30 Oktober 2026

Dedi Mulyadi

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM perlu dicermati arah politiknya menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Di tengah popularitasnya sebagai kepala daerah, Muslim melihat kemungkinan Dedi membangun kekuatan politik sendiri yang tidak sepenuhnya sejalan dengan Presiden Prabowo Subianto.

Muslim bahkan menilai KDM berpotensi berkiblat kepada kelompok politik yang diasosiasikan dengan Solo, terutama lingkaran politik Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Muslim, dinamika tersebut perlu menjadi perhatian Gerindra dan Prabowo. Sebab, dukungan politik seseorang terhadap pemerintahan tidak otomatis menjamin kesetiaan jangka panjang ketika kepentingan dan kalkulasi menuju Pilpres 2029 mulai mengemuka.

“Prabowo perlu mewaspadai manuver politik KDM. Jangan sampai dukungan yang terlihat sekarang justru menjadi bagian dari strategi membangun kekuatan untuk kepentingan politiknya sendiri pada 2029,” kata Muslim kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Muslim menyoroti pola komunikasi politik KDM ketika ditanya mengenai kemungkinan pencalonannya sebagai presiden pada 2029.

Dedi, menurut Muslim, cenderung mengarahkan jawaban pada pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai Gubernur Jawa Barat. Sikap tersebut dinilai menyerupai pola komunikasi politik Joko Widodo ketika masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Pada masa itu, Jokowi kerap menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang berfokus menyelesaikan persoalan Jakarta. Namun, perjalanan politiknya kemudian bergerak ke tingkat nasional hingga menjadi calon presiden pada Pilpres 2014.

Bagi Muslim, pola komunikasi semacam itu menarik dicermati karena pernyataan tidak memikirkan pencalonan presiden belum tentu menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan seseorang membangun modal politik untuk masa depan.

Popularitas melalui pemberitaan, aktivitas di lapangan, komunikasi dengan masyarakat, serta kemampuan membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat dapat menjadi modal penting dalam kompetisi politik nasional.

Muslim juga menilai KDM berpotensi menjajaki peluang politik bersama Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.

Dalam pembacaannya, kemungkinan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun poros politik yang memiliki basis popularitas dan jaringan tersendiri. Dedi memiliki panggung politik di Jawa Barat, sedangkan Gibran menempati posisi strategis sebagai wakil presiden.

Jika kedua tokoh itu benar-benar membangun kerja sama politik, kombinasi tersebut berpotensi menghadirkan konfigurasi baru dalam persaingan menuju kursi kepresidenan.

Karena itu, yang lebih penting untuk dicermati saat ini bukan hanya siapa yang berpotensi berpasangan dengan siapa, melainkan bagaimana para tokoh membangun pengaruh, menjaga hubungan dengan partai, dan mempersiapkan posisi tawar menjelang kontestasi nasional.

Muslim melihat bahwa apabila Dedi membangun jalur politik yang semakin dekat dengan kelompok Jokowi dan Gibran, Gerindra perlu menghitung konsekuensinya terhadap keseimbangan kekuatan politik di dalam pemerintahan.

Persoalan lain yang disoroti Muslim adalah perjalanan politik KDM, yang pernah berada di Partai Golkar sebelum bergabung dengan Partai Gerindra.

Perpindahan partai tersebut, menurut pembacaan Muslim, memunculkan pertanyaan mengenai dasar loyalitas politik Dedi. Apakah pilihannya didasarkan pada kesamaan ideologi dan platform perjuangan, atau lebih ditentukan oleh perhitungan strategis serta peluang memperoleh posisi politik?

Muslim cenderung melihat Dedi sebagai politisi pragmatis, bukan kader yang identitas politiknya sepenuhnya dibentuk oleh ideologi Gerindra.

Bagi Gerindra, persoalannya bukan semata-mata apakah seorang kader pernah menjadi anggota partai lain. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah seberapa kuat komitmennya terhadap garis perjuangan partai, bagaimana konsistensi sikap politiknya, dan apakah kepentingan pribadinya berpotensi berbenturan dengan agenda organisasi.

Muslim mengingatkan bahwa hubungan antara Prabowo dan para tokoh di lingkaran pemerintahan tidak cukup dinilai berdasarkan pernyataan dukungan di ruang publik.

“Kepentingan politik menjelang 2029 berpotensi mengubah hubungan antarelite,” tegasnya.

Prabowo, sebagai Presiden sekaligus tokoh utama Gerindra, perlu memastikan bahwa partainya memiliki kader yang konsisten memperjuangkan agenda organisasi. Popularitas seorang kepala daerah memang dapat menjadi aset elektoral, tetapi popularitas juga dapat berkembang menjadi kekuatan politik mandiri apabila tidak diimbangi ikatan organisasi yang kuat.

Dalam situasi seperti itu, Gerindra perlu membedakan antara dukungan terhadap pemerintahan dan komitmen terhadap partai. Keduanya bisa berjalan searah, tetapi tidak selalu identik.

Apabila Dedi Mulyadi memiliki ambisi politik nasional, hal tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Persoalannya muncul jika langkah politik seorang kader bertentangan dengan kesepakatan organisasi atau digunakan untuk membangun poros tandingan tanpa komunikasi yang jelas dengan partai.

Karena itu, kewaspadaan yang dimaksud bukan berarti Prabowo harus langsung mencurigai setiap manuver Dedi. Sebaliknya, Gerindra perlu membaca perkembangan politik secara objektif, memperkuat konsolidasi internal, serta mengukur loyalitas melalui tindakan nyata.

Dedi Mulyadi memiliki keuntungan politik karena menjabat Gubernur Jawa Barat, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Aktivitasnya sebagai kepala daerah juga memberinya panggung untuk menjangkau masyarakat secara luas.

Modal tersebut dapat memperkuat posisinya dalam politik nasional. Namun, untuk menjadi calon presiden, popularitas saja tidak cukup. Ia tetap membutuhkan dukungan partai, jaringan politik lintas daerah, sumber daya organisasi, dan penerimaan dari berbagai kelompok masyarakat.

Hal serupa berlaku jika muncul wacana duet dengan Gibran. Kedekatan politik dua tokoh tidak otomatis menghasilkan tiket pencalonan, karena keputusan tersebut akan melibatkan kepentingan partai-partai dan perhitungan koalisi.

Pada akhirnya, penilaian Muslim Arbi mengenai arah politik KDM menggarisbawahi satu persoalan penting: persaingan menuju Pilpres 2029 berpotensi berkembang jauh sebelum masa kampanye resmi dimulai.

“Bagi Prabowo dan Gerindra, tantangannya adalah membedakan spekulasi dari indikator politik yang nyata. Jika terdapat tanda-tanda perubahan arah dukungan, partai perlu mengkajinya secara serius,” pungkas Muslim.

MoneyTalk.id,Jakarta – Ketidakhadiran Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto menuai sorotan politik. Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai, absennya Dedi berpotensi memunculkan pertanyaan mengenai loyalitas politiknya kepada Prabowo dan Partai Gerindra.

Muslim menduga, Dedi mulai menunjukkan sikap politik yang lebih mandiri seiring meningkatnya popularitas dan munculnya namanya dalam bursa calon presiden 2029.

” KDM mulai membelot dan melawan Prabowo. Dia merasa percaya diri dengan hasil berbagai survei yang menempatkan dirinya di atas Prabowo. Ini bisa menjadi modal politik bagi KDM untuk membangun ambisi yang lebih besar pada Pilpres 2029,” kata Muslim Arbi dalam keterangannya, Ahad (25/10/2026).

Menurut Muslim, ketidakhadiran Dedi dalam acara nasional yang dihadiri Presiden Prabowo layak menjadi bahan evaluasi politik. Terlebih, Dedi merupakan kader Gerindra yang sebelumnya menyatakan dukungan untuk memenangkan Prabowo pada Pemilu 2024.

“Kalau seorang kader partai yang juga menjabat gubernur tidak hadir dalam agenda yang dihadiri presiden, tentu publik bisa bertanya. Apakah ini murni persoalan pekerjaan pemerintahan atau ada dinamika politik yang lebih besar? Ini perlu dicermati,” ujarnya.

Muslim mengaitkan dugaan meningkatnya kepercayaan diri Dedi dengan hasil survei elektabilitas calon presiden 2029 yang dirilis Tempo Data Science pada Agustus 2026.

Berdasarkan survei yang dilakukan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026 terhadap 1.260 responden di 38 provinsi, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas 41 persen dalam simulasi pemilihan presiden, sedangkan Prabowo Subianto memperoleh 15 persen. Anies Baswedan berada di posisi berikutnya dengan 10 persen.

Survei tersebut menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen. Hasil ini merupakan potret pendapat responden pada periode survei, bukan kepastian hasil Pemilu 2029. (Katadata Databoks, 27 Agustus 2026).

Muslim menilai angka tersebut dapat memperkuat posisi tawar Dedi dalam percaturan politik nasional.

“Ketika seorang kepala daerah memperoleh angka elektabilitas tinggi, tentu muncul peluang untuk membangun kekuatan politik sendiri. Persoalannya, apakah popularitas itu akan digunakan untuk memperkuat Gerindra dan mendukung Prabowo atau justru menjadi kendaraan menuju pencalonan presiden,” kata Muslim.

Ia menduga, apabila ambisi politik Dedi berkembang menuju Pilpres 2029, bukan tidak mungkin terjadi perubahan hubungan politik dengan Gerindra.

“Jangan sampai setelah memperoleh keuntungan politik dan popularitas melalui partai, kemudian ketika merasa memiliki peluang lebih besar, justru meninggalkan partai yang telah membesarkannya. Politik harus dibangun dengan konsistensi dan komitmen,” ujarnya.

Muslim juga menyoroti perjalanan politik Dedi Mulyadi yang pernah menjadi kader Partai Golkar sebelum bergabung dengan Gerindra pada 2023.

Berdasarkan pemberitaan ANTARA pada 19 Agustus 2023, Dedi sebelumnya merupakan politikus Golkar yang pernah menjabat Ketua DPD Golkar Jawa Barat. Ia kemudian bergabung dengan Gerindra dan dipercaya menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina partai tersebut.

Saat bergabung dengan Gerindra, Dedi menyatakan kesediaannya menjalankan tugas untuk memenangkan Prabowo dan Partai Gerindra pada Pemilu 2024.

Bagi Muslim, riwayat perpindahan partai tersebut menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan dalam membaca arah politik Dedi ke depan.

“Dia pernah meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Gerindra. Kalau pada 2029 nanti peluang politiknya terbuka untuk maju sebagai calon presiden, kemungkinan meninggalkan Gerindra juga perlu diperhitungkan. Tetapi, itu masih dugaan politik, bukan sesuatu yang sudah diputuskan KDM,” kata Muslim.

Ia menilai, dinamika menuju Pilpres 2029 akan sangat dipengaruhi oleh hasil survei, dukungan partai politik, serta hubungan antarelite.

Muslim juga mengingatkan bahwa tingginya elektabilitas dalam survei belum otomatis membuat seseorang dapat maju sebagai calon presiden. Dukungan partai politik dan pemenuhan ketentuan pencalonan tetap menjadi faktor penting.

Sementara itu, ketidakhadiran Dedi dalam Rakornas TPAKD pada Kamis, 22 Oktober 2026, telah dijelaskan oleh yang bersangkutan.

Dikutip dari ANTARA pada 23 Oktober 2026, Dedi menyatakan dirinya sedang memimpin penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Dedi menyebut penanganan kebakaran tersebut menjadi prioritas berdasarkan arahan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Ia juga mengatakan telah melaporkan situasi itu kepada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Dalam acara tersebut, Prabowo sempat mempertanyakan keberadaan Dedi ketika menyapa kepala daerah yang hadir.

“Ke mana KDM? Yang paling dekat enggak hadir malah. Pasti sibuk,” ujar Prabowo, sebagaimana diberitakan ANTARA.

Dedi kemudian menjelaskan bahwa dirinya berfokus pada penanganan kebakaran. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berkoordinasi dengan sejumlah unsur pemerintah pusat dan aparat untuk mempercepat pemadaman.

Penjelasan tersebut menjadi catatan penting bahwa ketidakhadiran Dedi memiliki alasan kedinasan yang disampaikannya secara terbuka. Karena itu, dugaan bahwa absennya Dedi merupakan bentuk perlawanan politik terhadap Prabowo masih memerlukan bukti tambahan.

Meski demikian, Muslim berpandangan bahwa hubungan Dedi dengan Gerindra dan Prabowo akan menarik untuk diamati seiring menguatnya pembicaraan mengenai Pilpres 2029.

“Yang perlu dilihat bukan hanya satu kali ketidakhadiran, tetapi bagaimana konsistensi sikap politiknya ke depan. Apakah tetap berada dalam barisan Gerindra dan mendukung Prabowo, atau memilih jalan politik sendiri ketika peluang menuju Pilpres 2029 terbuka,” pungkas Muslim.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat militer dan politik Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menilai mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi tengah membangun konsentrasi kekuatan politik di Jawa Barat.

Menurut Selamat, perkembangan tersebut perlu diperhatikan karena Jawa Barat memiliki posisi strategis dalam peta politik nasional. Ia menyebut Jokowi sedang menjalankan manuver politik dengan melihat bagaimana respons berbagai kekuatan politik terhadap langkah-langkah yang dilakukan.

“Jokowi mengonsentrasikan ekosistemnya di Jawa Barat. Jokowi ini sedang menjalankan jurus politik dewa mabuk, ingin melihat reaksi Gerindra,” kata Selamat Ginting di podcast Forum Keadilan Madilog, Ahad (27/9/2026).

Ia bahkan menggambarkan Jokowi sebagai kekuatan politik yang menurutnya dapat menjadi “bahaya laten” apabila tidak diperhitungkan oleh kekuatan politik lainnya.

“Jokowi ini bahaya laten yang sewaktu-waktu bisa memakan semuanya,” ujarnya.

Selamat mengatakan dinamika tersebut kini mulai cair dalam pembicaraan publik. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kemungkinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM masuk dalam konfigurasi politik menuju Pemilu 2029.

Menurut dia, KDM berpotensi dipasangkan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029. Namun, ia menilai posisi KDM tidak hanya menarik bagi satu kelompok politik.

“KDM itu berpotensi dipasangkan dengan Gibran 2029. Dia sangat seksi bagi poros-poros,” kata Selamat.

Ia menyebut sejumlah poros politik yang berpotensi melihat KDM sebagai figur strategis, mulai dari poros Hambalang, Solo, Cikeas, hingga kelompok politik lainnya, termasuk Golkar.

Dalam pandangan Selamat, perkembangan tersebut membuat KDM berpotensi menjadi kingmaker di Jawa Barat. Posisi tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap konfigurasi politik, terutama karena Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia.

“Dia berpotensi menjadi kingmaker di Jawa Barat,” tuturnya.

Namun, Selamat mengingatkan bahwa posisi politik tersebut juga mengandung risiko. Menurut dia, jika KDM mengambil keputusan politik yang keliru, kekuatan yang sedang dibangun justru dapat berbalik menjadi persoalan bagi dirinya sendiri.

“Kalau KDM salah mengambil keputusan, dia bisa menjadi senjata makan tuan,” katanya.

Selamat kemudian mengibaratkan situasi tersebut dengan dinamika politik yang pernah dialami Ridwan Kamil. Menurut dia, perubahan konfigurasi politik dapat terjadi ketika sejumlah kekuatan yang sebelumnya berbeda posisi kemudian membangun kesamaan kepentingan.

Ia mencontohkan kemungkinan Prabowo, Gerindra dan Golkar berada dalam satu konfigurasi politik untuk menghadapi KDM apabila terjadi perbedaan kepentingan politik.

“Seperti yang dialami oleh Ridwan Kamil. Prabowo, Gerindra bersekutu dengan Golkar. Kalau melihat KDM ini mengkhianati Gerindra, ini bisa dibongkar apa yang telah dilakukan KDM selama menjadi Bupati Purwakarta,” ujar Selamat.

Menurutnya, Golkar memiliki pengetahuan mengenai perjalanan politik KDM selama menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Karena itu, dinamika hubungan antarkekuatan politik di Jawa Barat dinilai dapat berubah dengan cepat apabila kepentingan politik mulai berseberangan.

“Golkar pasti tahu kartunya,” kata Selamat.

Pernyataan Selamat tersebut menggambarkan bagaimana Jawa Barat mulai dipandang sebagai salah satu arena penting dalam pembentukan konfigurasi politik menuju 2029. Sejumlah nama dan kelompok politik yang kini berada dalam posisi berbeda masih memiliki ruang untuk membangun komunikasi maupun koalisi baru.

Karena itu, menurut Selamat, langkah politik Jokowi, KDM, Gerindra, Golkar maupun kelompok politik lainnya di Jawa Barat akan menjadi bagian penting dari dinamika politik nasional menjelang Pemilu 2029.

MoneyTalk.id, Cirebon – Langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang disebut mengundang Botok dan sejumlah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu mendapat sorotan tajam dari aktivis asal Cirebon, Heru Cirebon.

Heru menilai langkah tersebut berpotensi menjadi “bunuh diri politik” bagi Dedi Mulyadi, terutama jika dikaitkan dengan perjalanan dan masa depan politiknya menuju Pemilu 2029.

Menurut Heru, Dedi Mulyadi saat ini merupakan salah satu figur politik dengan tingkat popularitas dan elektabilitas yang cukup tinggi. Namun, menurutnya, modal tersebut tidak akan cukup apabila tidak dibarengi keberanian politik dalam menghadapi berbagai persoalan publik, termasuk isu pemberantasan korupsi dan dugaan korupsi berskala besar di Jawa Barat.

“Saya sangat yakin bahwa hari ini KDM sedang mengalami kiamat dan mengubur dirinya dalam-dalam dalam kegiatan politik yang saya kategorikan sebagai politik membinasakan dirinya,” ujar Heru.

Heru menilai langkah Dedi Mulyadi mengundang aktivis yang selama ini dikenal menyuarakan pemberantasan korupsi, perampasan aset hasil korupsi, hingga hukuman berat bagi koruptor, justru dapat menjadi bumerang apabila tidak diikuti dengan langkah konkret.

Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan tantangan agar persoalan korupsi kelas kakap di Jawa Barat dibahas secara terbuka. Salah satunya melalui gagasan sayembara untuk menangkap koruptor.

“Saya, Heru Cirebon, yang juga penggagas Parlemen Bayangan di Insinyur Pasti, pernah dan berulang kali menyatakan tantangan untuk melakukan sayembara tangkap koruptor kakap, khususnya di Jawa Barat, atau minimal membicarakan masalah korupsi besar di Jawa Barat. Tetapi hasilnya nihil,” katanya.

Karena itu, Heru mempertanyakan langkah Dedi Mulyadi yang kini disebut mengundang aktivis antikorupsi dan kelompok yang selama ini konsisten menyuarakan agenda pemberantasan korupsi.

Menurutnya, pertemuan dengan aktivis antikorupsi tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai keberpihakan terhadap agenda pemberantasan korupsi apabila tidak disertai keberanian mengambil sikap dan tindakan konkret.

“Ini sekali lagi saya katakan: bunuh diri politik terhadap dirinya dan masa depannya,” tegas Heru.

Heru bahkan melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Dedi Mulyadi. Ia menilai Dedi belum menunjukkan keberanian politik untuk berhadapan langsung dengan persoalan korupsi kelas kakap di Jawa Barat.

“Dedi Mulyadi adalah ‘ayam sayur’, Dedi Mulyadi adalah ‘raja kecil’, Dedi Mulyadi tidak punya nyali dalam hati kecil maupun keyakinan politiknya,” ujarnya.

Pertanyakan Kehadiran Aktivis

Tak hanya mengkritik Dedi Mulyadi, Heru juga mempertanyakan keputusan Botok dan sejumlah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu yang memenuhi undangan tersebut.

Ia mempertanyakan apakah pertemuan tersebut benar-benar dapat memberikan dampak nyata terhadap agenda pemberantasan korupsi yang selama ini mereka perjuangkan.

“Jika seandainya Anda mengetahui juga, atau setidaknya tahu Dedi Mulyadi adalah pemimpin yang sangat takut dengan koruptor, mengapa Anda harus datang? Mengapa Anda melayani undangannya?” ujar Heru.

Menurut Heru, isu pemberantasan korupsi dan kemanusiaan seharusnya tidak digunakan semata-mata untuk kepentingan elektoral ataupun pencitraan politik.

“Yang dilakukan Dedi Mulyadi dengan mengundang aktivis antikorupsi dan pendukung hukuman mati adalah sebuah pencitraan yang sangat naif dan vulgar,” kata Heru.

Ia menegaskan bahwa kritik tersebut merupakan sikap politik dan pandangan pribadinya terhadap langkah Dedi Mulyadi. Karena itu, ia menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai tujuan dan dampak dari pertemuan tersebut.

“Masyarakat tentunya kita sudah bisa bijak, kita sudah pintar, kita juga sudah dewasa dan cerdik untuk bisa memberikan apresiasi, atau bahkan kritik, atau bahkan menghina siapa saja yang memanfaatkan isu-isu kemanusiaan, pemberantasan korupsi, dan tangkap koruptor kelas kakap, hukuman mati buat koruptor, tetapi justru dibelokkan untuk kepentingan yang sangat sempit sekali, kepentingan elektoral, kepentingan politik,” katanya.

Heru kembali menegaskan, penggunaan isu antikorupsi dalam komunikasi politik tanpa dibarengi keberanian menghadapi persoalan-persoalan besar justru berpotensi menjadi bumerang bagi seorang pemimpin.

“Ini kesempatan Dedi Mulyadi yang terakhir kalinya dalam karier politiknya memanfaatkan aktivis kemanusiaan, antikorupsi, hukuman mati bagi koruptor untuk kepentingan pribadinya,” pungkas Heru.

MoneyTalk.id, Jakarta – Pengamat Gerakan dan Perubahan Muslim Arbi menyoroti penanganan dugaan kasus korupsi yang menyeret nama Bupati Bandung Dadang Supriyatna. Ia mempertanyakan sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM yang dinilai belum menunjukkan ketegasan terhadap persoalan tersebut.

