30 Oktober 2026

Anies

MoneyTalk.id,Jakarta – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Mujani, menyampaikan pandangan kontroversial mengenai kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai Prabowo sebaiknya turun dari jabatannya apabila kondisi politik dan pemerintahan dinilai tidak lagi memadai. Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut harus ditempuh secara damai dan konstitusional, bukan melalui kekerasan.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan pergantian kepemimpinan nasional sebagai isu yang perlu dibahas melalui mekanisme demokrasi. Saiful menegaskan, dukungan publik terhadap gagasan pergantian presiden tidak boleh diterjemahkan sebagai pembenaran untuk menggunakan cara-cara kekerasan.

“Saya pernah menyatakan kalau keadaannya seperti ini lebih baik Pak Prabowo itu turun saja. Kalau publik bilang bisa, Pak, ayo kita turunkan. Dengan syarat tadi yang konstitusional, artinya harus damai,” kata Saiful di Podcast Forum Keadilan Madilog, Senin (26/10/2026).

Ia menekankan bahwa apabila pergantian kepemimpinan tidak dapat dilakukan secara damai, langkah tersebut tidak semestinya dipaksakan.

“Kalau dengan kekerasan, ya itu bukan. Kalau kita tidak mampu dengan cara damai, ya jangan,” ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kritik terhadap pemerintahan Prabowo, menurut Saiful, harus tetap berada dalam koridor demokrasi. Perubahan kepemimpinan tidak cukup hanya didorong oleh ketidakpuasan politik, tetapi juga harus memperhatikan prosedur hukum dan konstitusi yang berlaku.

Saiful juga menyoroti persoalan calon pemimpin alternatif apabila Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat kritik. Menurut dia, kritik terhadap pemerintahan harus diikuti pembahasan mengenai siapa yang memiliki kapasitas untuk memimpin Indonesia.

Dalam pembicaraan mengenai kualitas calon pemimpin, Saiful menyebut sejumlah nama yang dinilai layak dipertimbangkan, di antaranya Mahfud MD, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan Anies Baswedan. Ia juga menyinggung nama-nama lain dalam penilaian terhadap calon pemimpin nasional.

Saiful menggambarkan bahwa penilaian terhadap calon pemimpin tidak bisa dilepaskan dari sejumlah kriteria, termasuk kapasitas intelektual dan kualitas kepemimpinan. Ia menyinggung mekanisme penilaian yang melibatkan kalangan berpendidikan doktor maupun profesor.

“Kalau saya mengkritik Pak Prabowo, mengkritik Gibran, alternatifnya siapa? Ada Pak Mahfud, ada Ahok, Anies,” ujarnya.

Saiful turut mengkritik cara partai politik menentukan figur yang akan diusung sebagai pemimpin nasional. Ia menilai pertimbangan partai tidak selalu sama dengan ukuran kualitas yang digunakan kalangan intelektual.

Dalam pandangannya, partai politik mempunyai kriteria tersendiri dalam menentukan calon pemimpin. Ia menyinggung persoalan mahar politik dan berbagai pertimbangan internal yang dapat memengaruhi keputusan pencalonan.

“Partai pun sadar butuh pemimpin yang bagus. Tapi kenyataannya mereka juga sadar enggak gitu,” kata Saiful.

Pernyataan itu menyentuh persoalan lama dalam demokrasi elektoral Indonesia, yakni hubungan antara kualitas calon, kekuatan modal politik, jaringan partai, popularitas, dan peluang memenangkan pemilihan.

Dalam sistem pemilihan presiden, seorang tokoh tidak cukup hanya memiliki kapasitas pribadi. Ia juga membutuhkan dukungan partai politik atau gabungan partai yang memenuhi persyaratan pencalonan. Akibatnya, figur yang dianggap kompeten oleh sebagian kalangan belum tentu memperoleh dukungan politik yang memadai.

Saiful juga menyinggung keputusan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang memilih Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014.

Ia mempertanyakan mengapa Jokowi yang dipilih, bukan Puan Maharani atau Megawati sendiri. Pertanyaan itu berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin partai menentukan figur yang dianggap paling tepat untuk maju dalam kontestasi nasional.

“Kenapa Pak Jokowi jadi presiden? Apakah mahar? Pak Jokowi bukan orang kaya? Bukan juga darah biru partai. Kenapa tidak Puan? Atau kenapa enggak Ibu Mega sendiri? Jokowi yang dipilih oleh Ibu Mega,” demikian inti pertanyaan yang disampaikan Saiful.

Jokowi memang bukan berasal dari keluarga elite politik nasional. Sebelum menjadi presiden, ia dikenal melalui kiprahnya sebagai Wali Kota Solo dan kemudian Gubernur DKI Jakarta. Popularitasnya meningkat seiring pemberitaan mengenai gaya kepemimpinan dan aktivitas blusukan yang menjadi ciri khasnya.

Megawati kemudian memberikan dukungan politik kepada Jokowi untuk maju dalam Pilpres 2014. Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla dan berhasil memenangi pemilihan tersebut, mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa pertimbangan dalam pencalonan presiden tidak selalu berpusat pada garis keturunan politik atau kekayaan pribadi. Elektabilitas, citra publik, strategi partai, dan perhitungan peluang kemenangan juga dapat memainkan peran penting.

MoneyTalk,Jakarta – PKS marah ! Marah sekali ! Apa pasal? Karena pendukung Anies Baswedan bereaksi ketika PKS bergabung dengan KIM. Berawal dari pencalonan Bobi Nasution, menantu Jokowi di pilgub Sumatera Utara. Dari sini, ada gejolak. Tapi relatif kecil.

Ketika tanggal 4 Agustus (deadline) PKS memutuskan tinggalkan Anies, gabung ke KIM, dan mengusung Ridwan Kamil, pendukung Anies Baswedan marah. Marah semarah marahnya. Kelompok prndukung elitnya mencoba merayu PKS agar balik ke Anies. Gagal ! Kenapa? Karena ini bukan hanya soal pilgub Jakarta. Ini berkaitan dengan 100 daerah yang ikut pilkada. Ini adalah satu kesatuan dari rangkaian pilkada yang disepakati antara PKS dan KIM.

Kemarahan pendukung Anies direspon negatif oleh PKS. PKS balik marah ke Anies. Tidak sedikit yang menyerang Anies. Saling balas serangan antara PKS vs pendukung Anies terus terjadi. Bahkan hingga pilkada selesai, saling serang masih terdengar. Terutama pasca Anies memutuskan untuk mendukung Pramono-Rano.

Di sini lain, Anies membuat video pendek. Isinya: dukungan kepada Syaekhu-Ilham di pilgub Jawa Barat. Begitu juga video dukungan kepada paslon PKS di beberapa wilayah Jabodetabek. Tapi, gak lama kemudian video dukungan Anies di-take-down. Alasanya, gak enak sama KIM. Takut kontra-produktif.

Video dukungan Anies kepada paslon PKS kalah santer dengan isu pilgub DKI yang menimbulkan saling serang antara PKS dengan para pendukung Anies Baswedan. Narasi yang seringkali muncul dari para kader PKS adalah: “PKS rugi dukung Anies. Gak dapat apa-apa.” Kalau ditanyakan kepada para pendukung Anies, mereka menjawab: “Gedung DPW PKS Jakarta itu dari mana?”.

Pokoknya ruwet. Hubungan PKS dan pendukung Anies lebih bersifat emosional. Rasionalitas politik tersingkir. Kedua belah pihak saling memuaskan dirinya untuk menyalahkan satu sama lain. Akibatnya, paslon PKS banyak tumbang. PKS di Jakarta kalah. Jabar kalah. Bekasi, kalah juga. Depok yang merupakan daerah kekuasaan PKS selama dua puluh tahun terakhir, paslinnya tumbang juga.

Tapi, PKS masih kekeuh bahwa itu bukan pengaruh Anies. Itu tidak ada hubungannya dengan Anies. Faktor Anies tidak dihitung oleh PKS. Anies bukan variabel penting di perhitungan suara PKS. Mungkin hanya ketua Majlis Syura PKS yang menghitung ini. Kader PKS lainnya secara umum tidak menganggap kekalahan PKS pada pilkada Jabodetabek dan Jabar ada hubungannya dengan Anies. Bagi banyak kader PKS, Anies bukan siapa-siapa dan dianggap tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap PKS. “Wujuduhu ka adamihi”, kata sejumlah kader PKS.

PKS lupa bahwa poliik itu punya kalkulasi dan rasionalitasnya sendiri. Tidak bisa dikendalikan oleh rasa “lika and dislike”. Kenapa panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) politik seringkali kontras? Karena dalam politik antara rasa dan logika seringkali gak ketemu. Jangan heran kalau ada politisi yang ramah dan tersenyum pada anda, padahal ia sedang kecewa dan sangat marah kepada anda. Kenapa bisa begitu? Karena ia masih butuh anda. Sementara, kader PKS masih didominasi oleh permainan rasa. Marah ya marah aja.

Kalau konstituen dan netizen lebih dominan permainan perasaannya. Tapi, politisi secara umum telah mati perasaannya. Karena tuntutan rasionalitas politik lebih dominan. Jadi, anda akan kesulitan menyampaikan aspirasi kepada para politisi, karena secara umum perasaannya sudah mati. Nah, kader PKS beda. Lebih kuat permainan rasanya dari pada logikanya. Kecuali hanya sedikit, itupun di tingkat elit. Kenapa? Karena PKS partai ideologis.

Secara teoritis, makin kuat ideologinya (fanatisnya), maka makin kuat soliditasnya dan makin sensitif. Makin perasa.

Bagaimana masa depan hubungan PKS dengan Anies Baswedan? Kalau ditanyakan kepada kader PKS, maka jawabnya: “tidak ada pintu lagi”. Apalagi setelah Anies dukung Pramono yang notabene kader PDIP. Kita tahu, hubungan PKS dengan PDIP cukup tegang selama ini.

Tapi, kalau menggunakan rasionalitas politik, PKS dan Anies akan diuntungkan jika keduanya bersama-sama. Sebab, pendukung keduanya beririsan. Kuncinya ada di PKS. Mampukah PKS menggunakan rasionalitas politiknya secara terukur untuk membaca faktor Anies ini.

Penulis : Tony Rosyid,Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

MoneyTalk,Jakarta – Gagalnya Anies di Pilpres dan di Pilgub karena permainan licik dan kotor, dan hanya menyisakan para pemimpin busuk, lemah, dan menghalalkan segala cara telah membuat murka rakyat pendukung yang tulus, umat Islam, dunia, alam semesta, para malaikat, dan kemurkaan Allah. Maka hari-hari ini dan seterusnya bangsa Indonesia hanya menanti datangnya berbagai musibah dan adzab Allah.

(lebih…)

Jakarta,MoneyTalk – Gus Baha adalah salah satu kiai paling terkenal dan fenomenal di Indonesia saat ini. Namanya banyak diperbincangkan orang, karena ceramah-ceramahnya terkenal membumi dan mudah dipahami olah umat. Di sela ceramahnya, Gus Baha juga sering melemparkan guyonan-guyonan segar.

Belakangan ini, nama Gus Baha semakin santer dibicarakan masyarakat. Hal ini tak lepas dari kunjungan Anies Baswedan, bacapres dari Koalisi Perubahan. Dalam kunjungan tersebut, Anies diterima di tempat tinggal Gus Baha di Rembang, Jawa Tengah. Dalam kunjungan ini, Gus Baha dan Anies Baswedan berbincang cukup lama selama 2,5 jam.

Menurut kakak kandung Gus Baha, yaitu Gus Mahasin, 2,5 jam adalah durasi terpanjang Gus Baha menerima tamu. Gus Mahasin menambahkan bahwa obrolan Gus Baha dan Anies Baswedan berlangsung dengan gayeng alias seru.

Uniknya, kunjungan dan obrolan Anies Baswedan ke Pesantren Narukan ini tidak diabadikan dengan kamera. Bahkan, kunjungan tersebut juga tidak diunggah di akun media sosial Anies Baswedan. Padahal bila diunggah, hal tersebut tentu bagus untuk meningkatkan popularitasnya. Tapi Anies tidak melakukan hal tersebut.

Menurut sumber yang dekat dengan Anies Baswedan, apa yang dilakukan tersebut memang menjadi bagian dari tirakat Anies di bulan Ramadan. Dalam tirakat ini, Anies benar-benar ingin mendengar suara tokoh masyarakat dan rakyat, tanpa sorot kamera sama sekali.

Menariknya, saat kunjungan ke Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA Narukan yang diasuh Gus Baha, Anies Baswedan juga diajak mengunjungi rumah geladak. Rumah ini merupakan peninggalan leluhur Gus Baha yang berusia ratusan tahun. Kunjungan Anies ke rumah dan ponpes milik Gus Baha ini seperti kunjungan sahabat yang akrab, intim, dan menyenangkan.

Kunjungan Anies Baswedan ke Gus Baha ini memang terasa istimewa. Bila tokoh lain berkunjung ke Gus Baha pasti ingin berfoto bersama dan diunggah ke media sosial, lengkap dengan durasinya, tapi Anies memilih tidak melakukan hal itu. Sebab, Anies ingin bicara dari hati ke hati.

Perkara durasi pun, pihak keluarga tuan rumah yang menyampaikan. Anies tidak menyebutkannya. Bagi orang atau tokoh lain yang memerlukan pengakuan, pertemuan seperti itu harus diumumkan di media sosial lengkap dengan durasinya. Padahal, menurut saksi mata yang mengetahui kegiatan tokoh lain tersebut, durasinya tidak sampai dua jam. Bahkan tidak sampai satu jam.

Tapi begitulah, maqom atau kelas orang memang berbeda-beda. Bagi orang yang masih mengutamakan pengakuan diri dan ego, apa pun harus ditunjukkan ke khalayak sebagai bentuk pencitraan. Berbeda dengan Anies Baswedan yang tingkat spiritualitasnya sudah tinggi. Anies sepertinya menyadari, tak semua harus ditunjukkan ke masyarakat demi pencitraan belaka. Anies, memang sudah mencapai level yang berbeda sebagai tokoh nasional.(MT)

Ahmad Rouf Qusyairi
Ketua FormasNU
Forum Masyarakat Santri Nusantara

Jakarta, MoneyTalk – Rumor cepat beredar. Bisa dari orang dalam yang dekat dengan LBP atau orang dalam Surya Paloh. Atau ada yang berspekulasi “super kreatif”. Kita terima saja RUMOR ini sebagai kebenaran, lalu kita berspekulasi apa yang mungkin terjadi. Maka tentu saja ini Rumor yang sangat Masuk Akal bila melihat betapa Loyo dan Groginya LBP setelah pertemuan dengan Surya Paloh kemarin tanggal 5 bulan 5 tahun 2023. Itulah masa-masa hidup kritis LBP saat ini. Penuh spekulasi dan ketidak pastian. Sudah cerkali-kali LBP minta ketemu Surya Paloh dan hebatnya Surya Paooh tidak pernah menolak, tapi juga tidak pernah takut menentang tawaran LBP.

Tawaran Pertama adalah agar Nasdem menarik Dukungan terhadap Pencapresan Anies saat mereka bertemu di Eropa (London) pada bulan Desember 2022. Pertemuan yang katanya kebetulan karena SP sedang berobat dan LBP sedang ada Tugas Negara… Tawaran tersebut ditolak meski SP mendapat ancaman Tiga Menteri Nasdem akan direshufle bahkan ada kemungkinan dipidanakan. Cara-cara Mafia yang memang biasa digunakan Rezim untuk menekan Lawan-lawan Politiknya selama ini. Tetapi terhadap SP senjata busuk ini ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Nasdem tetap konsisten Mendukung Anies. LBP diam-diam terkesima pada keteguhan SP. SP memang tidak pernah takut kepada LBP bahkan saat-saat Nasdem baru berdiri dan SP dilarang LBP cawe-cawe lagi di Golkar karena sudah mendirikan partai sendiri, SP melawan dan hampir saja terjadi Adu Jotos di Hotel Borobudur. Jadi jangan harap SP takut pada ancaman LBP maupun Jokowi. *”The show must go on”*, begitu Tekadnya.

Pertemuan kedua terjadi pada bulan Pebruari yang lalu yang tak diketahui apa materi yang mereka bicarakan. Tetapi bisa dipastikan masih tentang Pencalonan Anies yang tak kunjung dihentikan oleh SP. Tentu saja LBP gelisah karena tidak siap menerima bila Kemenangan Anies terealisir. Anies bukan seperti Jokowi yang selalu manut terhadap Kaum Oligarki. Anies juga cerdas dalam menilai suatu kebijakan. Hal ini meresahkan bagi LBP dan juga pasti bagi Jokowi. Karena Anies dinilai Sangat Potensial Meraih Kemenangan, maka LBP meminta kembali bertemu pada Selasa tanggal 14 Maret 2023 di Nasdem Tower Gondangdia. Dalam pertemuan ini tampak SP dan LBP duduk satu meja. Meskipun Pertemuan Ketiga ini sekilas menampilkan keakraban mereka, rupanya LBP tetap belum puas. Mereka berusaha menjinakkan Anies dengan cara-cara baik dan terhormat, tanpa harus menggunakan “cara-cara curang” yang sudah mereka persiapkan dengan matang. Mereka sangat menyadari, sesempurna-sempurnanya cara curang yang mereka persiapkan, tetap memiliki kekurangan yang belum tentu mereka ketahui. Yang pasti berisiko CHAOS yang bisa saja justru menghancurkan mereka.

Akhirnya dalam pertemuan terbaru mereka hari Jum’at tanggal 5 Mei yang baru lalu, LBP terpaksa menawarkan Kartu Truf Terbaiknya, *Ahok sebagai Cawapres Anies*. Ini betul-betul akan menjadi “Tawaran Terakhir LBP” kepada Koalisi Perubahan. Ya… kalau Kartu Truf sudah dikeluarkan, artinya tawaran ini menjadi Ancaman Halus, bila tidak diterima juga, maka kita akan “Perang Habis-habisan”. Takkan ada lagi Tawaran Perdamaian Win-win Solution. Tawaran ini betul-betul bagai Pisau Bermata Dua. Kenapa?

1. Bila diterima, sekilas memang menjanjikan Kemenangan Mutlak bagi Anies terhadap Prabowo dan Ganjar dalam 1 kali Putaran Pemilihan, tetapi sesungguhnya bisa terjadi kebalikannya. Pendukung Anies Militan akan meninggalkan Anies dan kemungkinan akan kembali mendukung Prabowo. Maka dalam Putaran Kedua, akan bertanding Prabowo dan Ganjar. Artinya yang akan lahir sebagai Presiden Baru nanti pastilah Ganjar, karena Prabowo Sangat Mudah DIBOHONGI dan DIKADALI tanpa risiko apapun bagi Pelaku Kecurangan. Dua kali Dipecundangi Dengan Mudah sudah cukup sebagai Barometer Kebodohan dan Kelemahan Prabowo.

2. Tetapi apabila yang terjadi Kebalikannya, maka Posisi Ahok sebagai Wapres tinggal selangkah saja untuk Menjadi Presiden RI. Apapun bisa dilakukan untuk Menyingkirkan Anies dari Posisi Presiden. Pilihannya hanya tinggal menggunakan Cara Kasar atau Cara Halus. Jadi Kemenangan Anies bila bersanding dengan Ahok sesuai Tawaran LBP, harus DICURIGAI sebagai JALAN PINTAS CERDIK menjadikan Ahok yang ditengarai memiliki 2 Kewarganegaraan (Indonesia sekaligus juga China), sebagai Presiden Indonesia Pertama dari Warganegara China. Artinya ke Sini Untung ke Sana Untung. LBP memang Ular Berkepala banyak.

3. Bila SP Menolak Tawaran Premium ini, maka yang terjadi adalah Perang Habis-habisan yang akan dilakukan oleh LBP dengan bantuan KPK, POLRI dan Alat-alat Kekuasaan lainnya tetapi akan dijawab Oke oleh SP yang di era Crossboy dulu juga adalah Tokoh Anak Kolong yang tentu saja akan menarik Anak-anak Kolong Lain Bersatu Menghadapi LBP-JOKOWI dengan Barisannya. Jangan lupa SP adalah Pendiri Forum Komunikasi Putra/Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI). Kita lihat apa yang terjadi, karena Perang Habis-habisan ini akan Menjadi Perang Antara Pembela Kepentingan Bumi Putera Melawan Pembela Kepentingan Taypan China.

Kita berharap yang Terjadi Adalah Pertandingan Pilpres Damai yaitu Bersatunya Prabowo dengan Puan yang bisa menegasi Ketegangan Antara Koalisi Perubahan dengan Koalisi Status Quo. Sementara Ganjar kembali ke Pangkuan KIB dengan Hartarto sebagai Cawapres, tetapi dengan Prasyarat LBP-JOKOWI tidak melakukan MANUVER CURANG yang TELAH DIPERSIAPKAN. ITU SYARAT MUTLAK UNTUK TIDAK TERJADI GORO-GORO. (MT)

Oleh : Indra Adil
Eksponen PKM IPB 77/78

JAKARTA, MoneyTalk – Saat pertemuan dengan Tim Kecil Koalisi Perubahan (Nasdem, Demokrat, PKS), Jumat (5/5/2023), Anies Baswedan mengungkapkan bahwa Koalisi Perubahan terus berproses, telah bekerja dengan terstruktur dan sesuai tahapan yang direncanakan bersama.

Ia menyatakan, tahapan selanjutnya adalah fokus kepada pembahasan Isu perubahan didasari temuan saat kunjungan lapangan di 90an tempat selama bulan ramadhan dan finalisasi calon wakil presiden.

“Tiga isu perubahan yang akan diusung adalah pertama terkait dengan kemiskinan, kedua terkait dengan biaya hidup dan kebutuhan pokok yang harganya tinggi, yang ketiga lapangan kerja,” ungkap Anies.

Sebagai bakal calon presiden yang diusung Koalisi Perubahan, Ia juga mengungkap, pertemuan rutin konsisten dilakukan untuk membahas perkembangan terkini dan merencanakan langkah strategis selanjutnya.

Dalam sesi tanya-jawab mengenai 5 nama bakal cawapres yang disodorkan oleh Koalisi Perubahan, Anies mempertegas bahwa sosok calon pendampingnya di Pilpres 2024 idealnya berasal dari internal Koalisi Perubahan.

“(Apabila) berada dalam koalisi maka dalam konsiderasi (dipertimbangkan). Kalau tidak berada dalam koalisi ya sulit menjadi konsiderasi,” tegas Anies.

Sekjen DPP Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya, juga menegaskan temuan tiga isu perubahan tersebut juga sama dengan temuan lapangan saat Ketum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan safari Ramadhan sepanjang bulan Maret dan April yang lalu.

Hal ini sejalan dengan laporan yang masuk dari mayoritas Anggota Fraksi Partai Demokrat (DPR RI/ DPRD Prov/ Kab/Kota) se-Indonesia, yang saat ini berjumlah 1864 orang.

“Selain 3 Isu harapan perubahan dan perbaikan yang disampaikan rakyat ke Pak Anies, Kami juga menemukan adanya kecemasan publik yang tinggi dalam menghadapi Pemilu 2024 ini.” Ungkap Riefky.

“Kekhawatiran terhadap terjadinya intimidasi, intervensi dan kecurangan Pemilu juga banyak kami temui dilapangan.” tutupnya, yang diamini oleh Anies dan para anggota tim kecil Koalisi Perubahan lainnya.

JAKARTA, MoneyTalk – Selain Anies Rasyid Baswedan ada sejumlah tokoh nasional dan pemimpin bangsa yang berpotensi untuk pimpin Indonesia ke depan.

Tokoh-tokoh tersebut dapat disebutkan. Antara lain: AA La Nyalla Mattalitti, Rizal Ramli, Gatot Nurmantyo.

La Nyalla Mattalitti, Ketua DPD punya kepedulian terhadap Rakyat sangat jelas. Dari gagasan dan pemikiran dan pedulian nya dapat terbaca dari ril pers yang di keluarkan oleh Biro Pers DPD RI.

Rizal Ramli, Ekonom Senior yang tidak di ragukan lagi karena berpengalaman sebagai Menko di Era Presiden Abdurahman Wahid maupun kepemihakan kepada Nelayan di Pantai Utara Jakarta dalam kasus Reklamasi akhir nya tersingkir saat jabat sebagai Menko Maratim di era Jokowi.

Jendral Gatot Nurmantio yang saat ini bersama teman2 di KAMI. Koalisi Aksi Selamatkan Indonesia yang tak henti – henti nya menyuarakan bahaya2 ancama terhadap Indonesia. Mantan panglima TNI itu pun akhir terpental dari Kabinet Rezim Jokowi..

Ketiga tokoh di atas berpotensi sangat besar untuk pimpin dan selamatkan Indoensia di tengah ancaman dan keterpurukan saat ini.

Integritas ketiga nya tak diragukan lagi. Dan mereka di dukung Rakyat.

Hanya saja. Setelah MK di pimpin oleh Adik Ipar Jokowi. MK terbelenggu oleh kekuatan Oligarki Politik dan Ekonomj. Sehingga MK lumpuh untuk tampil sebagai Institusi Penjahat Konsitusi yang memihak pada Rakyat dan Demokrasi.

MK mengunci desak. Rakyat untuk menggugurkan PT 20 %. Agar membuka jalan reformasi politik dan demokrasi di Indonesia menjadi kandas.

Angin perubahan di negeri ini bertiup sangat kencang dan deras. Rakyat butuh Perubahan. Rakyat tidak mau lagi di pimpin oleh kekuatan yang ada di pementasan dan di Parlemen saat ini.

Rezim saat ini sudah dianggap busuk, bobrok, rusak dan culas. Rezim ini segera di ganti secara demokratis. Oleh karena nya melalui saluran demokratis melalui Pemilu dan pilpres.

Tapi akibat fatal dan konyol rezim saat ini dengan kekuatan dan tekanan nya bikin Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat mati.

Pemimpin yang di inginkan Rakyat: seperti La Nyalla Mattalittii, Rizal Ramli, Gatot Nurmantio di kunci oleh putusan MK yang anti Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Puluhan Gugatan ke MK di tolak MK dengan alasan yang tidak rational, demokratis dan konstitusional.

Akhir nya saat ini. Koalisi – koalisi yang di bentuk versi rezim dan partai pendukung nya bingung. Karena tokoh2 yang mau di usung tidak di yakini menang pada saat pertarungan pilpres 2024.

Pisau Gelotin untuk membunuh lawan untuk menangkan pertarungan untuk berkuasa kembali jadi tidak berdaya berhadapan dengan desakan dan tekana Rakyat yang cinta Pro Perubahan untuk kehidupan Negara dan Bangsa yang adil dan sejahtera sangat di dambakan.

Rakyat muak dan marah dengan kondisi saat ini. Sudah saat nya Perubahan besar tiba untuk negeri ini. Rakyat ingin kan tokoh2: La Nyalla Mattalitti, Rizal Ramli, Gatot Nurmantio selain Anies Baswedan untuk dapat tampil pimpin negeri.[MT]

Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu