21 Oktober 2026

Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

MoneyTalk, – JakartaDalam sebuah wawancara eksklusif yang tayang di NU Online pada Senin, 14 Oktober 2024, Farish A. Noor, seorang akademisi, sejarawan, dan ilmuwan politik asal Malaysia yang saat ini menjabat sebagai profesor Politik di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), mengulas panjang lebar tentang dinamika nasionalisme Indonesia, hubungan internasional, dan tantangan politik global yang mempengaruhi masa depan negara bangsa.

Ia mengungkapkan kekhawatiran tentang nasionalisme yang dulunya progresif namun kini mulai menyempit, serta menyoroti dampak globalisasi dan perkembangan teknologi terhadap keberlanjutan sistem politik saat ini.

Nasionalisme: Dari Pembebasan Menuju Penjara

Farish A. Noor memulai diskusinya dengan menekankan bahwa nasionalisme di Indonesia, seperti yang terjadi di banyak negara lain, kini menghadapi kontradiksi mendasar. Nasionalisme yang dulunya merupakan kekuatan pembebasan yang memungkinkan bangsa Indonesia untuk bergerak maju secara politik, kini cenderung menjadi sempit dan melemahkan.

Menurutnya, nasionalisme yang pada masa lalu memperkuat Indonesia kini telah menyempitkan cara berpikir bangsa, membuatnya lumpuh dan terperangkap dalam ide-ide yang tertutup.

Ia menjelaskan, “Nasionalisme yang dahulu memperkuat kita kini telah mempersempit kita, membuat kita lumpuh. Sesuatu yang seharusnya membebaskan kita, pada akhirnya menjadi penjara.”

Farish menyoroti bagaimana ideologi nasionalisme yang sempit ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan menjadi tren global di mana kelompok-kelompok kanan semakin kuat, seperti yang terlihat di Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya.

Dalam hal ini, ia mempertanyakan keberlanjutan sistem politik berbasis negara-bangsa (nation-state) di tengah dunia yang semakin terglobalisasi dan didominasi oleh kekuatan modal global serta perusahaan multinasional yang sering kali memiliki pengaruh lebih besar dari negara.

Dampak Globalisasi dan Teknologi terhadap Negara Bangsa

Farish melanjutkan dengan menyatakan bahwa fenomena globalisasi, yang dipercepat oleh perkembangan teknologi seperti media sosial dan modal global, telah mengaburkan batas-batas negara. Banyak perusahaan global kini memiliki kekuatan yang bahkan dapat mengalahkan kedaulatan suatu negara. Ia memberikan contoh bagaimana di masa lalu, orang-orang kaya di sepanjang pesisir Asia Tenggara lebih kaya dari raja-raja, dan situasi ini seolah berulang kembali dalam konteks global saat ini.

Ia mengamati bahwa nasionalisme yang semakin sempit ini juga tercermin dalam berbagai fenomena sosial dan budaya, seperti obsesi terhadap otentisitas identitas dan konflik-konflik kecil antar negara-negara Asia Tenggara terkait klaim budaya. Farish menyebutkan bahwa meski ASEAN sudah berdiri selama beberapa dekade, negara-negara di Asia Tenggara masih saling berkonflik terkait hal-hal seperti makanan tradisional, pakaian, dan budaya, alih-alih memandang diri mereka sebagai bagian dari dunia kosmopolitan yang lebih luas.

Ia mengatakan, “Sate, batik, nasi ayam, dan lainnya bukan hanya milik satu negara, melainkan milik manusia. Itu adalah kontribusi kita kepada dunia.”

Nasionalisme Kosmopolitan Para Pendiri Bangsa Dalam pandangannya, nasionalisme Indonesia pada masa awal kemerdekaan jauh lebih kosmopolitan dibandingkan sekarang. Farish mengutip pemikiran Bung Karno, yang menyatakan bahwa nasionalisme Indonesia berada di dalam “tamansari internasionalisme.” Namun, nasionalisme kosmopolitan ini mulai menyempit pada era Soeharto, di mana fokus lebih diarahkan ke dalam negeri, dan bangsa Indonesia semakin sibuk memikirkan keagungan sendiri daripada belajar dari bangsa-bangsa lain di sekitarnya.

Farish berpendapat bahwa nasionalisme Indonesia pada era awal kemerdekaan mencerminkan visi kosmopolit yang jauh lebih terbuka dan inklusif, namun sayangnya, visi tersebut telah hilang seiring berjalannya waktu.

Tantangan di Masa Depan: Apakah Sistem Politik Saat Ini Bisa Bertahan?

Farish juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi masa depan. Salah satu pertanyaan besar yang ia ajukan adalah apakah Indonesia bisa mempertahankan model politik yang ada di tengah perubahan besar di seluruh dunia. Ia menyinggung berbagai krisis politik di negara-negara seperti Lebanon, serta kebangkitan kelompok kanan ekstrem di berbagai tempat yang membawa dampak global.

Pertanyaan ini, menurut Farish, sangat relevan karena sistem negara-bangsa semakin melemah bukan karena serangan dari luar, tetapi akibat fenomena internal seperti perkembangan teknologi dan kekuatan modal global.

Farish mengajak untuk merenungkan, apakah pendidikan yang diterima generasi muda di universitas-universitas Indonesia sudah membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menghadapi tantangan global ini, atau hanya melatih mereka untuk menjadi aparat dari sistem yang ada.

Islam dan Identitas di Asia Tenggara Sebagai penutup, Farish A. Noor juga menyentuh peran Islam dalam dinamika sosial dan politik di Asia Tenggara. Ia menekankan pentingnya membedakan antara Islam sebagai sistem kepercayaan dan Muslim sebagai kelompok sosial. Dalam pandangannya, di Asia Tenggara, identitas Muslim sering kali dikaji dan dikategorikan oleh kekuatan kolonial, yang menciptakan narasi bahwa Islam adalah masalah yang perlu diawasi dan dikendalikan. Pandangan ini, menurutnya, masih berlanjut hingga hari ini, terutama pasca peristiwa 9/11 yang membuat Islam sering dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme.

Farish menekankan pentingnya untuk tidak hanya membaca sejarah, tetapi memahami dan belajar dari kesalahan masa lalu agar bangsa ini tidak terus mengulangi kesalahan yang sama.

Pernyataan Farish A. Noor dalam wawancara ini memberikan banyak wawasan tentang kondisi nasionalisme Indonesia dan tantangan besar yang dihadapi di masa depan. Dengan pandangan yang tajam dan analisis yang mendalam, Farish mengingatkan kita bahwa nasionalisme yang dulunya menjadi kekuatan pembebas, kini telah menyempit dan menghalangi bangsa ini untuk bergerak maju di era globalisasi yang semakin kompleks.

Tantangan bagi bangsa Indonesia adalah bagaimana merumuskan kembali nasionalisme yang kosmopolit dan inklusif. Bagaimana membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk menghadapi dunia yang semakin berubah.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah diskusi yang ditayangkan di NU Online pada Senin (14/10), Farish A. Noor, seorang akademisi, sejarawan, dan ilmuwan politik Malaysia yang menjabat sebagai Profesor di Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), menguraikan pandangannya mengenai hubungan historis antara Amerika Serikat dan Asia Tenggara.

Diskusi ini membahas perjalanan sejarah hubungan diplomatik dan politis antara Amerika dan kawasan ini, yang menurut Farish, seringkali diabaikan dalam kajian sejarah kontemporer. Dalam pembahasannya, Farish mengungkapkan bahwa Amerika tidak serta merta menjadi kekuatan imperialis, tetapi lambat laun berkembang menjadi hegemon yang berpengaruh besar di Asia Pasifik.

Farish memulai penjelasannya dengan menyebut bahwa Amerika awalnya memproyeksikan citra yang berbeda dari kekuatan-kekuatan kolonial Eropa. Pada zaman Thomas Jefferson, kebijakan Amerika didasarkan pada prinsip bahwa mereka bukanlah kekuatan imperialis.

Amerika tidak ingin menaklukkan atau menjajah wilayah-wilayah di Asia, tetapi lebih memilih untuk menandatangani perjanjian diplomatik dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan Hindia Belanda. Ini, menurut Farish, merupakan bagian dari narasi Amerika yang ingin menonjolkan diri sebagai “republik” yang berbeda dari kerajaan-kerajaan Eropa yang dianggap “jahat.”

Narasi ini mulai berubah seiring dengan ekspansi Amerika ke wilayah Barat melalui Perang Amerika-Meksiko (1846-1848), yang mengakhiri kekuasaan Meksiko atas California dan membuka akses langsung Amerika ke Lautan Pasifik. Dengan menguasai California, Amerika memiliki jalur langsung menuju Asia Timur dan Asia Tenggara, yang sebelumnya memerlukan pelayaran panjang melalui Amerika Selatan. Perubahan besar terjadi ketika Amerika menaklukkan Filipina pada akhir abad ke-19, menjadikan Amerika kekuatan imperialis baru di kawasan Pasifik.

Farish menegaskan bahwa peran Asia Tenggara dalam kebangkitan Amerika sebagai kekuatan hegemonik tidak dapat diabaikan.