Muslim Arbi menyampaikan hal itu setelah dirinya berkunjung ke Bandung pada 31 Agustus 2026 dan bertemu sejumlah advokat serta aktivis. Menurut dia, para pihak yang ditemuinya mengeluhkan penanganan kasus yang berkaitan dengan Dadang Supriyatna.

“Mereka mengeluh tentang kasus di Kabupaten Bandung. Kasus Bupati Kabupaten Bandung – Dadang Supriyatna sudah begitu telanjang di mata publik. Tetapi aparat hukum belum juga menetapkannya tersangka, menahan dan mengadilinya,” kata Muslim Arbi, Selasa (1/9/2026).

Muslim menyebut sejumlah vendor mengaku mengalami kerugian dalam perkara yang berkaitan dengan BUMD Kabupaten Bandung. Ia merujuk pada keterangan dua vendor, Deded dan Dr Faisal, yang disebut menyetorkan dana ke BUMD Kabupaten Bandung hingga puluhan miliar rupiah.

“Dari keterangan Deded dan DR Faisal – dua vendor yang dananya disetor ke BUMD Kabupaten Bandung mencapai puluhan miliar. Total keseluruhan kerugian mencapai ratusan miliar,” ujarnya.

Menurut Muslim, dana tersebut diduga digunakan Dadang untuk kepentingan memenangkan dirinya sebagai Bupati Bandung. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui proses hukum.

“Dana tersebut dicurigai digunakan Dadang untuk memenangkan dirinya sebagai Bupati,” kata Muslim.

Ia menyebut kasus tersebut kini sedang ditangani Kejaksaan Negeri Kabupaten Bandung.

Soroti Pertemuan Dr Faisal dengan Dedi Mulyadi

Muslim juga menyinggung pertemuan Dr Faisal dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Indramayu beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, menurut Muslim, Dr Faisal telah menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan Dadang Supriyatna.

“Beberapa waktu lalu, Dr Faisal pernah menemui Gubernur Jawa Barat – Dedi Mulyadi di Indramayu. Dia sudah menyampaikan kasus DS ini secara jelas dan gamblang. Dedy Mulyadi – KDM – berjanji untuk membantu menyelesaikan,” ujarnya.

Muslim kemudian menyoroti pernyataan Dr Faisal di media sosial yang disebut mengancam akan mengembok Kantor Kabupaten Bandung apabila persoalan tersebut tidak kunjung diselesaikan.

“Bahkan belakangan di media sosial Dr Faisal itu mengancam akan mengembok Kantor Kabupaten Bandung – bila Bupati DS yang jelas dianggap korup dalam kasus BDS – Bandung Daya Sentosa itu tidak kunjung tuntas,” kata Muslim.

Meski demikian, Muslim menilai hingga kini belum terlihat langkah tegas dari KDM terkait persoalan tersebut.

“Meski demikian, hingga kini KDM seolah cuek dan acuh terhadap kasus KDM yang sangat meresahkan di Kabupaten Bandung itu,” ujarnya.

Muslim Arbi Pertanyakan Relasi KDM-Dadang Supriyatna

Muslim juga mengungkap adanya rumor mengenai hubungan politik antara Dedi Mulyadi dan Dadang Supriyatna. Ia menyebut keduanya pernah berada di Partai Golkar sebelum kemudian berpindah ke partai politik berbeda.

“Rumor berkembang antara DS dan KDM ini pernah sama-sama di Golkar. Dedy Mulyadi pernah jadi Ketua Golkar DPD 1 Jawa Barat. Sekarang pindah ke Gerindra. Demikian juga DS sebelum ke PKB dahulunya adalah kader Golkar,” katanya.

Menurut Muslim, dari hubungan politik tersebut berkembang rumor bahwa keduanya masih memiliki hubungan pertemanan. Bahkan, ia menyebut muncul rumor mengenai kemungkinan Dadang Supriyatna menjadi calon wakil Dedi Mulyadi jika Dedi kembali menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

“Akibat itu antara KDM-DS masih terjalin pertemanan. Rumor lain – adalah jika Dedy Mulyadi menjabat dua periode Gubernur Jawa Barat. Maka DS dapat menjadi wakilnya,” ujar Muslim.

Selain itu, Muslim menyebut adanya dugaan lain yang berkembang di masyarakat Kabupaten Bandung mengenai kemungkinan pemberian “hibah” kepada KDM oleh Dadang.

“Dugaan lain. Publik Kabupaten Bandung menduga KDM diberi ‘hibah’ oleh DS? Karena DS ini doyan berikan hibah baik ke KPUD maupun ke Polda Jabar senilai 19 miliar?” kata Muslim.

Muslim kemudian mempertanyakan apakah berbagai rumor dan dugaan tersebut menjadi faktor yang membuat Dedi Mulyadi tidak bersikap tegas terhadap Dadang Supriyatna.

“Apakah tiga hal yang diurai terakhir itu menyandera KDM sehingga seolah melindungi DS?” ujarnya.

Pertanyakan Rating Survei Dedi Mulyadi

Muslim juga mengaitkan persoalan tersebut dengan citra dan tingkat popularitas Dedi Mulyadi yang disebut dalam sejumlah survei memiliki elektabilitas tinggi.

“Kalau begitu apa yang dibanggakan oleh publik atas perilaku KDM semacam itu yang belakangan rating surveinya malah disebut melampaui Prabowo?” katanya.

Ia menilai ketegasan kepala daerah dalam menyikapi dugaan korupsi semestinya tidak bergantung pada kepentingan politik maupun tingkat popularitas.

“Dari kasus DS ini saja KDM tidak berani bersikap tegas soal kasus korupsi di Jawa Barat. Lalu KDM mengejar rating survei itu untuk apa?” kata Muslim.

Pernyataan Muslim Arbi tersebut merupakan pandangan dan dugaan yang disampaikannya berdasarkan informasi serta pertemuannya dengan sejumlah advokat dan aktivis di Bandung.

Redaksi memberi ruang klarifikasi dan penjelasan dari dari yang dituduhkan dan pihak-pihak yang disebutkan narasumber dan Redaksi akan memperbaharui keterangan serta dipublikasikan.

MoneyTalk.id,Jakarta – Strategi politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai tidak selalu dapat dibaca dari pernyataan terbuka maupun panggung politik resmi. Komunikasi informal dengan berbagai kelompok, termasuk media yang selama ini kritis terhadap dirinya, disebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ruang manuver politik.

Hal itu disampaikan Iwan “Terpal” Setiawan, pemerhati politik dan alumni Hubungan Internasional UMY, dalam membaca interaksi Jokowi dengan tim Bocor Alus Tempo.

Menurut Iwan, komunikasi Jokowi dengan lingkungan Bocor Alus Tempo menarik dicermati karena kanal tersebut selama ini dikenal kritis terhadap Jokowi, termasuk terkait pencalonan dan posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.

“Seorang politisi yang matang tidak selalu membutuhkan media untuk memujinya. Media yang kritis pun memiliki fungsi strategis,” kata Iwan kepada wartawan, Jumat (14/8/2024).

Ia menilai kritik dari media dapat menjadi semacam cermin bagi elite politik untuk membaca denyut publik, mengetahui isu yang berkembang, sekaligus mengukur tingkat penerimaan masyarakat terhadap kebijakan maupun figur tertentu.

Karena itu, kata Iwan, komunikasi dengan media kritis tidak otomatis dapat dimaknai sebagai kesepakatan politik.

“Pertemuan tidak otomatis berarti kendali. Komunikasi tidak otomatis berarti instruksi. Kedekatan tidak otomatis berarti kesepakatan,” ujarnya.

Peta Prabowo-Gibran 2029

Iwan mengatakan, dinamika menuju Pemilu 2029 masih sangat cair. Pernyataan Jokowi yang pernah mendukung gagasan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka melanjutkan kepemimpinan hingga dua periode, menurutnya, tetap harus ditempatkan sebagai posisi politik pada momentum tertentu.

Sebab, peta politik dapat berubah seiring perkembangan elektabilitas, kinerja pemerintahan, konfigurasi partai politik, hingga persepsi publik.

“Politik Indonesia memiliki karakter yang sangat cair. Apa yang disampaikan elite hari ini bisa menjadi posisi politik hari ini, tetapi belum tentu menjadi keputusan ketika memasuki momentum penentuan,” katanya.

Menurut Iwan, kondisi tersebut memberikan ruang bagi Jokowi untuk terus membaca perkembangan politik sebelum menentukan langkah.

Ia menilai, apabila Gibran langsung didorong menjadi calon presiden pada 2029, tantangannya tidak ringan. Gibran masih perlu membangun pengalaman politik nasional, memperkuat legitimasi personal, dan menunjukkan kapasitas kepemimpinan kepada publik.

Karena itu, Iwan melihat kemungkinan lain, yakni Gibran tetap berada dalam orbit kekuasaan sebagai calon wakil presiden.

KDM-Gibran Bisa Jadi Skenario

Dalam konteks tersebut, nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM dinilai menjadi salah satu figur yang patut diperhitungkan.

Iwan menyebut apabila tren politik dan survei ke depan terus memperlihatkan KDM menguat, sementara tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo mengalami pelemahan, kalkulasi politik menuju 2029 tentu dapat berubah.

“Jika KDM menjadi kandidat presiden dengan elektabilitas yang kuat, Gibran dapat menjadi salah satu figur yang dipertimbangkan sebagai pasangan. Tentu saja ini bukan kepastian,” jelasnya.

Menurut dia, konfigurasi KDM-Gibran secara politik memiliki kemungkinan untuk dibaca sebagai titik temu dua kepentingan. KDM memiliki kebutuhan membangun dukungan nasional, sementara Gibran memiliki kepentingan mempertahankan keberlanjutan karier politiknya di tingkat nasional.

Namun, Iwan menegaskan, skenario tersebut masih merupakan kemungkinan politik dan sangat bergantung pada perkembangan beberapa tahun ke depan.

“Politik terlalu kompleks untuk disederhanakan menjadi satu skenario. KDM memiliki kalkulasi politiknya sendiri. Partai politik mempunyai kepentingannya masing-masing. Prabowo juga mempunyai kekuatan politik yang tidak dapat diabaikan,” katanya.

Iwan melihat kekuatan Jokowi dalam politik salah satunya terletak pada kemampuannya membaca momentum.

Menurut dia, Jokowi tidak harus terburu-buru menentukan pilihan ketika peta politik belum final.

“Menunggu momentum. Menunggu arah angin. Menunggu siapa yang menguat dan siapa yang melemah,” ujarnya.

Ia menilai, jika Jokowi masih ingin mempertahankan pengaruh politiknya setelah 2029, maka kemampuan menjaga komunikasi dengan berbagai kelompok menjadi penting.

Media, partai politik, relawan, komunitas digital, lembaga survei, dan kelompok kepentingan disebut akan menjadi bagian dari arena pembentukan opini publik menjelang Pemilu 2029.

Namun Iwan mengingatkan agar komunikasi politik tidak serta-merta ditarik menjadi kesimpulan bahwa ada kendali atau instruksi tertentu terhadap media.

“Bocor Alus Tempo tetap mempunyai agenda editorial dan independensinya sendiri. Begitu pula Jokowi memiliki agenda politiknya,” katanya.

Iwan menilai posisi Prabowo juga menjadi variabel penting dalam kalkulasi politik Jokowi menuju 2029.

Sebagai presiden, Prabowo memiliki kekuasaan pemerintahan, jaringan politik, dan dukungan partai yang besar. Namun, menurut Iwan, pemerintahan tetap menghadapi tantangan berupa perubahan persepsi publik.

Kinerja ekonomi, harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, kebijakan pemerintah, konflik elite, hingga pemberitaan media dapat memengaruhi tingkat kepuasan masyarakat.

Jika dukungan terhadap Prabowo melemah sementara muncul kandidat alternatif dengan elektabilitas lebih tinggi, kata Iwan, konfigurasi politik menuju 2029 dapat berubah.

“Seorang politisi yang ingin mempertahankan pengaruh biasanya akan memilih membaca realitas,” katanya.

Ia menilai sebutan king maker terhadap Jokowi bukanlah jabatan formal, melainkan gambaran mengenai kemampuan seorang tokoh memengaruhi konfigurasi kekuasaan tanpa harus berada di posisi puncak pemerintahan.

“Namun seorang king maker tidak selalu mengumumkan kartu yang dimilikinya. Ia menyimpan sebagian kartu hingga momentum yang tepat,” ujarnya.

Menurut Iwan, dukungan Jokowi terhadap Prabowo-Gibran dua periode tidak harus dianggap sebagai keputusan yang tidak dapat berubah.

“Ucapan politik memiliki umur. Kepentingan politik juga berubah. Yang lebih permanen adalah kepentingan untuk mempertahankan pengaruh,” katanya.

Karena itu, menurut Iwan, kejutan politik menuju 2029 masih sangat mungkin terjadi.

“Pada detik terakhir, seorang king maker selalu memiliki hak untuk mengubah permainan,” pungkasnya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Dinamika politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perhatian sejumlah pengamat. Meningkatnya elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sejumlah survei dinilai berpotensi memengaruhi konfigurasi politik nasional, termasuk membuka peluang kembalinya mantan kader Golkar tersebut ke partai yang membesarkan karier politiknya.

Pemerhati politik dan Alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Iwan “Terpal” Setiawan, menilai hasil survei terbaru menunjukkan bahwa KDM kini telah menjadi salah satu figur nasional yang diperhitungkan dalam kontestasi Pilpres 2029.

Menurutnya, survei yang dirilis SMRC maupun Indikator Politik Indonesia memperlihatkan tren elektabilitas KDM yang terus meningkat. Dalam salah satu simulasi, KDM bahkan memperoleh tingkat keterpilihan yang lebih tinggi dibanding Presiden Prabowo Subianto.

“Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan preferensi publik. KDM tidak lagi dipandang sebagai tokoh regional, tetapi mulai masuk dalam percakapan politik nasional sebagai figur potensial untuk Pilpres 2029,” ujar Iwan dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).

Ia mengingatkan bahwa sebelum bergabung dengan Gerindra, KDM memiliki perjalanan politik yang panjang di Partai Golkar. Dedi Mulyadi pernah menjadi Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, anggota DPR RI Fraksi Golkar, hingga menjabat Bupati Purwakarta sebagai kader partai berlambang pohon beringin tersebut.

Karena itu, menurut Iwan, muncul pertanyaan politik yang menarik, yakni apakah Golkar akan mempertimbangkan kembali mantan kadernya apabila tren elektabilitas KDM terus meningkat hingga mendekati Pemilu 2029.

“Golkar dikenal sebagai partai yang rasional dalam membaca peluang politik. Jika ada figur dengan tingkat keterpilihan tinggi, tentu semua opsi akan diperhitungkan,” katanya.

Iwan juga menilai dukungan terhadap figur dengan elektabilitas tinggi tidak hanya berpotensi meningkatkan peluang kemenangan dalam Pilpres, tetapi juga dapat memberikan efek ekor jas (coattail effect) yang berdampak pada perolehan suara partai dalam pemilihan legislatif.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemungkinan tersebut masih bersifat spekulatif dan akan sangat bergantung pada berbagai faktor, mulai dari dinamika politik nasional, kondisi pemerintahan, strategi partai politik, hingga keputusan pribadi Dedi Mulyadi terkait masa depan politiknya.

“Politik selalu dinamis. Apakah KDM tetap bersama Gerindra atau membuka komunikasi dengan Golkar, semuanya masih sangat terbuka untuk berkembang hingga 2029,” pungkasnya.

MoneyTalk.id, Jakarta – Hasil survei terbaru yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memunculkan dinamika baru dalam peta politik nasional. Dalam simulasi head-to-head, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) memperoleh dukungan 59 persen, jauh meninggalkan Presiden Prabowo Subianto yang berada di angka 28,3 persen. Hasil tersebut menjadi sorotan berbagai kalangan dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Pegiat media sosial Jhon Sitorus menilai capaian Dedi Mulyadi tidak bisa lagi dianggap sebagai fenomena sesaat. Menurutnya, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa KDM telah menjelma menjadi salah satu figur politik dengan daya tarik publik yang sangat kuat.

“Survei terbaru SMRC, nama Dedi Mulyadi melambung tinggi mengungguli Prabowo. Tercatat 59 persen memilih KDM sedangkan Prabowo hanya 28,3 persen. Andai semua yang belum menentukan pilihan memilih Prabowo, tetap saja akan kalah dengan KDM,” ujar Jhon Sitorus melalui akun media sosialnya, Kamis (30/7/2026).

Ia menilai salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi adalah konsistensinya membangun komunikasi melalui media sosial. Hampir setiap hari, KDM tampil dengan berbagai konten yang menampilkan aktivitasnya sebagai kepala daerah.

Menurut Jhon, pendekatan tersebut membuat sosok Dedi Mulyadi terasa dekat dengan masyarakat. Berbagai kegiatan, mulai dari penertiban bangunan liar, pembangunan infrastruktur, hingga dialog langsung dengan warga, dinilai mampu membangun citra pemimpin yang aktif bekerja sekaligus mudah diakses publik.

“Harus diakui, popularitas KDM cukup signifikan dengan tiap hari membuat konten. Apa pun dikontenin, siapa pun yang sedang mengalami musibah juga dijadikan konten. Namun di sisi lain, konten itu membantu KDM melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, gaya komunikasi Dedi Mulyadi yang sederhana menjadi salah satu keunggulan dibandingkan tokoh politik lainnya.

“Komunikasi dengan warga yang efektif menggunakan bahasa dan gestur yang dimengerti rakyat membuat elektabilitasnya tak terbendung,” ujarnya.

Jhon bahkan menyebut Dedi Mulyadi bukan lagi lawan politik biasa menjelang kontestasi nasional mendatang.

“KDM bukan lawan sembarangan, terlebih masyarakat Indonesia cenderung menyukai figur yang tiba-tiba sangat populer,” tegasnya.

Survei SMRC sendiri menunjukkan adanya perubahan preferensi publik terhadap sejumlah tokoh nasional. Dalam simulasi yang dipublikasikan, Dedi Mulyadi tampil sebagai figur dengan tingkat keterpilihan yang sangat kompetitif, bahkan mengungguli Prabowo dalam simulasi dua nama.

Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan agar hasil survei tidak dimaknai sebagai gambaran pasti mengenai Pilpres 2029. Mereka menilai kontestasi masih panjang, konfigurasi koalisi belum terbentuk, dan dinamika politik masih sangat mungkin berubah dalam beberapa tahun ke depan.

MoneyTalk.id, Jakarta – Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menunjukkan dinamika baru. Dua lembaga survei nasional, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia, sama-sama mencatat nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dalam simulasi elektabilitas calon presiden, mengungguli Presiden Prabowo Subianto.

Dalam simulasi yang dirilis kedua lembaga tersebut, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan yang lebih tinggi dibanding Prabowo. Berdasarkan hasil yang dipublikasikan, survei SMRC menempatkan Dedi Mulyadi pada angka 35 persen, sedangkan Prabowo berada di 14,5 persen. Hasil ini menjadi sorotan karena menunjukkan perubahan signifikan dibanding peta politik beberapa waktu sebelumnya.

Sementara itu, pemberitaan Kompas juga mengulas bahwa dalam simulasi tertentu, Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo berdasarkan hasil survei SMRC maupun Indikator Politik Indonesia.

Meningkatnya elektabilitas Dedi Mulyadi tidak lepas dari tingginya eksposur publik. Aktivitasnya yang intens di media sosial, pendekatan langsung kepada masyarakat, hingga gaya komunikasi yang sederhana dinilai mampu memperkuat kedekatan dengan pemilih.

Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi juga memperoleh tingkat kepuasan publik yang tinggi dalam berbagai survei sebelumnya. Popularitas tersebut kemudian berkontribusi terhadap meningkatnya elektabilitas dalam simulasi Pilpres 2029.

Di sisi lain, hasil survei SMRC terbaru juga menunjukkan penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto menjadi sekitar 51,1 persen, turun dibanding survei sebelumnya. SMRC menyebut persepsi terhadap kondisi ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi penilaian publik.

Penurunan kepuasan terhadap pemerintah dinilai turut memengaruhi simulasi elektabilitas calon presiden, meski masih terlalu dini untuk menyimpulkan arah Pilpres 2029 karena tahapan pemilu belum dimulai.

Meski hasil survei menunjukkan Dedi Mulyadi unggul dalam simulasi tertentu, para peneliti mengingatkan bahwa elektabilitas dapat berubah seiring perkembangan politik, kondisi ekonomi, serta munculnya figur-figur baru menjelang Pilpres 2029. Survei pada dasarnya menggambarkan preferensi responden pada saat pengambilan data, bukan hasil akhir pemilihan.

Dengan demikian, temuan SMRC dan Indikator menjadi sinyal bahwa persaingan menuju Pilpres 2029 mulai menghangat. Nama Dedi Mulyadi kini muncul sebagai salah satu figur dengan daya saing kuat, sementara Prabowo menghadapi tantangan untuk mempertahankan dukungan publik di tengah dinamika ekonomi dan politik nasional.

MoneyTalk.id, Jakarta – Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan perubahan drastis dalam peta politik nasional. Jika pemilihan presiden digelar saat ini dan Presiden Prabowo Subianto kembali maju sebagai calon, ia diperkirakan tidak akan kembali memenangkan kontestasi.

Berdasarkan survei SMRC yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi kandidat dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi semi terbuka, memperoleh dukungan sebesar 35 persen.

Sementara itu, Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan 14,5 persen. Di bawahnya terdapat Anies Baswedan 8,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD 4 persen. Sebanyak 12,8 persen responden belum menentukan pilihan.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa dalam sembilan bulan terakhir elektabilitas Prabowo mengalami penurunan tajam. Dari 34,9 persen pada survei sebelumnya menjadi 14,5 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat signifikan dari 19,7 persen menjadi 35 persen dalam periode yang sama.

Dalam simulasi dua nama (head to head), Dedi Mulyadi juga unggul telak. Ia memperoleh 59 persen dukungan, sedangkan Prabowo hanya 28,3 persen. Masih terdapat 12,7 persen responden yang belum menentukan pilihan.

SMRC menyebut survei dilakukan terhadap 749 responden yang dipilih secara acak. Wawancara dilakukan melalui telepon bagi responden yang memiliki akses telepon dan secara tatap muka bagi yang tidak memiliki telepon. Survei memiliki margin of error ±3,7 persen dan dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026.