7 November 2026

APBN 2025

MoneyTalk, Jakarta Apa kata Bank Dunia dan bagaimana jalan keluarnya? Mengapa bisa kere keriting? Karena lebih besar pasak dari pada tiang. Apa yang membuat pasak besar? Utang pemerintah yang menyebabkan untuk bayar bunga dan cicilan pokok yang sangat besar. Apa lagi? Karena gagal mendistribusikan subsidi tepat sasaran, terutama subsidi dan kompensasi BBM, subsidi LPG 3 kg, dan over supply listrik yang mengakibatkan pembayaran subsidi dan kompensasi listrik terus membengkak. Ini bukan masalah uang semata tapi kesalahan sistem.

Apa penyebab paling fundamental APBN kere keriting? Karena sistem pengelolaan sumber daya alam yang tidak benar atau menyimpang dari konstitusi. Negara tidak mendapatkan bagi hasil sumber daya alam. Negara hanya memungut pajak ala kadarnya atas kegiatan eksploitasi sumber daya alam. Seharusnya negara mendapatkan bagi hasil, bukan pungut pajak. Sekarang negara mendapatkan sedikit sekali dari eksploitasi SDA, sementara pemilik modal asing dan kroninya mendapatkan sangat banyak. Keuntungan mereka atas eksploitasi SDA melimpah ruah.

Bukan hanya APBN yang kere, namun rakyat juga keriting. Apa sebab? Sistem ekonomi Indonesia sampai saat ini menganut model sistem ekonomi lintah darat. Terlalu banyak menghisap ke dalam tubuh rakyat sendiri. Melalui apa? Dua kebijakan utama yakni pajak terhadap kegiatan sehari hari masyarakat seperti orang makan minum dipalaki, belanja kebutuhan sehari hari dipajaki, usaha kecil kelontongan dipajaki. Ini semua menyedot uang yang beredar dalam masyarakat. Uang beredar yang sangat kecil disedot dengan vacuum cleaner.

Apalagi model ekonomi lintah darat ini? Yakni bunga yang sangat menghisap darah rakyat. Bunga bank mencekik, mengapa karena bunga surat utang negara lebih tinggi. Uang mengalir ke bank dan mengalir ke surat utang negara. Lama lama masyarakat tidak memiliki sisa uang di rekening, saldo nol, tidak bisa belanja. Lalu berutang ke dalam sistem pinjaman onlen untuk mendapatkan uang membeli sesuap nasi setiap hari. Ini yang membuat ekonomi kere keriting. Mengapa bunga bank tinggi, karena resiko ekonomi tinggi, uang ditakutkan mengalir ke luar negeri, karena rupiah yang labil. Maka dihadapilah dengan bunga tinggi. Makin kering ekonomi terhisap riba dan lintah darat.

Apa Kata Bank Dunia

Berikut saya kutip dari laporan bank dunia tentang tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Indonesia, mengapa seperti sekarang ini? Mengapa PPN yang menjadi incaran sejak datang covid 19 oleh Kementerian Keuangan (Menkeu). PPN memang cara paling sederhana, paling mudah, pukul rata, naikin beberapa persen, dapat uang, tapi ini sama dengan peras langsung dari masyarakat.

Kata Bank Dunia Pendapatan negara Januari hingga April mencapai 4,1 persen PDB, turun dari 4,8 persen PDB tahun sebelumnya, sebagian besar disebabkan oleh penurunan pendapatan dan penerimaan pajak sumber daya alam.

Penurunan penerimaan pajak sebagian besar diatribusikan pada Pajak Penghasilan dan PPN, seiring melemahnya permintaan dalam negeri dan harga komoditas secara bertahap menurun. Pemerintah mengutip lebih tinggi pengembalian pajak karena perusahaan akan membayar lebih berdasarkan pajak mereka. Walaupun kinerja bisnis yang lebih buruk dari perkiraan.

Kata Bank Dunia diantara PNBP, pendapatan sumber daya alam yang paling terkontraksi, khususnya di sektor minyak, seperti beberapa ladang minyak habis. Walaupun sebenarnya Indonesia akan memproduksi 1 miliar ton batubara tahun 2025 dan juga akan meningkatkan ekploitasi berbagai sumber daya alam lainnya. Masalah ladang migas kering atau habis masih menjadi kecurigaan banyak pihak apakah ini benar habis atau dicuri oleh pihak tertentu.

Menggenjot PPN Kontraproduktif

Bank dunia rupanya sadar akan kemampuan aparatur pajak Indonesia dan bagaimana perilaku mereka. Jadi dibuatlah analisis yang mudah atau cara yang tidak perlu mikir panjang untuk cari uang dengan cara memeras masyarakat.

Apa kata Bank Dunia? menaikkan tarif pajak merupakan bagian dari reformasi dari perspektif desain kebijakan, hal dibarengi dengan langkah langkah untuk memperluas pajak dan meningkatkan kepatuhan. Reformasi dimulai melalui THL pada tahun 2021 dapat dilengkapi melalui langkah-langkah jangka pendek dan menengah.

Untuk dalam jangka pendek, reformasi dapat dilengkapi ambang batas pajak yang lebih rendah, penghapusan pengecualian pajak, dan perbaikan dalam mekanisme audit untuk meningkatkannya kepatuhan.

Dalam jangka menengah, pilihan untuk menaikkan pengumpulan pajak dapat dilaksanakan melalui perbaikan akses dan ketersediaan data pihak ketiga untuk dilacak dan diverifikasi pendapatan, serta upaya formalisasinya.

Iming iming Bank Dunia adalah penerimaan pajak yang lebih tinggi pada gilirannya dapat membiayai kegiatan sosial bantuan untuk memberi kompensasi kepada masyarakat miskin yang terkena dampak tarif PPN yang lebih tinggi tersebut. Padahal sebenarnya PPN ini langsung menyedot pendapatan kaum miskin dan mengembalikan kepada kaum miskin akan melewati birokrasi yang panjang dan sangat korup. Bank Dunia tentu tau itu.

Tidak Efisien atau Korup

Kata Bank Dunia masalah Indonesia bukan menaikkan pajak PPN, tapi bagaimana efektifitas dan efisiensi dalam pengumpulan pajak. Pajak yang diterima negara tidak sesuai dengan yang disetorkan masyarakat. Banyak sekali nyangkut dimana mana. Kata Bank Dunia ini tidak efisien dan tidak patuh.

Dikatakan Indonesia menghadapi tantangan efisiensi yang membatasi potensi kenaikan tarif pajak untuk menghasilkan tambahan pajak pendapatan. Hanya sebesar 0,53, rasio efisiensi PPN adalah 0,17 poin di bawah rata-rata negara-negara tetangga di kawasan (rasio angka 1 menunjukkan sistem pemungutan pajak yang sangat efisien). Ini namanya pajak dipungut tapi tidak disetor pada negara.

Kata Bank Dunia, keadaan ini menunjukkan potensi pendapatan yang bisa dimiliki dikumpulkan dengan tarif saat ini hampir dua kali lipat yaitu pemungutan pajak yang sebenarnya. Jika rasio C-koleksi ditingkatkan ke tingkat yang setara dengan negara-negara lain di kawasan, perkiraan menunjukkan bahwa pengembalian fiskal dari PPN kenaikan suku bunga bisa meningkat hingga 32 persen keuntungan saat ini.

Kekurangan berasal dari kedua kebijakan tersebut desain PPN dan kepatuhan pajak yang rendah. Bukti dari negara lain menyarankan bahwa PPN menurut undang undang kenaikan suku bunga mungkin menghasilkan sedikit atau tidak ada pendapatan tambahan
keuntungan jika tantangan ketidakpatuhan terus berlanjut. Efisiensi pajak yang rendah disebabkan oleh sempitnya basis pajak dan kepatuhan yang rendah, yang mengakibatkan pengumpulan pajak tambahan terbatas jika tarif dinaikkan. Jadi masalahnya bukan naikin PPN akan tetapi korupsi nya diberantas, dihabisi sampai ke akar akarnya, sehingga pajak yang dipungut sampai ke kas negara.

Rapi-Rapi, Bersih-Bersih, Bagi-Bagi Duit

Kalau melihat data ekonomi yakni deflasi dalam lima bulan terakhir, seharusnya memberi gambaran kepada pemerintah bahwa daya beli masyarakat menurun. Apalagi deflasi dipicu oleh penurunan bahan makanan, berarti masyarakat sudah kehilangan kemampuan membeli bahan pokok. Harga bahan pokok makin tidak terjangkau oleh saldo yang tersisa direkening orang. Mana bisa menaikkan PPN dalam situasi dan kondisi begini?

Pemerintah harus mengubah orientasinya dari menyedot uang dari masyarakat menjadi kebijakan membagikan uang kepada rakyat atau kalimat awam dari distribusi pendapatan. Mengatasi keadaan sekarang ini dapat dilakukan dengan membangi uang yang banyak, kalau tidak bisa membagi pekerjaan maka langsung saja membagikan uang. Ini cara paling baik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang kita tau ditopang oleh konsumsi.

Mengingat sekarang ini pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi, konsumsi ditopang oleh kredit konsumsi atau pinjaman onlen. Maka lama lama uang di masayarakat mengering. Mengatasinya tidak bisa lagi dengan mekanisme pinjaman berbunga tinggi, namun langsung membagikan uang kepada masyarakat.

Sekarang darimana uangnya? Apakah ada? Tentu saja ada. Mencari uang bisa dimulai dengan membenahi, merapikan data data ekploitasi sumber daya alam, minyak, batubara, timah, nickel, sawit dan lain sebagainya. Ini harus dimulai dengan mebentuk komando pasukan khusus untuk merapikan masalah ini.

Selanjutnya coba dipikirkan bagaimana caranya agar uang yang diperoleh dari hasil ekspor sumber daya alam bisa kembali ke dalam negeri, berputar dalam ekonomi nasional. Uang swasta yang diperoleh dari keruk SDA balik ke dalam negeri mengisi darah dan memperkuat urat nadi ekonomi nasional. Sekarang kita tau ini banyak disimpan di luar negeri. Ini perlu Pangkokamtib untuk rapi rapi, bersih bersih, dan selanjutnya bagi bagi duit kepada masyarakat. Ok bos?

Penulis: Salamuddin Daeng

MoneyTalk, Jakarta – Bukan hanya rakyat yang keriting sekarang menghadapi keadaan sekarang ini, namun APBN Indonesia juga kere. Sehingga keadaan bangsa Indonesia sekarang boleh dibilang kere keriting. Sementara pada bagian lain keinginan untuk belanja sangat besar. Belanja yang dipaksakan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang kecil dan biasa biasa saja yakni 5 persen saja. Makanya saya namakan kabinet 5 persen.

Berapa target belanja pemerintah? Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2.701,4 triliun (termasuk sebesar Rp1.541,4 triliun Belanja Non-KL pada Belanja Pemerintah Pusat) serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp919,9 triliun.

Berapa pendapatan negara? Pendapatan Negara dalam APBN tahun 2025 direncanakan sebesar Rp3.005,1 triliun, yang bersumber dari Penerimaan Perpajakan sebesar Rp2.490,9 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp513,6 triliun.

Masih ada sisa jika Pendapatan negara dikurangi dengan belanja pemerintah pusat dan daerah?. Jika negara hanya menggunakan uangnya untuk menggaji pegawai, mulai dari presiden, menteri, anggota DPR, PNS, dan pegawai kontrak, maka APBN masih ada sisa Rp. 300 triliun. Harusnya bisa nabung ya.

Akan tetapi? APBN dipaksa membayar bunga, pokok utang dalam dan luar negeri yang sangat besar. Sehingga APBN sudah tidak dinamis lagi, tidak memiliki kemampuan merespon perubahan, tidak punya lagi kemampuan menjalankan program program baru, dia terbujur kaku karena tidak ada lagi darah segar dalam APBN tersebut.

Bayangkan bagaimana utang menyandera APBN. Dalam RAPBN tahun anggaran 2025 pembayaran bunga utang direncanakan sebesar Rp552.9 triliun atau naik 10,8 persen dari outlook pembayaran bunga utang pada tahun anggaran 2024. Jumlah tersebut terdiri atas:(1) pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp497.6 triliun; dan (2) pembayaran bunga utang luar negeri sebesar Rp55.2 triliun.

Pembayaran pokok dan bunga utang terus melesat naik dari 314,1 triliun tahun 2020, menjadi 552,9 tahun 2025. Naik 75,8 persen dalam lima tahun. Kecepatan meningkatnya bunga utang jauh dibandingkan dengan kecepatan naiknya penerimaan dalam APBN Indonesia.

Sementara jatuh tempo utang akan menjadi masalah besar dalam tahun tahun mendatang. Tahun 2023 jatuh tempo utang senilai 539,9 triliun dan tahun 2024 senilai 335,2 triliun. Dengan demikian di dalam tahun 2025 mendatang utang jatuh tempo dan bunga akan lebih besar lagi.

Satu lagi anggaran tidak kalah besarnya yakni anggaran subsidi dan kompensasi energi, yakni subsidi dan kompensasi BBM seperti solar, lpg 3 kg, subsidi dan kompensasi energi untuk membayar listrik orang miskin. Subsidi dan kompensasi ini selalu jebol dan bocor. Pengelolaan tidak bagus dan tidak transparan. Padahal tidak ada lagi anggaran yang tersisa dalam APBN.

Lalu kurangnya berapa APBN Pak Prabowo? Kurangnya banyak sekali!. Defisit APBN Tahun Anggaran 2025 ditetapkan sebesar 2,53% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau secara nominal sebesar Rp616,2 triliun. Pemerintah bersama dengan DPR telah menyepakati APBN 2025 masih membutuhkan pembiayaan utang sebesar Rp775,9 triliun. Wah ini besar sekali.

Akan tetapi ini belum tentu juga ada yang mau kasih utang. Waktu presiden sebelumnya dimasa covid pemerintah utang sangat besar. Utangnya kepada Bank Indonesia (BI). Entah darimana Bank Indonesia dapat uang kasih utang pemerintah hingga Rp. 1600 triliun. Apakah sekarang bisa? Seperti BLBI, sekarang namakan saja Liquditas Bank Indonesia untuk Pemerintah atau LPB.

Masalahnya sekarang tidak ada lagi sisa dana yang dapat digunakan untuk menghadapi krisis besar ke depan. Dunia meramalkan krisis akan mengguncang dunia dalam 2025 – 2027. Adanya krisis perubahan iklim, semakin ketatnya liquiditas global akibat peningkatan suku bunga dan makin besar ancaman dari rantai pasok akibat bencana alam dan perang. Piye iki Mas?

Penulis: Salamuddin Daeng

MoneyTalk, Jakarta – Di tengah transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Presiden Prabowo Subianto, komentar Andy Widjajanto dalam kanal YouTube Keadilan TV pada 5 November 2023 menarik perhatian. Andy menyebutkan, selama enam hingga sembilan bulan pertama, kabinet Prabowo akan fokus mengimplementasikan program-program yang telah diusulkan oleh pemerintahan sebelumnya, khususnya untuk APBN 2025. Menurut Andy, periode ini akan penuh tantangan bagi Prabowo dan kabinetnya. Mereka dituntut untuk bersabar dan beradaptasi dengan dinamika teknokratik pemerintahan yang tidak selalu bisa bergerak cepat.

Andy menjelaskan bahwa karena APBN 2025 sebagian besar masih merupakan rancangan pemerintahan Jokowi, kabinet Prabowo kemungkinan besar hanya akan melaksanakan program-program yang telah ditetapkan oleh pemerintahan sebelumnya. Misalnya, program “Makan Siang Bergizi” bagi pelajar yang dicanangkan oleh Jokowi akan menjadi salah satu program yang dilanjutkan. Namun, seperti yang disebut Andy, pelaksanaan program ini masih memerlukan penyusunan struktur organisasi yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Pendidikan serta badan pangan dan gizi.

Selain itu, Prabowo dan para menterinya harus bersabar dalam mengelola anggaran yang mungkin belum sepenuhnya mendukung kebijakan baru yang ingin mereka implementasikan. Di tahun 2025, sebagian besar anggaran dan kebijakan masih mengacu pada visi dan misi Jokowi, dan baru di tahun 2026 Prabowo memiliki APBN yang sepenuhnya bisa disesuaikan dengan kebijakan dan visi pemerintahannya.

Andy Widjajanto menyoroti siklus teknokratik yang seringkali lamban, sehingga para menteri perlu sabar dan telaten dalam menyusun serta menjalankan program-program baru. Ia mencontohkan bahwa siklus anggaran membutuhkan proses yang panjang dan melibatkan berbagai tahapan, dari pengajuan proposal oleh kementerian ke Bappenas, diskusi di Kementerian Keuangan, hingga persetujuan di DPR. Jika para menteri tidak memahami proses birokrasi ini, mereka bisa saja terjebak dalam kesalahan teknis yang berujung pada temuan negatif dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), seperti Wajar Dengan Pengecualian atau bahkan Disclaimer, yang dapat menghambat kinerja kementerian di tahun-tahun mendatang.

Di sinilah, menurut Andy, ketelatenan dan kesabaran menjadi kunci utama. Menteri-menteri yang memiliki latar belakang non-birokrasi, seperti yang berasal dari korporasi atau politik, harus beradaptasi lebih cepat agar dapat menjalankan siklus anggaran dengan baik. Jika tidak, program-program yang baru direncanakan bisa tertunda hingga 2027 atau bahkan lebih.

Kabinet Prabowo terdiri dari beberapa menteri yang sudah berpengalaman di pemerintahan Jokowi serta sejumlah wajah baru yang berasal dari latar belakang politik atau sektor swasta. Andy menyoroti bahwa menteri-menteri berpengalaman, seperti Menteri KKP dan Menteri Agraria, diperkirakan mampu menjalankan program secara lebih lancar karena telah memahami birokrasi pemerintah. Sebaliknya, para menteri yang benar-benar baru mungkin menghadapi tantangan dalam memahami kompleksitas birokrasi dan teknokratik.

Andy mengingatkan bahwa birokrasi pemerintah memang dirancang untuk sulit diubah secara cepat. Sistem birokrasi yang stabil adalah fondasi bagi pemerintahan yang berfungsi secara konsisten, dan perubahan mendadak berisiko menyebabkan kekacauan administrasi yang bisa merugikan masyarakat. Inilah sebabnya, di tengah keinginan Prabowo untuk bergerak cepat, ada aturan dan prosedur yang harus tetap dipatuhi.

Dalam wawancaranya, Andy Widjajanto juga mengungkapkan bahwa mengevaluasi kinerja kabinet dalam 100 hari pertama tidaklah fair, terutama karena periode awal pemerintahan Prabowo masih dalam fase konsolidasi. Ia menyarankan bahwa evaluasi yang lebih objektif dilakukan di akhir tahun pertama atau setelah program dan anggaran 2026 mulai berjalan sesuai dengan visi Prabowo.

Tantangan birokrasi, siklus anggaran yang lamban, serta masa transisi kebijakan dari pemerintahan Jokowi ke Prabowo menuntut kabinet Prabowo untuk bersabar dan berhati-hati. Di tengah keinginan Prabowo untuk bergerak cepat, proses birokrasi yang ketat dan sistem anggaran yang sudah tertata rapi membutuhkan pemahaman mendalam dari para menteri agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kesabaran, ketelatenan, dan kemampuan adaptasi menjadi elemen penting bagi kabinet Prabowo untuk mewujudkan janji-janji pemerintahan dan menghindari jebakan birokrasi yang sering kali melambatkan kinerja kementerian.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pemerintah telah menetapkan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025, yang baru saja disahkan oleh DPR menjadi undang-undang. APBN ini mencerminkan berbagai asumsi makroekonomi yang stabil.

Antara lain pertumbuhan ekonomi di angka 5,2%, inflasi sebesar 2,5%, dan nilai tukar yang diproyeksikan berada di kisaran Rp16.000 per dolar AS. Selain itu, yield obligasi negara dengan tenor 10 tahun diperkirakan mencapai 7%.

