21 Oktober 2026

Digital

JAKARTA, MoneyTalk – Kemampuan masyarakat Indonesia dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi digital secara umum terbukti makin membaik sejak awal pandemi sampai sekarang. Bahkan, ternyata orang Indonesia memang suka screen time atau main internet lebih dari 6 jam.

Berdasarkan data Kementerian Kominfo dalam laporan survei Status Literasi Digital di Indonesia 2022, mencatat pola perilaku digital masyarakat Indonesia, salah satunya terkait durasi penggunaan internet.

Nah, mayoritas responden Gen Z (35%) dan Gen Y (26%) menggunakan internet lebih dari 6 jam per hari. Sementara yang mengakses internet lebih dari 6 jam per hari di kelompok Gen X dan Boomers lebih sedikit, yakni hanya 19%.

Sumber: @IndonesiaBaik.id

JAKARTA, MoneyTalk – Perkembangan teknologi komunikasi dan digitalisasi media membuat industri komunikasi digital semakin kreatif dan inovatif serta dibutuhkan masyarakat ini. Tren penelitian komunikasi digital sedang naik dan populer saat ini, salah satunya penelitian media sosial.

Suara jenama (brand voice) institusi di media sosial

Setelah merumuskan tujuan dan maksud dari pembuatan dan aktivitas institusi di media sosial, langkah selanjutnya adalah menentukan tone atau corak seperti bagaimana yang akan dimainkan dalam konten di media sosial.

Suara jenama institusi pada dasarnya menjadi elemen penting yang juga bisa membedakan dari kompetitor atau dari institusi lainnya. Pembedaan ini dalam perspektif membangun suasana keakraban dengan khalayak terutama dalam berinteraksi di media sosial.

Pemilihan suara jenama sebagai sebuah gaya juga bisa diartikan sebagai bagaimana institusi terutama para pengelola media sosial memilih bahasa (dalam percakapan) pada semua saluran media sosial.

Lalu, apa saja pilihan suara ?

  1. Lucu
  2. Penuh keyakinan
  3. Cerdas
  4. Energik
  5. Tenang
  6. Kekinian
  7. Riang
  8. Formal
  9. Elegan
  10. Ramah
  11. Asyik
  12. Mengedukasi
  13. Eksklusif
  14. Sarkas
  15. Sombong
  16. Kaku
  17. Datar

Pilihan-pilihan suara di atas merupakan rumusan dalam menggunakan dan bagaimana konten diunggah serta akan dipersepsikan oleh khalayak. Kenapa dianggap penting ? Selain karena khalayak yang memiliki latar belakang yang berbeda , karakter media sosial yang berbeda pula, pemilihan suara atau bahasa yang digunakan juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi lebih akrab dan terkesan lebih “manusiawi” dan tidak kaku.

Tentu saja pilihan formal dan kaku bukan merupakan kesalahan dalam melakukan komunikasi digital, namun di media sosial merupakan saluran untuk berinteraksi dengan khalayak baru memosisikan khalayak tidak sekadar target atau konsumen semata.

Penentuan Khalayak

Penentuan ceruk khalayak merupakan riset yang wajib dilakukan oleh institusi setelah mengetahui bagaimana suara yang akan dimainkan di media sosial. Penentuan ini tentu menyesuaikan dan juga menjadi target sasaran dari publikasi di media sosial.

Khalayak di media sosial selain memiliki jumlah yang terlalu banyak juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Pemilihan ini akan memberikan fokus pada konten apa yang akan diproduksi dan didistribusikan.

Menjadi catatan penting dalam konteks ini bahwa tidak semua khalayak diambil semua sebagai sasaran dari publikasi di media sosial. Langkah ini mengundang berbagai risiko terhadap kekhasan jenama dan juga model interaksi yang akan dilakukan. Terlebih lagi bagi sebuah perusahaan yang memproduksi barang atau jasa yang memang dipakai khusus menurut kategori tertentu.  (Rulli Nasrullah, 2021) .

Mari bersama penulis mengajak pembaca untuk semangat menggunakan panduan gaya bermedia sosial dengan baik dan cerdas untuk Indonesia yang lebih baik ke depannya.

Penulis:
Saktisyahputra, S.I.Kom., M.I.Kom
Dosen Manajemen Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI
Peneliti Komunikasi Digital
Pengamat Media Sosial
Pembicara Internasional
Penulis 19 Buku
www.saktisyahputra.com

References

Rulli Nasrullah. (2021). Manajemen Komunikasi Digital Perencanaan, Aktivitas dan Evaluasi. PrenadaMedia.

JAKARTA, MoneyTalk – Tokopedia melalui ekosistem Mitra Tokopedia mengupayakan keberlanjutan bisnis dengan mempertajam fokus menjadi platform dengan skala dan lingkup yang lebih spesifik demi terus menghasilkan dampak positif kepada seluruh pihak di dalam ekosistem secara jangka panjang.

“Di aplikasi Mitra Tokopedia, persentase pengguna produk digital (pulsa, paket data, game voucher, token listrik dan lain-lain) jauh lebih tinggi dibandingkan produk grosir (sembako dan produk fisik lainnya),” jelas Head of Mitra Tokopedia, Carlo Yudhistira Praditya.

“Melihat data tersebut, kami memutuskan untuk menyesuaikan bisnis kami dengan mengeliminasi fitur pembelian Produk Grosir di aplikasi Mitra Tokopedia, dan fokus memfasilitasi individu dan pemilik usaha untuk menjual 21 jenis Produk Digital dengan harga kompetitif, sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan lebih,” tambah Carlo.

21 jenis Produk Digital tersebut dibagi atas tiga kategori, antara lain: (1) Pembelian, yang mencakup 5 produk seperti Pulsa dan Voucher Game, (2) Dompet Digital, yang mencakup 3 produk seperti Saldo Dompet Gojek dan Top Up GoPay, dan (3) Pembayaran, yang mencakup 13 produk seperti Tagihan Tokopedia dan PDAM.

“Penyesuaian bisnis Mitra Tokopedia ini sejalan dengan tujuan grup perusahaan Tokopedia, yaitu grup GoTo, dalam membangun bisnis yang tetap bertumbuh secara jangka panjang,” kata Carlo.

Transaksi Biaya Pendidikan, Internet dan TV Kabel, serta E-Samsat di Mitra Tokopedia Meningkat Tajam Rata-Rata 4x Lipat

“Selain memberikan manfaat kepada individu dan pemilik usaha, Mitra Tokopedia juga terus berupaya membantu masyarakat, yang masih menghadapi tantangan dalam mengakses produk digital, untuk bisa lebih mudah membeli produk digital dari individu atau pemilik usaha (termasuk warung) yang bergabung di Mitra Tokopedia,” kata Carlo.

Masyarakat di lebih dari 700 kota dan kabupaten di Indonesia bisa mengakses berbagai produk digital–seperti pulsa, paket data, game voucher, token listrik, tagihan BPJS, biaya pendidikan dan produk digital lainnya–melalui individu atau pemilik usaha yang bergabung di Mitra Tokopedia.

“Biaya Pendidikan, Internet dan TV Kabel, serta E-Samsat merupakan sejumlah produk digital dengan pertumbuhan paling pesat di Mitra Tokopedia pada kuartal I 2023 dibandingkan periode yang sama di tahun 2022, dengan rata-rata peningkatan transaksi hampir 4x lipat,” kata Carlo.

Berkat Mitra Tokopedia, Pemilik Warung di Sidoarjo Ini Bisa Bangkit dari Pandemi, Beromzet Belasan Juta Per Hari dan Berdayakan Ribuan Warga

Aditya Hermawan Sanjaya sudah mulai berbisnis sejak kuliah. Awalnya ia menjual produk voucher telepon fisik, namun seiring berkembangnya teknologi, Aditya ikut beradaptasi.

Saat ini, Aditya telah memiliki warung di Sidoarjo ‘Barokah Cell’ yang fokus berjualan berbagai produk digital, mulai dari pulsa, paket data, tagihan seperti PLN hingga BPJS, dan produk digital lainnya.

“Saat pandemi, keuangan dan (transaksi) warung saya menurun drastis. Saya harus mencari cara supaya bisa terus berjualan. Akhirnya di 2022, saya bergabung dengan Mitra Tokopedia. Aplikasi Mitra Tokopedia membantu saya bangkit. Kini omzet warung saya bisa mencapai belasan juta rupiah per hari berkat Mitra Tokopedia,” ungkap Aditya.

Aditya juga memberdayakan ribuan warga sekitar untuk juga berjualan produk digital. Aditya sering mengedukasi warga sekitar tentang nilai tambah aplikasi Mitra Tokopedia, yang juga bisa melayani pembayaran E-Samsat dan PBB, agar warga tidak perlu pergi terlalu jauh lagi untuk mengakses layanan publik tersebut.

Selama bulan Ramadhan ini, Mitra Tokopedia menghadirkan kampanye KETUPAT (Kembali Untung Dahsyat), untuk mengapresiasi individu maupun pelaku usaha yang memanfaatkan Mitra Tokopedia, dengan total hadiah hingga Rp100 juta. Kampanye ini berisi berbagai program, salah satunya THR Misi Rejeki, dan Aditya berhasil menjadi salah satu pemenangnya.

Minahasa, Raja Ampat dan Manokwari Selatan Jadi Wilayah dengan Peningkatan Transaksi Produk Digital Tertinggi di Mitra Tokopedia

“Ke depannya, Mitra Tokopedia bersama seluruh mitra strategis akan terus fokus membantu pemerataan ekonomi secara digital di Indonesia. Kami percaya bahwa hal tersebut hanya bisa terwujud jika ada kolaborasi dan inovasi,” ungkap Carlo.

Digitalisasi Warung misalnya, dimana Tokopedia berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia demi mendorong adopsi platform digital untuk pengembangan usaha para pemilik warung.

Mitra Tokopedia juga mempermudah masyarakat mengakses layanan publik seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan E-Samsat untuk membantu meningkatkan penerimaan negara.

“Transaksi PBB dan E-Samsat di Mitra Tokopedia masing-masing mengalami peningkatan sebesar hampir 1,5x lipat pada kuartal I 2023 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2022,” tambah Carlo.

Mitra Tokopedia di sisi lain berupaya mempercepat terwujudnya inklusi keuangan dengan kategori produk Dompet Digital, sehingga masyarakat bisa lebih mudah, aman dan nyaman dalam melakukan top up dompet digital.

Melalui berbagai kolaborasi dan inovasi, Mitra Tokopedia mencatat Sabu Raijua (NTT), Kaimana (Papua Barat) dan Mappi (Papua Selatan) menjadi sejumlah wilayah dengan peningkatan jumlah penjual produk digital paling tinggi di Mitra Tokopedia pada kuartal I 2023 dibandingkan periode yang sama di tahun 2022, dengan rata-rata peningkatan sebesar hampir 3x lipat.

“Kami juga melihat Minahasa (Sulawesi Utara), Raja Ampat (Papua Barat) dan Manokwari Selatan (Papua Barat) menjadi beberapa wilayah dengan peningkatan transaksi produk digital paling tinggi di Mitra Tokopedia pada kuartal I 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022, dengan rata-rata peningkatan sebesar lebih dari 5,5x lipat,” ungkap Carlo.

“Tokopedia akan terus mengkaji bisnis Mitra Tokopedia agar dapat dengan lebih baik memenuhi kebutuhan para pengguna khususnya individu dan pemilik usaha di seluruh Indonesia,” tutup Carlo.

Ralat:
Telah terjadi kesalahan tafsir dan karenanya dilakukan perubahan judul dari sebelumnya, ‘Tokopedia Fokus pada Transaksi Produk Digital’ menjadi ‘Aplikasi Mitra Tokopedia Lakukan Penyesuaian Bisnis’. Demikian ralat sudah dilakukan.

JAKARTA, MoneyTalk – Equinix (Nasdaq: EQIX), perusahaan digital infrastruktur dunia dan PT Astra International Tbk (“Astra”), mengumumkan pembentukan usaha patungan.

Usaha patungan ini hadir untuk mengembangkan infrastruktur digital di Indonesia yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam negeri dan multinasional dalam mempercepat transformasi digitalnya.

