6 November 2026

layanan publik

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, dalam wawancaranya di podcast Merdekadotcom mengungkap berbagai sisi layanan BPJS, dari tantangan anggaran hingga filosofi gotong royong yang diusung. Ghufron menyoroti berbagai isu krusial seperti penanganan penyakit berat, standar layanan, dan stigma layanan BPJS yang sempat dianggap berbeda kelas dibanding layanan kesehatan lainnya. Dalam artikel ini kita akan mendalami perspektif Ghufron terhadap tantangan yang dihadapi BPJS Kesehatan, pentingnya layanan setara, serta upayanya membangun semangat gotong royong yang menjadi nilai dasar JKN.

Memahami Tantangan Klaim Katastropik di BPJS

BPJS Kesehatan dengan konsep asuransi kesehatan nasional berbasis gotong royong, memiliki beban klaim yang signifikan. Terutama dari kasus-kasus penyakit katastropik seperti kanker, jantung, stroke, dan gagal ginjal. Ghufron menjelaskan bahwa jenis penyakit tersebut membutuhkan biaya yang besar dan berdampak pada anggaran BPJS. Di samping itu, meningkatnya jumlah klaim dari masyarakat menjadi sinyal adanya kebutuhan akan penguatan layanan preventif dan edukasi kesehatan agar masyarakat lebih memahami cara menjaga kesehatan.

Program Standar Kris, Menjawab Tantangan Layanan Tanpa Kelas

Ghufron mengungkap rencana BPJS untuk menerapkan sistem rawat inap kelas standar (KRIS), sesuai dengan Perpres No. 59 yang menetapkan evaluasi reguler setiap dua tahun. Meskipun sering disalahartikan sebagai penghapusan kelas perawatan, KRIS lebih bertujuan menyetarakan layanan bagi seluruh lapisan peserta BPJS. Ghufron menegaskan, “BPJS Kesehatan berkomitmen menyediakan layanan tanpa diskriminasi,” mengacu pada pengalaman pasien BPJS yang sebelumnya harus menerima perawatan di area yang kurang layak.

Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, meski belum dapat diimplementasikan sepenuhnya hingga 2025. Ghufron menekankan, “Penting bagi kita untuk memberikan pelayanan yang setara dan bermartabat bagi seluruh peserta BPJS.”

Gotong Royong dalam Makna BPJS, Filosofi yang Luhur

Bagi Ghufron, keberadaan BPJS tidak sekadar soal asuransi kesehatan, tetapi adalah manifestasi nilai luhur gotong royong. Dengan gotong royong, BPJS Kesehatan memungkinkan setiap peserta untuk saling membantu. “Coba cari nilai kebangsaan yang lain yang bisa menyaingi semangat gotong royong BPJS,” ujar Ghufron. Menurutnya, hanya dengan semangat kolektif inilah BPJS Kesehatan dapat membantu masyarakat, terutama mereka yang tidak mampu.

Program ini juga menjadi kebanggaan bangsa, bahkan menarik perhatian dunia internasional. “BPJS Kesehatan menjadi rujukan berbagai negara,” ujarnya, membuktikan bahwa konsep JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) tidak hanya bermanfaat di dalam negeri tetapi juga dilihat sebagai model inovatif dalam sistem kesehatan global.

Upaya Sosialisasi dan Edukasi Publik

Tingginya klaim yang diterima BPJS Kesehatan tak hanya menjadi tanggung jawab pembayaran, tetapi juga memerlukan pendekatan preventif. BPJS Kesehatan telah mengintensifkan sosialisasi kesehatan untuk mendorong masyarakat menjaga pola hidup sehat. Tim humas BPJS rutin memberikan edukasi kesehatan, mengingatkan pentingnya pencegahan agar beban layanan kesehatan tidak melulu fokus pada pengobatan. “Kami ingin masyarakat hidup sehat, bukan demi untung BPJS, tetapi untuk kesehatan nasional,” kata Ghufron.

Layanan BPJS, Keuangan dan Komitmen Pelayanan

Sebagai lembaga non-profit, BPJS Kesehatan menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan antara layanan maksimal dengan keterbatasan anggaran. Ghufron menyoroti bahwa BPJS Kesehatan tidak boleh mengalami defisit, karena bisa mengganggu layanan kepada masyarakat. Ia juga menyinggung pentingnya penyesuaian iuran dan manfaat yang direncanakan dilakukan setiap dua tahun.

Ghufron menyampaikan bahwa iuran terakhir kali naik pada tahun 2020, dan meski seharusnya telah ada penyesuaian, pemerintah menunda kenaikan hingga 2025. “Presiden Jokowi sudah menegaskan untuk tidak menaikkan iuran hingga pemilu selesai,” ujarnya.

Menghadapi Stigma dan Berupaya Mengubah Persepsi

BPJS Kesehatan sering kali mengalami tantangan persepsi. Beberapa fasilitas kesehatan sebelumnya mengelompokkan pasien BPJS pada ruang yang berbeda, bahkan di basement. Ghufron menceritakan bahwa BPJS kini menindak tegas diskriminasi tersebut dengan memberi ultimatum kepada fasilitas kesehatan yang belum berbenah. “Dalam 2 bulan, rumah sakit yang melakukan diskriminasi kita evaluasi kontraknya. Mereka sekarang sudah melayani pasien BPJS dengan lebih baik,” tegasnya.

Mengawal Akses Layanan Kesehatan yang Adil dan Bermartabat

Melalui BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti berupaya memelihara semangat gotong royong untuk menjaga kesehatan masyarakat. Dengan kebijakan yang proaktif, sosialisasi preventif, dan standar layanan yang setara, BPJS Kesehatan bukan sekadar layanan asuransi, melainkan wujud kebanggaan nasional. Ghufron berharap agar program ini tetap berkelanjutan sebagai salah satu capaian monumental yang mempromosikan nilai-nilai luhur bangsa.

BPJS Kesehatan hadir sebagai bentuk tanggung jawab bersama, sebuah gotong royong bagi kesehatan masyarakat Indonesia.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Di tengah peran besar BPJS Kesehatan dalam mengakomodasi layanan kesehatan di Indonesia, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. Ali Ghufron Mukti, memberikan pernyataan yang mengundang perhatian. Dalam podcast bersama Merdekadotcom pada Selasa, 29 Oktober 2024, ia mengulas kompleksitas pengelolaan layanan BPJS, dengan fokus pada keseimbangan aspek bisnis dan kemanusiaan di rumah sakit.

Mengelola 1,7 juta klaim setiap hari adalah tantangan besar yang bahkan mengundang perhatian internasional, termasuk Harvard, untuk mempelajari sistem BPJS Kesehatan. Pernyataan Ghufron menyoroti bagaimana BPJS terus berjuang dari defisit, pentingnya integritas rumah sakit, dan bagaimana sistem kesehatan Indonesia berperan dalam layanan publik.

Rumah Sakit, Antara Bisnis dan Kemanusiaan

Menurut Ghufron, rumah sakit pada dasarnya boleh menjalankan aspek bisnis. Namun, yang menjadi sorotan adalah bahwa bisnis tersebut tidak boleh menenggelamkan aspek kemanusiaan dan sosial. “Kalau bisnis di rumah sakit boleh, ya, tetapi jangan terlalu menonjol bisnisnya tanpa menghilangkan aspek kemanusiaan dan sosial,” kata Ghufron dalam podcast tersebut. Baginya, rumah sakit adalah institusi yang hadir dengan panggilan sosial untuk melayani, bukan sekadar mengutamakan profit.

Prinsip tersebut muncul dari beberapa kasus pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa oknum rumah sakit, seperti klaim fiktif atau manipulasi data pasien yang bahkan mencapai angka kerugian hingga puluhan miliar.

“Ada rumah sakit yang mengakali klaim kesehatan, termasuk membuat klaim pasien yang sebenarnya tidak ada,” jelasnya.

Hal ini menciptakan potensi kerugian hingga Rp2,2 triliun di tahun 2020. BPJS berupaya mengatasi masalah ini dengan meningkatkan pengawasan, melakukan kredensial ulang, dan menyaring mitra layanan kesehatan berdasarkan standar ketat.

Fenomena 1,7 Juta Klaim Per Hari, Perhatian Dunia Internasional

Lonjakan pemanfaatan BPJS yang mencapai 1,7 juta klaim per hari menjadi topik pembicaraan hangat. Angka ini meningkat tajam sejak 2014 yang kala itu hanya mencapai 252 ribu klaim per hari. Hal ini menarik perhatian dunia internasional, seperti Harvard dan John Hopkins, yang mengundang BPJS untuk berbagi pengalaman tentang manajemen klaim besar-besaran tersebut.

“Bahkan mereka (peneliti) dari Mongol sampai mengatakan, ‘I cannot imagine how BPJS can handle more than 1 million claims every day,’” ujar Ghufron.

Volume besar klaim ini memungkinkan BPJS untuk mengamati perilaku pelayanan di seluruh rumah sakit yang bekerja sama. Ghufron mengungkapkan bahwa BPJS mampu memonitor secara real-time praktik medis yang dilakukan di setiap rumah sakit hingga tindakan yang dilakukan oleh dokter tertentu.

Mengatasi Defisit BPJS, Pendekatan Baru dalam Pembiayaan dan Pengelolaan Anggaran

Ghufron juga membahas isu krusial lain yang telah lama dihadapi BPJS Kesehatan: defisit anggaran. Meski BPJS bukan lembaga profit, mereka tetap harus menjaga agar keuangan tetap sehat untuk memastikan pembayaran tepat waktu kepada rumah sakit mitra. Defisit ini telah berlangsung sejak BPJS berdiri pada 2014, yang Ghufron sebut sebagai akibat dari perhitungan awal yang belum optimal dalam menentukan biaya operasional. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menutup defisit tersebut, dan mulai tahun 2021, BPJS berhasil mencatatkan cash flow positif.

“Jika sampai defisit, rumah sakit pun bisa terlambat dibayar, yang bisa memengaruhi kualitas layanan,” ujarnya.

BPJS terus memperbaiki sistem pembiayaan yang mereka sebut sebagai ‘strategic purchasing’, yaitu pembelian layanan kesehatan yang berdasarkan hasil klinis optimal, efisiensi biaya, dan kebutuhan nyata masyarakat. Model ini bukan hanya membantu BPJS mengatur pembiayaan secara berkelanjutan, tetapi juga menjaga kualitas layanan.

Komitmen Sosial dan Profesionalisme Pelayanan di Rumah Sakit

BPJS terus mendorong rumah sakit untuk memberikan layanan tanpa diskriminasi dan dengan penuh integritas, baik untuk pasien umum maupun peserta BPJS. Ghufron menegaskan bahwa dokter dan rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS tidak boleh membeda-bedakan pelayanan berdasarkan status sosial atau ekonomi pasien.

“Orang miskin juga berhak mendapatkan operasi dengan durasi sesuai standar, bukan dibatasi hanya 15 menit,” ujarnya.

BPJS telah membangun sistem akreditasi dan kredensial yang memastikan rumah sakit yang bekerja sama memenuhi syarat pelayanan sesuai SOP dan clinical guidelines. Hal ini penting agar semua tindakan medis dilakukan sesuai standar, baik dalam hal pemberian obat, penanganan penyakit, maupun prosedur operasi.

Pernyataan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. Ali Ghufron Mukti, menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara bisnis dan kemanusiaan dalam layanan kesehatan. Tantangan yang dihadapi BPJS seperti defisit, pengawasan integritas rumah sakit, dan lonjakan klaim yang sangat besar, merupakan isu yang kompleks.

Melalui berbagai inovasi dan kerja sama internasional, BPJS berupaya untuk memastikan bahwa layanan kesehatan di Indonesia tetap berkualitas dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Dengan sistem pengawasan real-time dan peningkatan kredibilitas rumah sakit mitra, BPJS Kesehatan bertekad untuk membangun ekosistem kesehatan yang lebih baik di Indonesia.(c@kra)