1 November 2026

India

Kita Sudah Swadesi Plus

Oleh : Salamuddin Daeng

Kunjungan Prabowo ke India momentum ya sudah tepat. Mengapa? Karena saatnya sekarang masyarakat Indonesia belajar dari filosofi India. Negara kuc kuc hotahe memiliki atau mewarisi pemikiran filsafat besar yakni Swadesi yang pernah mereka pakai untuk melawan penjajahan atau kolonialisme Inggris.

Negara kuc kuc hotahe yang diispirasi oleh Gandi tidak membeli barang impor dari Inggris dan mengajak rakyat nya membeli buatan dalam negeri sendiri, buatannya sendiri. Sepertinya karena Inggris punya kebiasaan berdagang dengan negara jajahannya untuk menyedot harta, emas, perak, batu permata yang tersisa di tempat tempat yang disembunyikan.

Kunjungan Prabowo ke India mudah mudahan akan kembali dan menginspirasi stake holder Indoneaia bahwa mulai sekarang harus membeli barang dalam negeri. Jangan membeli barang impor. Jangan membeli apel impor, steak impor, shisha impor, cerutu impor, ngudut bako lokal saja. Ngelinting sendiri atau Ngelinting dewe alias Tingwe.

Kalau rakyat kebanyakan sebetulnya sudah Swadesi dari kemarin kemarin. Masalahnya adalah isi dompet sudah gak ada. Kalau uang gak ada di dompet, itu sudah pasti rakyat melakukan Swadesi. Tidak mungkin bisa membeli barang impor yang mahal. Beli dari tukang sayur yang lewat di depan rumah aja belum tentu bisa beli. Jadi sudah tepat Prabowo ke India dan belajar filosofinya Mahatma Gandi yakni gerakan Swadesi.

Apalagi sekarang mengingat kondisi isi kantong yang sudah kering, telah membuat bangsa Indonesia kere keriting. Dalam situasi tersebut maka sangat cocok untuk meniru Mahatma Gandi jangan beli apapun yang diimpor dari luar. Cukup lihat lihat saja, untuk menyenangkan hati.

Situasi kantong kering secara nasional adalah lahan yang sangat subur untuk membangun gerakan. Nah gerakan yang paling cocok adalah Swadesi. Ini adalah perpaduan yang sempurna, semangat Swadesi disaat kantong rakyat sudah keriting. Wong kere ya berhenti belanja

Apalagi sebentar lagi bulan puasa maka secara otomatis masyarajat Indoneaia akan berpuasa berbelanja barang Impor. Bulan puasa akan menjadi momentum Swadesi, karena benar benar berpuasa makan minum yang bersamaan dengan kantong yang kere keriting. Ini namanya *Swadesi plus. Peningkatan kualitatif dan kuantitatif dari model Swadesi negara kuc kuc hotahe.* Ibarat botol ketemu tutup. Swadesi ketemu kantong kering.

Penulis : Salamuddin Daeng

MoneyTalk, Jakarta – Konon katanya Indonesia secara resmi telah bergabung dengan aliansi Brazil, Russia, India, China, and South Africa (BRICS). Apakah ini sebuah keputusan yang benar? Apakah ini sejalan dengan pembukaan UUD 1945. Apakah sesuai dengan Pancasila? Benarkan ini merupakan suatu usaha perjuangan politik bebas aktif? Apakah ini pelaksanaan politik Non Blok? Pasti pertanyaan konstitusionalnya demikian. Jika tidak berdasarkan itu semua maka aliansi atau persekutuan internasional tersebut melanggar konstitusi.

Namun akan ada orang yang berkata untuk membenarkan sebuah keputusan politik yang diambil pemerintah. Pembenaran itu dengan mengatakan BRICS hanyalah sebuah kerjasama perdagangan atau keuangan, tidak ada hubungannya dengan amanah politik luar negeri bebas aktif yang memang dibuat untuk menghadapi imperialisme, kolonialisme atau nekolim. BRICS akan diklaim sebagai kerjasama ekonomi semata.

Benarkan semua bisa demikian? Apakah BRICS bukan sebuah aliansi untuk persiapan perang, atau aliansi yang dapat menjadi pemicu perselisihan, sengketa dan akhirnya perang, lebih dari yang dulu pernah dibuat yakni perang dingin, sekarang bisa jadi perang hangat, bisa jadi akan ada benturan seperti yang dimulai di Eropa hari ini? Pertanyaan ini harus diajukan karena BRICS sudah menyentuh aspek tertinggi penyebab perselisihan, sengketa, dan perang terbesar yakni memperbutkan kekuasaan atas uang.

Intelijen tau bahwa ujung dari semua pertarungan dan persekutuan politik internasional adalah memperebutkan otoritas atas keuangan. Siapa kelompok mengontrol keuangan maka akan mengontrol currencies, mengontrol perdagangan, mengontrol energi, dan seluruh aspek sosial politik, maka kekuatan itu lah yang berkuasa.

Apa yang menjadi motivasi utama pembentukan BRICS adalah dalam rangka melepaskan diri dari otoritas dolar yang dipegang oleh The Federal Reserve yang kantornya ada di Amerika Serikat. BRICS hendak membuat mata uang sendiri, sebagai alat tukar bersama, dan digunakan memfasilitasi perdagangan antara anggota nya dan diharapkan akan diakui dan digunakan oleh non anggotanya.

Usaha BRICS untuk mengontrol keuangan itulah sesungguhnya bentuk diplomasi internasional dengan pencapaian tertinggi. Itulah kerjasama inti di antara semua negara anggota BRICS. Jika dulu Amerika Serikat dan Eropa dianggap sebagai blok kapitalis dan Russia dan teman temanya adalah blok komunis, maka sekarang Rusia dan teman temannya adalah blok baru yang memiliki posisi lebih tinggi dari blok politik mereka yang lama, karena sekarang berhadapan langsung dengan AS dan sekutunya memperebutkan otoritas atas keuangan global.

Apa yang menjadi dasar sistem keuangan BRICS yang nantinya akan sanggup menghadapi atau mengganti supremasi dollar AS? Ini yang harus dicermati. Banyak pihak kurang menyadari bahwa BRICS tidak berbeda dengan dolar AS. Jika dollar AS mendasarkan sistem keuangannya pada minyak dan menyebut dirinya dengan petro dollar sistem, BRICS ternyata juga akan menggunakan komoditas terutama gas sebagai dasar sistem keuangannya. Dengan demikian maka BRICS adalah rezim yang jenis kelaminnya sama, yakni rezim petro gas. Rusia terutama adalah negara dengan kekayaan gas terbesar di dunia.

Ini adalah awal baru, perang yang lebih panas sebagai kelanjutan perang dingin dan dapat berubah sewaktu waktu menjadi perang yang sebenarnya. Mereka pun kekuatan petro dolar dan BRICS tengah berhadapan hadapan memperebutkan senjata paling utama dalam pertarungan internasional yakni senjata keuangan. Tidak ada yang lebih parah akibatnya dari pada benturan kepentingan keuangan yang menimbulkan ledakan keuangan. Semua orang bisa sekarat karena ini tanpa terkecuali terkena serpihan ya.

Apakah Indonesia akan terlibat dalam pertarungan ini, pertarungan antara block petro dolar dan block BRICS? yang keduanya tengah sekarat dan mencari sandaran untuk keluar dari kemelut krisis kapitalisme? Krisis yang menuntut pelaksanaan nekolim dalam skala yang lebih luas lagi. Krisis yang menuntut korban sekelompok manusia dan sejumlah negara bagi eksistensi negara penjajah.

Sementara Indoneia telah menetapkan diri dalam aliansi gerakan non blok, tidak ikut ikutan perang kapitalis imperialistik ini, tidak ikut dalam usaha usaha dominasi dan ekploitasi bangsa lain. Indonesia telah menetapkan cita cita internasionalnya yakni menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Itulah jalan untuk mewujudkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Itulah Bandung Spirit kata Prof. Samir Amin Sorbon Paris tahun 2010 lalu. Bandung Spirit yang bersumber dari Dasa Sila Bandung adalah jalan keluar satu satunya bagi penyelesaian krisis kapitalisme yang melanda dunia. _To build the world a new

Penulis : Salamuddin Daeng

MoneyTalk, Jakarta – Dalam narasi yang ditayangkan di kanal Bossman Mardigu pada Jumat (27/09), narasumber Mardigu Wowiek Prasantyo mengemukakan pandangan kontroversial mengenai masa depan transaksi dagang global. Terutama terkait rencana India yang diduga bakal meninggalkan penggunaan dolar Amerika Serikat (USD). Kabarnya India bakal beralih menggunakan cryptocurrency (kripto) sebagai alat transaksi perdagangan internasional.

Mardigu, seorang pengusaha dan pemikir independen, menyoroti tren pergeseran global yang semakin terlihat nyata. Menurutnya, ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi internasional, khususnya di negara-negara seperti India, akan segera ditinggalkan. India yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dikabarkan telah menyiapkan skenario untuk memperkuat posisinya. Salah satu rencana adalah merangkul mata uang digital sebagai instrumen keuangan di masa depan.

Strategi Jangka Panjang

Mardigu menjelaskan, adopsi kripto oleh India merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Ketergantungan ini tidak hanya berdampak pada ketidakstabilan ekonomi negara-negara yang menggunakan dolar, tetapi juga menempatkan mereka pada risiko kebijakan moneter AS yang bisa mempengaruhi ekonomi global.

“India melihat peluang besar dalam desentralisasi sistem keuangan. Kripto memberikan solusi yang lebih independen dan terbebas dari dominasi dolar AS,” ujar Mardigu dalam narasinya.

Salah satu faktor utama di balik dorongan India untuk menjauhi dolar adalah perubahan geopolitik global dan potensi meningkatnya kontrol dari Amerika Serikat melalui sistem finansial global, seperti SWIFT. Dengan menggunakan kripto, India dan negara-negara berkembang lainnya diharapkan dapat menciptakan sistem keuangan yang lebih otonom dan tidak mudah dipengaruhi oleh satu negara adidaya.

Potensi Kripto dalam Transaksi Internasional

Dalam skema ini, cryptocurrency akan digunakan sebagai alat pembayaran utama dalam transaksi dagang internasional India, menggantikan peran dolar yang selama ini mendominasi. Kripto dinilai memiliki beberapa keunggulan, seperti efisiensi biaya, keamanan transaksi, serta pengurangan ketergantungan pada sistem keuangan tradisional.

Menurut Mardigu, India akan mengambil langkah signifikan dalam mereformasi kebijakan moneternya dengan menciptakan kerangka regulasi yang mendukung penggunaan mata uang digital dalam transaksi perdagangan, baik untuk transaksi domestik maupun internasional.

“Kripto memungkinkan transaksi lintas negara menjadi lebih cepat, aman, dan terdesentralisasi. Ini akan membuka jalan baru bagi sistem keuangan global yang lebih adil dan seimbang,” jelas Mardigu.

Dampak terhadap Keuangan Dunia

Jika India benar-benar mengadopsi kripto dalam perdagangan internasionalnya, dampaknya bisa sangat signifikan terhadap tatanan keuangan dunia. Ini bisa menjadi preseden bagi negara-negara lain yang juga ingin melepaskan diri dari dominasi dolar AS dalam transaksi global. Langkah India diperkirakan akan menginspirasi negara-negara besar lainnya, terutama di Asia dan Amerika Latin, untuk mengeksplorasi peluang yang sama.

Namun, Mardigu juga mencatat bahwa langkah ini tidak lepas dari tantangan. Regulasi, fluktuasi harga mata uang digital, dan resistensi dari pihak-pihak yang masih bergantung pada sistem keuangan tradisional adalah beberapa hal yang harus dihadapi India dan negara-negara lainnya yang tertarik untuk mengadopsi kripto sebagai alat transaksi dagang.

Pernyataan Mardigu Wowiek dalam video terbaru di Bossman Mardigu Chanel membuka wacana baru tentang transformasi sistem keuangan global. Jika India benar-benar memutuskan untuk meninggalkan dolar AS dan beralih ke kripto, ini bisa menjadi awal dari revolusi ekonomi digital yang lebih besar. Penggunaan kripto dalam transaksi internasional dapat memberikan alternatif yang lebih stabil dan mandiri bagi negara-negara berkembang, sekaligus mengubah peta dominasi mata uang dunia.

India, sebagai salah satu kekuatan ekonomi besar, akan menjadi pusat perhatian dunia jika berani melangkah menuju era keuangan digital berbasis kripto, meninggalkan ketergantungan pada dolar AS yang selama ini mengikat banyak negara dalam sistem keuangan internasional.(c@kra)