7 November 2026

TNI AU

MoneyTalk, Jakarta – Langkah TNI Angkatan Udara menyiapkan skenario perang drone, rudal presisi, dan serangan siber dalam Latihan Angkasa Yudha 2026 dinilai sebagai sinyal penting bahwa Indonesia mulai membaca perubahan besar dalam pola peperangan global.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, keputusan TNI AU memasukkan ancaman drone dan perang siber bukan sekadar modernisasi latihan militer biasa, melainkan bentuk adaptasi strategis terhadap realitas perang masa depan yang kini semakin berbasis teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan.

Menurut Amir Hamzah, perang modern saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah jet tempur atau kekuatan rudal balistik semata, tetapi juga oleh kemampuan menguasai ruang digital, sistem elektronik, hingga penggunaan drone murah yang mampu melumpuhkan sistem pertahanan mahal.

“Perang Iran melawan Israel dan keterlibatan Amerika Serikat memperlihatkan bahwa drone telah menjadi senjata strategis yang mengubah keseimbangan konflik. Drone murah dapat memaksa negara dengan sistem pertahanan mahal mengeluarkan biaya sangat besar untuk intersepsi,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).

Ia menilai konflik di Timur Tengah menjadi laboratorium nyata perubahan doktrin militer dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan drone kamikaze, rudal presisi jarak jauh, hingga serangan siber terhadap infrastruktur pertahanan meningkat drastis dan menunjukkan efektivitas tinggi.

Menurut Amir, fenomena tersebut telah mengubah paradigma peperangan dari “high cost conventional warfare” menuju “asymmetric technology warfare”, yakni perang berbasis teknologi murah namun mematikan.

“Dulu negara kuat identik dengan armada pesawat tempur dan kapal induk. Sekarang ancaman bisa datang dari drone kecil, serangan siber, bahkan gangguan terhadap satelit dan jaringan komunikasi,” ujarnya.

Karena itu, Amir menilai arahan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI M. Tonny Harjono, agar latihan dibuat mendekati kondisi perang nyata merupakan keputusan strategis yang sangat relevan.

Menurutnya, TNI AU tidak bisa lagi hanya berlatih menghadapi pertempuran udara konvensional antar pesawat tempur berawak seperti era Perang Dingin.

“Drone sekarang bisa menjadi mata, telinga, bahkan senjata utama dalam operasi militer. Iran memperlihatkan bagaimana drone swarm atau serangan drone massal mampu menciptakan tekanan psikologis dan militer sekaligus,” katanya.

Amir menjelaskan, dalam konflik modern, drone memiliki beberapa keunggulan strategis. Selain biaya produksi yang murah, drone juga sulit dideteksi radar tertentu, dapat diproduksi massal, dan mampu menyerang sasaran secara simultan.

Ia menilai perkembangan ini membuat negara-negara dunia mulai membangun sistem anti-drone sebagai prioritas utama pertahanan udara.

“Ini yang sekarang diuji TNI AU. Bagaimana mendeteksi drone, bagaimana mengganggu sistem navigasinya, bagaimana melumpuhkan swarm drone sebelum masuk ke objek vital nasional,” ujarnya.

Selain ancaman drone, Amir juga menyoroti dimasukkannya perang siber dalam skenario Angkasa Yudha 2026. Menurutnya, perang modern saat ini berlangsung secara simultan antara serangan fisik dan digital.

Ia mencontohkan bagaimana sistem pertahanan suatu negara dapat lumpuh bukan karena serangan bom, tetapi akibat peretasan jaringan komando dan kendali.

“Perang masa depan bisa dimulai dengan blackout listrik, lumpuhnya radar, gangguan satelit, atau diretasnya sistem komunikasi militer. Jadi cyber warfare sekarang sama pentingnya dengan kekuatan udara,” katanya.

Amir menilai Indonesia harus belajar dari berbagai konflik global, terutama perang Rusia-Ukraina serta eskalasi Iran-Israel yang memperlihatkan integrasi antara drone, rudal presisi, sistem elektronik, dan perang informasi.

Menurutnya, perang modern kini bergerak menuju konsep multi-domain warfare, yakni peperangan yang melibatkan udara, laut, darat, ruang siber, hingga ruang angkasa secara bersamaan.

“Kalau dulu perang fokus merebut wilayah fisik, sekarang perang juga merebut dominasi data, jaringan, dan sistem informasi,” ujarnya.

Ia juga menilai integrasi Angkasa Yudha 2026 dengan Latihan Gabungan TNI menjadi langkah penting dalam membangun interoperabilitas antarmatra.

Menurut Amir, ancaman terhadap Indonesia ke depan kemungkinan tidak datang dalam bentuk invasi konvensional besar-besaran, melainkan serangan hybrid yang menggabungkan tekanan militer, serangan digital, propaganda informasi, hingga gangguan ekonomi strategis.