“Kita bukan lagi pemain pinggiran, kita pemain sentral dalam sejarah Amerika,” tegasnya.

Ia mengkritik bahwa baik sejarahwan Amerika maupun Asia jarang mencatat peran signifikan kawasan ini dalam pembentukan kekuatan Amerika. Pertemuan pertama Amerika dengan Asia Tenggara terjadi jauh sebelum Perang Dunia II atau Perang Dingin, namun banyak literatur yang tidak menggali periode ini secara mendalam.

Farish juga menyoroti pentingnya mempelajari sejarah bersama antara Amerika dan Asia Tenggara untuk memahami dinamika geopolitik saat ini. Menurutnya, transformasi Lautan Pasifik menjadi “domain” Amerika adalah salah satu hasil dari ekspansi Amerika di Filipina dan kawasan sekitarnya.

Amerika tidak hanya menguasai Filipina, tetapi juga Guam dan Hawaii. Lautan Pasifik, yang sebelumnya didominasi oleh kekuatan Eropa, menjadi zona pengaruh Amerika, sementara Asia daratan menjadi medan pertarungan antara kekuatan lain, seperti Jepang.

Dominasi ini diperkuat oleh pengembangan angkatan laut Amerika, yang menurut Farish, berawal dari kebutuhan untuk bersaing dengan kekuatan-kekuatan Eropa di kawasan Asia-Pasifik.

Pada awalnya, Amerika hanya memiliki beberapa kapal kecil, namun kemudian berkembang menjadi kekuatan laut terbesar di dunia. Ini adalah cikal bakal lahirnya “Pasifik Amerika,” yang menjadi kunci dominasi geopolitik Amerika di kawasan ini hingga hari ini.

Farish menolak pandangan bahwa persaingan antara Amerika dan Cina di kawasan Asia-Pasifik saat ini merupakan Perang Dingin kedua. Menurutnya, Perang Dingin pertama adalah pertarungan ideologi antara kapitalisme dan komunisme, sedangkan saat ini, persaingan Amerika dan Cina lebih bersifat ekonomi, dengan kedua kekuatan sama-sama menerapkan kapitalisme. Ia menekankan bahwa fenomena ini lebih mirip dengan konflik antara kekuatan kapitalis pada abad ke-19, seperti Inggris, Belanda, Prancis, dan Spanyol, yang bersaing untuk memonopoli perdagangan dan keuntungan ekonomi di berbagai belahan dunia.

Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Farish adalah perlunya menggali kembali sejarah hubungan antara Amerika dan Asia Tenggara, yang jauh lebih panjang daripada yang sering disebut dalam buku-buku sejarah. Ia menyatakan bahwa interaksi antara Amerika dan kawasan ini dimulai sejak awal abad ke-19, bukan setelah Perang Dunia II seperti yang sering diasumsikan.

Farish menyayangkan bahwa banyak akademisi saat ini, baik di Amerika maupun di Asia Tenggara, tidak banyak yang tertarik untuk meneliti periode ini. Menurutnya, ini adalah episode penting yang dilupakan dalam sejarah.

Setelah Perang Dunia II, Amerika menggantikan peran kekuatan Eropa sebagai kekuatan dominan di Asia-Pasifik. Farish mencatat bahwa meskipun banyak negara Asia Tenggara mencoba membentuk sistem politik yang independen, seperti dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955, sebagian besar dari proyek-proyek ini tidak berhasil bertahan lama. Struktur politik yang dominan pada saat itu, yang diwarnai oleh pengaruh kolonialisme, tidak memungkinkan terbentuknya sistem politik yang benar-benar mandiri.

Dalam diskusi ini, Farish juga membahas bagaimana demokrasi di Asia Tenggara sering dianggap gagal oleh banyak peneliti Barat. Ia berpendapat bahwa demokrasi tidak dapat berkembang di wilayah yang telah lama berada di bawah kendali otoritarianisme kolonial. Proses demokratisasi di banyak negara Asia Tenggara baru dimulai setelah masa kolonial berakhir, sehingga tanah politiknya belum cukup subur untuk menumbuhkan demokrasi yang kuat.

Farish A. Noor menutup dengan pandangan optimis, meskipun mengakui bahwa tantangan yang dihadapi negara-negara Asia Tenggara saat ini sangat besar. Ia percaya bahwa kawasan ini masih memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam geopolitik global.

Untuk mencapai itu, penting bagi masyarakat Asia Tenggara untuk memahami dan menggali kembali sejarah panjang mereka dengan kekuatan-kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat. Hanya dengan begitu, menurut Farish, kawasan ini dapat membentuk masa depan yang lebih baik dan lebih mandiri.