Nasionalisme Indonesia Menuju Penyempitan, Tantangan Masa Depan Bangsa

  • Bagikan
Menuju Penyempitan, Tantangan Masa Depan Bangsa
Menuju Penyempitan, Tantangan Masa Depan Bangsa

MoneyTalk, – JakartaDalam sebuah wawancara eksklusif yang tayang di NU Online pada Senin, 14 Oktober 2024, Farish A. Noor, seorang akademisi, sejarawan, dan ilmuwan politik asal Malaysia yang saat ini menjabat sebagai profesor Politik di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), mengulas panjang lebar tentang dinamika nasionalisme Indonesia, hubungan internasional, dan tantangan politik global yang mempengaruhi masa depan negara bangsa.

Ia mengungkapkan kekhawatiran tentang nasionalisme yang dulunya progresif namun kini mulai menyempit, serta menyoroti dampak globalisasi dan perkembangan teknologi terhadap keberlanjutan sistem politik saat ini.

Nasionalisme: Dari Pembebasan Menuju Penjara

Farish A. Noor memulai diskusinya dengan menekankan bahwa nasionalisme di Indonesia, seperti yang terjadi di banyak negara lain, kini menghadapi kontradiksi mendasar. Nasionalisme yang dulunya merupakan kekuatan pembebasan yang memungkinkan bangsa Indonesia untuk bergerak maju secara politik, kini cenderung menjadi sempit dan melemahkan.

Menurutnya, nasionalisme yang pada masa lalu memperkuat Indonesia kini telah menyempitkan cara berpikir bangsa, membuatnya lumpuh dan terperangkap dalam ide-ide yang tertutup.

Ia menjelaskan, “Nasionalisme yang dahulu memperkuat kita kini telah mempersempit kita, membuat kita lumpuh. Sesuatu yang seharusnya membebaskan kita, pada akhirnya menjadi penjara.”

Farish menyoroti bagaimana ideologi nasionalisme yang sempit ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan menjadi tren global di mana kelompok-kelompok kanan semakin kuat, seperti yang terlihat di Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya.

Dalam hal ini, ia mempertanyakan keberlanjutan sistem politik berbasis negara-bangsa (nation-state) di tengah dunia yang semakin terglobalisasi dan didominasi oleh kekuatan modal global serta perusahaan multinasional yang sering kali memiliki pengaruh lebih besar dari negara.

Dampak Globalisasi dan Teknologi terhadap Negara Bangsa

Farish melanjutkan dengan menyatakan bahwa fenomena globalisasi, yang dipercepat oleh perkembangan teknologi seperti media sosial dan modal global, telah mengaburkan batas-batas negara. Banyak perusahaan global kini memiliki kekuatan yang bahkan dapat mengalahkan kedaulatan suatu negara. Ia memberikan contoh bagaimana di masa lalu, orang-orang kaya di sepanjang pesisir Asia Tenggara lebih kaya dari raja-raja, dan situasi ini seolah berulang kembali dalam konteks global saat ini.

Ia mengamati bahwa nasionalisme yang semakin sempit ini juga tercermin dalam berbagai fenomena sosial dan budaya, seperti obsesi terhadap otentisitas identitas dan konflik-konflik kecil antar negara-negara Asia Tenggara terkait klaim budaya. Farish menyebutkan bahwa meski ASEAN sudah berdiri selama beberapa dekade, negara-negara di Asia Tenggara masih saling berkonflik terkait hal-hal seperti makanan tradisional, pakaian, dan budaya, alih-alih memandang diri mereka sebagai bagian dari dunia kosmopolitan yang lebih luas.

Ia mengatakan, “Sate, batik, nasi ayam, dan lainnya bukan hanya milik satu negara, melainkan milik manusia. Itu adalah kontribusi kita kepada dunia.”

Nasionalisme Kosmopolitan Para Pendiri Bangsa Dalam pandangannya, nasionalisme Indonesia pada masa awal kemerdekaan jauh lebih kosmopolitan dibandingkan sekarang. Farish mengutip pemikiran Bung Karno, yang menyatakan bahwa nasionalisme Indonesia berada di dalam “tamansari internasionalisme.” Namun, nasionalisme kosmopolitan ini mulai menyempit pada era Soeharto, di mana fokus lebih diarahkan ke dalam negeri, dan bangsa Indonesia semakin sibuk memikirkan keagungan sendiri daripada belajar dari bangsa-bangsa lain di sekitarnya.

Farish berpendapat bahwa nasionalisme Indonesia pada era awal kemerdekaan mencerminkan visi kosmopolit yang jauh lebih terbuka dan inklusif, namun sayangnya, visi tersebut telah hilang seiring berjalannya waktu.

Tantangan di Masa Depan: Apakah Sistem Politik Saat Ini Bisa Bertahan?

Farish juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi masa depan. Salah satu pertanyaan besar yang ia ajukan adalah apakah Indonesia bisa mempertahankan model politik yang ada di tengah perubahan besar di seluruh dunia. Ia menyinggung berbagai krisis politik di negara-negara seperti Lebanon, serta kebangkitan kelompok kanan ekstrem di berbagai tempat yang membawa dampak global.

Pertanyaan ini, menurut Farish, sangat relevan karena sistem negara-bangsa semakin melemah bukan karena serangan dari luar, tetapi akibat fenomena internal seperti perkembangan teknologi dan kekuatan modal global.

Farish mengajak untuk merenungkan, apakah pendidikan yang diterima generasi muda di universitas-universitas Indonesia sudah membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menghadapi tantangan global ini, atau hanya melatih mereka untuk menjadi aparat dari sistem yang ada.

Islam dan Identitas di Asia Tenggara Sebagai penutup, Farish A. Noor juga menyentuh peran Islam dalam dinamika sosial dan politik di Asia Tenggara. Ia menekankan pentingnya membedakan antara Islam sebagai sistem kepercayaan dan Muslim sebagai kelompok sosial. Dalam pandangannya, di Asia Tenggara, identitas Muslim sering kali dikaji dan dikategorikan oleh kekuatan kolonial, yang menciptakan narasi bahwa Islam adalah masalah yang perlu diawasi dan dikendalikan. Pandangan ini, menurutnya, masih berlanjut hingga hari ini, terutama pasca peristiwa 9/11 yang membuat Islam sering dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme.

Farish menekankan pentingnya untuk tidak hanya membaca sejarah, tetapi memahami dan belajar dari kesalahan masa lalu agar bangsa ini tidak terus mengulangi kesalahan yang sama.

Pernyataan Farish A. Noor dalam wawancara ini memberikan banyak wawasan tentang kondisi nasionalisme Indonesia dan tantangan besar yang dihadapi di masa depan. Dengan pandangan yang tajam dan analisis yang mendalam, Farish mengingatkan kita bahwa nasionalisme yang dulunya menjadi kekuatan pembebas, kini telah menyempit dan menghalangi bangsa ini untuk bergerak maju di era globalisasi yang semakin kompleks.

Tantangan bagi bangsa Indonesia adalah bagaimana merumuskan kembali nasionalisme yang kosmopolit dan inklusif. Bagaimana membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk menghadapi dunia yang semakin berubah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *