Pendapatan Naik, Laba Berubah Jadi Rugi Rp342 Miliar! GSBK Pertanyakan Pengelolaan Danareksa

  • Bagikan
Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah

MoneyTalk.id,Jakarta – Ada yang janggal dengan kinerja keuangan PT Danareksa (Persero) pada 2025. Di tengah pendapatan usaha yang justru meningkat, perusahaan pelat merah tersebut malah mencatatkan kerugian ratusan miliar rupiah. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas pengelolaan bisnis, terutama setelah perusahaan mengalami perubahan arah transformasi dan pergantian jajaran komisaris.

Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, menyoroti anjloknya kinerja keuangan Danareksa yang dinilainya patut mendapatkan perhatian serius dari pemegang saham maupun pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan perusahaan.

Menurut Febri, Danareksa bukanlah perusahaan kecil. Portofolio bisnisnya membentang luas, mulai dari jasa keuangan, kawasan industri, sumber daya air, konstruksi, manufaktur, media, teknologi, hingga transportasi dan logistik.

Dengan cakupan bisnis yang begitu besar, Danareksa semestinya memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas keuangan dan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.

Namun, kenyataan pada 2025 justru menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik.

“Pada 2025, PT Danareksa menghadapi tantangan yang sangat berat. Perusahaan mengalami kerugian hingga ratusan miliar rupiah. Ini tentu menjadi pertanyaan besar, bagaimana perusahaan dengan portofolio bisnis seluas itu justru mengalami kemerosotan kinerja yang begitu tajam?” kata Febri ketika diminta tanggapannya, Rabu (30/9/2026).

Febri mengungkapkan, terdapat dua momentum penting yang terjadi di tubuh Danareksa dan patut dicermati dalam membaca perubahan kinerja perusahaan.

Pertama, Danareksa menerima arahan dari PT Danantara Asset Management (Persero), selaku pemegang saham seri B, terkait tindak lanjut rencana transformasi bisnis perseroan menjadi holding kawasan industri.

Kedua, terjadi perubahan susunan Dewan Komisaris, terutama posisi Komisaris Utama yang sebelumnya dijabat Robert Pakpahan dan kemudian beralih kepada A. Helmy Faishal Zaini.

Menurut Febri, kedua momentum tersebut perlu dikaji secara mendalam untuk mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap strategi bisnis, efektivitas pengelolaan, dan kondisi keuangan perusahaan.

Hal yang paling disoroti Febri adalah ketimpangan antara pendapatan usaha dan hasil akhir keuangan Danareksa.

Berdasarkan angka yang disampaikannya, pada 2024 Danareksa mencatatkan pendapatan usaha sekitar Rp3,9 triliun dengan keuntungan mencapai Rp1,5 triliun.

Sementara pada 2025, pendapatan usaha justru meningkat menjadi sekitar Rp4,1 triliun. Artinya, terdapat kenaikan pendapatan sekitar Rp200 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, peningkatan pendapatan tersebut tidak berbanding lurus dengan keuntungan. Danareksa malah mencatatkan kerugian yang disebut mencapai Rp342,2 miliar.

Perubahan ini menjadi sorotan karena perusahaan yang sebelumnya mampu membukukan keuntungan besar justru berbalik merugi ketika pendapatan usahanya meningkat.

“Yang paling aneh, perusahaan memperoleh pendapatan usaha pada 2025 sebesar Rp4,1 triliun, tetapi justru mengalami kerugian Rp342,2 miliar. Padahal pada 2024, dengan pendapatan usaha hanya Rp3,9 triliun, perusahaan masih mampu meraih keuntungan hingga Rp1,5 triliun,” ujar Febri.

Ia mempertanyakan faktor yang menyebabkan perubahan drastis tersebut. Menurutnya, peningkatan pendapatan semestinya menjadi modal untuk memperkuat kinerja perusahaan, bukan justru diikuti kerugian besar.

“Pendapatan usaha naik Rp200 miliar lebih dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi yang masuk ke bawah garis justru lubang Rp342 miliar. Kalau pendapatan lebih kecil bisa untung Rp1,5 triliun, lalu mengapa saat pendapatan lebih besar justru hancur?” katanya.

Febri menilai, perubahan tajam dari keuntungan menjadi kerugian perlu ditelusuri melalui evaluasi menyeluruh terhadap struktur biaya, strategi investasi, kontribusi masing-masing lini usaha, serta efektivitas pengambilan keputusan manajemen.

Menurutnya, peningkatan pendapatan yang tidak diikuti perbaikan laba dapat mengindikasikan adanya tekanan biaya atau persoalan lain yang perlu dijelaskan secara transparan oleh perusahaan.

“Kalau penghasilan naik tetapi hasilnya turun drastis, berarti ada persoalan yang harus dibuka. Kita perlu mengetahui apakah masalahnya berasal dari beban operasional, keputusan investasi, restrukturisasi bisnis, atau faktor lain di dalam pengelolaan perusahaan,” tegasnya.

Ia mengingatkan, transformasi bisnis tidak boleh hanya dilihat dari perubahan struktur organisasi maupun arah strategis perusahaan. Transformasi juga harus mampu memberikan hasil nyata terhadap kesehatan keuangan dan keberlanjutan usaha.

Terlebih, Danareksa mengelola berbagai sektor bisnis yang memiliki karakteristik dan tantangan berbeda. Karena itu, pengawasan terhadap kinerja setiap unit usaha menjadi penting agar persoalan pada satu sektor tidak membebani keseluruhan perusahaan.

Febri pun meminta pemegang saham dan jajaran manajemen memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab kerugian serta langkah konkret untuk memulihkan kinerja keuangan Danareksa.

“Danareksa punya banyak ladang usaha. Tetapi kalau pengelolaannya seperti ini, semakin besar bisnis yang dimiliki, semakin besar pula pertanyaan publik. Jangan sampai perusahaan yang memiliki potensi besar justru kehilangan kemampuan menghasilkan keuntungan,” pungkas Febri.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *