1 November 2026

Cawapres

MoneyTalk, Jakarta – Gibran Rakabuming Raka alias putra Mulyono terbukti tidak memenuhi syarat untuk menjadi calon Wakil Presiden R.I. Berdasarkan Pasal 169 huruf q UU No 7/2017, syarat minimum usia capres cawapres adalan 40 tahun. Saat mendaftar tanggal 25 Oktober 2023, usia Gibran belum genap 40 tahun. Gibran masih bocil.

Gibran ditolong sang Paman Usman, melalui putusan MK No. 90. Tapi, lagi-lagi Gibran tetap tidak sah diterima sebagai Cawapres. Karena saat mendaftar tanggal 25 Oktober 2023, Peraturan KPU (PKPU) Nomor 19 Tahun 2023 belum diubah.

Peraturan KPU (PKPU) Nomor 19 Tahun 2023 tetap mewajibkan syarat Capres Cawapres harus minimun 40 tahun. Gibran diterima dan ditetapkan sebagai Cawapres oleh KPU, padahal usianya masih bocil.

PKPU baru diubah setelah pendaftaran Gibran selesai, yakni tanggal 3 November 2023. Itu artinya, ada cacat prosedur dan substansi. Secara prosedur, KPU telah salah menerima Gibran sebelum mengubah PKPU. Secara substansi, usia Gibran belum genap 40 tahun sehingga tidak bisa ditetapkan sebagai Cawapres berdasarkan PKPU sebelumnya.

Karena Gibran cacat atau tidak sah sebagai Cawapres, otomatis tidak sah atau cacat sebagai Wapres, sehingga batal demi hukum. Tidak boleh dilantik.

Kalau tetap dilantik, maka Indonesia bukan negara hukum, melainkan negara Jokowi. Kalau tetap dilantik, berarti negara telah menjadi alat kekuasaan Jokowi.

Kalaupun Gibran dilantik, karena dorongan kekuasaan Jokowi. Maka pascadilantik harus segera dimakzulkan. Bisa dengan dasar tidak memenuhi syarat karena belum 40 tahun maupun karena skandal FUFUFAFA, sehingga tak layak karena tak sehat jasmani dan ruhani. Kalau tetap tidak dimakzulkan, ah sudahlah anggap saja Indonesia tidak memiliki wapres. Jika Presiden meninggal, Wapres tak boleh otomatis menjadi presiden karena cacat sejak awal.

Sekarang, saatnya semua elemen anak bangsa menyuarakan penolakan terhadap Gibran. Aib bangsa ini harus diakhiri sampai di sini, jangan diwariskan kepada anak cucu.

Jangan sampai generasi saat ini jadi bahan tertawaan anak cucu, karena terlihat lucu membiarkan cawapres tak memenuhi syarat tetap dilantik. Lagipula, agar bangsa Indonesia bisa membusungkan dada di hadapan bangsa dunia.

Kalau wapresnya Gibran, jangankan membusungkan dada, menampakkan wajah saja malu. Malu, punya wapres masih bocil yang tak memenuhi syarat, tapi tetap dilantik.

Malu, hukum dikangkangi oleh bocil, tapi tak berdaya. NKRI mati harga di hadapan dinasti politik Jokowi.

Demikian disampaikan oleh Ahmad Khozinudin, Sastrawan Politik.[]

JAKARTA, MoneyTalk – Jika akhirnya: PDIP-PPP-PAN deklarasikan Ganjar Pranowo-Erick Thohir sebagai Capres-Cawapres 2024. Bocoran Hasnaeni si Wanita Emas itu hampir mendekati kebenaran.

Beberapa waktu lalu publik dihebohkan oleh pengakuan Hasnaeni soal perbincangannya dengan Ketua KPU Hasyim Asyari. Lalu dibocorkan sebagai keputusan KPU nanti?

Kalau mencermati strategi PDIP dengan mengumkan Ganjar Pranowo sebagai capresnya.

Dan, lalu alotnya perebutan posisi cawapres antara Sandiaga Uno dan Erick Thohir. Dan Peta dukungan Erick Thohir oleh Dekan Fisip Universitas Hasanuddin (Unhas): Erick Thohir punya kans besar sebagai cawapres Ganjar.

Melihat Getolnya Jokowi sebagai ‘Ketua Timses Ganjar’ dan menjadikan Istana sebagai posko pemenangan Ganjar. Nampaknya tidak sulit pasangan capres-cawapres: Ganjar-Erick ditetapkan sebagai capres-cawapres yang akan diresmikan.

Jika Jokowi sebagai presiden turun langsung mengepalai ‘Timses Ganjar’, dan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP telah merestui Ganjar, kemenangan Ganjar tinggal menunggu pilpres digelar.

Apalagi pilpres 2024 adalah pertarungan terakhir bagi Jokowi untuk menentuka Khusnul Khatimah atau Suul Khotimah.

Demikian juga Megawati. Akan lengser sebagai Ketua Umum PDIP dengan tenang dan aman atau mantan presiden itu gelisah karena PDIP juga ikut jadi taruhan nasibnya di pileg dan pilpres 2024 nanti.

Bertemunya dua kepentingan: antara Megawati sebagai Ketum PDIP dan Jokowi sebagai Petugas Partai, Ketua Timses Ganjar, Presiden dan kepala negara pasti all out.

Apalagi sudah ada bocoran Hasnaeni. Soal Ganjar-Erick. Dapatkah KPU bekerja sesuai amanat konsitusi dan amanat rakyat?

Sulit dibantah KPU dan Bawaslu dapat bekerja secara profesional jika Jokowi dan Megawati kompak memenangkan Ganjar.

Lalu, pasangan capres-cawapres selain Ganjar-Erick bisa diperlakukan secara adil sesuai ketentuan pemilu?

Saat ini Megawati adalah manusia terkuat: Presiden adalah Petugas Partai, Ketua DPR, Puan Maharani, puterinya. Suatu kekuatan yang dikatakan powerfull. Semua terpulang ke Rakyat Indonesia.

Meski demikian, sejarah terkadang berbicara dengan alurnya sendiri. Sebagaimana Pak Harto. Disaat kuatnya sebagai manusia terkuat di Asia menurut media, toh akhir nya tidak dapat menahan kekuatan rakyat. (MT)

Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerakan Perubahan