8 November 2026

Menteri BUMN Erick Thohir

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menyampaikan pandangannya terkait penunjukan Menteri BUMN Erick Thohir sebagai Ketua Dewan Pengawas (Dewas) BPI Danantara. Menurutnya, kebijakan pengangkatan Erick  tersebut dapat menimbulkan berbagai pandangan dan perdebatan di masyarakat.

Pandangan ini muncul setelah beberapa isu terkait BUMN menjadi perhatian publik sejak Erick Thohir menjabat sebagai Menteri BUMN. Sejumlah media sebelumnya telah memberitakan mengenai polemik di beberapa perusahaan BUMN, termasuk PT Rekayasa Industri (Rekind), GOTO, serta dugaan keterkaitan bisnis Mahaka Grup di perusahaan seperti Pertamina, PLN, Telkomsel, dan HIMBARA.

Pernyataan Uchok ini disampaikan melalui video yang diunggah di akun TikTok miliknya pada Rabu (26/02/2025), di mana ia mengulas kebijakan pemerintah terkait Danantara. Berikut kutipan pernyataan yang telah dirangkum redaksi:

“Halo Kawan, akhirnya Danantara diluncurkan juga oleh Presiden Prabowo. Meski mendapat kritik dari banyak pihak, termasuk kritik yang kami sampaikan, nyatanya Presiden Prabowo tetap mempertahankan Erick Thohir sebagai Ketua Dewan Pengawas Danantara. Padahal, kami menaruh perhatian besar agar Pak Prabowo berani untuk tidak lagi menempatkan Erick Thohir di Danantara. Ya sudahlah.”

Uchok lantas menyoroti komitmen pemerintahan saat ini dalam memperkuat tata kelola perusahaan negara. “Jika benar Pak Prabowo sungguh-sungguh ingin memperbaiki tata kelola BUMN dan memastikan pengelolaan yang transparan, kami percaya Bapak memiliki keberanian itu,” lanjutnya

Dalam pernyataan lainnya, Uchok merujuk pada berbagai pemberitaan media mengenai dinamika bisnis yang melibatkan beberapa BUMN. Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan perusahaan negara.

Menutup pernyataannya, Uchok menyampaikan harapannya agar Danantara dapat berjalan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik dan tidak menghadapi kendala di masa depan. “Semua tergantung Pak Prabowo,” tutup Uchok Sky

MoneyTalk, Jakarta – Apakah ini perubahan besar atau Wujud sebagai ketidakpercayaan kepada Menteri BUMN lantaran sedang terjadi perubahan  struktur  dan tali “komando” kelembagaan dalam Perum Bulog.

Dimana Perum Bulog kini tidak lagi akan berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau dibawah komando Erick Thohir, tetapi akan berada langsung di bawah komando Presiden Republik Indonesia ungkap Direktur Utama Perum Bulog, Wahyu Supariono.

Salah satu alasan perubahaan atau transformasi kelembagaan ini mencerminkan upaya besar pemerintah dalam memperkuat sektor ketahanan pangan, yang menjadi salah satu prioritas utama Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Wahyu Supariono, keputusan untuk mengubah status Bulog dari BUMN menjadi lembaga yang berada langsung di bawah Presiden ini tidak datang begitu saja. Transformasi ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk memperbaiki pengelolaan logistik pangan di Indonesia, terutama dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional. Pemerintah ingin memastikan bahwa Bulog dapat beroperasi lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan pangan di masyarakat, tanpa terhambat oleh birokrasi yang ada di kementerian.

Dan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, mengungkapkan bahwa keputusan untuk membawa Bulog di bawah kendali Presiden merupakan bagian dari visi besar Prabowo Subianto mengenai ketahanan pangan. Ketahanan pangan adalah salah satu fokus utama pemerintah, yang tercermin dalam berbagai program yang telah dan akan dijalankan, termasuk pengembangan daerah-daerah lumbung pangan seperti di Papua Selatan.

Perlu diketahui Sejak awal berdirinya, Bulog telah melalui beberapa perubahan struktural. Didirikan pada tahun 1967 sebagai Badan Urusan Logistik (BULOG), perusahaan ini pada awalnya berada di bawah koordinasi kabinet presiden.

Namun, pada tahun 2003, Bulog berubah status menjadi perusahaan umum berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2003, dan mulai beroperasi di bawah koordinasi Kementerian BUMN. Kini, pada masa pemerintahan Prabowo Subianto, Bulog dipersiapkan untuk kembali berada langsung di bawah kendali Presiden, sebuah langkah yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat sektor ketahanan pangan dan logistik.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam Rapat Kerja Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Senayan pada Kamis (7/11), Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak masif produk impor terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Erick Thohir menekankan pentingnya kebijakan dan regulasi yang mampu menjaga keseimbangan antara produk impor dan dukungan terhadap produk lokal.

Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi tantangan besar dalam menjaga kemandirian ekonomi nasional. Produk impor yang masuk ke pasar domestik seringkali didukung oleh struktur harga yang lebih kompetitif, subsidi negara asal, atau keunggulan efisiensi produksi. Akibatnya, UMKM dalam negeri yang berperan sebagai pilar perekonomian Indonesia harus bersaing di pasar yang tidak seimbang.

Erick Thohir menyatakan bahwa keterbukaan terhadap impor tanpa perencanaan matang dapat “membunuh” UMKM secara perlahan. Produk impor yang membanjiri pasar domestik, terutama dengan harga murah yang tidak wajar (damping), menjadi ancaman serius. “Kita tidak mungkin menjadi negara yang terus didamping secara produksi-produksi dalam luar negeri tanpa struktur pajak dan distribusi yang fair,” tegasnya.

Menteri Erick menegaskan bahwa peran BUMN ke depan tidak hanya harus berfokus pada pembangunan dan restrukturisasi internal, tetapi juga harus melibatkan upaya strategis untuk mendukung perekonomian kerakyatan. Salah satu langkah konkret adalah memastikan akses pembiayaan yang lebih besar dan terjangkau bagi UMKM melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Dari total pembiayaan KUR, 92% dibiayai oleh bank-bank BUMN dengan nilai hampir 1.000 triliun lebih,” ujarnya. Ini menunjukkan komitmen BUMN untuk menjaga keberlanjutan sektor UMKM di tengah persaingan pasar global.

Selain itu, Erick menyebutkan perlunya program stimulus untuk membantu UMKM yang terdampak pandemi dan menghadapi situasi pasar yang menantang. Peningkatan akses kredit dan penghapusan utang lama diharapkan mampu memutar kembali roda ekonomi UMKM yang sempat terhenti.

BUMN dalam upayanya mendukung ekonomi nasional, turut mendorong pembangunan proyek strategis nasional (PSN) yang dapat memperluas lapangan pekerjaan dan menggerakkan sektor-sektor pendukung UMKM. Pembangunan infrastruktur seperti Trans Sumatera, Trans Jawa, LRT, dan proyek transportasi lainnya menjadi sarana untuk meningkatkan mobilitas dan distribusi barang, yang pada gilirannya menguntungkan pelaku usaha kecil dan menengah.

Namun, tantangan tetap ada. Erick Thohir menyoroti pentingnya efisiensi dalam proyek-proyek tersebut agar tidak membebani anggaran negara. Misalnya, pembangunan Terminal 4 di Bandara Soekarno-Hatta yang diusulkan diubah menjadi perbaikan terminal yang lebih hemat anggaran, mencerminkan upaya efisiensi yang diambil Kementerian BUMN.

Dalam menjaga keberlanjutan ekonomi nasional, hilirisasi industri menjadi salah satu fokus utama. Erick mencontohkan bagaimana upaya memproses produk mineral seperti tembaga dan emas di dalam negeri bukan hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk lokal. Program seperti ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global, termasuk dalam sektor EV baterai dan produk semikonduktor.

Erick Thohir menekankan bahwa kebijakan harus mendukung fairness di pasar dalam negeri. BUMN berperan dalam menjaga agar struktur pajak dan distribusi mendukung keberlanjutan UMKM dan tidak hanya menguntungkan produk impor.

“Kita harus konsolidasi, bukan untuk memproteksi, tetapi memastikan bahwa kita memiliki kebijakan yang adil untuk semua pelaku pasar,” jelas Erick.

Langkah-langkah lain, seperti mendorong penggunaan produk lokal oleh sektor publik dan swasta serta pengembangan produk inovatif dari UMKM, juga diusulkan. Integrasi sektor-sektor dalam ekosistem BUMN, seperti pertanian dan industri kreatif, menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan pada impor sekaligus meningkatkan kapasitas dan daya saing produk UMKM.

Pernyataan Erick Thohir dalam rapat tersebut bukan hanya seruan tetapi sebuah peta jalan bagi BUMN dan pihak-pihak terkait untuk menjaga keseimbangan pasar. Dengan kebijakan yang tepat, peningkatan efisiensi, dan sinergi antara sektor swasta, BUMN, serta pemerintah, UMKM dapat tumbuh lebih kuat dan bersaing secara sehat di pasar yang semakin global.

Menjaga keberlanjutan UMKM adalah tantangan yang harus dihadapi bersama. Langkah-langkah yang diambil harus menyentuh berbagai aspek, mulai dari kebijakan fiskal, regulasi, hingga dukungan nyata dari lembaga-lembaga negara. Terpenting, semua ini dilakukan dalam kerangka ekonomi yang adil, transparan, dan berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pemecatan sejumlah pejabat strategis di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengundang perhatian publik. Totok Santoso, Direktur Eksekutif Cakra Network Consultant (CnC), menyampaikan dalam wawancara pada Selasa (29/10) bahwa langkah ini diduga sebagai upaya menutupi berbagai permasalahan yang terjadi selama kepemimpinan Darmawan Prasodjo sebagai Direktur Utama PLN.

Untuk itu, Cakra Network Consultant (CnC), mendesak aparat hukum untuk lebih aktif menyelidiki dugaan korupsi di dalam tubuh PLN. Bila perlu Direktur Utama PLN segera dipanggil oleh KPK, ujar Totok

Yang dipanggil jangan level mantan General Manager dong. Sebaik Kejaksaan Agung atau KPK harus juga memanggil Darmawan Prasodjo sebagai Direktur Utama PLN, lanjut Totok.

Kabar yang diterima MoneyTalk, PLN belakangan ini memang menjadi sorotan karena berbagai kasus dugaan korupsi. Darmawan Prasodjo, Dirut PLN, dilaporkan mencopot enam pejabat Eselon 1 dalam dua minggu terakhir karena dianggap tidak memenuhi ekspektasi direksi. Nama-nama yang dicopot antara lain Karyawan Adji, Muhammad Reza, Agung Nugraha Putra, Abdul Muchlis, Eric Rossi Priyo Nugroho, dan Maria I Gunawan. Namun, belum ada keterangan resmi dari Darmawan terkait alasan di balik pencopotan tersebut.

Padahal Kasus dugaan korupsi di PLN kini tengah ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), salah satunya terkait pengadaan komponen suku cadang di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bukit Asam. Dugaan ini menyeret sejumlah nama, termasuk Bambang Anggono, mantan General Manager PT PLN UIK SBS, serta beberapa pejabat lainnya. Selain itu, pada 2022, Kejaksaan Agung (Kejagung) juga telah memeriksa banyak saksi dalam kasus pengadaan tower transmisi PLN tahun 2016.

Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya telah menegaskan komitmennya dalam memberantas pelanggaran di lingkungan BUMN, termasuk PLN. Erick menyatakan bahwa upaya membersihkan BUMN dari praktik korupsi bukan sekadar semboyan, melainkan langkah nyata demi meningkatkan kontribusi BUMN kepada negara.

Selain itu, Indonesian Ekatalog Watch (INDECH) juga mengungkap dugaan mark-up dalam pembangunan Saluran Kabel Tekanan Tinggi (SKTT) UGC Pecatu – Nusa Dua Bali tahun 2018. Hotman, Direktur Eksekutif INDECH, menyebut adanya potensi kerugian negara mencapai Rp.63 miliar dari proyek tersebut, yang melibatkan harga pengadaan komponen yang diduga di-mark-up hingga ratusan persen.

Dengan begitu banyaknya dugaan kasus korupsi di PLN, publik pun mempertanyakan sikap Dirut PLN Darmawan Prasodjo yang belum memberikan klarifikasi, apalagi melaporkan kasus-kasus tersebut kepada penegak hukum.(c@kra)