MoneyTalk.id,Jakarta – Tren perkembangan industri hiburan dan media digital di tanah air tidak lagi sekadar menghadirkan konten viral, melainkan telah menjadi hub perputaran modal raksasa. Hal tersebut mengemuka dalam sebuah unggahan opini yang dipublikasikan oleh akun Facebook Balqis Humaira pada Jumat (16/10/2026), yang menyoroti secara tajam dinamika ekspansi PT RANS Entertainment Indonesia Tbk serta teka-teki aliran investasi dari sektor industri ekstraktif Kalimantan.
Langkah RANS Entertainment yang melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli 2026 menempatkan Raffi Ahmad sebagai pemegang 62,93 persen saham pengendali atas bisnis bernilai triliunan rupiah. Dalam kurun waktu 2020 hingga 2024 saja, data Administrasi Hukum Umum (AHU) Kemenkumham mencatat Raffi Ahmad dan Nagita Slavina telah menancapkan bendera di sedikitnya 35 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor.
Namun, anomali menarik muncul saat momentum IPO RANS tersebut. Raffi Ahmad secara terbuka melontarkan pengakuan di hadapan media bahwa pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, merupakan sosok “mentor” bisnisnya dan mengeklaim bahwa sang pengusaha mengantongi porsi kepemilikan saham di atas 1 persen di RANS Entertainment. Pengakuan ini melengkapi pameran kolaborasi proyek ketahanan pangan berskala nasional yang diumumkan keduanya pada Juli 2025.
Meski demikian, sebagaimana diulas dalam postingan Balqis Humaira, fakta mengejutkan terungkap ketika dokumen resmi prospektus RANS Entertainment pasca-IPO dan daftar pemegang saham resmi di atas 1 persen yang dipublikasikan ke OJK dan BEI dibuka. Nama Andi Syamsuddin Arsyad maupun entitas bisnisnya, Jhonlin Group, sama sekali tidak muncul di atas kertas. Dokumen bursa hanya mencatat nama Raffi Farid Ahmad (62,93%), PT Indonesia Entertainment Grup milik Emtek (7,23%), Dony Oskaria (2,74%), Soultan Ariq Rachman (2,74%), Sutanto Hartono (1,14%), dan Kaesang Pangarep (0,91%).
Adanya jurang pemisah yang tajam antara pernyataan lisan di panggung media dengan dokumen legal bursa ini memicu pertanyaan mengenai kemungkinan skema kepemilikan terselubung (nominee) atau penggunaan kendaraan investasi khusus (Special Purpose Vehicle). Hal ini menguat mengingat laju akuisisi RANS berlangsung sangat agresif, salah satunya melalui pencaplokan 61,85 persen saham PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) senilai nyaris Rp179 miliar pada pertengahan 2026 via PT Harmoni Semesta Investama.
Di saat yang sama, imperium bisnis Haji Isam terus mengepakkan sayap di sektor ekstraktif, termasuk aksi korporasi PT Jhonlin Baratama yang menggelontorkan dana fantastis Rp26,09 triliun untuk mencaplok 30,25 persen saham tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) pada Oktober 2026.
Sorotan analisis publik mengindikasikan bahwa alokasi modal dari bisnis komoditas sawit dan batu bara ke sektor media digital, hiburan, dan retail—seperti jaringan RANS Nusantara Hebat dan klub olahraga—merupakan bentuk strategi corporate sanitization. Strategi ini dipakai guna memoles citra modal ekstraktif yang kerap berhadapan dengan isu lingkungan dan konflik lahan, agar terlihat lebih ramah, modern, serta dekat dengan generasi muda.
Kendati pembuktian hubungan hukum secara fisik seperti dokumen kontrak kerja sama (MoU) atau daftar pemegang saham di bawah 1 persen di KSEI masih memerlukan keterbukaan informasi lebih lanjut, keterikatan narasi antara modal tambang Kalimantan dan hiburan perkotaan ini memberikan perspektif kritis bagi publik. Industri media hiburan tidak lagi bisa dipandang sebagai ruang hampa, melainkan bagian dari jaringan ekonomi-politik yang saling terhubung dari pedalaman Borneo hingga pusat Jakarta.





