21 Oktober 2026

Jusuf Kalla

MoneyTalk, Jakarta – Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Henri Subiakto, menilai simpati publik Indonesia terhadap Iran cukup besar di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Hal itu mengemuka setelah Duta Besar Iran untuk Indonesia melakukan pertemuan dengan mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, alih-alih bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto atau jajaran menteri terkait.

Pertemuan Dubes Iran dengan Jusuf Kalla dinilai sarat pesan simbolik. JK mengungkapkan bahwa kedatangan perwakilan Teheran tersebut dalam rangka membangun komunikasi dan mengharapkan dukungan moral dari umat Islam, termasuk dari Indonesia. Namun, JK juga menegaskan bahwa pada prinsipnya masyarakat dan Pemerintah Indonesia tetap mendukung upaya perdamaian.

Henri Subiakto menyebut, dalam konteks opini publik, solidaritas terhadap Iran—terutama ketika berhadapan dengan Amerika Serikat dan Israel—cukup terasa di ruang publik dan media sosial.

“Secara historis dan emosional, sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki kedekatan solidaritas terhadap Palestina dan pihak-pihak yang dipersepsikan melawan agresi,” ujar Henri dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa dukungan publik tidak serta-merta identik dengan sikap resmi negara. Pemerintah Indonesia secara konsisten menganut politik luar negeri bebas aktif dan lebih menekankan jalur diplomasi ketimbang keberpihakan terbuka dalam konflik bersenjata.

Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia cenderung menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian damai. Dalam berbagai forum internasional, Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan stabilitas kawasan, namun menghindari keterlibatan langsung dalam konflik militer.

Nama Menteri Luar Negeri Sugiono dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga sempat disebut dalam perbincangan publik terkait sikap pemerintah. Meski demikian, hingga kini pernyataan resmi pemerintah tetap berada pada koridor diplomasi dan perdamaian.

Perbedaan persepsi antara opini publik dan kebijakan resmi merupakan hal wajar dalam negara demokrasi. Di satu sisi, masyarakat bebas menyuarakan solidaritas terhadap Iran. Di sisi lain, pemerintah harus mempertimbangkan kepentingan nasional, stabilitas ekonomi, serta posisi Indonesia di panggung global.

“Pemerintah tidak bisa mengambil langkah emosional. Setiap sikap harus dihitung secara geopolitik dan ekonomi,” kata Henri.

Pertemuan Dubes Iran dengan Jusuf Kalla pun dinilai sebagai langkah diplomasi informal (track two diplomacy) untuk membaca peta dukungan sosial dan politik di Indonesia.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat kerja bakti di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, pada 8 Februari 2026, mendadak menjadi perbincangan publik. Dalam kegiatan yang digelar menyusul banjir yang kerap melanda wilayah tersebut, Pramono hadir bersama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Momen santai dalam kerja bakti itu kemudian ramai diperbincangkan setelah Pramono melontarkan candaan yang dikutip berbagai media nasional. Hal tersebut turut disoroti pengamat politik Hersubeno Arief melalui kanal YouTube miliknya.

Menurut Hersubeno, peristiwa yang tampak sederhana itu menjadi menarik karena konteks kalimat yang disampaikan Pramono. Dalam candanya kepada Jusuf Kalla, Pramono mengatakan bahwa dirinya dan JK dibesarkan dalam tradisi teknokrasi sehingga “tidak mau masuk gorong-gorong” dan memilih bekerja menggunakan pikiran serta otak. Candaan itu disambut tawa Jusuf Kalla.

Secara sekilas, ujar Hersubeno, pernyataan tersebut tampak sebagai humor biasa tanpa menyebut nama siapa pun. Namun dalam konteks politik Indonesia, istilah “gorong-gorong” memiliki asosiasi kuat dengan gaya kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang kerap turun langsung ke lapangan, termasuk meninjau saluran air.

“Dalam politik, simbol dan ingatan kolektif sangat kuat. Ketika istilah gorong-gorong disentuh oleh figur yang pernah berada di lingkar kekuasaan Jokowi, candaan itu bisa ditafsirkan sebagai sindiran,” kata Hersubeno, Senin (9/2/2026).

Ia menilai publik menangkap pernyataan tersebut bukan sekadar humor, melainkan memiliki nuansa politik, terlebih karena relasi panjang antara Pramono, Jusuf Kalla, dan Jokowi. Pramono diketahui pernah menjabat Sekretaris Kabinet selama dua periode pemerintahan Jokowi, sementara Jusuf Kalla merupakan Wakil Presiden pada periode pertama.

Hersubeno juga menyinggung dinamika hubungan antara PDIP—partai tempat Pramono bernaung—dengan Jokowi yang merenggang setelah perbedaan sikap politik menjelang Pilpres 2024. Menurutnya, kondisi itu membuat setiap pernyataan tokoh PDIP terhadap simbol-simbol yang lekat dengan Jokowi mudah dimaknai sebagai kritik.

Meski demikian, ia mengaku cukup terkejut karena Pramono selama ini dikenal jarang melontarkan sindiran terbuka. “Disampaikan secara humor, tetapi nadanya terasa keras bagi sebagian orang,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Pramono Anung terkait penafsiran publik atas candaan tersebut. Namun perbincangan di ruang publik menunjukkan bahwa simbol kecil dalam politik kerap memunculkan tafsir yang lebih luas daripada sekadar kata-kata.

MoneyTalk, Jakarta – Politikus senior Akbar Faizal melontarkan kritik tajam kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Melalui pernyataan terbukanya, Akbar meminta Gibran untuk belajar lebih cepat dalam memberikan dukungan yang terukur, konkret, dan strategis kepada Presiden Prabowo Subianto.

Akbar secara khusus membandingkan posisi Gibran dengan peran Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), pada periode pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurutnya, JK kala itu mampu memainkan peran signifikan dan terasa langsung manfaatnya bagi Presiden.

“Contohlah Pak Jusuf Kalla pada periode pertama SBY. Perannya jelas, nyata, dan dirasakan langsung oleh Presiden,” ujar Akbar Faizal.

Namun, Akbar menegaskan agar Gibran tidak menjadikan pengalaman Jusuf Kalla di periode pertama pemerintahan Joko Widodo sebagai rujukan. Ia menyebut pada masa itu JK memang tidak diberi ruang yang cukup untuk berperan optimal.

“Jangan melihat peran Pak JK pada periode pertama Jokowi. Memang tidak ada ruang yang diberikan oleh ayah Anda saat itu,” tegasnya.

Lebih jauh, Akbar Faizal mengingatkan bahwa saat ini Presiden Prabowo membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar aktivitas simbolik. Ia bahkan secara terbuka mengkritik gaya komunikasi Gibran yang dinilainya justru menjadi beban tambahan bagi Presiden.

“Segera bantu Pak Prabowo. Berhenti pidato berkualitas super melelahkan itu, sebab itu justru makin membebani Presiden,” kata Akbar.

Dalam nada yang semakin keras, Akbar memberikan dua pilihan tegas kepada Wakil Presiden: berperan aktif dan efektif, atau memilih untuk benar-benar diam demi menjaga stabilitas pemerintahan.

“Kalau tidak bisa membantu secara nyata, diam saja. Benar-benar diam,” pungkasnya.

Pernyataan ini menambah daftar kritik terbuka terhadap peran Wakil Presiden Gibran di awal pemerintahan Prabowo Subianto, sekaligus menegaskan tingginya ekspektasi publik dan elite politik terhadap soliditas kepemimpinan nasional.

MoneyTalk,Jakarta – Uang mengendalikan segalanya. Dengan uang aturan dibuat, hukum ditundukkan, kebijakan diarahkan dan dengan uang pula karir pegawai dan posisi pejabat ditentukan.

Siapa yang punya uang? Oligarki ! Siapa oligarki? Kelompok kecil orang yang mengendalikan negeri ini. Dengan uangnya, mereka rampok negeri ini melalui kebijakan para penguasa.

Ketum partai hingga presiden tunduk karena berhutang logistik kepada mereka. Saat konggres, partai pakai uang mereka. Saat pemilu, semua kepala daerah hingga presiden di-ijon oleh mereka. Tidak sedikit kepala daerah yang melawan mereka, tak lama kemudian ditangkap KPK. Minimal jadi tersangka kejaksaan dan kepolisian. Emang lembaga hukum ini milik siapa? Cukup ! Jangan bertanya lagi.

Ongkos sekolah mahal. Proses karir butuh biaya tinggi. Siapa yang bisa bantu para abdi negara kalau bukan oligarki. Mereka yang punya uang. Mereka butuh pengamanan. Mereka butuh bisnisnya bertahan dan berkembang.

Pemilik uang berkuasa. Hampir semua yang berada di struktur kekuasaan tunduk, atau minimal berkolaborasi dengan mereka. Lihat isi undang-undang dan berbagai peraturan di bawahnya. Ada banyak kepentingan mereka yang diprioritaskan.

Kasus pulau reklamasi Jakarta, Rempang Batam dan terkini, PIK 2 Banten. Untuk kepentingan siapa? Siapa di belakang proyek-proyek raksasa yang dikawal oleh kebijakan negara ini? Anda sudah pasti tahu. Ini hanya beberapa bukti betapa oligarki bisa mengendalikan kekuasaan.

Tiga proyek besar ini lahir di era Jokowi. Reklamasi Jakarta dimulai saat Jokowi gubernur DKI. Rempang juga muncul di era Jokowi. PIK 2 dijadikan PSN (Proyek Strategis Nasional) oleh Jokowi. Apakah Jokowi dikendalikan oligarki? Cukup ! Jangan bertanya lagi.

Jokowi sudah tidak jadi presiden lagi. Kekuasaannya akan berangsur melemah. Ketika semua pejabat era Jokowi diganti oleh Prabowo. Mulai dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, BIN, dll, kekuasaan Jokowi akan melemah.

Berarti, kekuatan Jokowi bergantung Prabowo? YES ! Lawan Jokowi akan otomatis menjadi musuh Prabowo jika Prabowo terus memberikan ruang bagi Jokowi untuk intervensi terhadap setiap kebijakannya.

Beberapa bulan ini, santer kabar oligarki rajin ke istana Solo. Silahkan pantau, siapa saja yang ke Solo dan urusan proyek apa.

Apakah ini pertanda bahwa oligarki tidak mampu menembus pintu gerbang istana Prabowo? Mereka harus datang ke Jokowi agar berbisik kepada Prabowo: “tolong bukain pintu istana dong…”.

Bagaimana dengan Gibran? Tidakkah ia adalah wakil presiden. Sebesar apa kekuatan politik dan pengaruh kekuasaan Gibran?

Teringat nasib para wakil-wakil presiden sebelumnya. Ada Jusuf Kalla dan Kiai Ma’ruf Amin. Jabatan tanpa peran. Apa bedanya Gibran dengan Jusuf Kalla dan Kiai Ma’ruf Amin? Wakil presiden tidak punya hak tanda tangan. Tidak punya otoritas untuk membuat kebijakan. Kecuali presiden “tutup usia” di pertengahan jalan.

Nasib Jokowi ada di tangan Prabowo. Kuat dan melemahnya Jokowi akan berpengaruh pada nasib oligarki. Khususnya oligarki dalam perspektif publik, yaitu para pemilik uang yang sesuka hati kendalikan negara.

Apakah Prabowo akan terus akomodir Jokowi dan memberi ruang buat para oligarki untuk terus kendalikan negeri?

Penulis : Tony Rosyid, pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyampaikan kritik tajam terhadap pengelolaan anggaran pendidikan di Indonesia dalam acara diskusi bertajuk Menggugat Kebijakan Anggaran Pendidikan yang digelar di Hotel Sheraton Gandaria City pada Sabtu (7/9/2024). Pada kesempatan itu, Jusuf Kalla mengungkapkan pandangannya mengenai peran dan kinerja para Menteri Pendidikan terdahulu, termasuk Muhadjir Effendy, Anies Baswedan, hingga Nadiem Makarim.

(lebih…)