3 November 2026

Bansos

MoneyTalk, Jakarta – Telinga yang kerap mendengar kebohongan demi kebohongan akan sulit mendengar suara-suara kebenaran. Itulah mengapa Joseph Goebbels ahli agitasi dan propaganda Nazi Jerman, terus menerus mengumandangkan kebohongan demi kebohongan, agar orang lama-lama menerimanya sebagai kebenaran.

Jokowi sadar benar akan hal ini, itulah sebabnya Jokowi selalu menebar kebohongan dari waktu ke waktu.

Pertama bilang ia tidak suka pinjam ke luar negeri, tidak suka Bansos, Balsem, BLT dll., ternyata begitu jadi presiden dia rajin bagi-bagi Bansos, bahkan lebih parahnya lagi ditujukan untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas diri dan anaknya sendiri.

Kedua, Jokowi sewaktu masih jadi Gubernur, dia mengendarai mobil dinas yang jauh lebih murah dari mobilnya kepala-kepala dinas, sampai-sampai banyak orang yang terkagum-kagum padanya ketika Jokowi berkunjung ke kantor-kantor kelurahan. Jokowi juga sampai pernah masuk ke gorong-gorong untuk memeriksa pengerjaan proyeknya.

Ternyata tidak tahunya setelah Jokowi jadi presiden, dia selalu menggunakan mobil-mobil mewah dan selalu bikin gorong-gorong politik untuk memanipulasi hukum sebagai jalan masuk anaknya berkuasa!

Ketiga, Jokowi bilang anaknya tidak ada yang berminat terjun ke politik, eee…ternyata aslinya kemaruk politik semua sampai ke menantu-menantunya, walaupun harus menjarah kedaulatan rakyatnya.

Keempat, Jokowi bilang setelah tak lagi jadi presiden dia akan diam di Solo, namun ternyata malah bergentayangan kemana-mana jadi Makelar Pilkada.

Kalau sudah begini, saya harus bilang apa? Bilang Jokowi orang baik? Jokowi pemimpin adil? Jokowi tidak korup? Jokowi tidak ndablek? Jokowi taat konstitusi dan segudang bualan-bualan lainnya?

No! Saya tidak memiliki karakter orang yang suka mengada-ada seperti itu! Saya tidak mungkin bisa dipaksa untuk bersimpati dan berempati pada orang-orang rakus, tamak dan gemar membohongi rakyatnya seperti itu!

Saya lebih memilih untuk mau mendengar suara kebatinan rakyat kecil dan lemah, kaum marginal, dhuafa/mustadh’afin yang teredam. Juga berusaha mendengar suara siapapun mau orang lemah, kuat atau orang elite yang diperlakukan tidak adil.

Saya lebih senang memperjuangkan aspirasi mereka, baik melalui tulisan maupun melalui lobi-lobi politik di lingkaran elite kekuasaan, baik terang-terangan maupun secara senyap, apapun resikonya!

Rawe-rawe rantas malang-malang putung ! (SHE)

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer, Jurnalis, Analis Politik dan Aktivis ’98.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam tayangan terbaru di Kanal Bossman Mardigu pada Sabtu (28/09), Mardigu Wowiek membahas narasi mengejutkan yang menyebutkan bahwa proyek pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) bukanlah keputusan Presiden Jokowi, melainkan keputusan rakyat. Sebuah pernyataan yang dianggap aneh dan penuh dengan manipulasi oleh Mardigu. Menurutnya, pernyataan tersebut merupakan bentuk gaslighting, di mana Presiden Jokowi mencoba mengalihkan tanggung jawab dari dirinya ke rakyat dengan cara yang sangat tidak masuk akal.

Mardigu menyebutkan, tindakan seperti ini adalah bagian dari penyakit kejiwaan narsistik (NPD). Di mana seorang pemimpin selalu berusaha menghindar dari tanggung jawab dengan mencari kambing hitam. Dalam hal ini, rakyat menjadi sasaran yang disalahkan atas kegagalan proyek besar seperti IKN. Ia juga mengkritik cara Jokowi dan pemerintahannya menggunakan strategi “love bombing”—berbagi jabatan dan bantuan sosial (Bansos) untuk menjaga citra positif dan dukungan dari masyarakat.

Bansos yang dibagikan pemerintah seringkali diterima rakyat dengan ucapan terima kasih, tanpa mengetahui bahwa dana tersebut sebenarnya berasal dari pajak yang dibayar oleh rakyat sendiri. Dalam pandangan Mardigu, hal ini adalah bentuk manipulasi untuk membangun citra baik, sementara rakyat dibuat lupa bahwa utang negara meningkat tajam untuk membiayai kebijakan seperti proyek IKN.

