9 November 2026

Prabu Revolusi

MoneyTalk, Jakarta – Wawancara terbaru di kanal Total Politik pada Selasa, 15 Oktober 2024, Prabu Revolusi, seorang pejabat di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), membahas sejumlah isu terkait hubungan pemerintah dengan media serta dugaan adanya upaya untuk “memoles citra” Presiden Jokowi.

Klarifikasi ini penting mengingat banyaknya spekulasi terkait anggaran pemerintah untuk belanja media, serta peran media dalam menyosialisasikan pencapaian pemerintahan.

Pemerintahan Jokowi Tak Butuh “Polesan”

Di awal wawancara, Prabu langsung menyinggung mengenai wacana bahwa pemerintahan Presiden Jokowi memerlukan upaya tambahan untuk memperbaiki citra melalui media. Dengan tegas, ia menepis pandangan tersebut.

Menurutnya, dengan tingkat approval rating Jokowi yang tinggi (sekitar 75% hingga 80% di berbagai lembaga survei), Presiden tidak membutuhkan citra yang “dipoles”. Prabu berpendapat bahwa keberhasilan pemerintahan Jokowi sudah terlihat jelas oleh masyarakat, dan ini tak perlu lagi dihias dengan kampanye media yang berlebihan.

“Saya rasa enggak perlu ada upaya berlebihan untuk memoles citra Pak Jokowi. Keberhasilan beliau sudah nyata dan mudah ditemui dari berbagai sisi, mulai dari infrastruktur hingga transformasi sosial. Kalau orang melihat hasil kerja beliau, semuanya sudah jelas terlihat,” ujar Prabu.

Isu Anggaran Rp15 Miliar untuk Sosialisasi Program Pemerintah

Prabu juga membahas mengenai anggaran Rp15 miliar yang ramai diperbincangkan. Anggaran ini, katanya, sebenarnya diperuntukkan sosialisasi program makan gratis dan gizi bagi masyarakat, bukan untuk kampanye atau glorifikasi Presiden Jokowi.

Anggaran tersebut disahkan oleh DPR dan telah melalui proses ketok palu yang transparan. Prabu menegaskan, tidak ada yang perlu disembunyikan. Pemerintah selalu terbuka dalam pengelolaan anggaran yang digunakan untuk program sosialisasi tersebut.

“Anggaran Rp15 miliar itu adalah untuk sosialisasi program makan siang gratis, bukan untuk hal lain. Semua proses ini terbuka, mulai dari pengajuan hingga persetujuannya oleh DPR,” tambah Prabu.

Hubungan Media dan Pemerintah: Kolaborasi Biasa, Bukan Kontrol

Salah satu pertanyaan penting dalam wawancara ini adalah soal kerjasama media dengan pemerintah. Prabu menegaskan bahwa kerjasama ini bukanlah sesuatu yang baru atau rahasia, dan sudah berlangsung sejak lama. Hubungan antara pemerintah dan media merupakan kolaborasi untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan, program, dan capaian pemerintah agar dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Media, kata Prabu, berfungsi sebagai salah satu pilar demokrasi yang harus diperkuat, bukan dikendalikan.

“Media punya peran penting dalam mendiseminasi informasi yang benar tentang program pemerintah. Ini bukan berarti media harus tunduk kepada pemerintah. Bahkan dalam kerjasama, media tetap menjaga independensinya dan seringkali melakukan kritik terhadap pemerintah,” jelas Prabu.

Prabu juga membantah tuduhan bahwa media yang bekerja sama dengan pemerintah otomatis menjadi tidak independen. Ia menekankan bahwa media di Indonesia tetap kritis dan tidak terpengaruh oleh belanja iklan pemerintah.

Klarifikasi Isu Tawaran “Memoles Citra” oleh Tempo

Dalam wawancara, Prabu menanggapi juga isu mengenai adanya tawaran dari dirinya kepada majalah Tempo untuk memoles citra Presiden Jokowi. Prabu menegaskan, tidak ada tawaran lisan apapun dari dirinya ke Tempo terkait memoles citra Presiden. Ia mengungkapkan, memang ada proposal audiensi dari Tempo yang masuk untuk membahas 10 tahun pemerintahan Jokowi, yang menurutnya adalah hal yang wajar. Namun, ia belum sempat bertemu dengan pihak Tempo karena pertemuan tersebut baru dijadwalkan pada 17 Oktober 2024.

“Saya belum pernah bertemu dengan pihak Tempo. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa saya memberikan tawaran untuk memoles citra Jokowi, itu tidak benar. Kita baru akan bertemu tanggal 17 Oktober untuk membahas proposal audiensi yang mereka ajukan,” kata Prabu.

Wawancara ini memberikan klarifikasi penting mengenai isu-isu yang selama ini beredar terkait hubungan pemerintah dengan media serta dugaan upaya untuk memperbaiki citra Presiden Jokowi menjelang akhir masa jabatannya. Prabu Revolusi menjelaskan bahwa hubungan antara media dan pemerintah adalah kolaborasi yang sehat dan wajar, serta media tetap menjaga independensinya meskipun ada kerja sama dalam hal sosialisasi program pemerintah.

Tuduhan bahwa pemerintah mencoba mengatur pemberitaan atau melakukan “operasi citra” juga dibantah dengan tegas. Dengan demikian, narasi yang menyebutkan bahwa media kehilangan independensinya karena belanja iklan pemerintah, menurut Prabu, tidak berdasar.

