1 November 2026

TV One Digital

MoneyTalk, Jakarta – Pada tayangan TV One Digital Sabtu (11/10), Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis reformasi 98, mengungkapkan pandangannya tentang sosok Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo cocok sebagai pemimpin untuk menghadapi krisis global.

Budiman yang kini menjadi anggota Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, mengakui, meski dulu mereka berada di sisi berlawanan — Budiman sebagai aktivis reformasi dan Prabowo sebagai tentara Orde Baru — kini ia melihat Prabowo sebagai figur yang tepat untuk memimpin Indonesia melalui berbagai turbulensi dan tantangan global.

Budiman mengakui bahwa ia dan Prabowo memiliki sejarah yang cukup kontras. Di masa lalu, Budiman dikenal sebagai salah satu penggerak utama gerakan reformasi 98 yang kritis terhadap Orde Baru, sementara Prabowo adalah seorang perwira tinggi di militer.

“Dulu kami berhadapan, tapi sekarang kami memiliki visi yang sama tentang masa depan Indonesia,” ujar Budiman.

Menurutnya, dalam konteks global saat ini yang penuh dengan krisis ekonomi, geopolitik, dan ketidakstabilan sosial, Indonesia memerlukan sosok pemimpin yang mampu membawa bangsa ini bangkit.

Budiman menyoroti pentingnya perubahan besar dalam setiap periode 25 tahun, baik untuk individu maupun bangsa. Dia menyebut bahwa setelah lebih dari 30 tahun Orde Baru, Indonesia terlambat melakukan perubahan.

Reformasi 98 adalah salah satu titik balik besar dalam sejarah bangsa, namun menurut Budiman, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengambil langkah-langkah lebih jauh, khususnya dalam keadilan sosial dan kesetaraan.

Ia menekankan bahwa setelah meraih kebebasan politik pada tahun 1998, kini agenda nasional harus berfokus pada keadilan sosial.

“Kita tidak bisa hanya berhenti pada kebebasan politik. Setelah 25 tahun reformasi, kita harus membawa agenda kesetaraan dan keadilan sosial,” tambahnya.

Budiman berharap di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia dapat mencapai hal ini.

Mengapa Budiman memilih bergabung dengan tim kampanye Prabowo? Dia mengungkapkan, “Prabowo mewakili satu cara pandang kepemimpinan politik yang cocok dengan saya, khususnya dalam menghadapi turbulensi global.”

Menurut Budiman, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan tantangan global lainnya, Prabowo memiliki pandangan strategis dan kepemimpinan yang mampu membawa Indonesia keluar dari krisis.

Budiman juga mencatat bahwa selain pengalaman Prabowo di militer, ia telah menunjukkan komitmen dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Prabowo bukan hanya pemimpin militer, tapi juga seorang pemimpin yang memahami realitas sosial dan ekonomi Indonesia,” kata Budiman.

Hal ini membuat Budiman yakin bahwa Prabowo adalah sosok yang dapat memimpin Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Salah satu perhatian utama Budiman adalah keadilan sosial dan pembangunan desa. Selama menjadi anggota DPR, ia memperjuangkan Undang-Undang Desa yang memberikan wewenang lebih besar kepada desa dalam pengelolaan dana pembangunan. Budiman berharap, di bawah kepemimpinan Prabowo, agenda-agenda keadilan sosial dan pengembangan pedesaan dapat lebih ditingkatkan.

“Agenda saya dulu adalah untuk memperjuangkan kesetaraan di desa, dan di bawah Prabowo, saya yakin ini bisa menjadi prioritas yang lebih kuat,” ujarnya.

Menutup wawancara, Budiman menegaskan bahwa dukungannya kepada Prabowo didasarkan pada kesamaan visi untuk masa depan Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan siap menghadapi tantangan global. Ia juga menekankan pentingnya inovasi teknologi dan geostrategis, yang menurutnya akan menjadi kunci dalam kepemimpinan Prabowo di masa depan.

“Saya percaya bahwa di bawah Prabowo, Indonesia akan mampu membuat lompatan-lompatan besar, bukan hanya sekadar peningkatan kuantitatif, tapi eksponensial,” tutupnya.

Dengan perspektifnya sebagai mantan aktivis reformasi, Budiman Sudjatmiko memberikan pandangan yang menarik tentang bagaimana kepemimpinan Prabowo bisa menjadi solusi untuk Indonesia di tengah krisis global.

Pandangan ini sekaligus mencerminkan keyakinannya bahwa Indonesia membutuhkan perubahan besar dan lompatan strategis untuk mencapai kemajuan yang lebih signifikan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan oleh TV One Digital pada Sabtu (11/10), Budiman Sudjatmiko mengemukakan pandangan visionernya mengenai perubahan ekonomi akibat digitalisasi dan robotisasi.

Budiman mengusulkan gagasan tentang Universal Basic Income (UBI) sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi dampak kehilangan pekerjaan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi dan otomatisasi.

Pernyataan Budiman ini menyentuh beberapa isu mendasar yang akan mempengaruhi perekonomian Indonesia di masa depan. Termasuk potensi pasar carbon trading, peranan negara, serta pentingnya investasi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Digitalisasi dan Robotisasi, Menata Ulang Tenaga Kerja

Budiman menyoroti dampak besar dari mekanisasi dan digitalisasi yang berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia di sektor-sektor tertentu. Menurutnya, ketika pabrik-pabrik beralih menggunakan robot, maka jam kerja tidak lagi terbatas.

Mesin-mesin dapat bekerja terus-menerus tanpa jeda, meningkatkan produktivitas. Akan tetapi, pada saat yang sama menghilangkan kesempatan kerja bagi manusia.

Oleh karena itu, Budiman menegaskan pentingnya memikirkan kesejahteraan para pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat proses ini. Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah memberikan porsi saham kepada buruh yang dipecat, sehingga mereka tetap mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan yang berhasil melakukan efisiensi biaya melalui digitalisasi.

Alternatif lain yang diusulkan Budiman adalah penerapan Universal Basic Income (UBI), di mana negara membayar gaji warga negara menggunakan pajak yang dikumpulkan dari keuntungan perusahaan-perusahaan yang telah menurunkan biaya produksi berkat digitalisasi.

Universal Basic Income, Solusi Jangka Panjang

Budiman menjelaskan bahwa UBI merupakan program populer di banyak kota besar di luar negeri, meski belum diterapkan secara nasional di Indonesia. Menurut Budiman, UBI akan menjadi isu yang sangat krusial dalam satu dekade mendatang, terutama saat digitalisasi dan robotisasi semakin mengurangi kebutuhan manusia di dunia kerja.

Pendanaan UBI dapat berasal dari berbagai sumber. Salah satunya dari pajak yang dipungut negara atas keuntungan perusahaan-perusahaan yang diuntungkan oleh digitalisasi.

Budiman berpendapat, jika pemerintah mampu memanfaatkan potensi ini, maka produktivitas pajak yang dihasilkan bisa dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung melalui program seperti UBI.

Potensi Carbon Trading sebagai Pendanaan Sosial
Budiman juga menyinggung potensi pasar carbon trading, yang diperkirakan dapat menghasilkan pendapatan minimal Rp800 triliun per tahun di Indonesia.

Menurutnya, pendapatan ini dapat dipajaki oleh negara dan digunakan untuk membiayai program-program sosial, termasuk UBI. Meskipun gagasan ini mungkin masih terdengar futuristik, Budiman meyakini bahwa carbon trading akan menjadi salah satu komponen penting dalam pendanaan layanan sosial di masa depan.

Prediksi Masa Depan, Pabrik Tanpa Pekerja dan Teknologi 3D Printing

Budiman memproyeksikan bahwa pada tahun 2045 dan seterusnya, pabrik-pabrik tidak lagi memerlukan manusia sebagai tenaga kerja utama. Di sisi lain, manusia juga tidak perlu membeli banyak kebutuhan sehari-hari dari industri, karena dengan teknologi 3D printing, mereka bisa memproduksi kebutuhan sendiri di rumah.

Dalam skenario ini, akan terjadi pemisahan antara industri dan masyarakat, di mana manusia tidak lagi bergantung pada pekerjaan industri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Investasi SDM sebagai Prioritas Di tengah pesatnya digitalisasi

Budiman menekankan pentingnya investasi dalam sumber daya manusia, terutama dalam aspek digitalisasi. Ia berharap, di masa pemerintahan yang akan datang, program investasi SDM akan menjadi prioritas utama, sebagaimana pemerintah saat ini fokus pada penciptaan lapangan kerja melalui omnibus law.

Budiman menyebutkan, jika Presiden Jokowi dikenal dengan omnibus law yang berfokus pada Cipta Kerja, maka di masa depan, Prabowo diharapkan dapat melahirkan program omnibus law yang transformatif dan fundamental untuk meningkatkan kualitas SDM.

UBI dan Tantangan Ekonomi Digital

Melalui wawancaranya, Budiman Sudjatmiko memberikan pandangan mendalam tentang tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam menghadapi revolusi digital. Dengan visi yang jelas tentang UBI, carbon trading, dan robotisasi, ia menekankan pentingnya peran negara dalam menjamin kesejahteraan masyarakat di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa investasi dalam SDM harus diprioritaskan agar Indonesia siap menghadapi tantangan dan peluang yang ada di era digitalisasi dan robotisasi yang semakin mendominasi.(c@kra)