5 November 2026

KTT BRICS

MoneyTalk.id,Jakarta – Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan disebut bukan semata-mata berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi, tetapi dipicu perseteruan internal di lingkungan Kementerian Keuangan.

Reuters dalam laporan 16 September 2026 menyebut, tiga sumber pemerintah mengatakan Purbaya dicopot Presiden Prabowo Subianto setelah terlibat konflik dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama. Perselisihan itu disebut berkaitan dengan perombakan ratusan pejabat di Kementerian Keuangan, terutama di Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Menurut sumber Reuters, Djaka dan Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto keberatan dengan rotasi tersebut karena mereka tidak menyetujuinya. Djaka kemudian disebut menyampaikan keberatan itu langsung kepada Prabowo.

Dalam laporan Reuters, kedua pejabat tersebut berada di bawah Menteri Keuangan, tetapi disebut dipilih langsung oleh Prabowo. Djaka juga disebut pernah menjadi bagian dari tim pasukan khusus Prabowo ketika masih berdinas di militer.

Salah satu sumber Reuters bahkan menyebut Djaka memiliki akses langsung yang cukup kuat kepada Prabowo. Sumber yang sama mengatakan Purbaya membutuhkan persetujuan dari lingkaran dalam presiden untuk mendapatkan pertemuan dengan kepala negara.

Perselisihan tersebut disebut mencapai puncaknya pada acara pelantikan ratusan pejabat Kementerian Keuangan pada Kamis pekan lalu. Dalam acara itu, Purbaya menyampaikan bahwa rotasi dilakukan berdasarkan penilaian profesional sekaligus melalui konsultasi dengan pejabat terkait.

Namun, dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Djaka kemudian mempersoalkan keputusan itu dan menyampaikannya langsung kepada Prabowo pada Jumat, sebelum Presiden bertolak ke India untuk menghadiri KTT BRICS.

Prabowo kembali ke Jakarta pada Senin. Pada hari yang sama, Purbaya disebut mendapat pemberitahuan mengenai pencopotannya melalui sambungan telepon dari Menteri Sekretaris Negara ketika dirinya sedang mengikuti rapat dengan DPD membahas rancangan anggaran pemerintah 2027.

Purbaya kemudian menyerahkan jabatan Menteri Keuangan kepada Suahasil Nazara dalam seremoni singkat. Setelah serah terima, Purbaya mengakui bahwa persoalan perombakan internal turut berperan dalam pencopotannya, meski tidak menjelaskan secara rinci.

“Saya mengikuti kebijakan Presiden,” kata Purbaya, sebagaimana diberitakan Reuters.

Reuters juga melaporkan, sumber pertama menyebut terdapat perbedaan antara Purbaya dan Bimo Wijayanto mengenai pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau tax refund.

Bimo disebut mendukung pengembalian dana secara tepat waktu. Sementara itu, Purbaya cenderung menunda pengembalian dengan alasan klaim perusahaan perlu diperiksa secara ketat guna mencegah kebocoran penerimaan negara.

Di sisi lain, Purbaya disebut menjelaskan kepada Prabowo bahwa rotasi pejabat diperlukan untuk meningkatkan penerimaan negara melalui kedua direktorat tersebut.

Namun, setelah ditunjuk menggantikan Purbaya, Suahasil Nazara mengatakan akan meninjau kembali seluruh penempatan pejabat.

Reuters juga melaporkan adanya pesan WhatsApp Suahasil kepada pejabat senior Kementerian Keuangan pada Jumat yang menyebut dirinya telah menyarankan Purbaya menunda acara pelantikan sampai keberatan dari pimpinan Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai diselesaikan.

Kantor Bea dan Cukai kemudian menyatakan masih menunggu arahan dari Menteri Keuangan yang baru terkait penempatan para pejabat tersebut.

Perselisihan dengan Djaka disebut bukan satu-satunya hubungan yang tegang antara Purbaya dengan pejabat tinggi lainnya.

Reuters mencatat Purbaya sebelumnya pernah berbeda pandangan dengan mantan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo terkait kebijakan penempatan dana pemerintah pada bank-bank BUMN untuk mendorong penyaluran kredit.

Purbaya juga sempat berbeda pandangan dengan Kepala Danantara Rosan Roeslani setelah Purbaya mengatakan sovereign wealth fund tersebut akan mentransfer keuntungan sebesar Rp120 triliun untuk membantu memenuhi target defisit fiskal tahun berjalan.

Rosan kemudian mengatakan tidak pernah ada pembahasan mengenai rencana tersebut.

Laporan Reuters juga mengaitkan kasus tersebut dengan gaya pemerintahan Prabowo yang dinilai sejumlah analis lebih mengandalkan orang-orang kepercayaan dan loyalisnya.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan Prabowo menempatkan loyalitas sebagai sesuatu yang penting. Menurut dia, hal itu dapat dipahami mengingat panjangnya periode Prabowo berada di luar pemerintahan, tetapi berpotensi menimbulkan persoalan apabila mengorbankan sistem berbasis merit.

“Untuk sebuah negara agar berhasil, sistem politiknya harus sehat dan teknokratis, dan birokrasinya harus berdasarkan meritokrasi,” ujar Wijayanto, sebagaimana dikutip Reuters.

Prabowo sendiri sebelumnya mengatakan pemimpin yang berhasil harus memilih orang-orang “terbaik” untuk berada dalam timnya, bukan karena hubungan keluarga, pertemanan ataupun ikatan kepentingan.

Pencopotan Purbaya dengan demikian membuka kembali perdebatan mengenai sejauh mana pertimbangan teknokratis dan hubungan kepercayaan politik berperan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan Prabowo.

Reuters menyebut sejumlah analis dan investor menyambut pergantian tersebut sebagai langkah yang dinilai dapat membantu memulihkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Namun, tiga sumber pemerintah yang dikutip Reuters memberikan penjelasan berbeda mengenai pemicu langsung pencopotan Purbaya, yakni perselisihan internal mengenai rotasi pejabat di Kementerian Keuangan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama membantah adanya konflik yang mendahului pencopotan tersebut. Sementara Bimo Wijayanto dan pihak Kantor Kepresidenan tidak memberikan tanggapan kepada Reuters.

MoneyTalk.id, Jakarta – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS 2026 di New Delhi, India, yang menekankan pentingnya ketahanan dan kemandirian negara dinilai memiliki pesan geopolitik yang jauh lebih luas daripada sekadar ajakan memperkuat kerja sama ekonomi.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pernyataan Prabowo mengenai pentingnya negara memenuhi kebutuhan pangan, energi, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat merupakan fondasi utama bagi sebuah negara untuk memiliki daya tawar dalam percaturan global.

Menurut Amir, ketika Prabowo menyatakan Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan tertentu, pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesadaran strategis bahwa ketergantungan ekonomi dapat berkembang menjadi ketergantungan politik dan bahkan memengaruhi kebijakan keamanan suatu negara.

“Kalau kita lihat dari perspektif intelijen dan geopolitik, pernyataan Prabowo itu sangat jelas. Kemandirian nasional bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut kemampuan sebuah negara mengambil keputusan tanpa tekanan dari kekuatan eksternal,” kata Amir kepada wartawan, Minggu (13/9/2026).

Ia mengatakan, ketahanan pangan dan energi merupakan dua instrumen penting dalam menjaga kedaulatan. Negara yang masih sangat bergantung pada pasokan dari luar akan lebih mudah mengalami tekanan ketika terjadi konflik geopolitik, perang dagang, gangguan jalur distribusi, maupun krisis energi global.

“Pangan dan energi itu bukan lagi sekadar komoditas ekonomi. Dalam geopolitik modern, keduanya adalah instrumen kekuatan. Siapa yang menguasai pasokan, distribusi dan teknologi strategis, memiliki pengaruh terhadap negara lain,” ujarnya.

Amir menilai kehadiran Indonesia di BRICS juga harus dibaca sebagai bagian dari strategi memperluas ruang gerak diplomasi. Indonesia tidak harus memilih berada di bawah pengaruh satu blok kekuatan tertentu, tetapi membangun hubungan dengan berbagai pusat kekuatan dunia berdasarkan kepentingan nasional.

Menurutnya, BRICS memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar dalam menghadapi perubahan konfigurasi kekuatan global.

“BRICS itu jangan dilihat hanya sebagai forum ekonomi. Di balik kerja sama ekonomi terdapat perubahan arsitektur kekuatan dunia. Indonesia harus cerdas memainkan posisi, jangan sampai menjadi objek permainan negara-negara besar,” katanya.

Amir menambahkan, dunia saat ini memasuki fase persaingan kekuatan yang semakin kompleks. Amerika Serikat, China, Rusia, India dan berbagai kekuatan regional memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Dalam kondisi seperti itu, negara dengan fondasi domestik yang kuat akan mempunyai pilihan kebijakan yang lebih luas.

Karena itu, menurut Amir, pesan Prabowo mengenai “kekuatan yang bermula dari dalam negeri bersama rakyat” memiliki arti strategis.

“Kalau kebutuhan dasar rakyat kuat, industri nasional kuat, pangan aman, energi tersedia dan sumber daya manusia berkualitas, maka negara memiliki ketahanan menghadapi tekanan dari luar. Ini yang disebut strategic resilience,” tuturnya.

Ia juga melihat penekanan Prabowo terhadap konektivitas sistem energi antarnegara BRICS sebagai langkah yang memiliki dimensi strategis. Integrasi energi dapat menciptakan jaringan kerja sama yang membuat negara anggota tidak mudah terguncang ketika terjadi krisis pasokan global.

Namun Amir mengingatkan, Indonesia harus berhati-hati agar kerja sama tersebut tidak berubah menjadi bentuk ketergantungan baru.

“Jangan sampai kita keluar dari satu ketergantungan kemudian masuk ke ketergantungan yang lain. Prinsipnya harus kepentingan nasional. Kerja sama boleh dengan siapa saja, tetapi kendali strategis harus tetap berada di tangan Indonesia,” tegasnya.

Lebih jauh, Amir menilai posisi Indonesia di BRICS dapat menjadi instrumen untuk menjalankan politik luar negeri yang lebih fleksibel. Indonesia dapat membangun kerja sama dengan berbagai negara tanpa kehilangan independensi dalam menentukan kebijakan nasional.

“Indonesia mempunyai modal geopolitik yang besar. Letaknya strategis, penduduknya besar, sumber daya alamnya besar dan berada di jalur perdagangan dunia. Modal ini harus diterjemahkan menjadi kekuatan politik dan ekonomi,” katanya.

Menurut Amir, tantangan terbesar Indonesia justru berada di dalam negeri. Ketahanan nasional tidak akan terbentuk apabila negara masih menghadapi persoalan serius dalam pangan, energi, industri, pendidikan, teknologi dan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, ia menilai pesan Prabowo di KTT BRICS seharusnya diterjemahkan menjadi agenda pembangunan nasional yang konkret.

“BRICS akan memberikan manfaat apabila Indonesia datang dengan fondasi yang kuat. Jangan hanya menjadi pasar bagi negara lain. Indonesia harus menjadi produsen, memiliki teknologi, memiliki industri, menguasai rantai pasok dan mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri,” ungkapnya.

Amir menyimpulkan, pernyataan Prabowo di New Delhi menunjukkan bahwa Indonesia sedang berusaha membangun posisi sebagai negara yang memiliki strategic autonomy, yakni kemampuan menentukan kepentingan dan arah kebijakan sendiri di tengah kompetisi kekuatan besar.

“Pesan paling penting dari Prabowo adalah Indonesia ingin bersahabat dengan semua kekuatan, tetapi tidak ingin didikte oleh siapa pun. Itu pesan geopolitik yang sangat penting,” pungkas Amir.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah narasi di kanal YouTube-nya pada Selasa, 29 Oktober, Mardigu Wowiek mengupas perkembangan terbaru dalam tatanan dunia yang sedang mengalami pergeseran besar. Amerika Serikat yang selama ini dianggap sebagai penguasa hegemoni melalui institusi-institusi internasional seperti PBB dan IMF, kini menghadapi tantangan baru dari BRICS—koalisi ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, serta negara-negara mitra seperti Iran, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Etiopia. KTT BRICS ke-16 yang berlangsung di Kazan, Rusia, tema “BRICS and Global South: Joint Building of a Better World” menjadi sorotan utama.

Tema ini mencerminkan ambisi kelompok tersebut untuk menciptakan tatanan global yang lebih adil dan setara, secara langsung menantang dominasi Amerika dan sekutu Baratnya.

Deklarasi Kazan dan Strategi BRICS untuk Masa Depan

Pada pertemuan tersebut, para pemimpin negara-negara BRICS menghasilkan “Deklarasi Kazan” yang mencakup berbagai inisiatif strategis untuk menghadapi tantangan global. Dalam deklarasi ini, mereka menegaskan niat untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika dengan mengembangkan instrumen pembayaran lintas batas yang cepat, efisien, dan transparan. Langkah ini dirancang untuk mengatasi hambatan perdagangan serta mendorong akses non-diskriminatif, berbeda dengan praktik eksklusif yang selama ini diterapkan negara-negara Barat.

Deklarasi Kazan juga menggarisbawahi inisiatif perdagangan berbasis barter antar negara BRICS. Dimulai dengan pertukaran gandum menggunakan platform perdagangan biji-bijian, BRICS memperkenalkan sistem barter yang bertujuan untuk mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan internasional. Inisiatif ini akan berkembang ke berbagai sektor, termasuk pertanian dan emas sebagai alat tukar alternatif untuk mata uang nasional maupun barang komoditas lainnya.

BRICS dan Teori Moneter Modern, Model Ekonomi Baru

Dalam upaya memantapkan posisinya, BRICS mengadopsi kerangka “New Monetary Model” atau teori ekonomi yang dikenal sebagai Modern Monetary Theory (MMT). MMT merupakan teori yang menentang pandangan ekonomi arus utama dan hanya populer di Amerika, terutama setelah dipraktikkan sejak tahun 1971 ketika Amerika melepaskan dolar dari standar emas dan mulai mencetak uang berbasis proyek serta pinjaman. Dengan mengadopsi MMT, BRICS memproyeksikan pembentukan sistem keuangan yang mandiri dan terlepas dari kontrol dolar.

Langkah ini menandakan niat BRICS untuk menciptakan mata uang baru yang berbasis emas, mirip dengan model Euro, yang nantinya akan beredar di antara negara-negara BRICS dan para mitranya. Mata uang ini diproyeksikan sebagai simbol dedolarisasi yang serius, mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika sekaligus menciptakan sistem pembayaran alternatif yang stabil.

Dedolarisasi dan Masa Depan Sistem Keuangan Global

Dedolarisasi yang dilakukan oleh BRICS dalam KTT ini mendapat perhatian besar dari negara-negara Barat. Dengan total populasi yang mencapai tiga kali lipat jumlah negara-negara G7 serta kekayaan yang setara 35% dari ekonomi global, BRICS menjadi kekuatan ekonomi yang semakin diperhitungkan. Sebagai perbandingan, G7 hanya mencakup 30% dari kekayaan global, sementara populasi dan pengaruhnya cenderung terbatas dibandingkan BRICS yang semakin ekspansif.

Selain itu, BRICS sedang merintis model dual currency, yaitu satu mata uang BRICS dan satu komoditas seperti emas sebagai alat tukar internasional. Inisiatif ini dimaksudkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi BRICS dan memberikan alternatif nyata bagi negara-negara lain di luar sistem yang didominasi dolar. Dengan demikian, BRICS mampu menghadirkan tantangan langsung kepada sistem keuangan internasional yang selama ini dikendalikan oleh Amerika dan sekutu Barat.

IMF Baru dan Tatanan Dunia Baru

Inovasi ini sekaligus membuka jalan bagi “IMF Baru” yang menantang posisi IMF konvensional, menawarkan solusi finansial bagi negara-negara berkembang yang ingin melepaskan diri dari kendali dolar. Ini adalah langkah signifikan menuju pembentukan “New World Order” yang lebih adil dan setara, serta menantang dominasi Amerika Serikat. Jika BRICS berhasil mewujudkan mata uang dan sistem keuangan baru ini, hal ini akan berdampak besar terhadap sistem keuangan global dan posisi Amerika dalam politik internasional.

Implikasi bagi Indonesia

Indonesia, sebagai bagian dari Global South, perlu menentukan sikap dalam menyikapi perubahan ini. Dengan bergabung dalam BRICS, Indonesia berpeluang untuk mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar, mengurangi ketergantungan pada dolar, serta mengakses pasar baru yang lebih inklusif. Sikap Indonesia terhadap BRICS dan ide dedolarisasi ini dapat memberikan dampak besar bagi stabilitas ekonomi nasional, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

KTT BRICS ke-16 di Kazan, Rusia, bukan sekadar pertemuan antar negara berkembang, tetapi mencerminkan pergeseran kekuatan global yang semakin nyata. Amerika dan negara-negara Barat kini menghadapi tantangan yang nyata dari BRICS, yang berupaya menciptakan tatanan dunia yang lebih inklusif, adil, dan setara. Dengan mengadopsi sistem keuangan alternatif dan mendukung dedolarisasi, BRICS menghadirkan harapan baru bagi negara-negara yang ingin bebas dari dominasi dolar dan menciptakan kerjasama ekonomi yang lebih seimbang.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Podcast Bebas Aktif bersama Kenzie Ryvantya mengupas topik menarik mengenai kebijakan politik luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo Subianto. Pembicaraan ini berkisar pada penunjukan Sugiono, wakil ketua komisi yang memiliki fokus pada pertahanan dan hubungan luar negeri.

Sugiono ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan mengenai arah politik luar negeri yang diinginkan Prabowo. Apakah Indonesia akan condong ke arah proteksionisme atau lebih terbuka dengan hubungan diplomatik yang lebih kuat? Apa implikasinya bagi kebijakan luar negeri, khususnya dengan adanya tanda-tanda pendekatan realisme dalam gaya kepemimpinan Prabowo?

Sugiono, Penunjukan, dan Interpretasi Politik Luar Negeri Prabowo

Prabowo memilih Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri, menunjukkan keinginan Prabowo untuk intervensi langsung dalam hubungan internasional Indonesia. Prabowo bukan hanya menunjuk orang yang tepat di bidangnya, namun juga mencerminkan sikap tegas dalam politik luar negeri. Kenzie Ryvantya membandingkan pilihan Prabowo dengan gaya pemerintahan negara parlementer, di mana seorang Perdana Menteri sering mengambil peran yang lebih hands-on dalam kebijakan luar negeri. Tindakan ini tampak dari agenda pertama Sugiono, yaitu menghadiri KTT BRICS untuk menjalin hubungan bilateral dengan negara-negara kunci di dunia.

Sikap Proteksionisme di Tengah Diplomasi yang Terbuka

Salah satu topik yang dibahas dalam podcast adalah kontras antara pidato Prabowo yang sering kali menekankan kemandirian nasional dan proteksionisme, namun di sisi lain ia juga terlihat hangat dan ramah dalam interaksi diplomatik. Meskipun dalam retorikanya terdapat semangat nasionalistik, hal ini tidak menghalangi Prabowo untuk menjalin hubungan baik dengan pemimpin dan perwakilan negara lain. Kenzie mencatat bahwa seorang pemimpin bisa saja memiliki pendekatan proteksionistik sembari tetap diplomatis di kancah internasional, seperti yang dilakukan Prabowo dalam pertemuan bilateralnya di KTT BRICS.

Prabowo dan Realisme, Inspirasi dari John J. Mearsheimer

Prabowo dikabarkan terinspirasi oleh pandangan realisme yang disampaikan oleh John J. Mearsheimer, seorang ahli teori hubungan internasional terkemuka. Teori realisme melihat hubungan internasional sebagai persaingan kekuatan besar, terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Prabowo dianggap memiliki kecenderungan pada politik kekuatan (power politics) ini, yang bisa membentuk cara Indonesia menghadapi ketegangan global, terutama di kawasan Asia Tenggara. Dalam konteks ini, Kenzie dan rekan diskusinya menyoroti pentingnya kapasitas militer yang kuat serta independensi dari pengaruh negara-negara besar sebagai pilar utama dari kebijakan realisme.

Tantangan dalam Mewujudkan Politik Luar Negeri Realis

Meski terinspirasi oleh realisme, bukan berarti Prabowo akan dengan mudah menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut. Beberapa faktor lain akan menjadi tantangan, seperti keterbatasan sumber daya dan tekanan dari sistem internasional. Dalam podcast tersebut, dibahas pula bagaimana kebijakan luar negeri tidak hanya ditentukan oleh keinginan pribadi seorang pemimpin, tetapi juga oleh dinamika global dan kebutuhan ekonomi domestik. Jika Prabowo ingin mengurangi ketergantungan Indonesia pada negara-negara besar, ia harus menemukan cara untuk mendanai kebijakan-kebijakan ini tanpa merusak stabilitas ekonomi Indonesia.

Masa Depan Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Bawah Prabowo

Dengan latar belakang militer dan pendekatan yang realistik, Prabowo diperkirakan akan membawa perspektif baru dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Berbeda dengan presiden sebelumnya seperti Soekarno yang internasionalis atau Jokowi yang pragmatis. Prabowo terlihat fokus pada pemantapan kekuatan negara melalui penguatan sektor pertahanan dan peningkatan daya tawar di hadapan kekuatan besar. Hal ini mungkin mengindikasikan perubahan signifikan pada arah kebijakan luar negeri Indonesia, terutama dalam perannya di ASEAN dan institusi internasional lainnya.

Podcast Bebas Aktif bersama Kenzie Ryvantya berhasil mengangkat diskusi mendalam tentang arah politik luar negeri Prabowo. Dari penunjukan Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri hingga inspirasi Prabowo pada teori realisme, diskusi ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang potensi perubahan pada kebijakan luar negeri Indonesia. Meskipun dihadapkan pada banyak tantangan, kebijakan luar negeri Prabowo yang berfokus pada kekuatan negara ini dapat memberikan warna baru bagi posisi Indonesia di panggung global.(c@kra)