Lebih lanjut, Mardigu mengungkap fakta bahwa 93% anggota DPR menyetujui Rancangan Undang-Undang IKN dengan sangat cepat—hanya dalam waktu 41 hari. Proses yang begitu kilat ini dianggap sebagai tanda bahwa DPR saat ini lebih berfungsi sebagai “tukang stempel” pemerintah daripada lembaga yang benar-benar mewakili suara rakyat. Tidak ada ruang yang cukup untuk debat atau diskusi mendalam terkait dampak proyek ini bagi masyarakat luas, lingkungan, dan ekonomi nasional.

Undang-undang ini disahkan seolah-olah atas nama rakyat, tetapi Mardigu menegaskan bahwa dalam kenyataannya, keputusan tersebut tidak pernah melalui konsultasi yang benar dengan rakyat. Semua dikendalikan oleh elite politik yang bermain dalam kancah perencanaan strategis nasional, termasuk proyek IKN.

Pemindahan IKN telah lama dipandang sebagai salah satu proyek ambisius Jokowi yang diharapkan menjadi legasi besar di akhir masa jabatannya. Namun, menjelang akhir masa pemerintahan Jokowi, proyek ini menghadapi banyak kendala, termasuk masalah pembebasan lahan, sumber pembiayaan, hingga kesiapan infrastruktur. Mardigu mempertanyakan, mengapa proyek ini dikejar begitu cepat dan keras, sementara banyak kritik dan masukan dari berbagai pihak diabaikan.

Banyak pihak menduga bahwa proyek ini lebih didorong oleh kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sepenuhnya transparan. Terdapat dugaan bahwa proyek ini juga menjadi salah satu “jual beli” Jokowi dengan negara-negara tertentu. Seperti China yang tertarik berinvestasi di wilayah tersebut.

Seiring dengan semakin terlihatnya kegagalan dalam memindahkan ibu kota pada waktu yang telah ditargetkan, Jokowi kini mencari cara untuk melepaskan tanggung jawab. Salah satu caranya adalah dengan mengalihkan beban kepada rakyat, dengan narasi bahwa ini adalah keputusan seluruh rakyat, bukan ambisi pribadinya.

Pernyataan semacam ini, menurut Mardigu adalah bentuk klasik dari pemimpin yang tidak mau disalahkan. Proyek IKN yang awalnya diproyeksikan sebagai simbol kemajuan dan kebanggaan nasional kini terancam gagal total. Namun, alih-alih menerima tanggung jawab atas kegagalan tersebut, Jokowi justru melempar kesalahan kepada rakyat dengan menyatakan bahwa keputusan ini adalah suara mayoritas.

Mardigu menutup tayangannya dengan mengingatkan rakyat bahwa IKN bukanlah proyek kecil. Triliunan rupiah dari APBN digelontorkan untuk mendukung ambisi Jokowi. Kegagalan dalam mengelola proyek sebesar ini dapat menimbulkan kerugian besar bagi negara dan masyarakat. Menurutnya, perlu ada pemeriksaan yang mendalam terkait pembiayaan proyek IKN dan kemungkinan adanya kerugian negara.

Mardigu juga menyerukan agar rakyat lebih kritis terhadap narasi-narasi yang dilontarkan oleh pemimpin mereka, terutama ketika narasi tersebut digunakan untuk menghindar dari tanggung jawab.

“IKN adalah proyek ambisius Jokowi, bukan keinginan rakyat. Sekarang ketika gagal, kok malah rakyat yang disalahkan?” tanyanya dengan tegas.

Hal ini mencerminkan kritik keras terhadap narasi pemerintah yang mencoba menggambarkan proyek IKN sebagai keputusan rakyat. Dalam kenyataannya, keputusan tersebut didorong oleh ambisi politik Presiden Jokowi dan didukung oleh DPR yang dianggap sebagai alat stempel pemerintah. Ketika proyek ini menemui hambatan, justru rakyat yang dijadikan kambing hitam. Manipulasi psikologis seperti gaslighting dan love bombing digunakan untuk mempengaruhi persepsi publik, sementara masalah-masalah nyata yang dihadapi proyek IKN diabaikan.(c@kra)

JAKARTA, MoneyTalk – Presiden Joko Widodo secara resmi meluncurkan kegiatan penyaluran cadangan beras pemerintah untuk bantuan pangan tahun 2023. Kegiatan tersebut digelar di Perum Bulog Pusat Distribusi Ngabeyan, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini saya luncurkan penyaluran cadangan beras pemerintah untuk bantuan pangan tahun 2023,” ujar Presiden dalam sambutannya.

Presiden menyebut bahwa kegiatan penyaluran cadangan beras pemerintah tersebut akan dilakukan selama tiga bulan ke depan. Nantinya, setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan bantuan 10 kg beras setiap bulannya.

“Dan ini nanti akan segera kita salurkan ke kabupaten/kota di Solo Raya dan secara nasional semuanya yang diberi bantuan pangan sebanyak 21,3 juta keluarga,” ungkap Presiden.

