Keracunan Massal MBG, Guntur Romli: Ini Kegagalan Sistemik
MoneyTalk.id, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah politikus PDI Perjuangan Guntur Romli menyoroti laporan kasus keracunan yang disebut menimpa lebih dari 500 anak dalam sepekan terakhir. Ia mempertanyakan keamanan pelaksanaan program tersebut setelah muncul laporan korban dari kalangan siswa hingga balita.
Guntur menyebut sejumlah daerah, mulai dari Bogor, Cirebon, Konawe Selatan hingga Pati, menjadi lokasi kejadian yang menimbulkan kekhawatiran. Anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga balita, disebut ikut terdampak.
“Ini bukan musibah. Ini kegagalan sistemik,” kata Guntur Romli dalam pernyataannya, Kamis (22/10/2026).
Menurut Guntur, rentetan laporan keracunan tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Ia menilai kejadian berulang harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap mekanisme pengadaan, pengolahan, distribusi, dan pengawasan makanan dalam program MBG.
Ia juga mempertanyakan berapa banyak anak lagi yang harus mengalami muntah-muntah dan mendapatkan perawatan medis sebelum pemerintah mengambil langkah evaluasi menyeluruh.
“Berapa ratus anak lagi harus muntah dan diinfus sebelum pemerintah mengakui MBG harus dihentikan dan dievaluasi total? Gizi anak bangsa tidak boleh dibayar dengan nyawa mereka,” ujarnya.
Pernyataan Guntur kembali memunculkan pertanyaan mendasar mengenai standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Program yang ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi anak tersebut membutuhkan pengawasan ketat agar makanan yang disajikan aman dikonsumsi.
Apabila laporan kejadian di sejumlah daerah tersebut terkonfirmasi berkaitan dengan makanan MBG, pemerintah perlu memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan sampel makanan, bahan baku, proses pengolahan, serta kondisi penyimpanan dan distribusi.
Penelusuran juga diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kesamaan penyedia makanan, pola pengolahan, atau kelemahan prosedur pengawasan di lokasi kejadian. Hasil pemeriksaan penting untuk menentukan langkah perbaikan yang tepat dan mencegah kasus serupa berulang.
Di sisi lain, angka lebih dari 500 anak yang disampaikan Guntur perlu dicocokkan dengan data resmi pemerintah, termasuk jumlah korban terkonfirmasi, lokasi kejadian, waktu kejadian, serta hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.
Kejelasan data tersebut penting agar penanganan masalah tidak berhenti pada perdebatan politik, tetapi berujung pada pertanggungjawaban dan perbaikan nyata.
Desakan evaluasi total yang disampaikan Guntur menempatkan pemerintah pada tuntutan untuk menjelaskan langkah pengawasan dan penanganan insiden yang dilaporkan. Keselamatan anak harus menjadi prioritas dalam setiap tahap pelaksanaan program.
Evaluasi dapat mencakup audit terhadap dapur penyedia, standar kebersihan, kualitas bahan pangan, kecukupan waktu distribusi, hingga mekanisme pelaporan ketika ditemukan dugaan keracunan. Dapur atau penyedia yang diduga berkaitan dengan kejadian juga perlu ditangani sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.
Jika ditemukan pelanggaran standar keamanan pangan, pemerintah perlu menjatuhkan sanksi sesuai tingkat pelanggaran dan memastikan langkah korektif dilakukan sebelum layanan kembali berjalan. Penghentian sementara pada lokasi yang berisiko juga dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Program pemenuhan gizi bagi anak memiliki tujuan penting. Namun, pelaksanaannya harus disertai jaminan keamanan makanan, keterbukaan data, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
Pernyataan Guntur Romli menjadi pengingat bahwa keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan atau luasnya jangkauan program. Keamanan pangan, kondisi kesehatan penerima manfaat, dan kemampuan pemerintah mencegah kejadian berulang juga harus menjadi ukuran utama.