Dengan pemerintah Indonesia menargetkan sebanyak 30 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk dapat go digital pada tahun 2024, program transformasi digital nasional Indonesia menciptakan sebuah kerangka pembangunan ekonomi dan kebutuhan atas infrastruktur digital.

Equinix dan Astra membentuk perusahaan patungan tersebut dengan kepemilikan modal saham 75% Equinix dan 25% Astra.

Dengan menggabungkan keahlian infrastruktur digital berskala global yang dimiliki Equinix dan pengalaman luas Astra di Indonesia, perusahaan patungan ini akan membantu perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mengembangkan kapabilitas digital mereka dan memanfaatkan teknologi baru, seperti hybrid multicloud, 5G, internet of things (IoT), kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan lainnya.

“Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk mempercepat transformasi digital di seluruh Indonesia,” kata Jeremy Deutsch, Presiden Equinix Asia Pacific.

“Perusahaan patungan dengan Astra ini memanfaatkan potensi digital yang terus meningkat dan mencerminkan keberlanjutan komitmen Equinix dalam melayani masyarakat Indonesia dengan kapasitas skala besar untuk memenuhi kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan edge data center. Kami berharap kolaborasi dengan Astra dapat membuka peluang-peluang baru untuk masa depan digital Indonesia yang cemerlang.”

“Kolaborasi kami dengan Equinix didasarkan pada pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan fokus Astra dalam mempercepat transformasi digitalnya,” timpal Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra.

“Dengan penyediaan layanan data center komprehensif, yang lebih terintegrasi, modern, mudah diakses, dan dijalankan dengan semangat dan prinsip keberlanjutan, kami berharap perusahaan patungan ini akan memperkuat infrastruktur data center dan membantu para pelaku bisnis di Indonesia.”

Rencananya pada tahap awal, usaha patungan ini akan mengembangkan dan mengoperasikan sebuah International Business Exchange (IBX) data center di pusat Jakarta bernama JK1, kemudian berekspansi lebih lanjut di Indonesia.

Data center IBX JK1 yang terdiri dari delapan lantai direncanakan mulai beroperasi pada semester kedua tahun 2024 dan diharapkan akan menyediakan lebih dari 1.600 kabinet dan ruang colocation seluas lebih dari 5.300 meter persegi setelah sepenuhnya terbangun.

Terletak di kawasan pusat bisnis Jakarta dan dekat dengan internet exchange utama, JK1 akan membantu perusahaan dalam negeri dan multinasional yang beroperasi di Indonesia untuk mencapai kinerja yang optimal melalui infrastruktur digital dan ekosistem yang dinamis.

JK1 akan memasukkan konsep sustainability ke dalam desainnya dengan memanfaatkan teknologi inovatif seperti cooling array Equinix untuk mendukung target komersial dan lingkungan perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Equinix adalah perusahaan pertama di industri data center yang menetapkan target 100% energi terbarukan dan berkomitmen untuk mencapai netralitas iklim pada tahun 2030, didukung oleh short-term science-based targets yang telah disetujui.

Hal ini sejalan dengan Astra 2030 Sustainability Aspirations.

Indonesia diharapkan dapat menjadi pasar colocation ASEAN terbesar pada tahun 2027 seiring dengan permintaan ritel yang signifikan untuk colocation, ditambah dengan meningkatnya aktivitas hyperscale. Pasar colocation Indonesia diperkirakan bernilai US$1,2 miliar pada tahun 2027.

Selain itu, penyedia layanan cloud besar seperti Google Cloud, Amazon Web Services, Microsoft Azure dan Alibaba Cloud telah mengumumkan peluncuran cloud regions di Indonesia. Indonesia diperkirakan akan menjadi pasar cloud publik terbesar kedua di Asia Tenggara.

Usaha patungan Equinix dan Astra memiliki posisi yang baik untuk menangkap pertumbuhan pasar yang sangat potensial ini.

Saat ini, global footprint Platform Equinix menjangkau lebih dari 245 data center di 71 pusat bisnis dan 32 negara, menyediakan infrastruktur digital untuk lebih dari 10.000 pelaku bisnis terkemuka dunia, termasuk lebih dari 50% perusahaan yang terdapat dalam daftar Fortune 500.