Sementara itu, harga minyak mentah berada di level US$82 per barel, dengan lifting minyak sebesar 605 ribu barel per hari dan lifting gas mencapai 1,5 juta barel per hari.

Dalam forum BNI Investor Daily Summit 2024, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan betapa pentingnya postur APBN ini bagi keberlangsungan ekonomi nasional. Terutama di tengah masa transisi menuju pemerintahan baru.

Penerimaan negara diproyeksikan mencapai Rp2.996,9 triliun, mendekati angka Rp3.000 triliun. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Sebagian besar penerimaan tersebut berasal dari pajak, bea cukai, dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Dengan proyeksi penerimaan ini, pemerintah optimis dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memenuhi kebutuhan belanja negara.

Belanja negara pada tahun 2025 diperkirakan mencapai Rp3.613 triliun. Belanja pemerintah pusat sebesar Rp2.693 triliun dan transfer ke daerah mencapai Rp919 triliun. Ini adalah pencapaian tertinggi yang pernah ada.

Defisit anggaran diproyeksikan sebesar 2,53% dari PDB, atau sekitar Rp616 triliun. Untuk memastikan keberlanjutan program-program yang sudah berjalan dan memasukkan program-program prioritas pemerintahan baru, pemerintah melakukan konsultasi dan koordinasi yang intens dengan tim transisi.

Salah satu fokus utama pemerintahan baru adalah meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Sebanyak Rp71 triliun dialokasikan untuk program gizi nasional yang akan dikoordinasikan oleh Badan Gizi Nasional. Selain itu, pemerintahan baru juga mengalokasikan Rp3,2 triliun untuk program pemeriksaan kesehatan gratis, serta mempercepat pembangunan rumah sakit berkualitas di berbagai daerah.

Dalam bidang pendidikan, pemerintahan baru berkomitmen untuk memperbaiki sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Alokasi sebesar Rp20 triliun disiapkan untuk memperbaiki ruang kelas dan sekolah. Selain itu untuk membangun sekolah unggulan terintegrasi di empat lokasi strategis. Hal ini bertujuan untuk menyediakan fasilitas pendidikan berkualitas bagi siswa-siswa berbakat di seluruh Indonesia.

Pemerintahan baru juga menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas utama dengan alokasi anggaran sebesar Rp15 triliun untuk pembangunan lumbung pangan nasional. Program ini mencakup intensifikasi dan ekstensifikasi produksi padi serta hortikultura di berbagai daerah.

Selain itu, pemerintah akan terus mendorong transisi energi hijau, yang menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ekonomi berkelanjutan.

Dukungan fiskal dalam bentuk tax holiday dan insentif juga akan diberikan untuk mendukung program-program transisi energi hijau serta pengembangan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sejumlah program afirmasi yang telah berjalan di era Presiden Jokowi, seperti program Kredit Usaha Rakyat (KUR), UMi, dan Mekar, akan terus diperkuat guna mendukung UMKM, nelayan, petani, dan pekerja migran.

Di sektor keuangan, undang-undang P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan) yang baru disahkan akan menjadi fondasi bagi penguatan sektor keuangan nasional. Pemerintah juga fokus pada pembangunan pasar karbon, yang diharapkan dapat mendukung transisi ekonomi menuju ekonomi hijau dan memperkuat pasar modal Indonesia. Selain itu, pengaturan terkait cryptocurrency juga menjadi perhatian, seiring dengan berkembangnya teknologi dan inovasi di sektor keuangan.

Sri Mulyani menutup pidatonya dengan menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi yang baik dalam masa transisi ini agar pemerintahan baru dapat memulai dengan kuat dan kredibel. Ia juga menggarisbawahi pentingnya transparansi kepada publik dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dan tujuan investasi yang diperhitungkan secara global.

Dengan fondasi yang telah dibangun dalam APBN 2025, pemerintah berharap mampu menjaga optimisme dan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Program-program prioritas yang telah dirancang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga untuk menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.(c@kra)