“Karena itu koordinasi TNI AU, TNI AD, dan TNI AL menjadi sangat penting. Perang modern tidak bisa lagi dimenangkan oleh satu matra saja,” katanya.

Amir menilai posisi geopolitik Indonesia yang berada di jalur strategis Indo-Pasifik membuat modernisasi konsep pertahanan menjadi kebutuhan mendesak.

Persaingan kekuatan besar dunia di kawasan Asia-Pasifik diperkirakan semakin meningkat dalam beberapa tahun mendatang, terutama terkait Laut China Selatan, keamanan jalur perdagangan, dan perebutan pengaruh teknologi militer.

“Indonesia harus menyiapkan diri menghadapi dinamika geopolitik baru. Ancaman bisa datang dari konflik regional yang meluas, perang proksi, hingga serangan teknologi tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, Amir mengingatkan bahwa modernisasi latihan dan doktrin pertahanan juga harus diikuti penguatan industri pertahanan nasional.

Menurutnya, ketergantungan terhadap teknologi luar negeri dapat menjadi kerentanan strategis apabila terjadi konflik besar atau embargo.

“Drone, sistem radar, cyber defense, hingga artificial intelligence pertahanan harus mulai diperkuat secara mandiri. Kalau tidak, kita akan tergantung pada negara lain,” katanya.

Ia menambahkan, latihan seperti Angkasa Yudha 2026 bukan sekadar demonstrasi kekuatan militer, tetapi juga sarana membaca arah ancaman global yang terus berubah.

“Dunia sedang memasuki era perang teknologi. Negara yang lambat beradaptasi akan tertinggal. Karena itu saya melihat langkah TNI AU ini sangat tepat dan visioner,” pungkas Amir Hamzah.

JAKARTA, MoneyTalk – Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar serta penerima penghargaan Brevet dan Wing Kehormatan Penerbang Kelas 1 dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) Bambang Soesatyo mendukung langkah Presiden Joko Widodo yang mendorong agar di usianya yang ke-77 tahun, TNI AU senantiasa menjadi angkatan udara yang modern, tangguh, mampu menjaga ruang udara Indonesia, serta transformatif menjaga kekuatan nasional Indonesia. Sekaligus menjadi TNI yang dihormati di dunia.

“Saat ini, TNI sedang memasuki tahap ketiga (2020-2024) penyelesaian minimum essential force (MEF). Hingga tahun ini, MEF yang tercapai baru sekitar 60 persen. Pada tahun 2024, jumlah kekuatan Alutsista MEF masing-masing matra TNI ditargetkan harus sudah bisa terpenuhi,” ujar Bamsoet di Jakarta, Minggu (9/4/23).

“Antara lain, Matra Darat dengan 723.564 senjata ringan, 1.354 meriam/roket/rudal, 3.738 kendaraan tempur, dan 224 pesawat terbang. Matra Laut dengan 182 unit KRI, 8 kapal selam, 100 pesawat udara, dan 978 kendaraan tempur marinir. Sedangkan Matra Udara dengan 344 pesawat tempur, 32 radar, 72 peluru kendali, dan 64 penangkis serangan udara,” tambahnya.

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini mendukung penguatan Alutsista TNI dalam mendukung pertahanan udara Indonesia. Terutama pesawat, baik yang dimiliki Angkatan Udara, Laut, maupun Darat.

“Tahun 2020, kekuatan pertahanan udara Indonesia ditunjang oleh 462 pesawat. Terdiri dari 41 pesawat tempur, 39 pesawat serangan khusus, 54 pesawat angkut, 109 pesawat latih, 5 pesawat intai dan misi khusus, 177 helikopter, serta 16 helikopter tempur. Menempatkan Indonesia diurutan ke-28 dunia, tertinggi di Asia Tenggara,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, khusus kepemilikan pesawat tempur, posisi Indonesia berada di urutan ke-48, dibawah berbagai negara ASEAN seperti Singapura yang berada di posisi ke-22, Vietnam posisi 28, Thailand posisi 30, dan Myanmar posisi 36.

“Untuk memperkuat armada tempur, dalam waktu dekat pemerintah melalui Kementerian Pertahanan akan mendatangkan pesawat F-15 EX pabrikan Boeing, Amerika Serikat (AS), versi terbaru dan paling canggih dari F-15. Serta jet tempur Dassault Rafale buatan Perancis. Tidak hanya dari luar negeri, pemenuhan Alutsista pesawat juga dilakukan dari dalam negeri. Antara lain dengan membeli 9 pesawat multiguna jenis angkut ringan, Casa NC-212i-400, yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI),” pungkas Bamsoet.[MT]