6 November 2026

Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

MoneyTalk.id, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah politikus PDI Perjuangan Guntur Romli menyoroti laporan kasus keracunan yang disebut menimpa lebih dari 500 anak dalam sepekan terakhir. Ia mempertanyakan keamanan pelaksanaan program tersebut setelah muncul laporan korban dari kalangan siswa hingga balita.

Guntur menyebut sejumlah daerah, mulai dari Bogor, Cirebon, Konawe Selatan hingga Pati, menjadi lokasi kejadian yang menimbulkan kekhawatiran. Anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga balita, disebut ikut terdampak.

“Ini bukan musibah. Ini kegagalan sistemik,” kata Guntur Romli dalam pernyataannya, Kamis (22/10/2026).

Menurut Guntur, rentetan laporan keracunan tersebut tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa. Ia menilai kejadian berulang harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap mekanisme pengadaan, pengolahan, distribusi, dan pengawasan makanan dalam program MBG.

Ia juga mempertanyakan berapa banyak anak lagi yang harus mengalami muntah-muntah dan mendapatkan perawatan medis sebelum pemerintah mengambil langkah evaluasi menyeluruh.

“Berapa ratus anak lagi harus muntah dan diinfus sebelum pemerintah mengakui MBG harus dihentikan dan dievaluasi total? Gizi anak bangsa tidak boleh dibayar dengan nyawa mereka,” ujarnya.

Pernyataan Guntur kembali memunculkan pertanyaan mendasar mengenai standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Program yang ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi anak tersebut membutuhkan pengawasan ketat agar makanan yang disajikan aman dikonsumsi.

Apabila laporan kejadian di sejumlah daerah tersebut terkonfirmasi berkaitan dengan makanan MBG, pemerintah perlu memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan sampel makanan, bahan baku, proses pengolahan, serta kondisi penyimpanan dan distribusi.

Penelusuran juga diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kesamaan penyedia makanan, pola pengolahan, atau kelemahan prosedur pengawasan di lokasi kejadian. Hasil pemeriksaan penting untuk menentukan langkah perbaikan yang tepat dan mencegah kasus serupa berulang.

Di sisi lain, angka lebih dari 500 anak yang disampaikan Guntur perlu dicocokkan dengan data resmi pemerintah, termasuk jumlah korban terkonfirmasi, lokasi kejadian, waktu kejadian, serta hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.

Kejelasan data tersebut penting agar penanganan masalah tidak berhenti pada perdebatan politik, tetapi berujung pada pertanggungjawaban dan perbaikan nyata.

Desakan evaluasi total yang disampaikan Guntur menempatkan pemerintah pada tuntutan untuk menjelaskan langkah pengawasan dan penanganan insiden yang dilaporkan. Keselamatan anak harus menjadi prioritas dalam setiap tahap pelaksanaan program.

Evaluasi dapat mencakup audit terhadap dapur penyedia, standar kebersihan, kualitas bahan pangan, kecukupan waktu distribusi, hingga mekanisme pelaporan ketika ditemukan dugaan keracunan. Dapur atau penyedia yang diduga berkaitan dengan kejadian juga perlu ditangani sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.

Jika ditemukan pelanggaran standar keamanan pangan, pemerintah perlu menjatuhkan sanksi sesuai tingkat pelanggaran dan memastikan langkah korektif dilakukan sebelum layanan kembali berjalan. Penghentian sementara pada lokasi yang berisiko juga dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan.

Program pemenuhan gizi bagi anak memiliki tujuan penting. Namun, pelaksanaannya harus disertai jaminan keamanan makanan, keterbukaan data, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

Pernyataan Guntur Romli menjadi pengingat bahwa keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan atau luasnya jangkauan program. Keamanan pangan, kondisi kesehatan penerima manfaat, dan kemampuan pemerintah mencegah kejadian berulang juga harus menjadi ukuran utama.

MoneyTalk.id,Jakarta – Aktivis 98 Jayadi Santoso mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap persoalan antrean bahan bakar minyak (BBM) di Bali sebagai masalah lokal semata. Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi meluas ke daerah lain apabila pasokan BBM tidak segera dibenahi dan kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi dengan baik.

Jayadi menilai, kelangkaan atau sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi dapat memicu keresahan masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin berat. Ia mengungkapkan, di sejumlah daerah Pertalite disebut semakin sulit ditemukan, sementara BBM nonsubsidi masih tersedia di beberapa tempat.

“Antrean BBM di Bali jangan dianggap persoalan yang hanya terjadi di satu daerah. Kalau masalah pasokan tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin persoalan serupa terjadi di daerah lain,” ujar Jayadi Santoso kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).

Menurut dia, ketersediaan BBM dengan harga terjangkau sangat penting bagi masyarakat kecil. Pertalite menjadi salah satu kebutuhan bagi pengendara sepeda motor, pekerja harian, pedagang kecil, pengemudi transportasi, dan berbagai kelompok masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas sehari-hari.

Ketika BBM bersubsidi sulit diperoleh, masyarakat yang tidak mampu beralih ke BBM nonsubsidi akan menghadapi pilihan yang semakin terbatas. Mereka harus mengantre lebih lama, mencari SPBU lain, atau mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan bahan bakar.

Jayadi mengingatkan, tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat memperbesar kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah. Apalagi, ketika daya beli melemah, harga kebutuhan hidup terasa mahal, dan pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding.

“Kalau rakyat sudah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kemudian BBM yang dibutuhkan untuk bekerja juga sulit didapat, tentu keresahan bisa semakin besar. Pemerintah jangan sampai membiarkan persoalan ini menumpuk hingga memicu kemarahan masyarakat,” katanya.

Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan munculnya amuk massa apabila persoalan kebutuhan dasar tidak ditangani secara cepat, terbuka, dan adil. Karena itu, menurut Jayadi, pemerintah perlu mengantisipasi gejolak sejak dini, bukan baru bergerak setelah keresahan berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat.

Lebih jauh, Jayadi mempertanyakan arah kebijakan anggaran pemerintah, khususnya terkait prioritas belanja negara di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Ia menduga kebijakan subsidi BBM perlu diperiksa secara terbuka untuk memastikan anggaran yang diperuntukkan bagi masyarakat benar-benar digunakan sesuai tujuan.

Ia juga menyoroti besarnya perhatian pemerintah terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai program lainnya. Menurut Jayadi, pemerintah harus menjelaskan secara transparan sumber pendanaan setiap program agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.

“Jangan sampai rakyat menduga subsidi BBM dialihkan untuk membiayai MBG atau program lain yang tidak jelas manfaatnya bagi mereka. Pemerintah harus membuka data anggaran dan menjelaskan kepada publik bagaimana prioritas belanja negara ditetapkan,” ujarnya.

Jayadi menilai, persoalan BBM tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi masyarakat. Ketika daya beli melemah, kebutuhan pokok terasa semakin membebani, dan biaya transportasi meningkat, gangguan pasokan energi bisa menambah tekanan terhadap kehidupan sehari-hari.

Ia meminta pemerintah segera memastikan ketersediaan Pertalite di SPBU, memperbaiki distribusi, serta mengawasi penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran. Informasi mengenai stok dan jadwal pasokan juga perlu disampaikan secara terbuka supaya masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan.

“Pemerintah harus peka terhadap kondisi rakyat. Jangan menunggu sampai masyarakat marah dan turun ke jalan. Kebutuhan dasar seperti BBM harus dijamin ketersediaannya, terutama bagi masyarakat kecil,” kata Jayadi.

Menurut dia, antisipasi terhadap potensi gejolak sosial harus menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah. Penanganan yang lambat dan komunikasi publik yang tidak memadai, menurut pandangannya, dapat memperbesar ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengelolaan ekonomi nasional.

Sementara itu, pemerintah menyatakan antrean BBM di Bali dipicu kendala distribusi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman pada 14 Oktober 2026 menyebut stok BBM nasional berada pada kisaran 18–20 hari dan distribusi dipercepat setelah kapal pengangkut tiba.

Keterangan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dilaporkan di Bali berkaitan dengan distribusi pasokan, bukan bukti bahwa stok nasional telah habis. Meski demikian, Jayadi mengingatkan bahwa pemerintah perlu memastikan perbaikan distribusi benar-benar dirasakan masyarakat dan mencegah gangguan serupa meluas ke wilayah lain.

Bagi Jayadi, ukuran keberhasilan kebijakan bukan hanya angka persediaan nasional, melainkan juga kemudahan masyarakat mendapatkan BBM dengan harga yang terjangkau. Ia meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret sebelum persoalan distribusi berkembang menjadi keresahan sosial yang lebih luas.

MoneyTalk.id,Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, aktivis media sosial Ferry Koto mengkritik keras desain tata kelola program tersebut, terutama terkait posisi Badan Gizi Nasional (BGN), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan yayasan atau mitra pelaksana.

Ferry menilai struktur pengelolaan MBG yang diterapkan pemerintah menimbulkan persoalan mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab apabila terjadi pelanggaran dalam pelaksanaan program tersebut.

