6 November 2026

Transisi Energi

MoneyTalk, Jakarta – Pada 1 November lalu, dalam kanal YouTube Komisidotco, Edi Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, dan Nurhidayat, seorang peneliti dari Indonesia Parliamentary Center (IPC), membahas perubahan kabinet dan langkah transisi energi yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam kesempatan ini, Edi menyampaikan pandangannya mengenai kebijakan Prabowo yang ingin memperkuat fokus masing-masing kementerian, serta komitmen untuk mengurangi ketergemukan birokrasi. Selain itu, Nurhidayat juga mengupas tantangan serta langkah strategis dalam mengatasi isu transisi energi dan harapan besar publik terhadap program pemerintahan baru ini.

Edi Soeparno menjelaskan, salah satu prioritas Prabowo dalam kabinetnya adalah memastikan tiap kementerian memiliki fokus yang spesifik. Dengan pemisahan lebih detail, setiap kementerian diharapkan tidak memiliki beban berlebih yang dapat mengurangi efektivitas kerja. Langkah ini juga termasuk penambahan kementerian baru yang dapat menangani isu spesifik seperti Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek, serta Kementerian Kebudayaan.

Edi Soeparno juga menyoroti belum adanya undang-undang (UU) komprehensif yang mengatur energi terbarukan, meski sudah ada UU Panas Bumi yang berlaku. Menurutnya, jika UU Energi Baru Terbarukan (EBT) segera disahkan. Ini bisa menjadi quick win pemerintahan baru dan simbol nyata dari komitmen terhadap masa depan energi berkelanjutan. Dia juga menyebutkan bahwa pemerintah berencana mempercepat proses pengesahan undang-undang ini.

Salah satu janji Prabowo dalam program unggulan Astaacita adalah mencapai swasembada energi, pangan, dan air, termasuk percepatan transisi energi. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada energi fosil dan impor energi, seperti BBM dan LPG. Menurut Edi, Prabowo berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan impor tersebut, namun terlebih dahulu membutuhkan ketahanan energi sebelum mencapai tahap swasembada.

Nurhidayat dari IPC menguraikan lebih lanjut bahwa transisi energi di Indonesia tidaklah sederhana. Beberapa faktor utama yang menyebabkan transisi energi berjalan lambat adalah dominasi energi fosil, seperti batu bara, yang saat ini menjadi sumber utama energi listrik di Indonesia. Tantangan kedua adalah tingginya biaya teknologi energi terbarukan, sehingga harga jualnya pun dianggap mahal. Meski demikian, Nurhidayat optimis bahwa dengan perencanaan yang matang, Indonesia bisa mulai mengimbangi penggunaan energi fosil dengan energi terbarukan.

Nurhidayat mengkritisi konsep biaya “murah” dari energi berbasis batubara. Menurutnya, biaya ini tidak mencerminkan “real cost” atau biaya sebenarnya karena tidak memperhitungkan dampak kesehatan yang diderita masyarakat di sekitar PLTU akibat emisi yang dihasilkan. Mengutip data dari World Bank, Nurhidayat menjelaskan, jika biaya kesehatan dari polusi udara yang dihasilkan PLTU dimasukkan, maka biaya batubara akan mendekati biaya energi terbarukan, membuat perbandingan harga kedua jenis energi tersebut menjadi lebih seimbang.

Nurhidayat dan Edi juga mengakui adanya tantangan besar dari sisi kebijakan dan teknologi. Ketergantungan pada batubara terjadi tidak hanya karena harganya yang lebih murah, tetapi juga karena infrastruktur pembangkit listrik yang sudah tersedia dan kontrak-kontrak lama dengan biaya mahal.

Edi menjelaskan, jika pemerintah ingin mengganti PLTU berbasis batubara dengan yang lebih ramah lingkungan, maka biaya kompensasi sangat tinggi, mencapai sekitar Rp25 triliun untuk dua PLTU di Jawa Barat. Karena itu, Edi menyarankan agar transisi dilakukan dengan pendekatan campuran, misalnya melalui carbon capture atau penggunaan batu bara yang dicampur dengan gas untuk mengurangi emisi karbon.

Dengan segala tantangan yang ada, Edi dan Nurhidayat sepakat bahwa publik sangat berharap akan adanya terobosan cepat, atau quick wins, dari kabinet Prabowo-Gibran. Edi menyampaikan optimismenya bahwa undang-undang yang mengatur perubahan struktur kementerian akan disahkan sebelum akhir tahun. Ia yakin bahwa kabinet ini mampu mencapai target-target yang ditetapkan dan membuktikan pada masyarakat bahwa janji kampanye dapat direalisasikan.

Prabowo diharapkan terus mengoptimalkan kolaborasi antara kementerian demi mewujudkan percepatan transisi energi yang sudah sangat dinantikan. Bagi Prabowo, langkah ini merupakan tantangan untuk menghasilkan perubahan nyata yang berdampak langsung pada masyarakat. Di sisi lain, IPC tetap berperan dalam memantau perkembangan kebijakan dan memastikan transparansi serta partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, sehingga harapan terhadap keberhasilan program transisi energi bisa diwujudkan dengan baik.

