MoneyTalk, Jakarta – Pada acara Total Politik yang tayang pada Selasa, 15 Oktober 2024, Prabu Revolusi memberikan pandangan menarik terkait fenomena yang disebut sebagai “Jokowisme”. Ia menyoroti bagaimana survei-survei tentang kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan hasil yang sangat tinggi, bahkan mendekati akhir masa jabatan Jokowi. Dalam pandangannya, fenomena ini melibatkan lebih dari sekedar pencapaian fisik, melainkan juga hubungan emosional yang erat antara Jokowi dan rakyatnya.
Jokowisme dan Survei Kepuasan Publik
Prabu Revolusi dalam wawancara tersebut menjelaskan bahwa istilah “Jokowisme” telah muncul sebagai konsep yang menggambarkan bagaimana Jokowi mencitrakan dirinya di mata masyarakat. Berdasarkan jurnal-jurnal akademik, penggunaan simbol-simbol oleh Jokowi dan pendekatannya terhadap manajemen pemerintahan telah menjadi bahan kajian.
Jokowi disebut tidak lagi membutuhkan “polesan citra” karena sudah mencapai tingkat kepuasan publik yang sangat tinggi. Menurut survei terbaru, angka kepuasan publik terhadap Jokowi mencapai 75%. Bahkan bisa mencapai 84% ketika ditanya secara langsung tanpa dilengkapi pertanyaan pengantar terkait masalah ekonomi atau isu sosial lainnya.
Prabu juga menyoroti bagaimana beberapa pihak sering kali salah paham atau meragukan hasil survei, terutama mereka yang tidak memahami metodologi statistik sosial. Ia menekankan bahwa hasil survei tidak bisa digugat begitu saja tanpa melakukan audit mendalam terhadap kuesioner atau metodologi yang digunakan.
Metode Survei yang Kredibel
Prabu dengan rinci menjelaskan proses survei, yang melibatkan pengambilan sampel acak secara representatif dari populasi. Ia menjelaskan bagaimana metodologi survei yang diterapkan oleh lembaga-lembaga riset besar seperti Kompas atau Nielsen dilakukan dengan sangat ketat dan ilmiah.
“Angkanya tidak boleh digugat, yang bisa diperdebatkan hanyalah tafsirnya,” tegas Prabu.
Ia mengkritik mereka yang meremehkan survei hanya karena merasa tidak pernah disurvei, padahal survei dilakukan dengan teknik sampling, bukan mendata seluruh populasi.
Fenomena Sosial Media dan Sentimen yang Tidak Organik
Prabu juga menyinggung perbedaan antara survei opini publik dengan persepsi yang terbentuk di media sosial. Menurutnya, media sosial sering kali menampilkan sentimen yang diproduksi secara artifisial, terutama karena penggunaan akun-akun bot atau strategi manipulasi sentimen publik. Ia menjelaskan bahwa sentimen di media sosial seperti Twitter, TikTok, dan Meta tidak bisa diukur dengan akurasi yang sama karena tiap platform memiliki mekanisme interaksi yang berbeda.
“Sentimen di sosial media tidak selalu organik,” ujarnya.
Penggunaan ratusan akun oleh satu orang untuk menciptakan kesan tertentu merupakan contoh dari fenomena ini.
Prabu menekankan bahwa survei opini publik yang dilakukan oleh lembaga survei kredibel masih menjadi alat ukur yang paling valid dalam menilai persepsi masyarakat luas.
“Survei adalah satu-satunya cara ilmiah untuk memetakan opini publik, bukan sentimen yang direkayasa di sosial media,” tegasnya.
Kunci Sukses Jokowi: Hubungan Emosional dengan Rakyat
Menurut Prabu, salah satu kunci kesuksesan Jokowi dalam mempertahankan tingkat kepuasan yang tinggi adalah kemampuannya menciptakan hubungan emosional yang kuat dengan rakyat. Jokowi, dengan gaya komunikasinya yang sederhana dan mudah dipahami, dianggap berhasil masuk ke hati masyarakat.
“Bahasa Jokowi itu sederhana, mudah dipahami oleh rakyat, berbeda dengan pejabat lain yang sering menggunakan bahasa tinggi,” ujar Prabu.
Ia menambahkan, Jokowi bukan hanya sekadar presiden yang membangun infrastruktur, tetapi juga pemimpin yang hadir secara emosional di tengah-tengah rakyat. Hal ini yang membuat hubungan antara Jokowi dan rakyatnya lebih mendalam daripada sekedar perhitungan material seperti infrastruktur atau harga barang.
Prabu mengatakan, Jokowi mampu mencitrakan dirinya sebagai bagian dari rakyat, sehingga mendapat kepercayaan dan kepuasan yang tinggi dari masyarakat, bahkan menjelang akhir masa jabatannya.
Prabu Revolusi dalam pernyataannya di Total Politik menekankan pentingnya memahami perbedaan antara hasil survei yang ilmiah dengan persepsi di media sosial. Jokowisme, sebagai fenomena politik, bukan hanya mencerminkan pencapaian infrastruktur atau kebijakan, tetapi juga hubungan emosional yang kuat antara Jokowi dan rakyatnya.
Dengan tingkat kepuasan publik yang mencapai 75-84%, Jokowi tetap menjadi sosok yang sulit dibantah dalam dunia politik Indonesia. Hubungan emosional ini, menurut Prabu, adalah salah satu kunci keberhasilan Jokowi selama dua periode memimpin Indonesia.(c@kra)




