CBA Bongkar Perubahan Pemegang Saham Amar Bank: Investree Tersingkir, Tolaram Makin Berkuasa!

  • Bagikan
CBA Bongkar Perubahan Pemegang Saham Amar Bank: Investree Tersingkir, Tolaram Makin Berkuasa!
CBA Bongkar Perubahan Pemegang Saham Amar Bank: Investree Tersingkir, Tolaram Makin Berkuasa!

MoneyTalk.id,Jakarta – Perubahan komposisi pemegang saham PT Bank Amar Indonesia Tbk atau Amar Bank sepanjang 2025 menjadi sorotan Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi. Di tengah peningkatan pendapatan dan laba perusahaan, terjadi perubahan signifikan dalam kepemilikan saham, termasuk hilangnya kepemilikan Investree Singapore Pte Ltd dan bertambahnya porsi saham Tolaram Pte Ltd.

Menurut Uchok Sky Khadafi, kinerja keuangan Amar Bank pada 2024 hingga 2025 menunjukkan perkembangan positif. Pendapatan perusahaan meningkat dari sekitar Rp1,2 triliun pada 2024 menjadi Rp1,4 triliun pada 2025.

Kenaikan pendapatan tersebut juga diikuti pertumbuhan laba bersih. Pada 2024, laba bersih periode berjalan Amar Bank tercatat sekitar Rp214,9 miliar. Angka itu meningkat menjadi Rp249,6 miliar pada 2025.

“Laba Amar Bank mengalami peningkatan dari tahun 2024 ke 2025 sekitar Rp34,7 miliar,” jelas Uchok Sky Khadafi kepada wartawan, Senin (12/10/2026).

Berdasarkan angka tersebut, laba bersih Amar Bank meningkat sekitar 16,1 persen. Sementara itu, pendapatan perusahaan bertambah sekitar Rp200 miliar atau sekitar 16,7 persen.

Namun, menurut CBA, perkembangan yang menarik bukan hanya soal pertumbuhan pendapatan dan laba. Perubahan komposisi pemegang saham Amar Bank sepanjang 2025 juga patut dicermati.

Uchok menyoroti perubahan kepemilikan saham Investree Singapore Pte Ltd. Berdasarkan data kepemilikan saham yang disampaikan, pada awal 2025 perusahaan tersebut memiliki 2.246.477.307 lembar saham atau sekitar 12,22 persen dari total saham Amar Bank.

Namun, pada akhir 2025, kepemilikan Investree Singapore Pte Ltd tercatat menjadi nol.

Perubahan ini menunjukkan bahwa Investree Singapore Pte Ltd tidak lagi memiliki saham Amar Bank berdasarkan data yang menjadi bahan analisis CBA tersebut.

“Selain ada peningkatan laba, yang lebih menarik lagi adalah pemegang saham Investree Singapore Pte Ltd pada akhir tahun 2025 nol di Amar Bank. Padahal, pada awal tahun 2025 masih memiliki sebanyak 2.246.477.307 lembar atau 12,22 persen,” tutur Uchok.

Hilangnya kepemilikan Investree tersebut menjadi salah satu perubahan paling mencolok dalam struktur pemegang saham Amar Bank selama periode tersebut.

Meski demikian, angka kepemilikan saham pada awal dan akhir tahun saja belum cukup untuk memastikan bagaimana proses pengalihan saham berlangsung, siapa pihak yang membeli seluruh saham tersebut, serta apakah transaksi dilakukan sekaligus atau melalui beberapa tahapan.

Perubahan berikutnya menyangkut Tolaram Pte Ltd. Perusahaan ini sejak awal 2025 telah menjadi pemegang saham utama Amar Bank.

Pada awal 2025, Tolaram Pte Ltd tercatat memiliki 13.041.821.668 lembar saham atau sekitar 70,95 persen.

Pada akhir 2025, kepemilikannya meningkat menjadi 13.832.054.873 lembar saham atau sekitar 75,25 persen.

Dengan demikian, berdasarkan data tersebut, Tolaram menambah kepemilikan sebanyak 790.233.205 lembar saham. Porsi kepemilikannya meningkat sekitar 4,30 poin persentase.

Kenaikan itu semakin memperkuat posisi Tolaram sebagai pemegang saham pengendali Amar Bank.

Menurut Uchok, perubahan kepemilikan Investree Singapore Pte Ltd berjalan beriringan dengan meningkatnya porsi saham Tolaram. Kondisi tersebut menjadi perhatian CBA karena memperlihatkan perubahan besar dalam komposisi kepemilikan perusahaan perbankan tersebut.

Namun, untuk memastikan hubungan langsung antara keluarnya Investree dan bertambahnya saham Tolaram, diperlukan informasi lebih terperinci mengenai transaksi saham selama 2025.

Selain Tolaram, data yang disampaikan CBA juga mencatat kepemilikan saham PT Jagat Raya Imajinasi dan SBI Holdings, Inc.

PT Jagat Raya Imajinasi tercatat memiliki 1.210.726.588 lembar saham atau sekitar 6,59 persen. Sementara itu, SBI Holdings, Inc tercatat memiliki 1.035.714.286 lembar saham atau sekitar 5,63 persen.

Kehadiran kedua pemegang saham tersebut menambah dinamika komposisi kepemilikan Amar Bank.

Di sisi lain, porsi saham publik juga mengalami penurunan. Pada awal 2025, kepemilikan publik tercatat sebanyak 2.725.374.330 lembar saham atau sekitar 14,82 persen. Pada akhir tahun, jumlahnya turun menjadi 1.935.177.558 lembar saham atau sekitar 10,53 persen.

Artinya, berdasarkan angka tersebut, kepemilikan publik berkurang sebanyak 790.196.772 lembar saham atau sekitar 4,29 poin persentase.

Perubahan itu memperlihatkan bahwa struktur kepemilikan Amar Bank pada akhir 2025 berbeda cukup signifikan dibandingkan awal tahun.

Meski demikian, perubahan porsi saham publik tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran atau praktik yang merugikan investor. Untuk menilai persoalan tersebut, diperlukan pemeriksaan terhadap keterbukaan informasi, riwayat transaksi, serta dokumen resmi perusahaan.

Uchok Sky Khadafi menilai perubahan komposisi pemegang saham Amar Bank merupakan perkembangan yang menarik untuk dicermati, terutama karena berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.

“Ini betul-betul perubahan kepemilikan saham yang menarik. Yang satu berhasil memperbesar penguasaan saham, sementara pemegang saham lainnya tidak lagi tercatat memiliki saham di perusahaan,” ujar Uchok, merujuk pada perubahan kepemilikan yang dipaparkannya.

Bagi CBA, perkembangan tersebut perlu dibaca bukan hanya dari sisi pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari aspek transparansi dan keterbukaan informasi kepada pemegang saham serta publik.

Pertanyaan yang patut dijawab melalui dokumen resmi adalah bagaimana proses perubahan kepemilikan saham itu berlangsung, siapa saja pihak yang terlibat dalam transaksi, dan bagaimana mekanisme pengalihan saham tersebut dilakukan.

Informasi itu penting agar publik dapat memahami perubahan struktur kepemilikan Amar Bank secara utuh, tanpa menarik kesimpulan yang belum didukung bukti.

Pada akhirnya, kenaikan pendapatan dan laba merupakan indikator perkembangan usaha. Sementara itu, perubahan komposisi pemegang saham merupakan persoalan berbeda yang membutuhkan penelusuran tersendiri.

Karena itu, dinamika kepemilikan Amar Bank sepanjang 2025 layak mendapat perhatian, terutama untuk memastikan bahwa informasi mengenai transaksi saham disampaikan secara transparan dan sesuai ketentuan pasar modal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *