GSBK: Tiga Gubernur Berganti, Arief Nasrudin Buktikan Kepemimpinan PAM JAYA Tetap Mengalir

  • Bagikan
Arief Nasrudin
Arief Nasrudin

MoneyTalk.id,Jakarta – Pergantian kepemimpinan di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak selalu berarti perubahan arah bagi setiap perusahaan daerah. Di tengah dinamika politik dan pergantian gubernur, Arief Nasrudin justru menunjukkan bahwa profesionalisme, konsistensi, dan kemampuan menjaga kepercayaan merupakan fondasi penting dalam memimpin badan usaha milik daerah.

Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, menilai Arief Nasrudin sebagai sosok yang mampu membuktikan kualitas kepemimpinannya meskipun telah melewati tiga era gubernur DKI Jakarta.

Menurut Febri, perjalanan karier Arief di lingkungan BUMD DKI Jakarta juga tidak bisa dilepaskan dari peran Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Ia menyebut Ahok sebagai sosok yang pertama kali menemukan potensi Arief Nasrudin dan membawanya masuk ke lingkungan BUMD DKI Jakarta.

“Orang sering mengingat bahwa Arief Nasrudin dipindahkan dari Perumda Pasar Jaya menjadi Direktur Utama PAM JAYA pada zaman Gubernur Anies Baswedan. Namun, jangan lupa, menurut saya, Ahok adalah sosok yang pertama kali melihat potensi Arief dan membawanya masuk ke lingkungan BUMD DKI Jakarta,” ujar Febri, Senin (4/10/2026).

Ia menegaskan, perjalanan Arief hingga dipercaya memimpin PAM JAYA menjadi bukti bahwa kualitas seorang pemimpin tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memberikan jabatan, melainkan bagaimana ia menjalankan amanah tersebut.

“Arief Nasrudin sudah melewati tiga gubernur. Namun, ia selalu membuktikan bahwa kepemimpinan sejati bukan soal siapa yang menempatkan, melainkan bagaimana seseorang menjaga kepercayaan itu tetap mengalir, tenang, dan tak pernah kering,” katanya.

Febri menilai, salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat kinerja Arief Nasrudin adalah perkembangan Pertumbuhan pendapatan PAM JAYA sepanjang 2021 hingga 2025.

Menurutnya, grafik pendapatan perusahaan memang memperlihatkan dinamika. Garis pertumbuhan tidak selalu bergerak lurus ke atas, melainkan mengalami kenaikan dan penurunan sebagaimana ombak di lautan.

Namun, fluktuasi tersebut tidak serta-merta mencerminkan lemahnya kepemimpinan. Sebaliknya, kemampuan menjaga keberlangsungan perusahaan di tengah berbagai tantangan menjadi salah satu ukuran penting dalam menilai kinerja seorang direktur utama.

“Pertumbuhan pendapatan PAM JAYA dari 2021 hingga 2025 memperlihatkan bahwa garis kurva memang naik turun seperti ombak lautan. Kadang tinggi, kadang surut, kadang beriak menahan angin. Tetapi, perusahaan tetap mampu berlayar,” ungkap Febri.

Ia juga menyoroti rata rata capaian peetumbuhan pendapatan PAM JAYA yang pada periode 2021 hingga 2022 berada di kisaran Rp1,5 triliun. Menurutnya, angka tersebut menjadi salah satu gambaran kapasitas perusahaan dalam menjaga kinerja operasionalnya.

“Meski ombak datang dan pergi, kapal tetap berlayar. Itulah yang saya lihat dari kepemimpinan Arief Nasrudin di PAM JAYA,” tegasnya.

Febri berpandangan, memimpin perusahaan penyedia layanan air bersih di Jakarta bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain dituntut menjaga kesehatan keuangan perusahaan, direksi juga harus memastikan pelayanan publik berjalan secara berkelanjutan.

Tantangan tersebut semakin besar karena PAM JAYA mengemban tanggung jawab strategis dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Ibu Kota.

Lebih jauh, Febri mengingatkan bahwa mengelola PAM JAYA tidak bisa hanya diukur melalui laporan laba-rugi, pertumbuhan pendapatan, maupun capaian finansial lainnya.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat kebutuhan dasar jutaan warga Jakarta yang harus dipenuhi setiap hari.

Air yang mengalir dari keran rumah tangga, digunakan untuk memasak di dapur, menunjang kegiatan belajar di sekolah, hingga memenuhi kebutuhan rumah sakit merupakan bagian dari pelayanan publik yang tidak boleh terhenti.

“Mengelola PAM JAYA bukan sekadar mengurus untung-rugi di atas kertas. Ini mengelola kebutuhan dasar jutaan jiwa di Ibu Kota. Air yang keluar dari keran setiap pagi, yang mengalir ke dapur, ke sekolah, ke rumah sakit, itu amanah yang tidak boleh putus,” ujar Febri.

Karena itu, ia menilai kepemimpinan Arief Nasrudin harus dilihat secara lebih menyeluruh, yakni melalui kemampuannya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis perusahaan dan tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.

Bagi Febri, keberhasilan seorang pemimpin BUMD bukan hanya tentang seberapa besar pendapatan yang berhasil dibukukan, tetapi juga seberapa jauh perusahaan mampu memberikan manfaat nyata bagi warga yang dilayaninya.

Kepemimpinan yang Membumi

Febri menambahkan, perjalanan Arief Nasrudin menjadi pelajaran bahwa profesionalisme dalam mengelola perusahaan daerah harus mampu melampaui sekat-sekat politik dan pergantian kekuasaan.

Kepercayaan yang diberikan oleh seorang gubernur semestinya dijawab dengan kinerja, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat, bukan dengan loyalitas personal kepada pihak yang mengangkatnya.

Dalam pandangannya, Arief telah memperlihatkan bahwa menjaga kesinambungan kepemimpinan di tengah perubahan politik merupakan bagian penting dari tata kelola perusahaan daerah.

“Arief Nasrudin selalu membuktikan bahwa kepemimpinan sejati bukan soal siapa yang menempatkan, melainkan bagaimana seseorang menjaga kepercayaan itu tetap mengalir, tenang, dan tak pernah kering,” katanya.

Ia pun menggambarkan Arief sebagai sosok yang memiliki kesamaan dengan air, yakni terus memberikan kehidupan dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Air tidak selalu bergemuruh untuk menunjukkan kekuatannya. Terkadang, ia mengalir tenang, tetapi kehadirannya menentukan keberlangsungan kehidupan.

“Arief Nasrudin itu seperti air yang menjadi fokus pengabdian profesionalnya saat ini. Ia memilih untuk terus memberikan kehidupan dan kemanfaatan bagi masyarakat DKI Jakarta, dengan tetap tenang dan membumi,” pungkas Febri Yohansyah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *