9 November 2026

Edy Rahmayadi

MoneyTalk,Jakarta – Setelah selesai Gibran ditetapkan Jadi Wakil Presiden, Semua orang menyangka sudah selesai cawe cawe Jokowi Dalam Politik. Tetapi ternyata anggapan ini salah. Sampai Saat ini masih ikut cawe cawe dalam Pemilihan Kepala daerah (Pilkada)

Dan Masih cawe cawe atau Campur tangannya Jokowi dalam Pilkada dinyatakan oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam tayangan podcast YouTube Akbar Faizal Uncensored yang ditayangkan pada Jumat, 22 November 2024.

Hasto menyatakan, untuk kepentingan kekuasaan, Jokowi beraliansi dengan partai cokelat atau kepolisian. Dan Kepolisian punya agenda apa untuk politik ? sehingga mereka beraliansi dengan kekuasaan Sang Raja, dengan Jokowi.

Dan berbagai instrumen politik dimainkan termasuk melakukan intimidasi. Dan Contoh bentuk intimidasi oleh kepolisian menurut Hasto yang dialami paslon PDIP di Papua. Terjadi penangkapan dan penggerebekan calon Bupati Biak Numfor Herry Naap oleh Brigade Mobil atau Brimob yang sarat dengan nuansa politik.

Selain di Papua, intimidasi dari pihak kepolisian juga menimpah Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dan pendeta gereja. Mereka diperiksa dituduh penggunaan dana hibah dari pemerintah daerah.

Dan di Sumatera Utara, calon gubernur Edy Rahmayadi disebut tidak bisa menarik uang dari rekening banknya untuk urusan pilkada lantaran dihalangi oleh partai cokelat, atau kepolisian, jelas Hasto.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah diskusi yang tayang di Merdekadotcom pada Sabtu (14/09), pengamat politik Yunarto Wijaya memberikan pandangannya mengenai perbedaan gaya kepemimpinan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, serta tren politik terbaru di Indonesia.

Yunarto menyoroti beberapa hal penting mengenai dinamika politik yang melibatkan kedua tokoh ini, serta isu-isu seputar Pilkada dan elektabilitas para calon pemimpin daerah.

Perbedaan Gaya Kepemimpinan Jokowi vs Prabowo. Salah satu hal yang paling menarik dalam pernyataan Yunarto adalah pandangannya mengenai gaya kepemimpinan yang berbeda antara Jokowi dan Prabowo.

Yunarto menggambarkan Jokowi sebagai seorang pemimpin yang lentur dan penuh strategi, yang mampu menghadapi tantangan politik dengan cara yang lebih fleksibel. Menurut Yunarto, Jokowi cenderung mencari solusi kreatif ketika menghadapi masalah besar, bahkan jika itu berarti mengambil jalan yang tidak konvensional.

Di sisi lain, Prabowo dinilai lebih tegas dan kaku dalam pendekatannya, seperti seorang petinju yang langsung menghadapi lawan dengan kekuatan penuh. Prabowo, dalam pandangan Yunarto, cenderung lebih memilih mundur ketika menghadapi hambatan yang besar, berbeda dengan Jokowi yang justru akan mencari cara untuk tetap maju meski ada rintangan.

Dukungan untuk Prabowo, Yunarto juga menyatakan keyakinannya bahwa Prabowo, jika terpilih sebagai presiden, tidak akan terlibat dalam manipulasi kekuasaan atau memanfaatkan birokrasi untuk memenangkan calon-calon yang ia dukung, seperti yang mungkin terjadi dalam beberapa Pilkada. Meskipun demikian, Yunarto tetap mengakui bahwa Prabowo akan berusaha memenangkan jagoannya dalam kontestasi politik. Namun, ia percaya bahwa Prabowo memiliki batasan moral yang lebih jelas dibandingkan Jokowi dalam hal ini.

Pernyataan ini mencerminkan kepercayaan Yunarto bahwa Prabowo memiliki integritas yang kuat, meski dengan gaya kepemimpinan yang berbeda dari Jokowi.

Dinamika Politik di Medan, Boby Nasution Vs Edy Rahmayadi, Dalam diskusi tersebut, Yunarto juga menyoroti persaingan antara Bobby Nasution, menantu Jokowi, dan Edy Rahmayadi dalam kontestasi politik di Medan. Bobby yang didukung oleh kekuatan politik besar dan infrastruktur pemerintah pusat, menurut Yunarto, semakin unggul dalam berbagai survei. Edy Rahmayadi, di sisi lain, terus dihadapkan pada kontroversi, yang membuatnya kehilangan dukungan elektoral.

Meski Bobby unggul dalam beberapa survei, Yunarto juga mengingatkan bahwa ada faktor-faktor lain, seperti kritikan terhadap keluarga Jokowi, yang mungkin mempengaruhi persepsi publik. Sebagai contoh, kontroversi penggunaan jet pribadi oleh keluarga Jokowi sempat mencuat dan menjadi bahan perbincangan.

Tantangan dan Transisi Kekuasaan, Pada bagian akhir diskusi, Yunarto membahas pentingnya transisi kekuasaan yang lancar pasca Pilpres 2024. Ia berharap bahwa Prabowo, jika terpilih, akan menjadi presiden seutuhnya dan tidak menjadi “petugas dari mantan presiden,” merujuk pada potensi pengaruh Jokowi jika Prabowo terpilih. Yunarto mengungkapkan harapannya agar kepemimpinan Prabowo bisa membawa stabilitas, sekaligus memberikan ruang bagi perubahan dalam peta politik Indonesia.

Pernyataan Yunarto Wijaya menggambarkan dinamika politik Indonesia yang terus berkembang, dengan dua tokoh sentral, Jokowi dan Prabowo, memiliki perbedaan mendasar dalam gaya kepemimpinan. Meskipun Yunarto mengakui kekuatan masing-masing, ia tampaknya lebih percaya pada Prabowo dalam hal menjaga integritas kekuasaan. Selain itu, persaingan dalam Pilkada Medan serta potensi perubahan persepsi publik menjadi isu penting yang terus berkembang seiring dengan mendekatnya pemilu.

Artikel ini menyoroti pandangan kritis Yunarto mengenai perpolitikan Indonesia, sekaligus memberikan gambaran yang lebih luas tentang tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi bangsa ini dalam waktu dekat.(c@kra)

MoneyTalk,Jakarta – Menjelang dua bulan berakhirnya masa jabatan, Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet dengan mengganti Menteri Hukum dan HAM serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Pertanyaannya, apa alasan sesungguhnya di balik pergantian ini? Benarkah klaim pemerintah bahwa tujuan reshuffle ini demi efektivitas pemerintahan? hai ini menjadi perhatian Guntur Romli melalui tulisannya yang beredar di grup wastshapp Selasa (20/08)

(lebih…)