MoneyTalk.id, Jakarta – Hasil survei terbaru yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memunculkan dinamika baru dalam peta politik nasional. Dalam simulasi head-to-head, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) memperoleh dukungan 59 persen, jauh meninggalkan Presiden Prabowo Subianto yang berada di angka 28,3 persen. Hasil tersebut menjadi sorotan berbagai kalangan dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Pegiat media sosial Jhon Sitorus menilai capaian Dedi Mulyadi tidak bisa lagi dianggap sebagai fenomena sesaat. Menurutnya, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa KDM telah menjelma menjadi salah satu figur politik dengan daya tarik publik yang sangat kuat.
“Survei terbaru SMRC, nama Dedi Mulyadi melambung tinggi mengungguli Prabowo. Tercatat 59 persen memilih KDM sedangkan Prabowo hanya 28,3 persen. Andai semua yang belum menentukan pilihan memilih Prabowo, tetap saja akan kalah dengan KDM,” ujar Jhon Sitorus melalui akun media sosialnya, Kamis (30/7/2026).
Ia menilai salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi adalah konsistensinya membangun komunikasi melalui media sosial. Hampir setiap hari, KDM tampil dengan berbagai konten yang menampilkan aktivitasnya sebagai kepala daerah.
Menurut Jhon, pendekatan tersebut membuat sosok Dedi Mulyadi terasa dekat dengan masyarakat. Berbagai kegiatan, mulai dari penertiban bangunan liar, pembangunan infrastruktur, hingga dialog langsung dengan warga, dinilai mampu membangun citra pemimpin yang aktif bekerja sekaligus mudah diakses publik.
“Harus diakui, popularitas KDM cukup signifikan dengan tiap hari membuat konten. Apa pun dikontenin, siapa pun yang sedang mengalami musibah juga dijadikan konten. Namun di sisi lain, konten itu membantu KDM melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, gaya komunikasi Dedi Mulyadi yang sederhana menjadi salah satu keunggulan dibandingkan tokoh politik lainnya.
“Komunikasi dengan warga yang efektif menggunakan bahasa dan gestur yang dimengerti rakyat membuat elektabilitasnya tak terbendung,” ujarnya.
Jhon bahkan menyebut Dedi Mulyadi bukan lagi lawan politik biasa menjelang kontestasi nasional mendatang.
“KDM bukan lawan sembarangan, terlebih masyarakat Indonesia cenderung menyukai figur yang tiba-tiba sangat populer,” tegasnya.
Survei SMRC sendiri menunjukkan adanya perubahan preferensi publik terhadap sejumlah tokoh nasional. Dalam simulasi yang dipublikasikan, Dedi Mulyadi tampil sebagai figur dengan tingkat keterpilihan yang sangat kompetitif, bahkan mengungguli Prabowo dalam simulasi dua nama.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan agar hasil survei tidak dimaknai sebagai gambaran pasti mengenai Pilpres 2029. Mereka menilai kontestasi masih panjang, konfigurasi koalisi belum terbentuk, dan dinamika politik masih sangat mungkin berubah dalam beberapa tahun ke depan.





