MoneyTalk.id, Jakarta – Perombakan kabinet kembali dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Namun, langkah tersebut justru mendapat sorotan dari ekonom Ferry Latuhihin karena dinilai belum mampu memberikan sentimen positif kepada pasar keuangan.
Ferry menyebut reshuffle yang dilakukan pada 1 Oktober 2026 merupakan perombakan kabinet ketujuh pada pemerintahan Prabowo. Dalam perombakan tersebut, sejumlah pejabat digeser dan sejumlah wajah baru masuk ke pemerintahan.
Di antaranya Drajad Hari Wibowo sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman sebagai Wakil Menteri Keuangan, serta pergantian posisi Kapolri dari Listyo Sigit Prabowo kepada Suyudi Ario Seto. Listyo Sigit kemudian ditempatkan sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Namun, menurut Ferry, respons pasar terhadap reshuffle tersebut tidak seperti yang diharapkan.
“Market tidak menanggapi dengan baik. Kita lihat indeks jatuh ke bawah 6.000, ke 5.900 sekian. Ini sudah threshold yang sangat kritis karena jatuh ke bawah 6.000,” ujar Ferry di Podcast Forum Keadilan Madilog, Sabtu (3/10/2026).
Pergerakan IHSG memang menunjukkan tekanan kuat setelah pengumuman reshuffle. Pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, IHSG ditutup di level 6.009, turun 61,64 poin atau 1,02 persen. Bahkan indeks sempat menyentuh level 5.973 dalam perdagangan hari itu.
Tekanan berlanjut pada perdagangan berikutnya. Sejumlah laporan pasar mencatat IHSG kembali bergerak di sekitar level 5.900 pada 2 Oktober 2026.
Bagi Ferry, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar belum memberikan respons positif terhadap susunan baru pemerintahan.
“Reshuffle ini tetap di mata investor tidak berkualitas. Market sama sekali tidak menanggapi secara positif,” kata Ferry.
Ia menilai persoalannya bukan semata-mata jumlah pejabat yang diganti, tetapi figur dan arah perubahan yang dipersepsikan oleh investor.
“Kalau reshuffle yang serius, ya. Jangan seperti ini, cuma mengganti orang. Kesan market begitu, sehingga tidak ditanggapi positif,” ujarnya.
Pernyataan Ferry tersebut muncul ketika pasar saham Indonesia sedang menghadapi tekanan yang cukup berat. CNBC Indonesia melaporkan pada 1 Oktober investor asing mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp204,30 miliar ketika IHSG mengalami penurunan lebih dari 1 persen.
Ferry juga menyoroti pasar surat berharga negara atau SBN. Menurut dia, apabila minat investor terhadap instrumen pemerintah terus melemah, pemerintah akan menghadapi tantangan ketika membutuhkan pembiayaan melalui penerbitan surat utang.
“Betapa sepinya sekarang peminat SBN,” kata Ferry.
Menurut dia, persoalan tersebut penting karena pemerintah membutuhkan pasar surat utang untuk membiayai defisit anggaran sekaligus melakukan refinancing terhadap utang yang jatuh tempo.
Meski demikian, data Bank Indonesia menunjukkan pasar SRBI masih mencatat aktivitas penawaran. Dalam lelang SRBI pada 25 September 2026, total penawaran untuk tiga tenor mencapai sekitar Rp64,11 triliun, sementara total yang dimenangkan sebesar Rp15 triliun. Rata-rata tertimbang tingkat imbal hasil pemenang berada di 6,65 persen untuk tenor enam bulan, 6,75 persen untuk sembilan bulan dan 6,76 persen untuk tenor 12 bulan.
Data tersebut penting sebagai pembanding terhadap pernyataan mengenai sepinya minat investor. Dengan kata lain, pasar surat berharga masih memiliki permintaan, meskipun kondisi dan harga yang diminta investor menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Ferry kemudian menghubungkan kondisi pasar domestik dengan kebijakan moneter dan penguatan dolar AS.
Ia menyoroti kemungkinan penurunan imbal hasil SRBI hingga di bawah 7 persen. Menurutnya, apabila dilakukan ketika tekanan dolar sedang kuat, kebijakan tersebut berpotensi menambah persoalan bagi stabilitas nilai tukar.
Data resmi Bank Indonesia menunjukkan bahwa imbal hasil SRBI memang berada di sekitar level tersebut. Pada transaksi pasar sekunder 25 September 2026, rata-rata tertimbang SRBI tenor tiga bulan tercatat 6,65 persen, tenor enam bulan 6,69 persen dan tenor 12 bulan 6,76 persen.
Dalam lelang SRBI 11 September, rata-rata tertimbang imbal hasil pemenang tercatat 6,80 persen untuk tenor enam bulan, 6,86 persen untuk sembilan bulan dan 6,94 persen untuk tenor 12 bulan.
Karena itu, kekhawatiran Ferry lebih diarahkan kepada konsekuensi apabila imbal hasil instrumen rupiah ditekan ketika dolar AS sedang kuat.
“Ini justru bahaya. Kekuatan daripada dolar itu sendiri membuat semua currency across the board, all over the world, mengalami tekanan,” ujar Ferry.
Ferry juga mempertanyakan sampai sejauh mana bank sentral dapat melakukan intervensi untuk menahan tekanan terhadap mata uang domestik.
Menurutnya, apabila intervensi dilakukan dengan menjual cadangan dolar ke pasar secara terus-menerus, cadangan devisa pada akhirnya dapat tergerus.
“Kalau seperti intervensi dengan mengguyur dolar ke pasar, lama-lama cadangan devisa kita habis,” katanya.
Ia juga menyinggung penggunaan transaksi derivatif seperti swap sebagai salah satu instrumen pengelolaan likuiditas valuta asing.
Menurut Ferry, transaksi semacam itu memang dapat memberikan suplai dolar dalam periode tertentu. Namun, kewajiban tersebut tetap memiliki jatuh tempo sehingga bukan berarti tekanan terhadap dolar hilang secara permanen.
“Kalau kita akalin dengan derivatif seperti swap transaction, memang dolar masuk untuk mengambil keuntungan dari interest rate. Tapi dolar ini dalam jangka waktu enam bulan, tujuh bulan, delapan bulan jatuh tempo dan harus dikembalikan lagi oleh bank sentral kepada investor,” ujarnya.
Karena itu, Ferry mempertanyakan daya tahan bank sentral di berbagai negara, termasuk Bank Indonesia, apabila harus menghadapi tekanan dolar yang berlangsung lama.
“Jadi berapa lama bank-bank sentral di dunia, termasuk BI, bisa melakukan intervensi untuk menahan kekuatan dolar?” kata Ferry.
Reshuffle 1 Oktober memang cukup besar. Pemerintah melantik 18 pejabat, termasuk Bahlil Lahadalia sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, Sugiono sebagai Menko PMK, Dudung Abdurachman sebagai Menko Polkam, Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri, M. Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian, serta sejumlah wakil menteri dan kepala lembaga.
Di sektor keamanan, Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kapolri menggantikan Listyo Sigit Prabowo. Listyo kemudian dipercaya menjadi Kepala Staf Kepresidenan.
Namun, apakah reshuffle tersebut akan memperbaiki sentimen pasar atau justru membutuhkan waktu untuk dinilai investor masih menjadi persoalan terbuka.
Pergerakan IHSG sendiri tidak hanya dipengaruhi komposisi kabinet. Faktor global, arus dana asing, nilai tukar rupiah, ekspektasi suku bunga, imbal hasil surat utang, serta kondisi ekonomi domestik turut menentukan arah pasar.
Dengan demikian, kritik Ferry mengenai reshuffle perlu dibaca sebagai pandangan seorang ekonom terhadap persepsi investor, sementara data perdagangan menunjukkan memang terdapat tekanan terhadap IHSG pada periode setelah pengumuman reshuffle.
Ferry Latuhihin sendiri dikenal sebagai ekonom senior dan pengamat pasar modal. Ia pernah menjadi Chief Economist Bank International Indonesia dan disebut pernah berkarier di Danareksa. Ia juga merupakan alumnus Erasmus University Rotterdam.





