31 Oktober 2026

Gubernur BI

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai optimisme Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo terkait penguatan nilai tukar rupiah setelah Juni 2026 tidak memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bukan semata-mata karena faktor musiman, melainkan dipengaruhi persoalan struktural ekonomi yang lebih serius.

Pernyataan tersebut disampaikan Uchok menanggapi penjelasan Perry Warjiyo yang menyebut pelemahan rupiah pada periode April hingga Juni bersifat teknikal dan musiman (seasonality). Menurut Perry, tingginya permintaan dolar Amerika Serikat oleh korporasi untuk kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah pada kuartal kedua setiap tahun.

Namun, Uchok menilai penjelasan tersebut lebih merupakan upaya pembelaan diri di hadapan DPR dan kalangan elite politik agar posisi Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI tetap aman.

“Pernyataan Perry Warjiyo itu untuk membela diri di depan anggota DPR agar tidak disuruh mundur oleh para elite politik dan Presiden Prabowo Subianto,” kata Uchok dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).

Menurut Uchok, keyakinan bahwa rupiah akan kembali menguat setelah Juni hanya membuat para pengambil kebijakan terlena. Ia bahkan menyebut anggota DPR dan Presiden Prabowo telah terhipnotis oleh narasi yang disampaikan Bank Indonesia.

Padahal, lanjutnya, pelemahan rupiah berpotensi terus berlanjut setelah Juni. Ia menilai rupiah akan semakin sulit dikendalikan apabila faktor-faktor fundamental ekonomi tidak segera dibenahi.

“Setelah Juni rupiah akan terus melemah. Rupiah akan merdeka dari intervensi BI, merdeka dari kendali Gubernur BI Perry Warjiyo, dan merdeka karena tidak memiliki kolateral yang cukup untuk memperkuat nilai mata uang tersebut,” ujarnya.

Uchok juga menyoroti kondisi fiskal pemerintah yang menurutnya semakin berat akibat tingginya beban utang negara. Ia menyebut total utang Indonesia telah melampaui Rp9.000 triliun, sementara kewajiban pembayaran pokok utang dan bunga pada tahun 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp800 triliun.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian investor dan kreditor mulai kehilangan kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia.

“Brankas pemerintah seperti tertutup karena investor dan kreditor kabur. Mereka tidak mau masuk ke pasar keuangan karena melihat beban utang yang sangat besar,” tegasnya.

Selain faktor ekonomi, Uchok juga mengaitkan menurunnya kepercayaan investor dengan sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai keterlibatan TNI dalam berbagai sektor sipil, mulai dari pengelolaan perkebunan sawit hingga sektor pertambangan, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.

“Investor dan kreditor tidak percaya karena Presiden Prabowo mempersilakan TNI masuk ke ranah sipil, mengurus kelapa sawit, tambang, hingga merebut jabatan-jabatan sipil,” katanya.

Atas dasar itu, Uchok memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Ia bahkan menilai posisi Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia dapat terancam apabila kondisi tersebut tidak segera membaik.

“Kalau setelah Juni rupiah tetap melemah, maka Perry Warjiyo harus siap-siap mundur atau dipaksa dicopot. Kalau mundur mungkin aman dari jeratan hukum. Tetapi kalau dicopot, siap-siap dipanggil dan diperiksa Kejaksaan Agung,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Bank Indonesia masih berpegang pada proyeksi bahwa nilai tukar rupiah akan kembali stabil seiring meredanya kebutuhan valas korporasi dan membaiknya kondisi pasar keuangan global.

MoneyTalk, Jakarta – Benix dalam kanal youtubenya pada Jumat (25/10) membahas kebijakan suku bunga Indonesia yang dinilai memberatkan rakyat, khususnya bagi mereka yang ingin mengambil kredit untuk kepemilikan rumah atau kendaraan. Benix mengungkapkan bahwa suku bunga tinggi di Indonesia saat ini berdampak buruk pada ekonomi masyarakat dan menghambat peredaran uang di sektor-sektor penting.

Menurut Benix, suku bunga yang tinggi berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Banyak orang kini enggan mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) atau kredit kendaraan bermotor karena bunga kredit yang tinggi. Akibatnya, penjualan bahan bangunan seperti cat, keramik, dan semen menurun karena pembangunan rumah pun tersendat. Hal ini mengakibatkan banyak pekerja di sektor konstruksi kehilangan penghasilan. Dengan minimnya permintaan kredit, perputaran uang berkurang drastis, yang turut memperlambat ekonomi nasional.

Suku bunga yang tinggi, jelas Benix, juga berdampak pada keputusan masyarakat untuk membeli kendaraan. Banyak orang lebih memilih kendaraan bekas atau menahan diri membeli kendaraan baru. Pasar kendaraan bekas pun kian lesu, yang semakin menekan para pedagang dan industri otomotif.

Benix mengkritik bahwa kebijakan suku bunga tinggi ini, meskipun mungkin bertujuan untuk menekan inflasi, justru menjerumuskan Indonesia ke dalam deflasi—penurunan harga secara umum karena menurunnya permintaan. Hal ini mengurangi kemampuan ekonomi untuk tumbuh, karena baik masyarakat maupun pengusaha kini lebih banyak menahan uang mereka. Selain itu, menurut Benix, tingginya suku bunga hanya menguntungkan para investor asing, yang menempatkan dana di Indonesia untuk memanfaatkan suku bunga tinggi.

Benix mendesak Presiden Prabowo untuk mempertimbangkan penggantian Gubernur Bank Indonesia jika suku bunga tetap dibiarkan tinggi. Menurutnya, langkah ini penting agar perekonomian tidak terus terpuruk dan rakyat tidak semakin sengsara. Kebijakan suku bunga yang terlalu tinggi, jika dibiarkan, berisiko membuat rakyat semakin sulit mendapatkan akses ke kredit, yang dapat memperburuk ketimpangan ekonomi di Indonesia.

Menariknya, Benix juga berjanji akan menyoroti strategi ekonomi Prabowo dalam video mendatang, membahas potensi langkah-langkah Prabowo untuk mengatasi tantangan ekonomi yang ada. Mari kita tunggu perkembangan kebijakan ini, terutama jika Prabowo menurunkan suku bunga sebagai bagian dari visi ekonominya.(c@kr)

JAKARTA, MoneyTalk – Presiden Joko Widodo telah menyerahkan nama calon Gubernur Bank Indonesia (BI). Adapun nama Perry Warjiyo disebut-sebut sebagai calon tunggal untuk kembali menjabat sebagai Gubernur BI.

“Kenapa harus calon tunggal? Padahal Indonesia banyak memiliki SDM berkualitas dan mumpuni untuk memimpin BI,” kata Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, Senin (27/2/2023).

Lebih jauh Uchok mendesak agar DPR berani menolak usulan presiden terkait calon tunggal tersebut. Tentu dalam menentukan calon menjadi gubernur BI, presiden maupun DPR mempunyai posisi yang seimbang. “Hak prerogatif presiden itu mengusulkan. DPR yang menentukan,” ujarnya.

Harusnya, kata Uchok lagi, calon gubernur BI ke depan adalah sosok yang bisa menjaga independensi BI. “Karena UU PPSK yang baru, terkesan Bank Indonesia ini seperti dikerdilkan posisi independensinya,” paparnya.

Lebih jauh Uchok menyoroti fungsi Bank Indonesia pada KSSK yang ternyata berbagi beban lewat skema burden sharing dengan kementerian/lembaga lain ketika dibutuhkan. “Itu kan berarti dia dalam beberapa hal tidak independen, tidak bisa menolak apapun hasil keputusan KSSK, atau harus ikut serta burden sharing,” imbuhnya.

Ditanya soal calon gubernur BI lainya, Uchok menyerahkan kepada Presiden Jokowi. Karena dia yang lebih mengetahui dan memahami persoalan.

Saat disinggung nama Akmal Umar, yang pernah berkiprah 33 tahun di Bank Indonesia, Uchok tak mempermasalahkan. Karena semakin banyak calon gubernu BI yang muncul, maka akan semakin baik, sehingga bisa mendapatkan yang berkualitas.

Uchok mendesak Presiden Jokowi tidak main-main dengan sosok calon gubernur BI ke depan. Karena tantangan semakin berat, apalagi perang Rusia-Ukraina belum jelas, kapan selesainya.[MT]