6 November 2026

Warganet

MoneyTalk, Jakarta – Jagat media sosial kembali diramaikan dengan kritik keras yang menyasar elite politik Indonesia. Seorang warganet di platform X (dulu Twitter) dengan akun @TogaHglQ melontarkan sindiran tajam terhadap sikap pemerintah yang dinilai pasif atas tewasnya seorang pemimpin Asia di wilayah negaranya sendiri akibat serangan kekuatan asing.

Dalam unggahannya, akun tersebut menggunakan gaya retoris yang disebut-sebut “ala-ala Soekarno”, lengkap dengan julukan “Macan Asia” dan seruan khas, “Haaai Antek Asing!”

Akun itu menulis: “Pemimpin di Asia dibunuh di wilayah negaranya yang berdaulat oleh kekuatan asing. Jangankan protes, mengucap belasungkawa pun tak berani. Tua-tua biawak. Makin tua makin lawak.”

Unggahan tersebut merujuk pada eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Israel serta keterlibatan Amerika Serikat.

Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, narasi yang dibangun akun itu mengarah pada kritik terhadap sikap pemerintah Indonesia yang dinilai tidak cukup tegas dalam merespons kematian tokoh penting di kawasan Asia akibat serangan asing.

Frasa “Macan Asia” sendiri kerap digunakan untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara besar dengan populasi muslim terbesar di dunia dan posisi strategis di kawasan. Namun, dalam unggahan tersebut, istilah itu justru dipakai secara satir.

Penggunaan gaya bahasa menyerupai retorika Soekarno menjadi perhatian tersendiri. Diksi seperti “Antek Asing” dan nada konfrontatif mengingatkan publik pada pidato-pidato Presiden pertama RI yang dikenal keras terhadap imperialisme dan kolonialisme.

Bagi sebagian warganet, unggahan tersebut dianggap sebagai ekspresi kekecewaan terhadap arah politik luar negeri Indonesia yang dinilai terlalu berhati-hati. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang mengingatkan bahwa diplomasi tidak selalu dilakukan secara terbuka dan retoris.

Indonesia secara konstitusional menganut politik luar negeri bebas aktif. Dalam konteks konflik global, pemerintah sering kali memilih jalur diplomasi tertutup, komunikasi bilateral, dan pendekatan multilateral melalui forum internasional.

Namun di era media sosial, tuntutan terhadap pernyataan terbuka dan sikap tegas semakin menguat. Publik tidak hanya menilai kebijakan, tetapi juga simbol dan gestur politik.

Unggahan @TogaHglQ menunjukkan bagaimana ruang digital menjadi arena baru pertarungan opini, tempat narasi nasionalisme, kedaulatan, dan keberanian diplomatik diperdebatkan secara terbuka—kadang dengan nada satir, kadang dengan amarah.

Apakah “Macan Asia” masih mengaum, atau justru memilih berbisik di balik layar diplomasi? Perdebatan itu tampaknya akan terus bergulir di ruang publik.

Samarinda – Dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kalimantan Timur 2024, dukungan masyarakat terhadap pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, Isran Noor dan Hadi Mulyadi, tampak semakin menguat.

Berdasarkan hasil polling yang dilakukan oleh media lokal, KaltimToday, melalui akun media sosial mereka, pasangan Isran-Hadi berhasil mengungguli pasangan pesaing, Rudy Mas’ud dan Seno Aji, dalam kontes elektabilitas yang diikuti oleh ribuan pengguna internet.

Polling ini menjadi salah satu indikator awal dari preferensi politik masyarakat Kalimantan Timur, khususnya di dunia maya. Saat dilihat pada Jumat, 4 Oktober 2024, pukul 21:00 WIB, jumlah partisipan sudah mencapai 4.371 suara. Dari total suara yang masuk, pasangan Isran-Hadi mendapatkan dukungan sebesar 60 persen, sementara pasangan Rudy-Seno hanya berhasil meraih 40 persen suara.

Selisih yang cukup signifikan ini mencerminkan bahwa warganet lebih banyak memberikan kepercayaan kepada Isran Noor dan Hadi Mulyadi untuk memimpin Kalimantan Timur dalam periode mendatang.

Hasil ini bukan hanya sekadar angka di media sosial, tetapi juga bisa menjadi cerminan dari tren politik yang berkembang di lapangan. Meskipun polling online tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk memprediksi hasil akhir Pilkada, hal ini tetap menjadi salah satu indikator yang menunjukkan arah dukungan publik, khususnya di kalangan pengguna internet yang umumnya lebih terhubung dengan isu-isu terkini dan lebih vokal dalam menyuarakan preferensi mereka.

Kemenangan Isran-Hadi dalam polling ini juga bisa dilihat sebagai bukti bahwa kebijakan-kebijakan yang mereka jalankan selama menjabat di periode sebelumnya masih mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Pada periode kepemimpinan Isran Noor sebagai Gubernur Kalimantan Timur dan Hadi Mulyadi sebagai Wakil Gubernur, mereka dikenal dengan berbagai program yang dianggap berhasil meningkatkan kesejahteraan daerah, seperti peningkatan infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam, dan dukungan terhadap pendidikan serta kesehatan.

Di sisi lain, pasangan Rudy Mas’ud dan Seno Aji, meski didukung oleh koalisi partai-partai besar, masih menghadapi tantangan besar untuk merebut simpati warganet, terutama dalam menjelaskan visi dan misi mereka untuk Kalimantan Timur ke depan.

Dukungan yang hanya mencapai 40 persen dalam polling ini menunjukkan bahwa pasangan tersebut harus bekerja lebih keras dalam mendekati konstituen dan meyakinkan masyarakat.

Secara keseluruhan, polling ini menunjukkan bahwa pasangan Isran Noor dan Hadi Mulyadi saat ini berada dalam posisi yang lebih kuat di mata warganet. Namun demikian, Pilkada adalah proses yang dinamis, dan situasi di lapangan bisa berubah dengan cepat.