3 November 2026

Erick Sitompul

MoneyTalk, Jakarta – Aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR RI siang tadi berakhir ricuh. Polisi terpaksa mendorong massa mundur hingga kawasan Semanggi. Namun, sore harinya gelombang pendemo kembali bermunculan, menandakan kekecewaan publik terhadap wakil rakyat belum surut.

Kericuhan itu dipicu kemarahan mahasiswa dan masyarakat atas besarnya tunjangan anggota DPR, terutama tunjangan rumah sebesar Rp50 juta per bulan dan tunjangan beras Rp12 juta per bulan. Apalagi, di tengah kesulitan ekonomi rakyat, masyarakat masih ingat jelas sebagian anggota DPR berjoget ria saat Sidang Tahunan MPR, 15 Agustus lalu.

Ketua Umum DPP Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB), Erick Sitompul, menilai DPR sama sekali tidak menunjukkan empati dan kehilangan sense of crisis. Erick mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah tegas dengan memotong 60–70 persen tunjangan rumah dan beras DPR.

“Rakyat masih berjibaku dengan kemiskinan puluhan juta orang dan pengangguran di atas 4,5 juta jiwa. Di sisi lain DPR menikmati tunjangan rumah Rp600 juta setahun dan tunjangan beras Rp144 juta setahun. Bukankah gaji mereka saja sudah besar, ditambah berbagai fasilitas dan dana reses miliaran rupiah?” tegas Erick.

Erick menilai gaya hidup anggota DPR menunjukkan kesenjangan mencolok dengan rakyat yang mereka wakili. Dengan berbagai fasilitas negara, mulai dari tunjangan jabatan, transportasi, komunikasi, listrik, asuransi kesehatan, hingga dana reses konstituen sekitar Rp450 juta per tahun, anggota DPR tetap menuntut tambahan tunjangan mewah.

“Mereka ini ingin terlihat sebagai pejabat kelas satu dengan segala macam kemewahan. Padahal, di negara-negara maju seperti Finlandia, Norwegia, Belanda, Jepang, anggota parlemen justru sederhana, bahkan naik sepeda atau kereta ke kantor,” ujar Erick.

Lebih lanjut, Erick mempertanyakan logika nominal tunjangan DPR. Menurutnya, sewa rumah layak di kawasan Senayan–Slipi tak sampai Rp150 juta per tahun. Sementara, kebutuhan beras premium untuk keluarga pun hanya sekitar Rp2 juta per bulan.

“Emangnya mereka makan beras emas apa, sampai perlu Rp12 juta sebulan? Ini keterlaluan. Rata-rata anggota DPR itu kan politisi lama, sudah punya rumah pribadi mewah dan mobil mewah. Jadi untuk apa lagi tunjangan beras dan rumah sebesar itu?” sindir Erick.

Erick juga menyinggung kondisi keuangan negara. Menurut data Kementerian Keuangan, defisit APBN 2025 diprediksi melebar ke 2,78% atau sekitar Rp662 triliun. Ironisnya, pagu anggaran DPR untuk tahun 2026 dipatok mencapai Rp1,6 triliun hanya untuk 580 anggota dewan.

“Politisi DPR itu tahu betul APBN sedang berdarah-darah. Tapi tetap menuntut tunjangan besar. Ini jelas tidak punya sense of crisis,” tegas Erick.

Ia menilai jika pemerintah dan DPR tidak segera merespons, gelombang protes mahasiswa bisa makin membesar. Demo yang siang tadi ricuh hanyalah “lonceng peringatan” dari rakyat yang muak melihat wakilnya hidup hedon di tengah krisis.

“Jabatan anggota parlemen itu mulia, untuk mengabdi pada rakyat, bukan mencari kekayaan. Kalau DPR tidak mau berubah, jangan salahkan rakyat kalau aksi protes makin keras,” tutup Erick.

MoneyTalk, Jakarta – Keputusan Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Abolisi terhadap Thomas Lembong dan Amnesty terhadap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto serta ribuan terpidana lainnya menuai dukungan luas dari berbagai kalangan, termasuk aktivis, politisi, dan oposisi. Ketua Umum Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB), Erick Sitompul, menjadi salah satu tokoh yang memuji langkah Presiden tersebut.

Menurut Erick, keputusan Prabowo adalah bentuk kepemimpinan yang berorientasi pada stabilitas nasional. Ia menilai Keppres ini dapat meneduhkan ekosistem sosial politik yang selama ini sempat memanas, sehingga pemerintah bisa lebih fokus mempercepat perbaikan ekonomi nasional.

“Langkah Presiden Prabowo sangat tepat. Negara butuh situasi yang teduh dan kondusif agar bisa fokus pada agenda besar memperbaiki ekonomi rakyat. Ini bukan hanya soal hukum, tapi kepemimpinan,” ujar Erick dalam keterangannya kepada media, Sabtu (2/8/2025).

Secara historis, Erick mencatat, keputusan abolisi ini menjadi yang ketiga dalam sejarah Republik Indonesia sejak 1945, setelah sebelumnya dilakukan oleh Presiden Soekarno terhadap lawan politiknya dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap kelompok GPK Aceh. Sementara, Amnesty Presiden baru dua kali dilakukan, yakni oleh Presiden BJ Habibie kepada Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko, dan Muchtar Pakpahan cs, dan kini oleh Presiden Prabowo.

Terkait kritik dari sejumlah pengamat hukum yang menyebut keputusan ini “terlambat” atau “prematur”, Erick menilai hal itu tidak relevan.

“Pertama, Keppres ini tidak melanggar konstitusi. Presiden punya hak prerogatif absolut, tentu dengan pertimbangan dari DPR. Kedua, urgensinya sangat nyata: untuk menenangkan kegaduhan politik dan mengembalikan fokus nasional,” jelasnya.

Erick juga menyentil adanya tekanan politik dan dugaan kriminalisasi terhadap Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto. Ia mengaku sejak awal telah menyarankan kepada Kejaksaan Agung agar menghentikan proses hukum terhadap Lembong karena tidak ada kerugian negara dalam laporan BPK.

“Itu kasus absurd. Sekarang terbukti, Presiden dan DPR juga melihat kejanggalan itu. Banyak pakar hukum menyebut ini sebagai bentuk peradilan sesat,” tegas Erick.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya institusi penegak hukum untuk tidak membuang-buang waktu dalam kasus-kasus politis yang kecil, tetapi fokus pada mega korupsi yang menggerogoti keuangan negara.

“Kita ini masih punya PR besar. Kasus korupsi tambang timah, mafia Pertamax, tambang batu bara ilegal, dan perampasan hutan oleh pengusaha properti besar. Bahkan lebih dari 3 juta hektar kebun sawit ilegal di kawasan hutan belum disentuh hukum,” bebernya.

Ia juga menyoroti lambatnya penanganan kasus korupsi di Kemendiknas, pengoplosan beras premium oleh distributor besar, hingga ekspor ilegal 5,3 juta ton nikel sejak 2023 yang belum diungkap KPK.

“Publik sudah muak dengan drama hukum kecil-kecilan. Negara harus segera bergerak membongkar aktor besar perampok uang rakyat. Kalau tidak, kepercayaan publik terhadap hukum akan terus terkikis,” tutup Erick.

Langkah Presiden Prabowo ini dinilai menjadi awal yang baik untuk mendorong rekonsiliasi nasional dan memperkuat fondasi demokrasi serta ekonomi di Indonesia.

MoneyTalk Jakarta  –  Misteri kematian Aria Daru, seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), yang ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan pada 8 Juli 2025 di sebuah kamar kost di kawasan Menteng, terus menuai berbagai spekulasi. Namun, Ketua Umum DPP Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB), Erick Sitompul, menilai bahwa banyak opini yang berkembang justru menyesatkan dan tidak berdasarkan pada metode investigasi ilmiah.

“Sudah terlalu banyak spekulasi liar yang tidak berdasar pada Scientific Crime Investigation,” ujar Erick dalam keterangannya, Senin (28/7/2025). Ia menegaskan bahwa narasi-narasi yang muncul, terutama di media sosial, podcast, dan kanal YouTube, lebih banyak bersifat asumtif dan tidak mengedepankan data atau bukti investigatif.

Erick menyayangkan munculnya konten-konten yang bahkan melibatkan paranormal hingga wawancara imajiner, yang justru memperkeruh suasana duka yang tengah dirasakan keluarga korban dan jajaran Kemenlu. “Lucunya, ada juga yang mengaku psikolog atau kriminolog, tapi berpendapat tanpa fakta atau data investigasi. Mereka seakan menggiring opini publik bahwa korban mengalami gangguan kejiwaan atau bahkan menuding keluarganya,” kata Erick.

Menurutnya, semua pihak seharusnya menahan diri dan mengedepankan empati kepada keluarga korban serta memberikan ruang bagi pihak kepolisian untuk bekerja secara profesional. “Ini bukan kasus biasa. Korban adalah seorang diplomat muda profesional yang disebut-sebut aktif menangani kasus penipuan dan perdagangan orang terhadap WNI di luar negeri,” ujarnya.

Erick menambahkan bahwa pihaknya mengetahui adanya gelar perkara hari ini di Polda Metro Jaya dan berharap proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dengan pendekatan scientific crime investigation. Hal ini penting agar hasil penyelidikan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik dan keluarga korban.

Ia juga menanggapi kabar terbaru tentang adanya anggota DPR Komisi III yang mengantongi bukti berupa foto jenazah yang dinilai janggal. Menurut Erick, hal itu perlu ditelusuri dan ditangani secara profesional oleh pihak kepolisian.

“Kita serahkan sepenuhnya pada Polda Metro Jaya. Semoga hasil gelar perkara hari ini menghasilkan kejelasan yang komprehensif dan dapat menghentikan spekulasi liar yang terus berkembang di tengah masyarakat,” tutup Erick.

MoneyTalk,Jakarta – Rencana Kenaikan PPN 12 % mulai 1 Januari 2025 yang hanya dikenakan kepada barang mewah seperti mobil mewah, rumah mewah dan apartemen mewah, yang berarti tidak jadi dikenakan kepada barang yang menyasar kepada barang barang yg di konsumsi masyarakat bawah dan menengah. Sebagaimana disampaikan Wakil Ketua DPR Dasco dan tim DPR di Istana negara Jumat (6/12/2024).

“Ini menunjukkan respon positip Pemerintahan Prabowo dan DPR terhadap keberatan masyarakat kelas bawah dan menengah. Kalau untuk barang mewah, jangankan 12%, kenakan saja PPN bertingkat antara 20% hingga 40% juga tidak akan masalah. Karena seluruh konsumennya adalah kalangan kaya-raya dan kelompok The New Crazy Rich,” kata Ketua Umum DPP APIB ( Aliansi Profesional Indonesia Bangkit ) Erick Sitompul kepada media.

Diketahui, DPP APIB bersama berbagai asosiasi, ormas dan lapisan masyarakat bereaksi cukup keras meminta pembatalan atau penangguhan atas rencana kenaikan PPN 12 % secara merata terhadap semua kalangan termasuk kelas menengah dan kelas bawah, yang di rancang di era Jokowi itu akan dinaikkan di era Pemerintahan Prabowo di awal 2025.

Kebijakan Pemerintah dan DPR merespon dengan baik aspirasi masyarakat luas dengan mengeluarkan solusi PPN 12% hanya terhadap barang mewah patut di apresiasi. Pemerintahan Prabowo dan DPR saat ini ternyata lebih memiliki sensitivitas terhadap kondisi rakyat bawah dan menengah yang begitu susah saat ini. Ini menunjukkan karakter kenegarawanan Prabowo yang berbeda, jauh dan lebih wisdom dibanding Pemerintahan 10 tahun Jokowi, kata Erick.

Erick juga memuji DPR yang meminta Pemerintah Prabowo menurunkan nilai PPN atas bahan pokok terkait kebutuhan rakyat bawah. Kita ketahui, bahan pokok itu seperti Beras, Kedele, Minyak Goreng, Tepung beras, tepung terigu , pertamax dan lainnya itu memang perlu diturunkan secara bertahap paling tidak hingga 2-3 tahun ke depan hingga daya beli masyarakat bawah dan menengah kembali membaik 3 tahun kedepan.

Daya beli masyarakat akan menjadi normal kembali apabila lapangan kerja tersedia luas, pengangguran jauh berkurang dan PHK massal terutama industri tekstil dapat di stop. Semua itu akan tercapai apabila pertumbuhan ekonomi di 5 tahun pemerintahan Prabowo dapat mencapai angka diatas 8-9 %.

Erick melihat lebih optimis pemerintahan baru ini bisa menjangkau hal itu. Dengan melihat perjalanan perdana Presiden Prabowo ke beberapa negara. Dari Inggris saja membawa investasi senilai 8, 5 milyar USD setara 135 Trilyun dan juga dari UEA 4 milyar USD. Saya yakin akan semakin banyak investor asing yang masuk dan berinvestasi di Indonesia.

Namun kata Erick, hal yang paling penting pemerintahan kedepan adalah bagaimana mampu menggerakkan bukan hanya investor asing tetapi juga mendorong investor dalam negeri untuk membuka usaha padat modal dan padat karya dengan memberi regulasi dan bisnis yang menguntungkan, menurunkan interest perbankan yang terjangkau oleh pelaku usaha dalam negeri dan bisa menghilangkan fraud dalam hal perizinan dan sistem perpajakan.

Erick juga menyarankan, kebijakan pemerintahan terhadap investor luar dan dalam negeri kedepan sebaiknya di arahkan pada investasi pada berbagai sektor Industri Hilir pada puluhan jenis Agro industri berbasis CPO, Industri Farmasi , Industri Herbal, Industri Kecantikan, berbagai industri Aneka Pangan. Demikian juga Usaha besar peternakan dan rakyat, Industri susu dan coklat, industri gula tebu dan gula aren. Industri hilir kelautan ikan- udang dan rumput Laut. Semua industri hilir ini kebutuhan bahan baku hulu nya berasal dari komoditi yang sustainable dan sangat berlimpah di negara kita. Demikian juga pembangunan industri digital dan pariwisata harus di kembangkan lagi, kata Erick.

Industri di banyak sektor ini juga mampu menyerap jutaan tenaga kerja dan dapat mendorong berkembang dan melibatkan jutaan pelaku koperasi dan UMKM sebagai Multy Fliyer Effect Economi industri hilir tersebut diatas. Sektor sektor ini juga mampu memberi peluang sumber pajak dan non pajak yang sangat besar buat negara dan memberi peluang luas menumbuhkan ratusan ribu interpreuner muda dari kalangan milenial dan Gen Z anak bangsa kita, tambah Erick lagi.

Kalau saya boleh saran ke Pemerintah, kata Erick, sebaiknya dunia usaha di negara kita jangan terus menerus diprioritaskan kepada industri yang mengeksploitasi ketersediaan Sumber Daya Energi pada komoditas yang akan cepat habis seperti batubara, nikel , bauksit, tembaga termasuk minyak dan Gas bumi.

Sektor ini harus dipersempit izinnya untuk ketersediaan Ketahanan Energi jangka panjang negara besar seperti Indonesia, karena sumber Energi baru terbarukan kita masih terus dalam proses pencarian bentuk program dan keunggulan potensinya, tambah Erick lagi.