Di Asia Pasifik, Equinix saat ini memiliki 51 data center yang berlokasi di pusat bisnis utama di Australia, Cina, Hong Kong, India, Jepang, Korea, dan Singapura.

Sementara itu, Astra dengan pengetahuan mendalam mengenai pasar Indonesia dan pengalamannya yang luas di berbagai sektor di Indonesia akan dapat mendukung perusahaan patungan ini dalam mengembangkan potensi pasar data center Indonesia.

JAKARTA, MoneyTalk – Fundamental ekonomi yang baik serta potensi besar ekonomi digital di Indonesia membuat Pemerintah optimis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang positif dan mencapai angka 5,3% di tahun 2023.

Secara fundamental, Indeks Keyakinan Konsumen masih di level optimis di atas 100, PMI Manufaktur 51,2, neraca perdagangan menunjukkan tren positif selama 33 bulan, dan rasio utang luar negeri terhadap PDB dalam level aman.

Sedangkan dari segi ekonomi digital, pada tahun 2022 Indonesia menguasai 40% ekonomi digital ASEAN dan nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi mencapai USD130 miliar di tahun 2025, dan akan terus meningkat di sekitar USD300 miliar di tahun 2030.

“Optimisme kinerja ekonomi yang baik perlu didukung oleh potensi besar di sektor digital. Di dua tahun terakhir, perilaku masyarakat semakin contactless. Dan ini salah satunya ditopang oleh layanan e-commerce dan on-demand, seperti ride hailing atau ojol (ojek online), online food delivery, dan juga bisnis logistik berbasis online. Di tahun 2022, Indonesia menjadi pemain utama di digital ASEAN, karena 40% dari nilai total transaksi ekonomi digital ASEAN berasal dari Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara virtual dalam dalam Executive Forum Media Indonesia, Kamis (9/03).

Realisasi potensi ekonomi digital Indonesia sendiri didukung oleh beberapa hal yakni jumlah penduduk Indonesia yang sebagian dalam usia produktif, posisi Indonesia sebagai peringkat ke-6 negara dengan jumlah startup terbesar di dunia karena memiliki lebih dari 2.400 startup, dan penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai 76,8%.

Ekonomi digital juga diangkat sebagai salah satu pilar strategis Keketuaan ASEAN Indonesia tahun 2023 agar dapat mengakselerasi transformasi digital yang inklusif untuk mengurangi kesenjangan digital di kawasan. Hal itu selaras dengan tekad Indonesia yang ingin memperkuat ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Kita berharap Keketuaan Indonesia di KTT ASEAN 2023 dapat mendorong perekonomian nasional di berbagai kota yang menjadi tempat diselenggarakannya rangkaian side event KTT ASEAN 2023 sekaligus menjadi momen untuk memperlihatkan ketangguhan ekonomi Indonesia sehingga Indonesia layak menjadi tujuan investasi asing,” tegas Menko Airlangga.

Menko Airlangga dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3% di tahun 2023, kolaborasi dan sinergi semua pihak perlu terus didorong, terutama peran dari korporasi maupun rumah tangga. Hasil asesmen menunjukkan bahwa tabungan rumah tangga dan korporasi semakin meningkat secara signifikan di masa pandemi dan belum dioptimalkan kembali untuk ekspansi dan belanja di tahun 2023.

“Oleh karena itu konsumsi dan investasi perlu didorong di tahun 2023, dan target investasi di tahun 2023 ini 1.400 triliun rupiah, akan meningkat menjadi 1.650 triliun rupiah di tahun 2024. Nah ini bagi Indonesia untuk meredam volatilitas global yang masih berlangsung,” jelas Menko Airlangga.

Menutup penjelasannya, Menko Airlangga mengatakan bahwa Pemerintah, investor, pengusaha, asosiasi, perbankan, maupun media sangat berperan penting bagi optimisme pembangunan ekonomi Indonesia. Seluruhnya diharapkan dapat bersinergi dan memberi kontribusi terbaik dalam menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah.[MT]