Dengan pembenahan struktur kementerian yang lebih fokus dan rancangan transisi energi yang matang, pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antar sektor energi dan lingkungan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan transisi energi dan perubahan iklim. Meski tantangan masih banyak, baik Edi maupun Nurhidayat tetap optimis bahwa dengan adanya komitmen kuat, pemerintahan Prabowo bisa mencapai hasil yang signifikan dalam waktu dekat.(c@kra)

JAKARTA, MoneyTalk – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut B. Pandjaitan bicara mengenai memanfaatkan peluang investasi hijau untuk transisi energi Indonesia.

Luhut menyampaikan ini adalah waktu yang tepat bagi kita semua untuk berkontribusi pada gerakan Transisi Energi di Indonesia dengan target umum pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

Apalagi, Indonesia mempunyai modal yang lebih dari cukup untuk bersiap menjadi negara maju dan turut berkontribusi secara global pada Gerakan Transisi Energi.

“Dengan pertimbangan dan pemilihan yang baik, skema pemanfaatan kekayaan sumber daya alam Indonesia untuk mendukung Gerakan Transisi Energi secara bersamaan juga dapat membukakan peluang bagi Indonesia untuk keluar dari “The Middle Income Trap” dan menjadi nagara maju melalui skema pencapaian target NZE pada tahun 2060 atau lebih cepat,” papar Menko Luhut.

Indonesia sendiri telah menyatakan komitmennya untuk menurunkan emisi karbon melalui National Determined Contribution (NDC) yang bahkan sudah ditingkatkan menjadi Enhanced-NDC dengan target penurunan emisi karbon sebesar 31.89% hingga 2030 melalui usaha sendiri, atau hingga 43.2% dengan dukungan internasional.

Menko Luhut menjelaskan tingkat emisi perkapita Indonesia masih jauh di bawah Global Average, seharusnya proses dan skema-skema pencapaian Transisi Energi menuju NZE di Indonesia dapat dijalankan tanpa menganggu pertumbuhan perekonomian nasional, bahkan seharusnya dapat diandalkan untuk membawa perekonomian Indonesia keluar dari “the Middle Income Trap”.

“Kunci bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari “the Middle Income Trap” adalah dengan meningkatkan daya saing melalui inovasi yang dapat dilakukan melalui penguasaan berbagai teknologi untuk melakukan hilirisasi pengolahan beragam sumber daya alam bernilai tinggi yang berlimpah jumlahnya di Indonesia,” tambah Menko Luhut.

Lalu untuk mencapai status sebagai negara dengan ”High Income Percapita” yang berarti berhasil keluar dari “the Middle Income Trap”, Indonesia masih harus meningkatkan income perkapita hampir 3 kali lipat.

Bila berbagai contoh pengadopsian teknologi seperti pengembangan end-to-end Electric Vehicle (EV) dan solar panel tadi dapat dilakukan juga dalam mengembangkan berbagai macam teknologi energi terbarukan seperti pengembangan manufaktur komponen sistem pembangkit listrik Geothermal (PLTP), dan juga untuk komponen pembangkit listrik tenaga air (PLTA), tenaga angin (PLTB), serta berbagai macam pembangkit energi terbarukan lainnya, maka Indonesia akan lebih berpeluang mencapai status “High Income Percapita” sejalan dengan pencapaian target Transisi Energi menuju NZE pada tahun 2060.

Kami bergerak cepat mulai upaya membangun suatu struktur bagaimana floating solar panel bisa menghasilkan energi yang bisa kita bagi dengan negara tetangga dengan membuat industri solar panel dalam negeri di mana kami memiliki banyak silika bahan material untuk solar panel.

Sekarang ini harga energi dunia meningkat, sehingga energi terbarukan ini menjadi satu pilihan yang sangat penting. 5-10% danau (di Indonesia) akan dibuat floating solar (panel) sehingga menghasilkan beberapa ribu Gigawatt ke depan ini,” jelas Menko Luhut.

Selain itu, tidak kalah pentingnya dalam pembahasan Transisi Energi adalah peran sumber daya energi lainnya seperti Natural Gas yang akan menjadi pilihan energi utama selama masa transisi ke depan, karena menghasilkan emisi yang relatif rendah dalam pemanfaatannya.

Ada juga strategi Dekarbonisasi pada industri Hulu Migas Di mana optimasi operasi industri migas dapat dilakukan melalui pengurangan flaring dan venting, serta peningkatan efisiensi hingga penerapan teknologi carbon capture, utilization and storge (CCS/CCUS).

Selain untuk memenuhi kebutuhan industri hulu migas, teknologi CCS/CCUS merupakan kunci penurunan emisi juga bagi berbagai sektor lainnya.