7 November 2026

Prancis

MoneyTalk, Jakarta – Politikus PDI Perjuangan, Guntur Romli, menyoroti jadwal kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis yang dinilainya perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik.

Melalui pernyataannya di media sosial, Guntur Romli mempertanyakan alasan Presiden Prabowo telah tiba di Prancis sejak Selasa pagi, sementara agenda pertemuan dengan Presiden Emmanuel Macron baru dijadwalkan berlangsung pada Kamis.

“Agenda pertemuan dengan Presiden Macron hari Kamis, tapi mengapa Presiden Prabowo sudah tiba Selasa pagi di Prancis? Dua hari ngapain ya? Kepo nih,” tulis Guntur Romli dalam unggahannya, Minggu (31/5/2026).

Menurut Guntur, pertanyaan tersebut bukan sekadar rasa ingin tahu pribadi, melainkan berkaitan dengan hak publik untuk mengetahui penggunaan anggaran negara yang digunakan dalam setiap kunjungan kenegaraan.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak mempersoalkan diplomasi internasional yang dilakukan pemerintah. Namun, publik berhak memperoleh penjelasan yang transparan mengenai agenda, kegiatan, serta pembiayaan selama kunjungan berlangsung.

“Sebagai rakyat pembayar pajak, kita berhak menuntut transparansi penuh atas penggunaan anggaran negara,” ujarnya.

Guntur menambahkan, rakyat pada dasarnya tidak anti terhadap kegiatan diplomasi luar negeri yang dilakukan kepala negara. Namun yang menjadi perhatian adalah potensi pemborosan anggaran dan minimnya akuntabilitas dalam pelaksanaan agenda kenegaraan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kunjungan resmi Presiden Prabowo ke Prancis. Berdasarkan informasi yang beredar, Prabowo tiba di Paris pada Selasa pagi waktu setempat dan dijadwalkan menjalani sejumlah agenda kenegaraan, termasuk pertemuan bilateral dengan Presiden Macron serta pembahasan kerja sama strategis antara Indonesia dan Prancis di berbagai sektor.

Sorotan Guntur Romli menambah daftar kritik yang meminta pemerintah lebih terbuka dalam menjelaskan agenda perjalanan luar negeri pejabat negara. Transparansi dianggap penting untuk memastikan setiap penggunaan dana publik dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Dalam sistem demokrasi, keterbukaan informasi mengenai perjalanan dinas pejabat negara, terutama yang menggunakan anggaran negara, merupakan bagian dari akuntabilitas publik. Karena itu, berbagai kalangan menilai penjelasan rinci mengenai agenda dan hasil kunjungan luar negeri dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

MoneyTalk, Jakarta – Akun X “Hidup Sebagai +62” melontarkan kritik keras terhadap kondisi Indonesia di tengah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Paris, Prancis, Selasa (26/5/2026).

Dalam unggahannya, akun tersebut menilai Indonesia tengah menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari pelemahan rupiah, blackout massal di Sumatera, hingga polemik kebebasan berekspresi terkait film dokumenter tentang Papua.

“INDONESIA SEDANG CARUT MARUT, SUMATERA GELAP, PAPUA MERANA, RUPIAH TERBURUK SEPANJANG SEJARAH, EL NINO MENGANCAM, IHSG CETAK LOWER LOW, BANYAK LAGI!! PRESIDEN??? MEMILIH KE PARIS!!,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu menyoroti momen kedatangan Prabowo di Bandara Orly, Paris, yang disebut disambut karpet merah dan iringan lagu klasik Prancis “Sous le ciel de Paris”, sementara di dalam negeri berbagai persoalan dinilai belum terselesaikan.

Akun tersebut juga menyinggung nilai tukar rupiah yang disebut menyentuh Rp17.855 per dolar AS dan menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia sepanjang tahun ini.

Selain itu, blackout massal di Sumatera turut menjadi sorotan. Peristiwa padam listrik yang terjadi sejak Jumat malam, 22 Mei 2026, disebut melumpuhkan sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi hingga sebagian Sumatera Selatan.

Dalam narasinya, akun itu mengutip pandangan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, yang sebelumnya menilai persoalan blackout diduga berkaitan dengan minimnya pembangunan infrastruktur kelistrikan dalam beberapa tahun terakhir.

Tak hanya itu, akun tersebut juga mengangkat kontroversi film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” karya Dandhy Laksono yang membahas proyek perkebunan industri di Papua Selatan.

Menurut unggahan tersebut, sejumlah pemutaran film mengalami intimidasi dan pembubaran. Akun itu menilai negara dianggap lebih cepat merespons pemutaran film dibanding penyelesaian konflik agraria yang menjadi isi dokumenter tersebut.

Di bagian akhir unggahan, akun “Hidup Sebagai +62” juga membahas mekanisme ketatanegaraan ketika presiden berada di luar negeri. Disebutkan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak otomatis menjadi presiden, melainkan menjalankan tugas harian pemerintahan berdasarkan penugasan melalui Keputusan Presiden.

Unggahan tersebut lalu menutup kritiknya dengan kalimat bernada tajam:

“Pertanyaannya bukan siapa yang secara teknis memegang stempel kekuasaan hari ini. Pertanyaannya adalah: apakah kekuasaan itu benar-benar hadir untuk rakyatnya?” katanya.