Yaman, tanah kelahiran banyak habaib, yang kini dilanda perang saudara berkepanjangan.

“Justru Yaman yang terkena bala’. Terjadi perang saudara berkepanjangan. Karena apa? Mengundang azab di suatu negeri, jika penduduknya berani-beraninya mengaku Cucu Nabi SAW, padahal dusta. Lalu dibiarkan oleh penduduk lainnya. Lihat kemuliaan Rasulullah dinodai, tapi diam,” ujar Rommi sebagaimana dikutip dari pernyataannya yang beredar di media sosial.

Pernyataan tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, memicu pro dan kontra. Sebagian warganet menilai Rommi berbicara atas dasar “keprihatinan moral” terhadap klaim nasab palsu yang belakangan memang ramai diperbincangkan di ruang publik. Namun, tidak sedikit pula yang menilai ucapannya mengandung unsur kebencian terhadap kelompok habaib keturunan Rasulullah SAW yang selama ini memiliki posisi terhormat di masyarakat Muslim Indonesia.

Dalam konteks sosial Indonesia, istilah habib tidak sekadar menunjukkan garis keturunan. Ia menyimbolkan otoritas moral dan keagamaan. Sejak era Walisongo hingga abad ke-19, para habaib dikenal sebagai penjaga dakwah Islam yang sejuk dan berakhlak mulia. Beberapa tokoh habaib bahkan menjadi ulama besar, seperti Habib Ali Kwitang, Habib Salim bin Jindan, dan Habib Umar bin Hafidz dari Yaman.

Pernyataan Rommi, yang mengaitkan keberadaan habaib dengan azab, dianggap menyederhanakan realitas sejarah dan berpotensi menyinggung martabat tokoh-tokoh ulama yang telah berjasa besar.

Beberapa analis melihat pernyataan Rommi tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik identitas yang terus bergulir pasca-Pemilu 2024.

Pengamat politik Rokhmat Widodo menilai bahwa ucapan seperti ini kerap lahir di tengah perebutan panggung opini publik.

“Ketika isu moral dan agama menjadi komoditas politik, ada kecenderungan sebagian politisi memakai diksi ekstrem untuk membangun citra ‘pembela kebenaran’. Tapi risiko sosialnya besar. Indonesia punya kultur menghormati habaib. Mengusik itu sama saja dengan bermain api,” ujar Rokhmat

Sementara itu, beberapa kader Partai Demokrat memilih berhati-hati. Salah satu petinggi partai yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa partai belum mengeluarkan sikap resmi atas pernyataan Rommi. Namun, ia tidak menampik bahwa pernyataan itu bisa menimbulkan resonansi negatif terhadap citra partai.

“Kami masih menelusuri konteks ucapannya. Demokrat tidak ingin terjebak dalam kontroversi yang menyentuh ranah aqidah dan keagamaan,” ujarnya singkat.

Rommi menggunakan contoh Yaman sebagai negeri yang “terkena bala” karena keberadaan habaib. Pandangan ini dinilai tidak berdasar secara ilmiah maupun teologis.

Yaman mengalami perang saudara yang kompleks sejak 2014, dipicu oleh perebutan kekuasaan antara kelompok Houthi dan pemerintah, serta intervensi negara-negara Teluk. Konflik itu telah menimbulkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia bukan akibat faktor teologis, melainkan politik, ekonomi, dan geopolitik regional.

Rokhmat menilai bahwa mengaitkan konflik Yaman dengan “azab karena habaib” adalah kesalahan logika yang serius.

“Kalau Yaman terkena bala, itu karena perang dan perebutan sumber daya, bukan karena keberadaan habaib. Justru banyak habaib menjadi korban dan pengungsi akibat perang itu,” tegasnya.

Untuk memahami sensitivitas isu ini, penting melihat posisi habaib dalam tradisi Islam Indonesia.

Sejak awal abad ke-15, para habaib dari Hadramaut (Yaman Selatan) datang ke Nusantara membawa ajaran Islam yang damai. Mereka menikah dengan penduduk lokal, melahirkan generasi ulama dan tokoh-tokoh pejuang.

Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus di Luar Batang, misalnya, dikenal sebagai wali yang dihormati. Demikian juga Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, pendiri Alkhairaat di Sulawesi Tengah.

Bagi banyak umat Islam di Indonesia, menghormati habaib adalah bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW. Karena itu, ucapan yang menyinggung mereka mudah dianggap melecehkan simbol Nabi sendiri.

