1 November 2026

Gelora Bung Karno (GBK)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam suasana penuh keakraban, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunggah status di media sosial yang menyertakan foto dirinya berhadapan dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Dalam status tersebut Jokowi menuliskan, “Diskusi santai sambil santap malam bersama Presiden Terpilih Pak @prabowo. Tidak terasa dua jam lebih.” Pertemuan tersebut berlangsung pada malam hari, Selasa (8/10/2024), di Hutan Kota Plataran, Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.

Momen ini dibenarkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Pratikno, yang menyatakan bahwa pertemuan ini bersifat pribadi.

“Iya benar (Jokowi dan Prabowo makan malam bersama di Plataran Senayan). Private,” ungkap Pratikno kepada wartawan melalui pesan singkat.

Pertemuan ini menjadi sangat penting mengingat Indonesia sedang memasuki masa transisi pemerintahan. Pratikno menjelaskan bahwa pertemuan ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan transisi yang akan berlangsung pada 20 Oktober 2024 mendatang. “Keduanya membahas kebersamaan dan keberlanjutan,” tambah Pratikno.

Di saat yang sama, Pratikno juga memastikan bahwa Jokowi akan hadir dalam pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden yang baru di DPR pada 20 Oktober 2024. Acara pisah sambut di Istana juga sedang disiapkan.

“Insyaallah dateng. Jadi Pak Presiden memang sejak awal sudah mengatakan akan datang di pelantikan,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (8/10).

Tidak hanya itu, Pratikno mengungkapkan bahwa Jokowi akan bertemu langsung dengan Prabowo di DPR pada saat pelantikan, sebelum menuju Istana Merdeka untuk mempersiapkan acara pisah sambut.

Pertemuan ini mencerminkan semangat rekonsiliasi dan kerjasama yang diharapkan bisa menjadi fondasi bagi pemerintahan yang akan datang. Dalam situasi politik yang kerap kali dipenuhi ketegangan, momen santai ini bisa diartikan sebagai langkah awal menuju stabilitas dan sinergi antara pemerintahan yang sedang berjalan dan yang akan datang.

Dengan pelantikan Prabowo yang semakin dekat, harapan akan keberlanjutan program-program yang telah berjalan di era Jokowi juga semakin nyata. Ini adalah sinyal positif bagi masyarakat Indonesia, yang mengharapkan adanya kesinambungan dalam pembangunan dan kebijakan publik.

Momen ini tidak hanya penting bagi kedua tokoh, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia. Kerjasama yang baik antara pemimpin lama dan pemimpin baru akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada di depan. Semoga langkah-langkah positif ini dapat terus berlanjut, demi kemajuan bangsa dan negara.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Barang Milik Negara (BMN) memainkan peran penting sebagai simbol dan aset strategis bangsa Indonesia. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan disiarkan oleh Kurnia FM pada Senin (07/10), mengupas tuntas tentang pentingnya pengelolaan BMN dalam mencerminkan peradaban bangsa.

Dalam diskusi tersebut, Sri Mulyani mengungkapkan bagaimana pengelolaan aset negara bisa menjadi penentu keberlanjutan serta kemajuan peradaban Indonesia.

Pentingnya BMN dalam Sejarah Indonesia

Sri Mulyani menyoroti bagaimana gedung-gedung bersejarah dan infrastruktur di Indonesia, seperti Kompleks Istana Negara, Gelora Bung Karno (GBK), dan kawasan Kemayoran, yang dulunya dibangun oleh Presiden Soekarno, kini merupakan bagian dari BMN. Namun, banyak dari aset-aset ini tidak didaftarkan atau dimiliki secara resmi oleh negara. Hal ini bisa menjadi masalah jika aset tersebut tiba-tiba diklaim oleh pihak lain.

Kisah nyata yang dibagikan oleh Sri Mulyani tentang Gedung Dendel yang dulu menjadi markas besar VOC, menjadi ilustrasi betapa pentingnya pencatatan dan pengelolaan aset-aset tersebut agar tidak hilang atau diambil alih pihak lain.

Definisi dan Konsep Barang Milik Negara

Dalam pemaparannya, Sri Mulyani menjelaskan bahwa BMN adalah seluruh barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau melalui perolehan lainnya, seperti hibah.

Contohnya adalah pembangunan infrastruktur seperti jalan tol atau gedung kampus yang menggunakan dana APBN, yang setelah selesai dibangun akan dibukukan sebagai barang milik negara.

Sri Mulyani juga menekankan bahwa BMN merupakan bagian dari kekayaan negara yang lebih besar, yang mencakup seluruh aset baik hayati maupun non-hayati, bergerak maupun tidak bergerak.

Tantangan Pengelolaan Barang Milik Negara

Menkeu Sri Mulyani menggarisbawahi bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan BMN adalah kurangnya perhatian terhadap perawatan dan pemeliharaan aset-aset tersebut. Banyak infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar namun tidak dirawat dengan baik sehingga cepat rusak.

Ia memberikan contoh jembatan dan bangunan yang kokoh pada zaman Belanda, yang masih bertahan hingga sekarang, berbanding terbalik dengan banyaknya infrastruktur modern yang cepat mengalami kerusakan akibat kurangnya perhatian terhadap kualitas dan pemeliharaan.

Sri Mulyani juga menyatakan bahwa dalam pengelolaan BMN, perlu ada nilai tambah atau bahkan menciptakan pendapatan bagi negara. Aset-aset negara seharusnya bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk fungsi administratif, tetapi juga dapat disewakan atau digunakan untuk aktivitas yang menghasilkan pendapatan, seperti menyewakan ruang publik atau gedung pemerintahan untuk kegiatan tertentu.

BMN sebagai Cerminan Peradaban Bangsa

Menurut Sri Mulyani, BMN tidak hanya sekadar aset fisik, tetapi juga mencerminkan peradaban suatu bangsa. Cara sebuah negara merencanakan, membangun, dan merawat aset-asetnya mencerminkan karakter dan sikap dari bangsa tersebut. Pengelolaan BMN yang baik menunjukkan kemampuan bangsa untuk menjaga warisan yang dibangun dengan susah payah untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Sri Mulyani menyebutkan bahwa pengelolaan yang buruk terhadap BMN, seperti membiarkan aset-aset menjadi tidak produktif atau tidak menghasilkan nilai tambah, mencerminkan kurangnya rasa peduli terhadap nilai aset-aset tersebut. Oleh karena itu, beliau mengajak semua pihak, termasuk akademisi dan masyarakat luas, untuk turut berperan dalam menjaga dan mengoptimalkan penggunaan BMN.

Peranan Akademisi dalam Pengelolaan BMN

Menkeu Sri Mulyani juga menekankan pentingnya peran akademisi dalam pengelolaan BMN. Beliau berharap Universitas Gadjah Mada sebagai pusat pendidikan dapat membantu dalam membangun sikap dan karakter yang baik dalam pengelolaan negara, khususnya dalam hal BMN. Dengan peran serta akademisi, diharapkan akan terbentuk pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya tata kelola yang transparan, efisien, dan bertanggung jawab.

Sri Mulyani menyatakan bahwa BMN tidak hanya merupakan bagian dari aset kekayaan negara, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai dan sikap bangsa Indonesia. Pengelolaan yang baik terhadap BMN menunjukkan komitmen bangsa dalam menjaga warisan serta memperlihatkan kemampuannya dalam perencanaan dan pembangunan. Dengan demikian, BMN tidak hanya sekadar aset fisik, melainkan juga simbol dari peradaban, nilai, dan kebijakan fiskal yang mencerminkan kemajuan dan keberlanjutan bangsa Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa BMN memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar aset negara. Dengan pemahaman dan pengelolaan yang tepat, BMN dapat menjadi landasan yang kokoh untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan.(c@kra)