MoneyTalk, Jakarta – Telinga yang kerap mendengar kebohongan demi kebohongan akan sulit mendengar suara-suara kebenaran. Itulah mengapa Joseph Goebbels ahli agitasi dan propaganda Nazi Jerman, terus menerus mengumandangkan kebohongan demi kebohongan, agar orang lama-lama menerimanya sebagai kebenaran.
Jokowi sadar benar akan hal ini, itulah sebabnya Jokowi selalu menebar kebohongan dari waktu ke waktu.
Pertama bilang ia tidak suka pinjam ke luar negeri, tidak suka Bansos, Balsem, BLT dll., ternyata begitu jadi presiden dia rajin bagi-bagi Bansos, bahkan lebih parahnya lagi ditujukan untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas diri dan anaknya sendiri.
Kedua, Jokowi sewaktu masih jadi Gubernur, dia mengendarai mobil dinas yang jauh lebih murah dari mobilnya kepala-kepala dinas, sampai-sampai banyak orang yang terkagum-kagum padanya ketika Jokowi berkunjung ke kantor-kantor kelurahan. Jokowi juga sampai pernah masuk ke gorong-gorong untuk memeriksa pengerjaan proyeknya.
Ternyata tidak tahunya setelah Jokowi jadi presiden, dia selalu menggunakan mobil-mobil mewah dan selalu bikin gorong-gorong politik untuk memanipulasi hukum sebagai jalan masuk anaknya berkuasa!
Ketiga, Jokowi bilang anaknya tidak ada yang berminat terjun ke politik, eee…ternyata aslinya kemaruk politik semua sampai ke menantu-menantunya, walaupun harus menjarah kedaulatan rakyatnya.
Keempat, Jokowi bilang setelah tak lagi jadi presiden dia akan diam di Solo, namun ternyata malah bergentayangan kemana-mana jadi Makelar Pilkada.
Kalau sudah begini, saya harus bilang apa? Bilang Jokowi orang baik? Jokowi pemimpin adil? Jokowi tidak korup? Jokowi tidak ndablek? Jokowi taat konstitusi dan segudang bualan-bualan lainnya?
No! Saya tidak memiliki karakter orang yang suka mengada-ada seperti itu! Saya tidak mungkin bisa dipaksa untuk bersimpati dan berempati pada orang-orang rakus, tamak dan gemar membohongi rakyatnya seperti itu!
Saya lebih memilih untuk mau mendengar suara kebatinan rakyat kecil dan lemah, kaum marginal, dhuafa/mustadh’afin yang teredam. Juga berusaha mendengar suara siapapun mau orang lemah, kuat atau orang elite yang diperlakukan tidak adil.
Saya lebih senang memperjuangkan aspirasi mereka, baik melalui tulisan maupun melalui lobi-lobi politik di lingkaran elite kekuasaan, baik terang-terangan maupun secara senyap, apapun resikonya!
Rawe-rawe rantas malang-malang putung ! (SHE)
Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer, Jurnalis, Analis Politik dan Aktivis ’98.