Menurut Ferry, apabila mengacu pada sistem yang dirancang pada masa Kepala BGN sebelumnya dan kemudian dilanjutkan oleh pimpinan berikutnya, BGN merupakan pihak yang memiliki posisi sebagai pengelola utama program MBG.

“Kalau di sistem yang dirancang Dadan yang dilanjutkan Sudar, pengelola MBG adalah BGN sendiri, yang mengoperasikan dapur adalah BGN sendiri lewat kepanjangan tangan Kepala SPPG,” kata Ferry Koto di akun X (Twitter), Sabtu (12/9/2026).

Dari konstruksi tersebut, Ferry mempertanyakan pembebanan tanggung jawab apabila terjadi persoalan di lapangan, termasuk apabila terdapat sanksi administratif maupun pidana.

“Jadi kalau didenda atau bahkan dipidana ya BGN mestinya yang didenda atau dipidana, karena mereka pengelolanya,” ujarnya.

Ferry juga menyoroti keberadaan yayasan atau mitra dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai pemerintah telah membuat desain yang memberikan ruang kepada yayasan atau mitra untuk menerima anggaran, sementara tanggung jawab operasional dan pengelolaan tetap berada dalam struktur BGN.

“Pemerintahan ini, karena BGN bagian dari pemerintah, memang merancang yayasan/mitra untuk terima uang dan ongkang-ongkang kaki saja,” kata Ferry.

Ia bahkan menyebut desain tata kelola tersebut sebagai bentuk pengelolaan program yang sangat buruk.

“Design tata kelola paling bahlul se-dunia, dan dibanggakan kepala negara kita pula,” tegasnya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Sejumlah siswa SDN 1 Beber, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilarikan ke puskesmas pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 10.40 WITA. Para siswa diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Informasi tersebut beredar melalui media sosial X, disertai video yang memperlihatkan sejumlah siswa dibawa keluar dari lingkungan sekolah saat jam pelajaran. Dalam video tersebut, beberapa siswa tampak diangkut atau digendong oleh guru dan petugas sekolah, sementara sejumlah orang tua terlihat membawa anak-anak mereka menuju fasilitas kesehatan.

Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala mual, pusing hingga muntah setelah menyantap menu MBG.

Informasi yang beredar menyebutkan, para siswa kemudian mendapatkan penanganan medis di puskesmas. Namun, hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kondisi yang dialami para siswa belum dapat dipastikan.

Masih Dugaan

Peristiwa tersebut masih berstatus dugaan keracunan. Sampel makanan yang dikonsumsi para siswa disebut tengah diperiksa untuk memastikan apakah terdapat kaitan antara menu MBG dengan keluhan kesehatan yang dialami para siswa.

Dengan demikian, belum dapat disimpulkan bahwa makanan MBG menjadi penyebab keracunan sebelum hasil pemeriksaan terhadap sampel makanan dan keterangan pihak berwenang diperoleh.

Media ini membuka ruang klarifikasi, bantahan, maupun informasi dari pihak-pihak yang terkait, termasuk pihak sekolah, penyelenggara program MBG, fasilitas kesehatan, maupun instansi pemerintah terkait, sesuai prinsip keberimbangan dan asas praduga tak bersalah.

MoneyTalk id,Jakarta – Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting menilai pertarungan politik menuju Pilpres 2029 mulai bergerak lebih dini. Sejumlah kekuatan politik yang saat ini berada di dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto disebut mulai menghitung kemungkinan politik masing-masing apabila tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan terus mengalami penurunan.

Selamat menyebut setidaknya terdapat dua kekuatan atau poros politik yang menarik perhatian, yakni Poros Solo dan Poros Cikeas.

Menurutnya, kedua poros tersebut memiliki kesamaan karena sama-sama memiliki keterkaitan dengan pemerintahan Prabowo.

“Yang menarik, kedua poros itu sama-sama berada di dalam pemerintahan Prabowo,” ujar Selamat Ginting di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Rabu (9/9/2026).

Ia menilai munculnya sejumlah hasil survei yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo dapat menjadi semacam alarm bagi partai-partai politik.

Jika tren tersebut terus berlanjut, menurut Selamat, bukan tidak mungkin sejumlah kekuatan politik mulai mempersiapkan “sekoci” politik untuk menghadapi perubahan peta kekuasaan.

“Alarm pagi-pagi sudah dibunyikan bahwa kalau ini terus menurun, mereka siap-siap lompat ke sekoci baru. Mereka tidak mau disalahkan,” katanya.

Selamat melihat fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada satu partai. Menurut dia, partai-partai politik yang berada di pemerintahan memiliki kepentingan dan agenda suksesi masing-masing.

Ia bahkan menyebut ada kecenderungan partai politik mencoba “membajak” pemerintahan Prabowo dengan agenda politik menuju Pemilu 2029.

“Semua partai juga mencoba, dalam tanda petik, membajak pemerintahan Prabowo Subianto itu dengan agenda suksesi masing-masing,” kata Selamat.

Ia mencontohkan sikap Partai Demokrat yang dinilainya relatif jarang berbicara mengenai program-program prioritas Presiden Prabowo.

Sementara itu, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan atau Zulhas dinilai masih banyak berbicara mengenai program pemerintahan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, Selamat menyoroti pernyataan Zulhas yang sebelumnya menyebut program tersebut perlu diperbaiki karena memasuki masa hampir dua tahun pelaksanaan.

Bagi Selamat, penggunaan kata “gagal” terhadap program pemerintah juga dapat dibaca sebagai sinyal politik.

“Ini juga adalah sinyal bahwa dia enggak mau tanggung jawab sepenuhnya,” ujarnya.

Selamat menilai pertarungan politik menuju 2029 kini mulai memasuki fase yang lebih terbuka. Persaingan tidak hanya berlangsung dalam perebutan posisi politik nasional, tetapi juga merembet ke daerah.

Ia menyinggung dinamika politik terkait sejumlah kepala daerah, termasuk bupati dari Partai Gerindra yang menghadapi persoalan politik.

Menurutnya, partai politik mulai mencoba membaca siapa aktor atau kekuatan yang berada di balik berbagai gejolak politik tersebut.

“Partai Gerindra juga coba menganalisis kira-kira siapa otak di belakang jatuhnya bupati ini, dari partai mana?” katanya.

Selamat kemudian mengibaratkan dinamika tersebut seperti “berbalas pantun”, termasuk dalam konflik politik di Tapanuli Tengah.

Ia menyinggung adanya lima partai politik yang mengusulkan pemakzulan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu dari PDI Perjuangan.

Menurut Selamat, berbagai manuver tersebut memperlihatkan bahwa partai-partai politik sudah mulai menghitung posisi mereka untuk menghadapi pertarungan Pilpres 2029.

Selamat melihat salah satu arena pertarungan utama adalah posisi calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo jika kembali maju pada Pilpres 2029.

Namun, ia menilai partai-partai politik tidak hanya menyiapkan satu skenario.

“Mereka semuanya sedang bertarung ingin menjadi wakilnya Prabowo pada Pilpres 2029 mendatang. Tapi kalau tidak memungkinkan, boleh dong saya jalan sendiri,” ujar Selamat.

Karena itu, menurut dia, dinamika politik yang saat ini terlihat sebagai bagian dari pemerintahan tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi menuju 2029.

Bagi Selamat, jika tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan terus menurun, posisi partai-partai pendukung Prabowo juga berpotensi berubah.

Pertarungan politik, dengan demikian, bukan lagi sekadar soal mendukung atau tidak mendukung pemerintahan, melainkan tentang siapa yang paling siap mengambil posisi ketika peta kekuasaan mulai berubah.

Dengan kata lain, sekoci politik menuju 2029 dinilai sudah mulai disiapkan, bahkan ketika kapal pemerintahan Prabowo masih berlayar.

MoneyTalk.id, Jakarta – Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, mengungkapkan sejumlah dugaan terkait dinamika aksi massa pada 27 Agustus 2026. Ia menilai terdapat pergantian kelompok massa dan masuknya pihak-pihak baru yang diduga memiliki agenda tertentu.

Menurut Sri Radjasa, setelah kelompok massa sebelumnya menarik diri, muncul kelompok baru yang disebutnya sebagai pihak yang diduga merupakan pelaku bayaran.

“Ketika kelompok Pati mundur, masuklah kelompok baru. Pelaku yang baru datang ini adalah pelaku bayaran,” kata Sri Radjasa di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Senin (31/8/2026).

Ia mengaku memperoleh informasi yang disebutnya sebagai informasi “A1” mengenai adanya upaya untuk mengangkat isu tertentu, termasuk persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sri Radjasa menduga, pengangkatan sejumlah isu tersebut kemudian menjadi bagian dari dinamika yang memancing keterlibatan kelompok massa lain. Ia menyinggung aksi yang terjadi pada malam hari di kawasan Pejompongan dan Slipi yang menurutnya mengalami perubahan situasi setelah munculnya kelompok tertentu.

Menurut dia, situasi kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan. Sri Radjasa bahkan mempertanyakan arah loyalitas kelompok yang disebutnya dalam pernyataannya sebagai GRIB.

“Di sini kita akan melihat ke mana loyalitas GRIB itu diberikan,” ujarnya.

Sri Radjasa mengaku pernah menjadi penasihat GRIB Jaya. Berdasarkan pengalamannya tersebut, ia menilai terdapat pola aksi yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius aparat keamanan.

Ia menyebut pola tersebut, berdasarkan pandangannya, antara lain berupa tindakan perusakan atau pembakaran terhadap fasilitas tertentu yang dapat menciptakan persepsi bahwa kondisi keamanan berada dalam situasi tidak terkendali.

Menurut Sri Radjasa, kondisi tersebut berpotensi memancing kelompok-kelompok massa lainnya untuk ikut turun ke lapangan sehingga eskalasi situasi menjadi semakin luas.

“Ini hanya untuk menciptakan isu bahwa kondisi keamanan tidak terkendali sehingga akan memancing kelompok-kelompok massa lain untuk hadir,” katanya.

Selain menyoroti dinamika massa, Sri Radjasa juga mempertanyakan munculnya seruan yang menjadikan DPR sebagai sasaran aksi.

Menurut dia, perubahan isu dan sasaran aksi tersebut patut dipertanyakan. Ia mengaku memiliki kecurigaan bahwa terdapat kepentingan politik tertentu di balik munculnya isu tersebut.

“Masuklah kelompok ini dengan isu yang berbeda, ‘ratakan DPR’. Saya tahu persis kenapa mesti DPR jadi sasaran,” ujarnya.

Sri Radjasa kemudian mengaitkan isu tersebut dengan proses politik terkait Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan analisis dan pandangannya atas situasi yang berkembang.

Ia juga mempertanyakan mengapa aksi yang menurutnya sejak awal berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai pihak dapat berkembang hingga menimbulkan situasi yang sulit dikendalikan.

“Ini menjadi tanda tanya buat saya. Kenapa dibiarkan melaksanakan aksi demo yang diduga akan dimanfaatkan oleh banyak pihak?” katanya.

Lebih jauh, mantan anggota BIN itu mempertanyakan sistem penyampaian informasi intelijen kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ia menyinggung posisi Kepala BIN Muhammad Herindra yang menurutnya dikenal memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo. Sri Radjasa juga menyinggung jajaran intelijen TNI yang, menurut pandangannya, seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan informasi dan peringatan dini mengenai potensi perkembangan situasi.

Sri Radjasa mempertanyakan bagaimana lembaga-lembaga intelijen tersebut tidak mampu memberikan informasi yang cukup kepada kepala negara apabila memang terdapat indikasi potensi gangguan keamanan.

“Bagaimana mungkin dua lembaga sama sekali tidak bisa memberikan warning yang cukup untuk Presiden?” ujarnya.

Menurut dia, kemungkinan terdapat mekanisme penyaringan informasi yang terlalu ketat sehingga informasi penting tidak sampai kepada Presiden.

“Ada filter yang menyaring begitu ketatnya sehingga ini pun tidak tersampaikan,” katanya.

Sri Radjasa mengaku dapat merasakan adanya dinamika tertentu di lingkungan intelijen. Ia menyebut dirinya masih kerap berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang berada di lingkungan tersebut.

“Saya bisa merasakan situasi itu di kalangan intelijen karena saya sering berkomunikasi dengan mereka,” ujarnya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat militer dan intelijen Connie Rahakundini menyoroti gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta Prabowo lebih terbuka mendengarkan kritik dan masukan dari orang-orang yang berada di lingkaran pemerintahannya.

Menurut Connie, Prabowo sebenarnya dikelilingi sejumlah orang yang memiliki kemampuan dan kapasitas. Ia menyebut sejumlah nama seperti Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai figur yang dinilainya memiliki kemampuan.

“Pak Prabowo, orang dekat Bapak tuh banyak banget yang pintar. Pak Dasco tuh pintar banget, Pak Sjafrie pintar,” ujar Connie di channel YouTube Hendri Satrio, Jumat (21/8/2026).

Connie kemudian meminta Prabowo tidak menutup akses terhadap berbagai masukan yang datang dari luar lingkaran terdekatnya.

“Panggil mereka, Pak. Jangan di depan pintu ditahan sama Teddy,” katanya.

Ia menekankan, seorang presiden harus bersedia mendengarkan orang-orang yang menyampaikan kritik, termasuk ketika kritik tersebut tidak sesuai dengan pandangan pemerintah.

Connie mencontohkan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengaku sempat mengapresiasi Purbaya, tetapi kemudian mengkritik ketika menemukan hal yang menurutnya tidak tepat.

“10 tambah 6 itu bukan 17. Itu benar, gue cocok. Jadi maksud gue, Pak Presiden itu mesti dengar orang yang ngomong 10 sama 6 itu 16, jangan ngotot 17,” ujar Connie.

Menurut dia, persoalan utama bukan sekadar siapa yang menyampaikan kritik, melainkan apakah kritik tersebut benar atau tidak. Karena itu, ia meminta Prabowo tidak hanya mendengarkan orang-orang yang selalu memberikan pembenaran.

Dalam pernyataannya, Connie kemudian melontarkan analogi tajam mengenai kondisi pemerintahan Prabowo. Ia mengatakan, jika kritik terus diabaikan, publik pada akhirnya dapat melihat Prabowo seperti seorang “raja telanjang”.

“Lama-lama orang akan melihat dia itu kayak raja jalan telanjang,” kata Connie.

Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika seorang pemimpin berada dalam posisi yang seolah-olah sangat kuat, tetapi orang-orang di sekelilingnya justru tidak berani menyampaikan kenyataan yang sebenarnya.

Connie juga menyinggung sejumlah kritik dari lingkungan kampus dan organisasi mahasiswa. Menurutnya, ketika suara kritis dari kampus maupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) muncul, pemerintah seharusnya tidak serta-merta menganggapnya sebagai gerakan yang tidak genuine.

Ia menilai respons terhadap kritik publik justru berpotensi memperburuk persepsi masyarakat terhadap pemerintah apabila dilakukan dengan cara yang tidak tepat.

Selain persoalan komunikasi politik, Connie turut menyoroti besarnya anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut dia, besarnya anggaran yang dikelola badan pelaksana program tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.

“MBG itu adalah program yang badan duitnya lebih banyak daripada Kementerian Pertahanan,” ujarnya.

Ia bahkan membandingkan besaran anggaran badan yang menangani program tersebut dengan sejumlah kementerian lainnya.

“Badan duitnya lebih banyak daripada Kementerian Agama, badan lebih banyak daripada Kementerian Pendidikan,” lanjut Connie.

Connie menyampaikan pernyataan tersebut untuk menggambarkan betapa besarnya sumber daya yang berada di balik pelaksanaan program MBG.

Ia menyindir bahwa besarnya anggaran juga dapat menimbulkan persoalan mengenai daya tarik kekuasaan dan pengelolaan sumber daya di pemerintahan.

“Gue mau jadi menteri yang duitnya banyak juga dong, masa gue kalah sama badan,” katanya.

Lebih jauh, Connie mengingatkan Prabowo agar tidak terjebak dalam pola pemerintahan yang hanya sibuk merespons berbagai persoalan dan kritik yang muncul setelah kebijakan dijalankan.

Ia meminta Presiden lebih fokus memastikan kebijakan pemerintah berjalan dengan baik sekaligus membuka ruang evaluasi.

“Jangan sampai Pak Prabowo ini cuma sibuk meng-counter kejadian yang ada di era dia,” ujar Connie.

Menurut Connie, keberanian seorang pemimpin bukan hanya ditunjukkan melalui kemampuan menghadapi lawan politik atau kritik dari masyarakat, tetapi juga keberanian untuk menerima kenyataan ketika sebuah kebijakan atau keputusan memang perlu dikoreksi.

MoneyTalk.id, Jakarta – Aktivis 98 sekaligus pakar maritim, Yulian Paonganan atau yang akrab disapa Ongen, menilai publik patut mencermati berbagai dugaan keterkaitan politik yang muncul di balik sejumlah aksi mahasiswa yang belakangan mengemuka di berbagai daerah.

Menurut Ongen, informasi yang disampaikan Aliansi BEM Bersatu terkait mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, layak mendapat perhatian publik karena dinilai membuka ruang pertanyaan mengenai kemungkinan adanya jejaring politik yang ikut memengaruhi dinamika gerakan mahasiswa.

“Kalau berbagai informasi yang disampaikan BEM Bersatu itu benar dan dapat dibuktikan, maka publik wajar bertanya apakah gerakan mahasiswa murni gerakan independen atau ada kepentingan politik yang ikut bermain di belakang layar,” kata Ongen kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).

Ongen menegaskan dirinya tidak menuduh secara langsung adanya keterlibatan partai politik tertentu. Namun, ia menilai berbagai fakta dan dugaan yang beredar perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi yang semakin luas di masyarakat.

Menurutnya, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah informasi yang disampaikan BEM Bersatu mengenai dugaan keterkaitan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dengan sejumlah tokoh yang memiliki kedekatan dengan kubu politik pendukung Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

BEM Bersatu sebelumnya mengungkap dugaan bahwa kendaraan Toyota Fortuner yang digunakan Tiyo disebut terdaftar atas nama Siti Nuraeni yang disebut merupakan adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Nama Setyo Sularso kemudian dikaitkan dengan hubungan keluarga dengan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa yang diketahui pernah menjadi salah satu tokoh penting dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo.

Selain itu, muncul pula sorotan atas kehadiran politikus PDIP Andi Widjajanto di tengah massa aksi mahasiswa yang kemudian memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik.

“Bila benar ada irisan antara sejumlah tokoh yang memiliki afiliasi politik dengan figur-figur yang aktif dalam aksi mahasiswa, tentu masyarakat berhak meminta penjelasan. Transparansi penting agar gerakan mahasiswa tidak kehilangan legitimasi moralnya,” ujar Ongen.

Menurutnya, gerakan mahasiswa memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan moral bangsa yang berdiri independen dari kepentingan partai politik. Karena itu, setiap dugaan adanya penetrasi kepentingan politik ke dalam gerakan mahasiswa harus dijelaskan secara terbuka agar tidak merusak kepercayaan publik.

Selain menyoroti dugaan keterkaitan sejumlah tokoh dengan aksi mahasiswa, Ongen juga menilai terdapat pola yang menarik di media sosial. Ia mengamati sejumlah kader dan simpatisan PDIP aktif mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui berbagai platform digital.

Menurut Ongen, salah satu figur yang paling sering menjadi perhatian publik adalah politikus PDIP Guntur Romli yang kerap menyampaikan kritik keras terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

“Tidak ada yang salah dengan kritik. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi ketika kritik dilakukan secara terus-menerus dengan narasi yang sama dan muncul bersamaan dengan berbagai aksi jalanan, tentu masyarakat akan menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya,” kata Ongen.

Ia mengatakan publik akhirnya bertanya-tanya apakah berbagai kritik yang berkembang merupakan ekspresi politik biasa atau bagian dari strategi oposisi yang lebih besar.

“Yang perlu dijaga adalah jangan sampai ruang demokrasi digunakan untuk menciptakan persepsi seolah-olah negara sedang berada dalam kondisi krisis permanen,” ujarnya.

Ongen juga menyoroti dinamika politik yang terjadi di Kota Malang terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, munculnya penolakan atau kritik terhadap program tersebut oleh sejumlah pihak perlu dilihat secara objektif. Namun, ia menilai publik juga berhak mengetahui latar belakang politik para tokoh yang terlibat dalam perdebatan tersebut.

Ia menyinggung fakta bahwa Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, merupakan kader PDIP.

“Publik berhak mengetahui konteks politik dari setiap perdebatan kebijakan. Ketika ada penolakan terhadap program strategis pemerintah, masyarakat tentu akan melihat apakah ada dimensi politik di dalamnya atau murni soal substansi kebijakan,” ujar Ongen.

Lebih lanjut, Ongen menyoroti pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang membela aksi mahasiswa saat memberikan pidato dalam acara peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026).

Menurut Ongen, pernyataan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang turut memicu perhatian publik terhadap hubungan antara gerakan mahasiswa dan elite politik.

Meski demikian, Ongen mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh dijadikan instrumen politik oleh kelompok mana pun. Ia menegaskan sejarah Indonesia menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa selalu dihormati karena keberaniannya menyuarakan kepentingan rakyat tanpa menjadi perpanjangan tangan kekuatan politik tertentu.

“Kalau mahasiswa mulai dipersepsikan sebagai alat partai, maka yang rugi bukan hanya mahasiswa, tetapi juga demokrasi Indonesia. Karena itu semua pihak harus menjaga independensi gerakan mahasiswa,” katanya.

Ongen berharap berbagai dugaan yang berkembang saat ini dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak-pihak terkait sehingga tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan.

Menurutnya, transparansi merupakan cara terbaik untuk mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kalau memang tidak ada hubungan politik, jelaskan kepada publik. Kalau ada hubungan, juga harus jujur disampaikan. Yang terpenting adalah menjaga kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi, gerakan mahasiswa, dan institusi politik itu sendiri,” pungkas Ongen.

MoneyTalk.id, Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang menanggapi berbagai pertanyaan publik terkait kekayaan pribadinya dan tudingan miring yang belakangan dikaitkan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam sebuah podcast yang tayang di kanal Total Politik, Nanik menegaskan bahwa dirinya bukan sosok yang baru memperoleh kekayaan setelah menjabat di pemerintahan. Ia bahkan menyebut telah memiliki kondisi ekonomi yang mapan jauh sebelum bergabung dalam lingkaran perjuangan Presiden Prabowo Subianto.

“Saya ikut Prabowo 14 tahun. Gue dari lahir kaya. Saya tidak miskin-miskin amat. Tanya Bang Dasco,” ujar Nanik.

Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan publik, terutama karena Nanik justru meminta pihak yang mempertanyakan kekayaannya untuk mengonfirmasi kepada Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad.

Nanik menegaskan dirinya tidak pernah memiliki niat untuk memperkaya diri melalui jabatan yang kini diembannya. Menurutnya, berbagai tuduhan yang berkembang di ruang publik tidak memiliki dasar yang kuat dan lebih banyak dipengaruhi oleh opini yang beredar di media sosial.

Ia juga menyinggung proses hukum yang menjerat sejumlah mantan petinggi BGN. Menurut Nanik, langkah hukum tersebut merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang sebelumnya telah ramai dibicarakan masyarakat, termasuk di platform media sosial.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang saat ini menjadi perhatian publik karena menyangkut anggaran besar dan target penerima manfaat yang luas di seluruh Indonesia.

MoneyTalk, Jakarta – Pendidik dan pemerhati kebijakan publik, Iman Zanatul Haeri, mengingatkan masyarakat agar tidak terpengaruh narasi buzzer terkait pembiayaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa sumber dana yang digunakan untuk membayar pegawai Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) dan pelaksanaan MBG sebagian besar diambil dari 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang secara konstitusional dialokasikan untuk pendidikan.

Menurut Iman, anggaran tersebut sejatinya diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan secara langsung, mulai dari murid, sekolah, madrasah, mahasiswa, perguruan tinggi negeri (PTN), hingga para pendidik dan tenaga kependidikan yang bekerja setiap hari untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Uang pendidikan itu bukan dana bebas. Itu amanat konstitusi yang harus digunakan untuk memperkuat sistem pendidikan, meningkatkan kualitas sekolah dan kampus, kesejahteraan guru, dosen, serta akses pendidikan bagi seluruh warga negara,” ujar Iman dalam keterangannya, Ahad (18/1/2026).

Ia menilai, Program Makan Bergizi Gratis memiliki fungsi utama pada aspek kesejahteraan sosial dan kesehatan, bukan pendidikan. Oleh karena itu, secara logika kebijakan publik maupun tata kelola anggaran negara, MBG seharusnya dibiayai dari anggaran kesehatan dan anggaran kesejahteraan sosial, bukan dari pos pendidikan.

“MBG itu penting, tapi jangan salah pos anggaran. Kalau tujuannya kesehatan dan kesejahteraan, maka dananya harus diambil dari sektor kesehatan dan perlindungan sosial. Bukan memotong jatah pendidikan,” tegasnya.

Lebih jauh, Iman mengingatkan bahwa penggunaan anggaran pendidikan untuk program di luar fungsi pendidikan berpotensi melanggar konstitusi, khususnya Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 hasil Amandemen Keempat, yang secara tegas mengatur kewajiban negara mengalokasikan minimal 20 persen APBN untuk pendidikan.

“Jika anggaran pendidikan dialihkan untuk MBG, itu bukan sekadar salah kebijakan, tapi bisa masuk wilayah pelanggaran konstitusi,” kata Iman.

Ia bahkan menyampaikan pernyataan keras bahwa siapa pun yang bekerja dan menikmati anggaran MBG yang bersumber dari dana pendidikan, secara tidak langsung sedang menggerogoti hak pendidikan seluruh warga negara, termasuk hak pendidikan anak-anak mereka sendiri.

“Ini bukan sekadar soal makan gratis. Ini soal masa depan pendidikan bangsa. Ketika anggaran pendidikan dikorbankan, yang dirampas adalah hak belajar anak-anak Indonesia hari ini dan generasi mendatang,” pungkasnya.

Iman berharap pemerintah dan para pengambil kebijakan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sumber pendanaan MBG agar tidak menimbulkan persoalan hukum, konstitusional, dan ketidakadilan dalam pembangunan sektor pendidikan nasional.