Wawancara ini juga menutup spekulasi mengenai anggaran sosialisasi program pemerintah dan dugaan tawaran dari Prabu kepada Tempo, sekaligus mengajak publik untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi yang beredar terkait hubungan pemerintah dengan media.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pada acara Total Politik yang tayang pada Selasa, 15 Oktober 2024, Prabu Revolusi memberikan pandangan menarik terkait fenomena yang disebut sebagai “Jokowisme”. Ia menyoroti bagaimana survei-survei tentang kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan hasil yang sangat tinggi, bahkan mendekati akhir masa jabatan Jokowi. Dalam pandangannya, fenomena ini melibatkan lebih dari sekedar pencapaian fisik, melainkan juga hubungan emosional yang erat antara Jokowi dan rakyatnya.

Jokowisme dan Survei Kepuasan Publik

Prabu Revolusi dalam wawancara tersebut menjelaskan bahwa istilah “Jokowisme” telah muncul sebagai konsep yang menggambarkan bagaimana Jokowi mencitrakan dirinya di mata masyarakat. Berdasarkan jurnal-jurnal akademik, penggunaan simbol-simbol oleh Jokowi dan pendekatannya terhadap manajemen pemerintahan telah menjadi bahan kajian.

Jokowi disebut tidak lagi membutuhkan “polesan citra” karena sudah mencapai tingkat kepuasan publik yang sangat tinggi. Menurut survei terbaru, angka kepuasan publik terhadap Jokowi mencapai 75%. Bahkan bisa mencapai 84% ketika ditanya secara langsung tanpa dilengkapi pertanyaan pengantar terkait masalah ekonomi atau isu sosial lainnya.

Prabu juga menyoroti bagaimana beberapa pihak sering kali salah paham atau meragukan hasil survei, terutama mereka yang tidak memahami metodologi statistik sosial. Ia menekankan bahwa hasil survei tidak bisa digugat begitu saja tanpa melakukan audit mendalam terhadap kuesioner atau metodologi yang digunakan.

Metode Survei yang Kredibel

Prabu dengan rinci menjelaskan proses survei, yang melibatkan pengambilan sampel acak secara representatif dari populasi. Ia menjelaskan bagaimana metodologi survei yang diterapkan oleh lembaga-lembaga riset besar seperti Kompas atau Nielsen dilakukan dengan sangat ketat dan ilmiah.

“Angkanya tidak boleh digugat, yang bisa diperdebatkan hanyalah tafsirnya,” tegas Prabu.

Ia mengkritik mereka yang meremehkan survei hanya karena merasa tidak pernah disurvei, padahal survei dilakukan dengan teknik sampling, bukan mendata seluruh populasi.

Fenomena Sosial Media dan Sentimen yang Tidak Organik

Prabu juga menyinggung perbedaan antara survei opini publik dengan persepsi yang terbentuk di media sosial. Menurutnya, media sosial sering kali menampilkan sentimen yang diproduksi secara artifisial, terutama karena penggunaan akun-akun bot atau strategi manipulasi sentimen publik. Ia menjelaskan bahwa sentimen di media sosial seperti Twitter, TikTok, dan Meta tidak bisa diukur dengan akurasi yang sama karena tiap platform memiliki mekanisme interaksi yang berbeda.

“Sentimen di sosial media tidak selalu organik,” ujarnya.

Penggunaan ratusan akun oleh satu orang untuk menciptakan kesan tertentu merupakan contoh dari fenomena ini.

Prabu menekankan bahwa survei opini publik yang dilakukan oleh lembaga survei kredibel masih menjadi alat ukur yang paling valid dalam menilai persepsi masyarakat luas.

“Survei adalah satu-satunya cara ilmiah untuk memetakan opini publik, bukan sentimen yang direkayasa di sosial media,” tegasnya.

Kunci Sukses Jokowi: Hubungan Emosional dengan Rakyat

Menurut Prabu, salah satu kunci kesuksesan Jokowi dalam mempertahankan tingkat kepuasan yang tinggi adalah kemampuannya menciptakan hubungan emosional yang kuat dengan rakyat. Jokowi, dengan gaya komunikasinya yang sederhana dan mudah dipahami, dianggap berhasil masuk ke hati masyarakat.

“Bahasa Jokowi itu sederhana, mudah dipahami oleh rakyat, berbeda dengan pejabat lain yang sering menggunakan bahasa tinggi,” ujar Prabu.

Ia menambahkan, Jokowi bukan hanya sekadar presiden yang membangun infrastruktur, tetapi juga pemimpin yang hadir secara emosional di tengah-tengah rakyat. Hal ini yang membuat hubungan antara Jokowi dan rakyatnya lebih mendalam daripada sekedar perhitungan material seperti infrastruktur atau harga barang.

Prabu mengatakan, Jokowi mampu mencitrakan dirinya sebagai bagian dari rakyat, sehingga mendapat kepercayaan dan kepuasan yang tinggi dari masyarakat, bahkan menjelang akhir masa jabatannya.

Prabu Revolusi dalam pernyataannya di Total Politik menekankan pentingnya memahami perbedaan antara hasil survei yang ilmiah dengan persepsi di media sosial. Jokowisme, sebagai fenomena politik, bukan hanya mencerminkan pencapaian infrastruktur atau kebijakan, tetapi juga hubungan emosional yang kuat antara Jokowi dan rakyatnya.

Dengan tingkat kepuasan publik yang mencapai 75-84%, Jokowi tetap menjadi sosok yang sulit dibantah dalam dunia politik Indonesia. Hubungan emosional ini, menurut Prabu, adalah salah satu kunci keberhasilan Jokowi selama dua periode memimpin Indonesia.(c@kra)