MoneyTalk.id, Jakarta – Politik memang punya cara sendiri untuk menguji manusia. Ia tidak selalu menguji seseorang ketika berada di bawah. Justru sering kali ujian paling berat datang ketika seseorang tiba-tiba berada di atas. Ketika kritik berubah menjadi jabatan. Ketika mikrofon pengamat berubah menjadi meja pertimbangan. Ketika orang yang selama bertahun-tahun berdiri di luar pagar kekuasaan akhirnya dipersilakan masuk melalui pintu yang dahulu sering ia soroti.
Rocky Gerung kini berada di titik itu. Pelantikannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres membuat perjalanan politik-intelektualnya memasuki babak baru. Selama bertahun-tahun publik mengenalnya sebagai salah satu suara yang keras mengkritik pemerintah, mempertanyakan kebijakan, membongkar kontradiksi kekuasaan, dan sesekali membuat telinga penguasa terasa panas.
Tetapi sekarang kursinya berubah. Dulu ia duduk sebagai pengamat. Kini ia duduk sebagai bagian dari lembaga penasihat presiden. Dulu ia berbicara dari luar. Kini ia berbicara dari dalam.
Dan perubahan posisi itu tentu membawa konsekuensi: publik berhak menguji apakah suara kritisnya ikut berubah bersama kursinya.
Inilah bagian yang menarik dari politik. Kekuasaan tidak selalu datang dengan wajah garang. Kadang ia datang dengan kursi yang empuk, ruangan berpendingin udara, undangan rapat, akses kepada pengambil keputusan, dan sebuah jabatan yang terdengar terhormat. Tidak ada borgol. Tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman. Hanya sebuah tawaran yang membuat seseorang berpindah posisi: dari penonton menjadi bagian dari permainan.
Di titik inilah konsistensi diuji. Bukan ketika seseorang bebas mencaci kekuasaan dari luar, tetapi ketika ia sudah berada di dalam ruangan kekuasaan.
Bukan ketika kritik tidak mempunyai konsekuensi, tetapi ketika kritik dapat memengaruhi hubungan dengan mereka yang sedang memegang kendali.
Dan Rocky tentu memahami persoalan itu. Ia terlalu lama berbicara mengenai kekuasaan untuk tidak mengetahui bahwa kekuasaan memiliki daya tarik yang tidak selalu terlihat dari luar.
Karena itu, publik tidak perlu tergesa-gesa menuduh Rocky berubah. Tetapi publik juga tidak perlu memberikan cek kosong kepada seorang tokoh hanya karena dahulu ia terkenal kritis.
Sebab manusia bukan patung. Manusia bisa berubah karena pengalaman, kepentingan, posisi, lingkungan, bahkan karena cara baru melihat persoalan setelah berada di dalam sistem.
Yang penting bukan siapa Rocky kemarin. Yang penting adalah bagaimana Rocky bertindak setelah hari ini.
Persoalan itu menjadi semakin menarik ketika namanya kembali dikaitkan dengan perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Pernyataan yang beredar, “Anda gak pilih MBG sekarang, 15 tahun mendatang anak Anda stunting,” segera menjadi bahan perbincangan. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi persoalan stunting sama sekali tidak sederhana.
Stunting tidak lahir hanya karena ada atau tidak ada satu program pemerintah. Ia merupakan persoalan gizi kronis yang berhubungan dengan banyak faktor: kondisi ibu selama kehamilan, asupan gizi anak, penyakit infeksi, pola asuh, sanitasi, air bersih, pelayanan kesehatan, ketahanan pangan, dan kondisi sosial ekonomi.
Maka menjadikan tidak memilih atau tidak mendukung MBG sebagai penyebab pasti anak mengalami stunting 15 tahun kemudian adalah penyederhanaan hubungan sebab-akibat yang terlalu jauh.
Program gizi tentu penting. MBG tentu dapat menjadi instrumen kebijakan. Tetapi kebijakan publik tidak boleh berubah menjadi mantra: dukung programnya atau masa depan anakmu akan menjadi korban.
Justru karena menyangkut anak-anak, MBG harus dibicarakan dengan kepala dingin.
Berapa besar anggarannya?
Siapa yang mengawasi?
Bagaimana kualitas makanannya?
Bagaimana distribusinya?
Bagaimana memastikan makanan sampai kepada sasaran?
Bagaimana mencegah pemborosan dan kebocoran?
Bagaimana mengukur dampaknya?
Dan yang paling penting: apakah uang negara yang begitu besar benar-benar menghasilkan perbaikan status gizi yang dapat dibuktikan?
Pertanyaan seperti itu bukan bentuk kebencian terhadap MBG. Itu justru bentuk tanggung jawab publik.
Program pemerintah yang menggunakan uang rakyat tidak boleh kebal terhadap kritik hanya karena membawa label “untuk anak-anak”.
Justru semakin mulia tujuan sebuah program, semakin ketat pula pengawasannya.
Sebab sejarah pemerintahan terlalu sering memperlihatkan satu ironi: program yang namanya paling indah tidak selalu menghasilkan pelaksanaan yang paling indah.
Di sinilah Rocky dahulu berdiri. Ia mengkritik desain kebijakan, mempertanyakan anggaran, mengingatkan kemungkinan persoalan tata kelola, dan mendorong evaluasi. Suara semacam itu penting dalam demokrasi.
Tetapi kini ada persoalan baru. Ketika sang pengkritik sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan, apakah ia masih akan mempertanyakan hal yang sama?
Inilah ujian sebenarnya. Sebab mengkritik pemerintah dari luar memang memiliki kebebasan. Tetapi mengkritik pemerintah dari dalam membutuhkan keberanian yang berbeda.
Ada perbedaan besar antara berkata, “Kebijakan ini keliru,” ketika kita tidak memiliki jabatan, dengan berkata, “Kebijakan ini perlu dikoreksi,” ketika kita sudah duduk sebagai bagian dari sistem.
Yang pertama bisa menghasilkan tepuk tangan. Yang kedua bisa menghasilkan ketegangan. Dan justru di situlah karakter diuji.
Jangan sampai kritik hanya menjadi kendaraan menuju pintu kekuasaan. Jangan sampai suara yang dahulu keras ternyata hanya keras karena belum mendapatkan kursi.
Kalau demikian, masalahnya bukan lagi soal benar atau salahnya sebuah kritik. Masalahnya adalah harga sebuah prinsip.
Tetapi kita juga tidak boleh terjebak dalam sinisme murahan. Masuknya Rocky ke Wantimpres tidak otomatis membuktikan bahwa ia telah menjual prinsip. Bisa saja justru sebaliknya. Bisa saja ia ingin menguji apakah gagasan-gagasan yang selama ini disampaikan dari luar dapat dibawa masuk ke ruang pengambilan keputusan.
Kalau memang demikian, biarkan ia membuktikannya. Jangan meminta publik percaya. Berikan publik alasan untuk percaya. Caranya sederhana: tunjukkan melalui tindakan.
Jika menemukan kebijakan yang keliru, katakan keliru. Jika menemukan program yang perlu diperbaiki, katakan perlu diperbaiki.Jika menemukan persoalan anggaran, pertanyakan.Jika menemukan kebijakan yang bermanfaat, katakan bermanfaat.
Kritik tidak harus selalu berlawanan dengan pemerintah. Tetapi kritik harus tetap berjarak dari kepentingan kekuasaan. Sebab penasihat yang hanya mengatakan “iya” bukan penasihat. Ia hanya menjadi pengeras suara.
Dan sebuah kekuasaan yang dikelilingi terlalu banyak pengeras suara akan kehilangan sesuatu yang sangat penting: cermin.
Barangkali inilah tantangan terbesar Rocky di Wantimpres. Apakah ia akan menjadi cermin bagi kekuasaan atau sekadar menjadi bagian dari dekorasi kekuasaan?
Pertanyaan ini bukan penghukuman. Ini justru pertanyaan demokratis. Sebab publik berhak berharap bahwa seseorang yang selama ini begitu rajin mengajarkan daya kritis kepada masyarakat tidak kehilangan daya kritis ketika berhadapan dengan kursi kekuasaan.
Kita terlalu sering melihat manusia berubah setelah mendapatkan jabatan. Ketika belum memiliki posisi, bicara soal rakyat begitu lantang. Ketika sudah memiliki posisi, bahasa mulai berubah. Dahulu mengatakan transparansi.
Setelah masuk sistem, mulai mengatakan “ini urusan internal”. Dahulu meminta pemerintah terbuka. Setelah menjadi bagian dari pemerintah, mulai berbicara tentang “konteks”.
Dahulu menuntut kritik. Setelah berada di dalam, mulai alergi terhadap kritik. Bukan berarti Rocky akan melakukan itu.
Belum ada alasan untuk menyimpulkan demikian. Tetapi justru karena belum ada jawabannya, publik harus mengawasi. Tidak perlu mengkultuskan. Tidak perlu pula membenci.
Karena mengkultuskan tokoh sama berbahayanya dengan membenci tokoh secara membabi buta. Keduanya sama-sama membuat akal sehat kehilangan pekerjaan.
Aristoteles sering dikaitkan dengan gagasan bahwa kebenaran harus ditempatkan di atas loyalitas kepada seorang sahabat. Pesannya sederhana: jangan mencintai tokoh sampai-sampai kita kehilangan kemampuan untuk mengatakan bahwa tokoh itu salah.
Itulah yang seharusnya berlaku terhadap Rocky Gerung. Jika ia benar, dukung argumentasinya. Jika ia keliru, kritik argumentasinya. Jika ia konsisten, apresiasi konsistensinya.
Jika suatu hari ia berubah, nilai perubahan itu berdasarkan fakta, bukan berdasarkan fanatisme.
Sebab seorang tokoh publik bukan nabi yang seluruh ucapannya harus dipercaya.
Ia manusia. Dan manusia selalu memiliki kemungkinan untuk benar sekaligus salah. Begitu pula dengan kekuasaan. Jangan percaya pemerintah hanya karena ia pemerintah.
Jangan menolak pemerintah hanya karena ia pemerintah. Ukur kebijakan berdasarkan data, dampak, transparansi, dan manfaatnya bagi masyarakat.
MBG harus diuji dengan ukuran itu. Rocky juga harus diuji dengan ukuran itu. Pemerintah harus diuji dengan ukuran itu.
Dan masyarakat pun harus menguji dirinya sendiri dengan ukuran yang sama.
Sebab masalah terbesar dalam politik bukan hanya ketika penguasa menyalahgunakan kekuasaan. Masalah juga muncul ketika masyarakat terlalu cepat menyerahkan akal sehatnya kepada tokoh yang mereka kagumi.
Hari ini seorang tokoh bisa menjadi simbol perlawanan. Besok ia bisa menjadi bagian dari sistem. Hari ini ia bisa berdiri di depan Istana sambil mengkritik. Besok ia bisa duduk di dalam Istana sambil memberi nasihat. Itu bukan dosa.
Yang menjadi persoalan adalah apakah ia masih membawa keberanian yang sama ketika kursinya sudah berubah.
Karena kritik yang paling berharga bukan kritik yang menghasilkan tepuk tangan.
Kritik yang paling berharga adalah kritik yang tetap disampaikan ketika tidak ada tepuk tangan.
Dan seorang penasihat presiden yang paling berguna bukanlah orang yang selalu mengatakan pemerintah benar.
Justru ia adalah orang yang berani mengatakan kepada kekuasaan: “Di sini Anda keliru. Di sini kebijakan ini harus diperbaiki. Dan di sini kepentingan rakyat tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan.”
Maka biarlah Rocky Gerung menjalankan peran barunya. Tidak perlu buru-buru menghakimi. Tetapi jangan pula berhenti mengawasi.
Sebab sejak seseorang masuk ke dalam kekuasaan, kata-kata masa lalunya berubah menjadi utang moral yang harus dibayar dengan tindakan.
Dulu Rocky mengkritik Istana dari luar. Sekarang ia duduk di dalamnya. Dulu ia mempertanyakan mereka yang berkuasa.
Sekarang ia menjadi bagian dari lingkungan yang harus mempertimbangkan keputusan penguasa. Maka pertanyaan publik sebenarnya tidak rumit.
Apakah Rocky akan menjadi suara kritis di dalam kekuasaan, atau kekuasaan perlahan akan menjadikan suara kritisnya kehilangan taring?
Kita tidak perlu menjawabnya sekarang. Biarkan waktu bekerja. Biarkan kebijakan berbicara. Biarkan tindakannya menjadi bukti. Sebab pada akhirnya, kursi bisa diberikan oleh kekuasaan.
Tetapi kredibilitas hanya bisa dipertahankan oleh keberanian untuk tetap mengatakan yang benar ketika kebenaran itu tidak lagi menguntungkan.
Penulis : Rokhmat Widodo, pengamat politik





