MoneyTalk, Jakarta- Dalam sebuah diskusi bedah tuntas yang berlangsung pada 20 September 2024, Noorsy menggemparkan publik dengan pernyataan yang berani. Bahwa Indonesia sebenarnya dikuasai hanya oleh 29 orang, dengan sistem politik yang menurutnya secara struktural memiskinkan masyarakat.
Pernyataan ini menegaskan bahwa sejak Pemilu 2004, yang terjadi adalah penghisapan dan pemiskinan melalui mekanisme yang memungkinkan kekayaan negara dialihkan ke korporasi.
Noorsy menyampaikan bahwa sistem politik yang saat ini berjalan telah menciptakan ketergantungan terhadap korporasi. Juga menuding bahwa partai politik di Indonesia berlomba-lomba mendekatkan diri kepada korporasi besar untuk mendapatkan dukungan finansial. “Indonesia hanya dikuasai 29 manusia,” tegasnya.
Dari pernyataannya, Noorsy merinci bahwa 10 dari mereka adalah ketua umum partai politik, 10 lainnya adalah orang terkaya di Indonesia, ditambah 9 Hakim Mahkamah Konstitusi, dan satu lagi adalah Presiden. Dengan struktur ini, meyakini bahwa segelintir orang inilah yang benar-benar menentukan arah kebijakan negara.
Selanjutnya Sistem Politik atau sistem Pemilu sengaja biaya sangat mahal lebih menguntungkan segelintir elit partai politik sementara rakyat kecil semakin dimiskinkan.
Coba lihat biaya politik yang semakin mahal tanpa memberikan kesejahteraan yang setimpal kepada masyarakat, ujar Noorsy, lalu membandingkan biaya per pemilih pada Pemilu 1999 yang masih berlandaskan UUD 1945 sebesar Rp12.383,41, dengan Pemilu 2024 yang mencapai Rp348.132,25 per pemilih.
Kemudian daripada itu, Noorsy juga menyinggung tentang Jakarta sedang diarahkan menjadi kota global. Juga mengingatkan bahwa menerima Jakarta sebagai kota global berarti menyerah pada kekuatan global yang akan menghisab dan mengeksploitasi Indonesia.
“Kalau lu terima Jakarta jadi kota global, lu siap-siap dihisab oleh kekuatan global,” ujarnya dengan nada prihatin.
Dan keberadaan Kota globalisasi ini tidak membawa manfaat bagi rakyat kecil, melainkan lebih menguntungkan para elit korporasi dan politisi.(c@kra)