Presiden berharap bantuan pangan berupa penyaluran cadangan beras pemerintah tersebut akan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Selain itu, bantuan pangan ini juga diharapkan dapat membantu mengendalikan harga beras di pasaran.

“Kita harapkan dengan bantuan pangan ini kita juga bisa menurunkan harga beras,” ucap Presiden.

Presiden pun memastikan ketersediaan beras di sejumlah daerah di Tanah Air masih terkendali. Hal ini dikarenakan panen raya masih berlangsung di sejumlah provinsi di Tanah Air, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sulawesi Selatan.

“Jadi masalah pasokan, supply tidak ada masalah karena memang pas panen raya,” tutur Presiden.

Meski demikian, Presiden mengatakan bahwa pemerintah akan tetap melakukan impor beras. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi pemerintah dalam menghadapi El Nino.

“Itu untuk jaga-jaga, untuk cadangan strategis untuk beras pemerintah, untuk jaga-jaga karena persiapan ada El Nino,” ujar Presiden.

BANDUNG, MoneyTalk – Pemerintah berupaya melakukan pengendalian harga pangan di bulan Ramadhan hingga Lebaran dengan pemberian bantuan sosial kepada masyarakat.

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengingatkan pentingnya validasi data terutama Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) supaya distribusi bansos tepat sasaran.

“Momen Ramadhan berbagai harga produk mengalami lonjakan. Termasuk komoditi pangan mengalami fluktuasi harga. Sebenarnya dalam hal ini pemerintah gagal dalam mengendalikan harga yang dampaknya memberatkan masyarakat, terutama kelompok rentan. Dengan adanya bansos, kita apresiasi sebagai satu langkah menjaga stabilitas harga pangan,” tutur LaNyalla di sela kunjungan kerja di Bandung, Rabu (5/4/2023).

Pemberian bansos kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) akan membantu kesulitan masyarakat pada Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri mendatang.

Yang kemudian perlu dipikirkan, menurut LaNyalla adalah data yang valid agar pendistribusian bansos bisa tepat sasaran. Karena persoalan DTKS ini selalu bermasalah sejak awal. Mulai dari NIK ganda, orang yang sudah meninggal maupun pindah masih tercantum, hingga ketidaksamaan data antara Dukcapil Kabupaten/Kota dengan Dukcapil Kemendagri.

“Makanya data terpadu ini sebaiknya sudah valid dan benar-benar update. Sehingga program berjalan baik tanpa muncul konflik dan bisa tepat sasaran,” ucap dia.

Selain validasi, ditambahkan LaNyalla, dibutuhkan kontrol, monitoring dan pendampingan sehingga semua berjalan optimal.

“Inilah pentingnya peran dan sinergi pihak terkait. Seperti misalnya antara Bulog, Dinas Sosial dan Pemerintah Daerah hingga tingkat pemerintah desa dan lainnya,” tegasnya.

Di sisi lain, LaNyalla mengkhawatirkan fluktuasi harga bisa terjadi hingga pasca lebaran. Sebab ketidakstabilan harga akan berdampak domino pada sektor lain, seperti sektor transportasi dan perdagangan.

“Makanya saya mewanti-wanti pemerintah benar-benar melakukan pengendalian harga agar tidak terus menerus mengalami inflasi,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui Pemerintah menyiapkan enam bansos yang akan
cair di bulan Ramadhan hingga Idul Fitri yakni bansos pangan, PKH, BPNT, bantuan miskin ekstrem, bansos BPJS Kesehatan, serta bansos BKKBN.[MT]

JAKARTA, MoneyTalk – Presiden Joko Widodo mengunjungi Pasar Malindungi, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Kamis, 30 Maret 2023. Di sana, Presiden membagikan sejumlah bantuan sosial dan sembako kepada masyarakat penerima manfaat dan para pedagang.

“Ini bantuan Rp1,2 juta untuk tambahan modal,” ucap Presiden seraya memberikan bantuan langsung kepada pedagang.

Tidak hanya itu, Presiden Jokowi juga beberapa kali mengobrol dengan pedagang untuk menanyakan secara langsung kondisi harga kebutuhan pokok.

“Ini berapa?,” tanya Presiden kepada seorang pedagang bawang merah.

“Rp35 ribu, Pak,” jawab pedagang.

Kepala Negara juga terlihat membeli produk yang dijual oleh salah satu pedagang di sana. Yuni, penjual produk UMKM mengatakan bahwa dirinya merasa senang karena produknya dibeli langsung oleh Presiden.

“Tadi belinya 4 yang krispinya dan beras organiknya 1, dikasih uang kurang lebih Rp300 ribu. Senang bisa dipilih langsung sama orang nomor satunya Indonesia,” cerita Yuni.

Turut mendampingi Presiden adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, dan Bupati Luwu Timur Budiman.[MT]