Pernyataan Rommi Irawan yang mengaitkan kelompok tertentu dengan “azab” bisa dianggap sebagai bentuk ujaran kebencian berbasis agama atau keturunan, jika terbukti disampaikan di ruang publik tanpa konteks akademik atau tafsir agama yang sahih.

Pasal 156 KUHP melarang perbuatan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap golongan penduduk. Sementara Pasal 28 ayat (2) UU ITE menjerat pelaku yang menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA.

Beberapa tokoh habaib di Jakarta dan Surabaya menanggapi dengan keprihatinan. Mereka mengajak masyarakat agar tidak terpancing emosi, namun meminta aparat dan lembaga keagamaan menegur keras pernyataan yang bisa menimbulkan fitnah.

Habib Hasan bin Jindan menilai bahwa ucapan semacam itu berpotensi merusak ukhuwah Islamiyah dan menimbulkan kebencian horizontal.

“Kalau ada orang mengaku habib padahal bukan, itu urusan nasab dan kejujuran. Tapi menuduh keberadaan habaib mengundang azab, itu menyalahi adab terhadap dzurriyah Nabi,” ujar Habib Hasan.

Pernyataan Rommi Irawan menambah daftar panjang kontroversi politikus yang memantik perdebatan agama di ruang publik. Di satu sisi, ia berbicara dalam kerangka kebebasan berpendapat. Namun di sisi lain, ucapan yang menyentuh ranah teologis dan identitas keagamaan menuntut kehati-hatian luar biasa.

Dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia, kebebasan berbicara harus berjalan beriring dengan tanggung jawab moral, terutama ketika menyangkut kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan keturunannya.

Jika tidak, maka yang mengundang azab bukanlah keberadaan habaib melainkan keangkuhan manusia yang menistakan kehormatan dengan lidahnya sendiri.

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Rommi Irawan, melontarkan pernyataan keras terkait peran sebagian habaib dalam kehidupan berbangsa. Ia menilai, alih-alih menjaga persatuan dan kesatuan, justru ada kelompok habaib yang kerap merusak sendi-sendi persaudaraan bangsa dengan retorika yang memecah belah.

“Perjuangan dan persatuan Indonesia selalu dirusak oleh oknum habaib. Mereka bukan menyatukan, tapi memecah belah persatuan,” kata Rommi Irawan di akun X (Twitter) miliknya, Rabu (3/9/2025).

Rommi secara khusus menyinggung nama Habib Babeh Aldo. Menurutnya, sosok yang dikenal aktif di media sosial itu kerap mengumbar ujaran kebencian serta menstigma kelompok lain dengan label-label tertentu yang memicu konflik horizontal.

“Contohnya lihat Habib Babeh Aldo, selalu menebar kebencian. Dia tidak pernah bicara soal solusi kebangsaan, tapi justru memperkeruh suasana,” tegasnya.

Rommi menilai, tindakan tersebut bukan hanya merugikan citra habaib di mata masyarakat, tetapi juga membahayakan fondasi persatuan Indonesia yang dibangun dengan susah payah oleh para pendiri bangsa.

Pernyataan Rommi ini memantik perdebatan lebih luas tentang peran habaib dalam politik Indonesia. Sebagian pihak menilai habaib memiliki kharisma spiritual yang semestinya digunakan untuk menjaga akhlak umat dan merawat harmoni sosial. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit habaib yang justru terjun ke ranah politik praktis dengan retorika identitas.

“Politik identitas berbasis agama dan keturunan itu berbahaya. Kalau dibiarkan, bisa memecah belah bangsa. Padahal Indonesia dibangun di atas kesepakatan bersama, bukan satu golongan saja,” kata Rommi.

Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah masyarakat plural, terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya. Karena itu, setiap tokoh agama maupun habaib seharusnya menjadi perekat, bukan sumber perpecahan.

Pernyataan Rommi ini menambah daftar kritik publik terhadap fenomena politisasi habaib dalam beberapa tahun terakhir. Media sosial kerap menjadi panggung bagi tokoh-tokoh keagamaan untuk membangun basis pengaruh, namun tidak sedikit yang menuai kontroversi karena gaya komunikasi mereka dianggap provokatif.

Publik kini menunggu, apakah pernyataan Rommi Irawan akan mendapat respons langsung dari pihak-pihak yang disebut, khususnya Habib Babeh Aldo, atau justru memicu perdebatan baru tentang posisi habaib dalam kehidupan berbangsa.